
Kimberly, Billy, Triny dan Aryan sudah tiba di sekolah. Jika Triny, Billy dan Aryan langsung menuju kelas setelah berpamitan dengan Kimberly. Beda lagi dengan Kimberly. Justru Kimberly saat ini berada di kantin. Dia sendirian disana.
Kimberly tengah menikmati sarapan pagi keduanya setelah sarapan pagi di rumah bersama anggota keluarganya.
Ketika Kimberly sedang fokus menikmati sarapannya, tiba-tiba seseorang datang menghampiri dirinya. Seorang siswa laki-laki yang pernah tanpa permisi masuk ke dalam mobilnya saat itu.
Pemuda itu adalah Azka, anak kelas XII IPS 2. Azka menyukai Kimberly sejak pertama kali bertemu di perjalanan hendak ke sekolah.
"Hei," sapa siswa tersebut bersamaan dengan dirinya langsung menduduki pantatnya di bangku di hadapan Kimberly.
Kimberly yang tadinya fokus menikmati sarapannya sembari bermain ponsel, seketika langsung melihat keasal suara. Kemudian Kimberly berdecak kesal setelah melihat wajah pemuda tersebut.
"Cih! Dia lagi. Mau ngapain sih? Gangguin aja," batin Kimberly.
Setelah itu, Kimberly kembali fokus pada makanannya dan ponselnya. Baginya menikmati makanannya sembari menatap layar ponselnya adalah hal yang menarik dari pada meladeni pemuda di hadapannya itu.
Melihat reaksi yang diberi oleh Kimberly tidak membuat Azka marah atau sakit hati. Justru membuat Azka makin tertantang untuk mendapatkan dan menaklukkan hati Kimberly. Apapun yang terjadi, Azka harus mendapatkan Kimberly dan menjadikan Kimberly miliknya.
"Sendirian aja nih. Kemana yang lainnya? Biasanya selalu barengan," ucap Azka basa basi dengan tatapan matanya menatap wajah cantik Kimberly.
Hening..
Kimberly tidak memperdulikan dan menghiraukan pertanyaan dari Azka. Dia masih fokus dengan makanannya dan tatapan matanya menatap layar ponselnya.
"Sial! Gue dikacangin. Tapi tidak apa-apa. Gue harus memiliki seribu extra sabar menghadapi sikap acuh, sikap cuek dan ketus Kimberly. Setelah aku berhasil mendapatkannya, aku akan membuat dia terkurung dalam sangkar milikku. Dan aku tidak akan melepaskannya bahkan bebas berkeliaran." Azka berucap di dalam hatinya sambil terus menatap wajah cantik Kimberly.
Ting..
Terdengar bunyi notifikasi pesan WhatsApp di ponsel milik Kimberly sehingga membuat Kimberly langsung melihat dan membacanya. Satu pesan dari Rere terpampang disana.
Kimberly langsung membalas pesan WhatsApp sahabatnya itu.
TO : RERE
Gue di kantin. Langsung kesini karena gue butuh lo, Santy, Sinthia dan Catherine. Gue lagi Bad Mood nih!
FROM : RERE
Oke! Meluncur kesana sama Santy, Sinthia dan Catherine.
Setelah selesai mengirim pesan WhatsApp kepada Rere dan sudah mendapatkan balasan dari sahabatnya itu, Kimberly kembali fokus pada game nya tadi.
Ketika Kimberly sibuk dengan dunianya tanpa mempedulikan Azka yang masih terus menatap dirinya. Tanpa Kimberly ketahui ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan dirinya bersama dengan Azka. Bahkan orang itu merekamnya.
"Video yang sangat sempurna," ucap orang itu dengan tersenyum di sudut bibirnya.
Setelah itu, orang itu pergi meninggalkan kantin tersebut dengan senyuman kemenangan.
^^^
Tommy bersama Billy, sepupunya Andhika dan sahabat-sahabatnya saat ini tengah melangkahkan kakinya menuju lapangan basket yang ada di dalam gedung sekolah. Mereka kesana karena ingin latihan untuk pertandingan antar sekolah yang akan diadakan satu minggu lagi.
Dari arah berlawanan terlihat seorang siswi berjalan. Dia adalah Tasya siswi yang mencari masalah dengan Kimberly.
Seketika Tasya berhenti di hadapan Tommy. Dia menghalangi jalannya Tommy. Begitu juga dengan yang lainnya.
Melihat apa yang dilakukan oleh Tasya membuat Tommy menatap marah kearah Tasya. Begitu juga dengan Billy selaku sepupunya Kimberly dan sahabat-sahabatnya.
"Gue mau bicara sama lo, Tommy!"
Mendengar ucapan dari Tasya membuat Tommy menatap jijik kearah Tasya. Setelah itu, Tommy pun pergi dan disusul oleh Billy serta yang lainnya.
Tasya berlari kecil mengejar Tommy bersamaan tangannya yang hendak meraih tangan Tommy.
Sreekk..
Tasya berhasil mencekal pergelangan tangan Tommy sehingga membuat Tommy seketika berhenti. Begitu juga dengan yang lainnya.
Tommy menatap kearah tangannya yang dipegang oleh Tasya. Setelah itu, tatapan matanya beralih menatap wajah Tasya dengan tatapan tajamnya.
"Lepas!" bentak Tommy kemudian menarik kuat tangannya.
