
Plak..
Plak..
"Kimberly!"
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut ketika melihat Syafina yang datang langsung memberikan dua tamparan keras di pipi Kimberly sehingga membuat sudut bibir Kimberly terluka.
Bukan hanya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saja yang terkejut, melainkan semua teman-teman sekelasnya juga terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Syafina. Termasuk Enzi, Vanessa, Aruna dan Jennie.
"Lo apa-apaan, Syafina?!" bentak Catherine dan langsung mendorong tubuh Syafina.
"Kim," ucap Santy sembari mengusap pipi Kimberly yang bekas tamparan tersebut.
Kimberly menatap tajam kearah Syafina. Begitu juga dengan Syafina. Keduanya saling memberikan tatapan mematikan masing-masing.
"Kenapa lo nampar gue? Apa salah gue sama lo?" tanya Kimberly.
"Lo masih berani nanya apa salah lo sama gue? Apa lo nggak sadar kesalahan lo sama gue? Pertama, lo udah bikin keempat teman-teman gue ngejauhin gue. Kedua, lo udah buat gue diomelin oleh Papi gue. Dan yang ketiga, lo udah buat Papi gue dipecat dari jabatannya sebagai wakil kepala sekolah. Dan sekarang lo berpura-pura lupa, hah?!" bentak Syafina.
"Syafina!" bentak Enzi.
"Ini bukan salahnya Kimberly. Ini salah lo. Kita ngejauhin lo karena kita sudah tidak ingin menjadi bagian dari lo!" bentak Vanessa.
"Jadi lo nggak usah nyalahin Kimberly atau siapa pun atas apa yang terjadi sama lo!" bentak Aruna.
"Koreksi aja diri lo sendiri!" bentak Jennie.
"Diam kalian semua! Gue nggak ngomong sama pengkhianat seperti kalian! Gue ngomong sama perempuan murahan ini!" bentak Syafina sembari menunjuk kearah Kimberly.
"Lo perempuan sialan dan perempuan murahan. Lo sama seperti ibu lo, sama-sama perempuan murahan. Kalian berdua nggak jauh beda kelakuannya. Lo seperti ini juga ajaran dari perempuan sialan itu!" teriak Syafina di depan wajah Kimberly.
Sementara Kimberly seketika memberikan tatapan tajamnya bersamaan dengan kedua tangannya mengepal kuat.
Sedangkan Rere, Santy, Sinthia, Catherine dan semua teman sekelasnya terkejut dan menatap tak suka serta marah kearah Syafina.
"Ibu lo tuh perempuan busuk yang berkedok sebagai perempuan baik-baik sehingga berhasil mendapatkan laki-laki kaya raya. Dan sekarang lo yang ikut jejak ibu lo dengan mendekati Tommy yang jelas-jelas kekasih dari Talitha!"
"Ibu lo perempuan busuk... Ibu lo perempuan busuk... Ibu lo....."
"Diam!" teriak Kimberly bersamaan dengan tangannya langsung mencekik leher Syafina, kemudian Kimberly melempar tubuh Syafina ke dinding dengan sangat kuat sehingga terdengar bunyi tulang punggung Syafina dan berakhir tersungkur di lantai dengan perut yang terlebih dahulu menghantam lantai.
Sreekkk..
Gedebug.. Praakk..
Bruukk..
Seketika Syafina tak sadarkan diri di lantai. Semua yang ada di dalam kelas tersebut seketika diam membeku. Mereka juga tidak menyalahkan Kimberly atas apa yang barusan dia lakukan.
Seketika tubuh Kimberly terhuyung ke belakang. Dan untungnya Catherine dan Rere segera menahan tubuh Kimberly.
"Kim."
Catherine mengusap lembut punggung Kimberly sehingga membuat Kimberly sadar dan seketika Kimberly meneteskan air matanya.
"Kim, lo tenang ya!"
Kimberly menatap kearah Syafina yang tak sadarkan diri di lantai dengan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kimberly!"
Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya datang. Begitu juga dengan Aryan dan Triny bersama dengan sahabat-sahabatnya. Billy langsung menghampiri Kimberly lalu memeluk tubuh adik sepupunya itu.
"Syafina yang mulai duluan, Bil! Bukan gue. Dia udah nuduh aku yang nggak-nggak. Bahkan dia juga udah hina Mommy dan mengatakan Mommy adalah perempuan murahan yang suka menggoda laki-laki kaya raya."
