
"Siapa anda? Ada keperluan apa anda sama saya?" tanya Kimberly kepada seorang wanita paruh baya di hadapannya.
Kimberly serta yang lainnya saat bersama dengan seorang wanita paruh baya. Mereka menatap wanita itu curiga karena ini pertama kalinya mereka bertemu dengan perempuan tersebut.
Bruukk..
Tiba-tiba wanita paruh baya itu menjatuhkan dirinya di hadapan Kimberly sehingga membuat Kimberly terkejut sehingga membuat dirinya mundur beberapa langkah.
Bukan hanya Kimberly saja yang terkejut. Billy, Aryan, Triny, Tommy, Andhika dan yang lainnya juga terkejut melihat wanita itu bersimpuh di hadapan Kimberly.
"Eh, nyonya! Apa yang nyonya lakukan?!" Kimberly benar-benar terkejut saat ini.
Ini adalah untuk pertama kalinya bagi Kimberly melihat seorang perempuan yang seusia dengan ibunya bersujud di hadapannya.
Wanita itu menangis sembari melipat kedua tangannya di hadapan Kimberly sehingga membuat Kimberly makin terkejut dan juga syok.
"Saya adalah Salima, ibu kandung dari Rica Adisti Odelia!"
Deg..
Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan serta pengakuan dari wanita di hadapannya itu. Tubuh Kimberly seketika terhuyung ke belakang dan dengan sigap ditahan oleh Billy dan Tommy yang berdiri di samping kiri dan kanan.
"Ja-jadi dia ibu kandungnya kak Rica?" batin Kimberly, Triny, Aryan dan Billy.
"Nak Kimberly! Tujuan Tante datang kesini adalah ingin meminta bantuan untuk membujuk Rica agar mau memaafkan kesalahan Tante dan mau menerima Tante sebagai ibunya. Dengan kata lain, Rica tidak membenci Tante."
"Kenapa harus aku? Aku hanya orang luar. Lagian kak Rica belum resmi menjadi kakak iparku. Jadi aku tidak bisa terlalu ikut campur dalam masalah Tante dengan kak Rica."
"Tante tahu hal itu, nak! Tapi kamu bisa membicarakan masalah ini dengan kakak laki-laki kamu. Jadi...."
"Aku membicarakan masalah ini sama kakakku, lalu kakakku membahasnya dengan kak Rica, begitu?"
"Benar, nak!"
"Setelah kakakku membahas masalah ini dengan kak Rica. Kemudian kak Rica tidak terima dan dia tetap memutuskan untuk memusuhi dan membenci Tante. Dan pada akhirnya hubungan kakakku dan kak Rica renggang. Itu yang Tante inginkan?!"
"Tidak, nak! Bukan begitu. Tante tidak ingin hubungan Rica dengan kakakmu renggang atau hancur. Justru sebaliknya. Tante ingin melihat mereka menikah."
"Kenapa tidak Tante sendiri yang berjuang untuk mendapatkan kata maaf dari kak Rica? Bukannya Tante sendiri yang sudah membuat luka di hati kak Rica dengan meninggalkan dia bersama ayahnya dulu. Tante masih ingatkan apa yang sudah Tante lakukan dulu."
Mendengar ucapan dari Kimberly membuat Salima terdiam. Dirinya merutuki kebodohannya karena lebih memilih laki-laki lain dan meninggalkan suaminya yang begitu tulus mencintainya.
"Tante mohon nak! Bantu Tante."
Kimberly hanya diam dengan tatapan matanya menatap wajah cantik ibunya Rica Adisti Odelia. Di dalam hatinya merasakan kegelisahan dan ketakutan jika dia membantu wanita itu.
Melihat keterdiaman Kimberly membuat Billy dan Tommy langsung melirik kearah Kimberly. Keduanya benar-benar khawatir akan Kimberly. Begitu juga dengan Triny, Aryan dan yang lainnya.
"Kim," panggil Billy dengan mengusap lembut kepala belakang Kimberly.
