THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Terselamatkan



Tommy dan yang lainnya sudah berada di rumah sakit. Baik Tommy, Billy, Aryan, Triny, keempat sahabat Kimberly maupun para sahabat dari ketiga sepupu Kimberly tampak sangat mengkhawatirkan Kimberly yang saat ini berada di ruang operasi.


Tommy, Aryan dan Billy sedari tadi mondar mandir di depan pintu ruang operasi. Mata mereka juga selalu melihat kearah lampu yang ada di atas pintu. Berwarna merah. Sementara Triny ditenangkan oleh sahabat-sahabatnya.


"Kim, bertahanlah." mereka semua membatin.


Ketika mereka semua tengah memikirkan Kimberly, tiba-tiba ponsel milik Billy berbunyi. Billy yang mendengar ponselnya berbunyi langsung merogoh ponselnya yang ada di saku celananya.


Setelah ponselnya di tangannya, Billy melihat nama 'Kak Jason' di layar ponselnya. Tanpa pikir panjang lagi Billy pun segera menjawabnya.


"Bagaimana dengan Kimberly, Bil?." Jason langsung bertanya tentang keadaan adiknya.


"Kak," lirih Billy.


Jason yang berada di seberang telepon dapat dengan jelas suara lirih Billy. Jason sudah menduga bahwa telah terjadi sesuatu pada adik perempuannya sebelum kedatangannya dan juga kedatangan Billy serta yang lainnya ke lokasi adik perempuannya.


"Katakan Billy. Apa yang terjadi? Kimberly baik-baik saja kan?"


"Kak, maafkan aku. Aku dan yang lainnya terlambat datang ke lokasi itu. Ketika tiba disana. Orang-orang itu berhasil melukai Kimberly."


Mendengar ucapan dari Billy membuat Jason terkejut. Adiknya terluka. Seketika air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.


"Kim," batin Jason.


"Lalu bagaimana keadaan Kimberly, Bil?"


"Kimberly masih di ruang operasi, Kak! Sudah setengah jam Kimberly berada di dalam. Aku sekarang berada di rumah sakit Park Clinic Weissensee."


"Baiklah. Kakak akan segera kesana."


"Apa kakak sudah mengabari anggota keluarga?"


"Astaga. Kakak lupa. Untung kamu ingatin kakak. Ya, sudah! Kakak tutup teleponnya. Kakak akan ngabari orang rumah."


Setelah mengatakan itu, Jason pun mematikan panggilannya. Dan Jason langsung menghubungi ayahnya.


***


Fathir saat ini berada di ruang rapat. Perusahaan Fathir Aldama sedang mengadakan rapat kerja sama dalam pembangunan jembatan layang.


Ketika Fathir ingin menjelaskan konsep dan cara kerja pembangunan tersebut, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar di saku celananya.


"Sebentar," ucap Fathir sembari memberikan senyuman kepada klian nya. Setelah itu, Fathir mengambil ponselnya di saku celananya.


Kini ponselnya sudah ada di tangannya. Dan seketika Fathir melihat nama putra sulungnya di layar ponselnya.


Tanpa membuang waktu. Fathir pun menjawab panggilan dari putra sulungnya itu.


"Hallo, Jason. Ada apa? Daddy sedang ada rapat nih." Fathir berbicara lembut kepada putra sulungnya.


"Maafkan aku, Dad! Tapi ini darurat. Kimberly masuk rumah sakit. Dan sekarang berada di ruang operasi."


Mendengar ucapan dari putra sulungnya seketika Fathir langsung berdiri dari duduknya. Melihat Fathir yang tiba-tiba berdiri membuat para klian nya menatap bingung dan juga penasaran.


"Fathir, anda kenapa? Semuanya baik-baik sajakan?" tanya salah satu klian Fathir.


Fathir tidak menjawab pertanyaan dari salah satu kliannya. Saat ini yang dipikirkan oleh Fathir adalah putrinya.


"Jason. Kenapa adikmu bisa masuk rumah sakit dan berakhir di dalam ruang operasi?" tanya Fathir yang sudah sangat mengkhawatirkan putrinya.


"Ada yang mencegat mobil Kimberly di jalan, Dad. Dan orang-orang itu berhasil melukai Kimberly."


"Brengsek! Siapa lagi yang sudah berani mengusik keluargaku dan berani melukai putriku." Fathir seketika meluapkan kemarahan ya ketika mendengar perkataan dari putra sulungnya yang mengatakan bahwa mobil putrinya dicegat dan orang itu berhasil melukai putrinya.


Sementara para klian nya yang mendengar ucapan dan amarah dari Fathir turut prihatin. Mereka sangat tahu bagaimana besarnya rasa sayang, rasa peduli dan rasa perhatian Fathir terhadap anggota keluarganya. Fathir menomor satukan keluarga dari pada pekerjaannya.


"Dad. Kimberly di rumah sakit Park Clinic Weissensee."


"Baiklah sayang. Daddy akan segera kesana. Apa kamu sudah menghubungi Mommy dan ketiga adikmu yang lainnya?"