Mendengar perkataan sekaligus aduan dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan mengepal kuat tangannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Syafina yang sudah tak bergerak.
Mendengar bisikan dari Nathan membuat Tommy seketika membelalakkan matanya terkejut dengan mengalihkan tatapannya menatap kearah Syafina.
Setelah itu, Tommy mendekati Billy lalu melakukan hal yang sama seperti Nathan yaitu membisikkan sesuatu di telinga Billy.
Sama halnya dengan Tommy. Billy seketika membelalakkan matanya dengan menatap kearah Syafina ketika mendengar bisikan dari Tommy.
"Triny," panggil Billy.
"Iya, Bil!"
"Kamu bawa Kimberly pulang. Nanti aku akan minta izin sama kepala sekolah."
"Baiklah." Triny langsung mengiyakan perkataan dari Billy.
Billy melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Kimberly. "Kamu pulang ya sama Triny."
"Ta-tapi Syafina ba.....!"
"Syafina udah jahatin kamu. Tapi kamu masih mikirin keadaan Syafina," batin Enzi menatap bangga kepada Kimberly.
"Lo gadis yang baik, Kimberly! Nyesal gue jahatin lo," batin Vanessa menatap wajah sedih Kimberly.
"Lo masih mikirin Syafina yang udah hina ibu lo dan juga lo. Terbuat dari apa sih hati lo, Kimberly!" batin Jennie.
"Gue nggak nyesel ninggalin Syafina dan milih baikan sama lo dan keempat sahabat lo. Lo dan keempat sahabat lo tuh asyik orangnya," batin Aruna.
Billy tersenyum menatap wajah sedih dan bersalah Kimberly. Kemudian tangannya mengusap lembut pipi putih adik sepupunya itu.
"Masalah Syafina biar menjadi urusanku, urusan Tommy dan urusan kita. Kamu pulang bersama Triny" ucap Billy.
Tommy memberikan usapan lembut di kepala Kimberly sembari tersenyum menatap wajah cantik, wajah sedih dan wajah bersalah kekasihnya itu.
"Apa yang dikatakan oleh Billy benar. Kamu pulang sama Triny. Nanti aku yang akan izinkan langsung kepada kepala sekolah kalau Billy nggak sempat ke kantor kepala sekolah," ucap Tommy.
"Tapi aku nggak mau pulang. Aku mau mastiin kondisinya Syafina. Syafina seperti itu karena aku," ucap Kimberly lirih.
"Setidaknya bawa Syafina ke rumah sakit."
Tommy memberikan kode kepada Andhika. Andhika yang paham langsung bertindak dan dibantu oleh Ivan, Mirza dan Andry. Mereka kemudian mengangkat tubuh Syafina pergi meninggalkan kelas.
"Sudahkan? Sekarang kamu pulang bersama Triny," ucap Tommy.
"Baiklah."
"Aku akan kembali ke kelas untuk mengambil tasnya Triny!" seru Alisha lalu pergi meninggalkan kelasnya Kimberly.
Sementara Triny langsung mengambil tas milik Kimberly langsung meletakkan di bahunya. Setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan kelas dan diikuti keempat sahabatnya Kimberly dan yang lainnya di belakang. Mereka mengantar Kimberly dan Triny sampai di depan gerbang sekolah.
^^^
"Jangan dipikirkan apa yang terjadi di kelas tadi, oke! Lupakan dan tenangkan pikiran kamu," ucap Tommy lembut, lalu tangannya menarik tubuh Kimberly ke dalam pelukannya. "Sampai di rumah kamu istirahat. Jika kamu mau dengar kata-kata aku dan kamu dalam keadaan baik-baik saja. Nanti aku akan ajak kamu jalan-jalan. Terserah kamu mau kemana."
"Baiklah."
Tommy tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka bisa sedikit merasakan kelegaan kalau Kimberly mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Tommy.
Setelah itu, Kimberly masuk ke dalam mobilnya Triny yang mana di dalam mobil itu sudah ada Triny.
"Hati-hati di jalan. Jangan ngebut di jalan," ucap Andhika.
Setelah itu, mobil yang ditumpangi oleh Triny dan Kimberly meninggalkan perkarangan sekolah.
"Baiklah. Kita bawa Syafina ke rumah sakit sekarang!" seru Tommy.
"Hm!"