Kimberly langsung melihat kearah Billy. Setelah itu, Kimberly melihat kearah Salima ibunya Rica. Kimberly dapat melihat dari tatapan mata ibunya Rica tersirat disana kesungguhan dan ketulusan. Tidak ada niat jahat sama sekali terpancar disana.
"Sekarang Tante berdirilah. Jangan buat aku seolah-olah gadis yang tak punya hati membiarkan seorang wanita yang sepantaran ibuku bersujud di hadapanku."
"Maafkan Tante, nak!" ucap Salima lalu berdiri dari bersimpuhnya.
"Tante lagi tidak merencanakan sesuatu kan?"
"Maksud nak Kimberly apa?"
"Tante tahu maksudku."
Seketika Salima berpikir maksud dari ucapan dan pertanyaan dari Kimberly.
"Pasti nak Kimberly berpikir kalau Tante memiliki niat buruk untuk merebut mantan suami Tante lagi kan? Nak Kimberly juga berpikir kalau Tante akan menyingkirkan perempuan yang menjadi istri dari Radhitya mantan suami Tante dan ibu dari Rica. Begitukan?"
"Iya." Kimberly langsung membenarkan apa yang menjadi beban pikirannya saat ini. "Aku memang berpikir seperti itu. Dan aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keluarga Odelia hanya karena kehadiran Tante. Mereka sudah bahagia. Dan Tante jangan merusak kebahagiaan mereka."
Salima tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Dirinya tidak marah ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Kimberly.
"Tante sama sekali tidak memiliki niat seperti itu, Nak! Niat Tante hanya satu yaitu berdamai dengan Rica putri sulung Tante. Bagaimana pun Rica putri kandung Tante, walau Tante sadar bahwa Tante tidak ikut serta menjaga dan merawat sejak kecil. Tante akui itu. Tidak ada mantan anak dan mantan ibu. Yang ada hanya mantan suami dan mantan istri."
"Baiklah. Aku pegang kata-kata Tante dan juga janji Tante. Tapi ingat Tante. Jika terjadi sesuatu terhadap rumah tangga Om Raditya dan Tante Emma dan masalah itu muncul karena ulah Tante atau putri Tante. Aku Kimberly Aldama tidak akan memaafkan Tante. Dan aku akan balas Tante dan juga putri Tante itu. Aku tidak peduli akan status Tante."
Setelah mengatakan kata-kata itu kepada Salima. Kimberly langsung pergi meninggalkan Salima dan semuanya untuk menuju kelasnya dan diikuti oleh Rere, Santy, Sinthia dan Catherine di belakang.
"Tante jangan terlalu dipikirkan apa yang dikatakan oleh Kimberly barusan. Kimberly memang seperti itu. Dia akan berbicara dengan nada mengancam jika ada orang yang mengusik dan menyakiti orang-orang terdekatnya." Billy berucap sembari memberikan ketenangan karena Salima sempat terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
"Apa yang dikatakan oleh sepupu saya ini benar Tante. Kimberly akan membalas orang-orang yang mengusik dan menyakiti orang-orang yang dia sayangi dan orang-orang terdekatnya," sahut Triny.
"Lebih baik Tante pulang dan istirahat di rumah. Sepertinya Tante lelah. Nanti kami akan bahas masalah ini dengan Kimberly," ucap Tommy.
"Baiklah, Tante akan pulang. Terima kasih sebelumnya. Maafkan Tante karena sudah mengganggu kalian."
"Tidak apa-apa Tante."
Setelah itu, Salima pun pergi meninggalkan sekolah Kimberly untuk kembali pulang ke kediaman Pandya.
***
[Berlin]
"Bagaimana kabar dari dua mantanmu itu, Antoni?" tanya pemuda pertama.
"Gue tidak tahu. Gue sudah tidak memiliki kontak apapun dengan mereka berdua," jawab Antoni.
Kemudian Antoni meneguk habis minuman yang ada di dalam gelas.
"Kalau gue boleh tahu. Dari kedua mantan lo itu. Yang mana masih lo cintai? Kimberly atau Clara?" tanya pemuda kedua.