"Emangnya lo nggak ada pekerjaan yang lain ya? Mending lo pergi dari sini dan jangan ganggu Tommy," ucap dan tanya Andhika.
Tasya melirik sekilas kearah Andhika yang berdiri di samping Tommy. Setelah itu, Tasya kembali menatap wajah tampan Tommy.
"Gue mau liatin sesuatu sama lo," ucap Tasya.
Setelah itu, Tommy kembali melangkah. Dia tidak ingin berlama-lama berurusan dengan Tasya.
Namun Tasya dengan gesit langsung berdiri di hadapannya dan masih menghalangi jalannya.
Tasya kemudian memperlihatkan sebuah video di ponselnya kepada Tommy. Dia ingin menunjukkan sesuatu kepada Tommy apa yang dia rekan beberapa menit yang lalu.
"Ini lo lihatlah."
Tommy melihat kearah layar ponsel milik Tasya. Begitu juga dengan Billy, Andhika dan semua sahabat-sahabatnya.
Di dalam video itu terlihat dimana Kimberly sedang bersama Azka. Keduanya tengah mengobrol. Ralat! Hanya Azka yang berusaha untuk menarik perhatian Kimberly. Sedangkan Kimberly sibuk dengan dunianya sendiri.
Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya tersenyum di dalam hatinya menatap wajah Tasya. Mereka berpikir jika Tasya saat ini tersenyum penuh kebahagiaan karena memperlihatkan video itu kepada Tommy. Tasya mengira bahwa Tommy akan marah terhadap Kimberly.
Sementara untuk Tommy memang terlihat sedang marah, tapi kemarahan Tommy bukan tertuju pada Kimberly karena dia sangat mempercayai kekasihnya itu. Justru kemarahan Tommy tertuju pada Azka yang mana laki-laki itu masih saja mendekati Kimberly.
Setelah puas melihat video tersebut, Tommy menatap wajah Tasya yang juga tengah menatap wajahnya.
"Ada lagi yang ingin kau perlihatkan padaku?" tanya Tommy. "Mumpung aku disini, keluarkan semua yang ingin kau perlihatkan padaku."
Mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Tommy membuat Tasya terkejut. Dia tidak menyangka jika Tommy akan berbicara seperti itu.
"Tommy, aku......"
"Menjauhlah dari kehidupanku. Jangan pernah kau memperlihatkan wajah menjijikanmu itu di hadapanku."
Deg..
Tasya sejenak terkejut ketika mendengar ucapan kejam dari Tommy. Dia tidak menyangka jika Tommy tega berbicara seperti itu kepadanya.
"Tommy, kenapa kau berbicara seperti itu padaku. Aku...."
"Satu hal yang kau harus ketahui, Tasya! Aku Tommy Alexander tidak pernah menyukaimu apalagi jatuh cinta padamu. Perempuan yang aku sukai dan perempuan yang aku cintai adalah Kimberly Aldama. Dia perempuan satu-satunya yang pantas menjadi pendamping hidupku di masa depan. Bukan perempuan sepertimu."
Deg..
"Tommy......"
"Kali ini aku mengampunimu karena sudah menyakiti kekasihku dan juga menghinanya. Jika sekali lagi kau melakukan hal itu terhadap kekasihku, maka aku tidak akan segan-segan untuk balik menyakitimu. Aku tidak peduli sekali pun kau itu perempuan."
Tasya menatap tak percaya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Tommy yang masih memilih mencintai Kimberly, padahal sudah jelas-jelas Kimberly menduakan dirinya.
"Tommy, apa yang ada di otakmu itu! Kenapa kau masih saja mempertahankan perempuan yang sudah mengkhianati kamu. Bahkan dia sudah bermain di belakangmu!" Tasya berucap dengan suara keras. Dia melakukan itu agar Tommy sadar.
"Tutup mulutmu, sialan! Kimberly tidak seperti itu!" bentak Billy.
Tasya langsung menatap kearah Billy yang saat ini menatap tajam dirinya.
"Jelas kau membelanya karena dia adik sepupumu!" bentak Tasya.
Billy mengepal kuat tangannya disertai tatapan matanya menatap tajam kearah Tasya.
Ketika Billy hendak membalas perkataan dari Tasya. Lionel yang berdiri di sampingnya langsung menepuk bahunya pelan.
"Sabar, Bil! Makin dilayani, dia akan semakin menjadi-jadi."
Tasya kembali menatap kearah Tommy yang mana Tommy juga menatap dirinya.
"Tommy, aku......"
"Sekali pun Kimberly mengkhianatiku dan bermain di belakangku. Sekali pun hubungan kami kandas alias putus. Kau jangan berharap lebih jika aku akan menerima cintamu. Selama aku hidup di dunia ini dan seandainya di dunia ini tersisa hanya kau, aku tidak akan pernah sudi menjalin hubungan denganmu. Aku lebih memilih hidup sendiri."
Setelah mengatakan itu, Tommy pergi meninggalkan Tasya yang terdiam di tempat karena syok mendengar ucapannya, dan diikuti oleh Billy dan sahabat-sahabatnya dengan tersenyum mengejek menatap kearah Tasya.
"Ngaca lo!"
"Sadar diri kek jadi perempuan!"
"Bercerminlah!"
"Jangan jadi perempuan murahan dengan mengejar laki-laki yang tidak menyukaimu sama sekali!"
Itulah kata-kata yang dilontarkan oleh Lionel, Mirza, Nathan dan Satya. Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengarnya.