THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pembalasan Yang Cantik



Mata pelajaran terakhir baru saja selesai. Dari sekian banyaknya siswa dan siswi Kinka High School yang lebih memilih pulang ke rumah masing-masing termasuk Aryan dan kelima sahabatnya, Triny dan keempat sahabatnya, Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya.


Namun berbeda dengan Kimberly. Dia sekarang ini menuju taman belakang sekolah. Sementara keempat sahabatnya disuruh menunggu di parkiran bersama dengan yang lainnya.


"Ngapain lo ngajak gue kemari, hum?" tanya Kimberly sembari bersedekap dada dengan tatapan matanya menatap remeh orang yang ada di hadapannya.


"Kenapa? Lo takut?" tanya orang itu kepada Kimberly.


"What! Lo bilang apa barusan? Gue takut sama lo! Yang benar aja! Nggak ada dalam kamus seorang Kimberly Aldama takut dengan siapa pun, termasuk sama lo!"


Gadis itu mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan tak mengenakkan dari Kimberly.


"Jangan sombong lo, Kimberly!"


"Gue nggak sombong. Tapi seperti itu kenyataannya kalau gue memang nggak takut sama siapa pun di dunia ini. Justru yang sombong itu lo. Lo yang barusan bilang ke gue kalau gue takut sama lo. Nah, berarti lo yang sombong!"


Kimberly menatap gadis di hadapannya itu dengan tatapan kasihan. Sementara gadis tersebut menatap Kimberly dengan penuh kebencian.


"Sudahlah Molly. Lo berhenti gangguin gue. Apa lo nggak capek ganggu hidup gue mulu."


"Gue bakal berhenti gangguin lo kalau lo pergi dari kehidupan Tommy!"


"Lah! Emangnya lo siapanya Tommy sehingga lo nyuruh gue pergi ninggalin Tommy? Gue kekasihnya Tommy. Gue sama Tommy duluan pacaran sebelum bertemu dengan lo. Sakit lo ya," ucap Kimberly menatap jijik Molly.


Kimberly menatap Molly dengan seringaian miliknya. Di dalam hatinya dirinya berkata 'enak saja menyuruh aku untuk pergi menjauh dari Tommy. Memangnya dia siapa?'


"Mending lo mundur deh dari pada lo ntar nyesel karena sudah nyari masalah mulu sama gue. Mumpung gue masih berbaik hati. Gue lupain semua perlakuan buruk lo sama gue," ucap Kimberly sembari tersenyum manis.


Mendengar ucapan serta senyuman Kimberly membuat Molly makin mengepal kuat tangannya serta tatapan matanya yang menatap nyalang kearah Kimberly.


"Nggak semudah itu gue bakal lepasin Tommy."


"Memangnya sejak kapan lo terikat dengan Tommy? Yang gue tahu Tommy bukan milik lo, melainkan milik gue. Jangan menghayal terlalu tinggi nona Molly. Ntar kalau jatuh sakitnya berkali-kali lipat."


"Baiklah kalau itu mau lo. Gue udah ngomong baik-baik sama lo, tapi lo nggak mau dengerin gue. Jangan salahin gue kalau gue melakukan hal buruk ini ke lo," ucap Molly.


"Hahaha. Memangnya lo bakal ngelakuin apa ke gue. Coba aja. Gue nggak takut. Asal lo nggak nyesal setelah ini," ucap Kimberly.


"Lo nantangin gue, hah?!" bentak Molly.


"Menurut lo?" tanya Kimberly dengan wajah biasanya.


"Brengsek! Kalian, keluarlah!" panggil Molly kepada orang-orang yang sudah dia bayar untuk menyelakai Kimberly.


Beberapa detik kemudian...


Kimberly melihat sekitar 10 laki-laki keluar dari persembunyiannya. Kesepuluh laki-laki itu menatap lapar kearah Kimberly.


"Bagaimana Kimberly? Apa lo takut sekarang. Lo lihatlah! Gue memiliki beberapa orang. Sedangkan lo hanya sendirian," ejek Molly.


"Kalau gue sendirian, lo mau apa? Belum tentu juga lo bakal menang dan gue kalah. Bisa saja menjadi kebalikannya. Lo yang bakal kalah dan nangis di hadapan gue."


"Brengsek! Keadaan lo udah kayak gini, tapi lo masih aja berani melawan gue!"


"Kan gue udah bilang sama lo kalau gue nggak pernah takut dengan siapa pun! Kenapa lo nggak ngerti juga?"


Molly menatap penuh amarah kearah Kimberly. Dirinya sudah kehabisan kata-kata dan ide untuk membuat Kimberly takut dan menurut terhadap dirinya, namun usahanya membuahkan kegagalan.


"Kalian! Habisi dia sekarang juga!" teriak Molly kepada kesepuluh laki-laki itu dengan menunjuk kearah Kimberly.


Sedangkan Kimberly hanya tersenyum dengan dengan tatapan matanya menatap dengan tatapan tajamnya dan seringaian miliknya.