"Belum, Dad. Aku saat ini di jalan menuju rumah sakit. Aku juga baru dari lokasi dimana Kimberly dijegat. Saat aku tiba disana sudah sepi."


"Ya, sudah! Biarkan Daddy yang menghubungi Mommy dan ketiga adikmu itu. Kau langsung saja ke rumah sakit. Hati-hati di jalan. Jangan terlalu ngebut. Daddy tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Baik, Dad."


Setelah mengatakan itu, baik Fathir maupun Jason sama-sama mematikan panggilannya.


***


Menyadari sudah dua jam Kimberly berada di ruang operasi membuat Billy beserta yang lainnya makin mengkhawatirkan Kimberly.


"Aakkhhh!"


BUGH!


Billy berteriak sambil memukul dinding rumah sakit. Billy benar-benar mengkhawatirkan Kimberly.


"Kenapa lama sekali? Dokter itu ngapain saja sih di dalam?!" teriak Billy.


Lionel langsung merangkul pundak Billy dan berusaha menenangkan sahabatnya itu.


"Billy, tenanglah. Kita berdoa untuk keselamatan Kimberly. Semoga Kimberly baik-baik saja."


"Tapi ini sudah 2 jam, Lionel! Aku takut jika..."


"Kamu jangan berpikir macam-macam Billy. Apa kamu meragukan Kimberly jika Kimberly tidak bisa bertahan?" Kini Andry yang bersuara.


"Kimberly di dalam sedang berjuang. Seharusnya lo dan kita semua yang ada disini memberikan doa buat Kimberly. Itu yang dibutuhkan Kimberly saat ini," sela Andhika.


Ketika mereka sedang berperang dengan pikiran, tiba-tiba terdengar suara dan derap langkah kaki beberapa orang mengarah pada mereka.


"Billy, Triny, Aryan!"


Mendengar namanya dipanggil. Aryan, Triny dan Billy melihat ke asal suara. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Mommy, Daddy, Kak."


"Bunda, Ayah, Kak."


"Mami Papi, Kak."


Baik Nashita, Fathir maupun Clarita, Ammar, Raffasya, Helena, Nirvan dan Liana serta putra-putra mereka menatap sedih ketiganya. Dapat dilihat oleh mereka bahwa Triny, Aryan dan Billy begitu sangat mengkhawatirkan Kimberly.


Nashitat melangkah mendekati ketiga keponakannya itu. Dirinya benar-benar tidak tega melihat kekhawatiran ketiga keponakannya itu terhadap putrinya.


"Kita berdoa saja semoga Kimberly baik-baik saja di dalam. Doa kalian sangat berarti untuk Kimberly. Mommy tahu kalian sangat takut jika terjadi sesuatu terhadap Kimberly. Mommy juga."


Nashita membelai lembut kepala ketiga keponakannya itu secara bergantian. Setelah itu, Nashita memberikan kecupan di kening ketiganya.


Bertepatan itu, terdengar suara pintu ruang operasi dibuka dan keluar seorang Dokter dari ruang operasi itu.


Mereka semua yang berada diluar yang sedari tadi menunggu kabar Kimberly melihat kearah Dokter tersebut.


Fathir, Nashita dan keempat putranya menghampiri Dokter itu.


"Bagaimana keadaan putri saya Dokter?" tanya Fathir.


"Pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya. Saat di ruang operasi, pasien sempat kehilangan detak jantungnya beberapa menit. Itulah yang membuat saya dan beberapa perawat lama di ruang operasi karena kami berusaha untuk mengembalikan detak jantung pasien terlebih dahulu. Di menit yang ke dua puluh, akhirnya kami berhasil mengembalikan detak jantungnya. Dan setelah itu, barulah kami melanjutkan untuk mengeluarkan peluru dari perutnya."


Mendengar penuturan dari sang Dokter membuat Nashita, Fathir, keempat putranya dan juga yang lainnya terkejut.


"Mak-maksud Dokter. Adik saya mengalami luka tembak?" tanya Uggy.


"Iya, tuan. Dan peluru lumayan mengenai sedikit ginjal kirinya."


"Brengsek!" Jason, Uggy, Enda dan Riyan benar-benar marah ketika mendengar perkataan dari Dokter yang menangani adik perempuannya.


"Tapi adik kami baik-baik sajakan Dokter?" tanya Enda.


"Iya, tuan. Tuan tidak perlu khawatir. Semua baik-baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan."


Mendengar jawaban dari sang Dokter membuat mereka semua mengucapkan beribu kata syukur ketika mendengar kondisi kesayangan mereka baik-baik saja.


"Kimberly," lirih mereka semua saat mereka tahu kondisi Kimberly ketika berada di ruang operasi.


"Terima kasih, Dokter." Fathir berucap.


"Sama-sama tuan. Itu sudah menjadi tugas saya sebagai Dokter. Ini semua juga tak lepas dari doa kalian semua. Kalian bisa melihat pasien setelah dipindahkan ke ruang rawatnya."


"VVIP, Dokter!" seru Riyan.


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu untuk memindahkan pasien."


Setelah itu, Dokter tersebut pun kembali masuk ke ruang operasi untuk memindahkan Kimberly ke ruang rawatnya.