Kesepuluh laki-laki itu berjalan mendekati Kimberly dengan tatapan laparnya. Sedangkan Molly seketika tersenyum bahagia melihatnya.


Disaat kesepuluh laki-laki itu sedikit lagi menyentuh Kimberly, seketika sesuatu terjadi sesuatu diluar skenario yang dibuat oleh Molly.


Dor.. Dor..


Dor..


Brukk.. Brukk..


Kesepuluh laki-laki itu mati seketika bermandikan darah di tanah dengan peluru menembus kepala dan jantungnya.


Sementara Kimberly tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah terkejut sekaligus wajah syok Molly.


"Kakak Deryl!"


Dan keluarlah orang yang dipanggil oleh Kimberly dengan beberapa anggotanya di belakang dengan berjalan mendekati Kimberly.


Sementara Molly kembali terkejut ketika melihat beberapa laki-laki berpakaian hitam lengkap dengan senjata di tangan masing-masing.


"Bagaimana? Masih mau bermain-main denganku? Bukankah tadi aku sudah memintamu untuk mundur dan berhenti mengganggu apalagi mengganggu Tommy. Tapi kau sama sekali tidak mengindahkan permintaanku. Dan makin bersikap sombong di hadapanku."


Kimberly berbicara dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Molly disertai senyuman iblisnya.


"Kakak Deryl."


"Iya, nona!"


"Bawa dia pulang ke rumahnya agar orang tuanya tahu kelakuan busuk putrinya. Kalau bisa kumpulkan semua anggota keluarganya dan perlihatkan apa yang kakak Deryl bisa lakukan. Aku serahkan tugas ini kepada kakak Deryl."


"Baik, nona. Saya akan melakukan yang terbaik sesuai keinginan nona!"


"Terima kasih kakak Deryl."


"Sama-sama nona."


"Kalian! Bawa gadis itu!"


"Baik, Bos!"


Setelah itu, dua anggota Deryl langsung membawa paksa tubuh Molly untuk menuju mobil dan diikuti oleh Kimberly dan Deryl di belakang.


^^^


Di parkiran dimana keempat sahabatnya, Billy, Aryan, Triny, Tommy, Andhika serta para sahabatnya sudah lama menunggu Kimberly yang katanya hanya sebentar.


"Cath, Kimberly kok lama di toiletnya?" tanya Billy.


"Kalian yakin Kimberly benar-benar pergi ke toilet?" tanya Triny kepada Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Kimberly sendiri yang bilang kekita kalau dia mau ke toilet dulu," sahut Sinthia.


"Tapi ini sudah lama loh. Masa iya Kimberly ke toiletnya satu jam lebih," ujar Dania.


"Bil, apa tidak sebaiknya kita susul Kimberly. Gue takut terjadi apa-apa sama Kimberly," ucap Triny sembari menatap wajah Billy.


Tommy saat ini tengah memikirkan sesuatu. Yang menjadi topik buah pemikiran Tommy adalah ucapan dan ancama Molly yang hendak mencelakai Kimberly.


"Apa dia benar-benar melakukan ancamannya itu," ucap Tommy.


Mendengar ucapan dari Tommy membuat semuanya menatap kearah Tommy. Mereka semua penasaran dengan apa yang Tommy ucapkan.


"Kak Tommy! Apa maksud perkataan kak Tommy tadi? Siapa yang ingin mencelakai Kimberly?" tanya Aryan.


"Tadi pagi Tommy dihadang oleh Molly. Seperti biasa, Molly berulah lagi. Singkat cerita, Molly ngancam Tommy akan mencelakai Kimberly jika Tommy masih bersama Kimberly." Billy menjelaskan maksud dari perkataan Tommy barusan kepada Aryan dan yang lainnya, kecuali sahabat-sahabatnya yang memang sudah tahu.


"Brengsek! Awas saja kalau dia berani nyakitin Kimberly. Gue yang bakal balas dia," ucap Triny.


Saat mereka sedang memikirkan Kimberly, tatapan matanya Lisa melihat kedatangan Kimberly dengan beberapa orang.


"Itu Kimberly!" seru Lisa sembari menunjuk kearah Kimberly dan beberapa orang laki-laki.


Semuanya langsung menunjuk kearah tunjuk Lisa dan dapat mereka lihat bahwa Kimberly baik-baik saja dan datang bersama beberapa laki-laki yang dikenali oleh Aryan, Billy dan Triny. Serta Molly yang dipegang oleh dua anggota dari Deryl.


"Maaf aku lama," ucap Kimberly.


Grep..


Tommy langsung memeluk tubuh Kimberly dengan sangat eratnya. Dirinya sempat berpikir bahwa Molly benar-benar menyakiti gadisnya.


"Aku baik-baik saja, Tommy! Kamu nggak perlu khawatir, oke!" ucap Kimberly sembari mengusap-usap punggung Tommy.


Sementara yang lainnya tersenyum ketika melihat Tommy yang begitu mengkhawatirkan Kimberly. Bukan hanya Tommy, mereka juga begitu mengkhawatirkan Kimberly yang tidak kunjung datang menghampiri mereka.