Mendapatkan pertanyaan dari salah satu temannya mengenai perasaannya terhadap kedua mantannya itu membuat Antoni seketika teringat akan momen-momen pacarannya dulu dengan Kimberly.
Flashback On.
"Antoni, kita kesana ya!" seru Kimberly sembari menunjuk kearah seorang bapak-bapak yang menjual permen kapas.
Antoni langsung melihat kearah tunjuk Kimberly. Dan seketika Antoni tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Ayo!"
Keduanya bergandengan tangan menuju bapak-bapak penjual permen kapas tersebut.
"Mau bentuk apa?" tanya Antoni.
"Terserah aja mau bentuk apa?" jawab Kimberly.
"Kalau kupu-kupu, bagaimana?" tanya Antoni.
"Boleh," jawab Kimberly sembari tersenyum.
"Bentuk kupu-kupunya dua, Pak!" seru Antoni.
"Baik, tuan!"
Bapak-bapak penjual permen kapas itu pun langsung membuatkan permen yang bentuknya sesuai keinginan pelanggannya.
Beberapa detik kemudian..
"Ini tuan, nona!"
Kimberly dan Antoni langsung mengambil permen kapas itu.
"Wah! cantik sekali. Jadi sayang untuk memakannya," sahut Kimberly dengan menampilkan wajah sedihnya.
Mendengar ucapan serta wajah sedih Kimberly membuat Antoni tersenyum. Menurut Antoni wajah Kimberly begitu menggemaskan ketika saat ini.
Hap..
Tiba-tiba Antoni menggigit perman kapas milik Kimberly sehingga membuat sayap kupu-kupu tersebut hilang.
"Aaaa... Antoni! Kan jadi hilang sayapnya!" teriak Kimberly.
Mendengar teriakkan dari Kimberly, Antoni langsung ngacir agar dirinya terhindar dari amukan kekasihnya itu.
Melihat kekasihnya yang sudah melarikan diri membuat Kimberly mengumpat kesal. Kemudian Kimberly mengambil ancang-ancang, setelah itu Kimberly pun berlari sekencang-kencangnya mengejar Antoni sembari berteriak memanggil namanya.
"Antoni, berhenti!"
"Antoni!"
Flashback Off.
Antoni tersenyum ketika membayangkan saat dirinya berpacaran dengan Kimberly. Dirinya benar-benar bahagia saat itu.
Namun hubungan harus kandas akan ulah dari Clara yang mana Clara telah menjebak Kimberly tidur dengan laki-laki lain di sebuah hotel dan berakhir dirinya pacaran dengan Clara sang pelaku penjebakan.
"Sampai detik ini gue masih mencintai Kimberly. Namun gue nggak bisa berbuat apa-apa untuk mendapatkan hatinya lagi."
"Kenapa?" tanya pemuda ketiga.
"Kimberly sudah bahagia dengan laki-laki lain. Laki-laki itu begitu mencintai Kimberly."
"Jadi lo nyerah nih?" ledek pemuda keempat.
"Mereka masih status pacaran dan belum menikah. Jadi lo masih punya kesempatan untuk merebut mantan lo itu dari kekasih barunya itu," sahut pemuda pertama.
"Ya, benar tuh! Selama janur kuning belum melengkung. Lo masih punya kesempatan untuk mendapatkan Kimberly kembali. Orang yang udah nikah aja gampang tergoda dengan orang lain. Apalagi orang yang berstatus pacaran," sahut pemuda kedua.
"Ayo, bro! Perjuangkan cinta lo. Rebut kembali pujaan hati lo itu," pungkas pemuda ketiga.
"Jangan patah semangat gini," ujar pemuda keempat.
Mendengar ucapan demi ucapan serta dukungan dari keempat teman-temannya membuat Antoni seketika tersenyum.
"Aku akan mendapatkan kamu kembali Kimberly. Dan lo Tommy! Bersiap-siaplah untuk kehilangan Kimberly," batin Antoni.
"Gue akan merebut Kimberly kembali," ucap Antoni lantang.
"Itu baru namanya Antoni Archard!" seru keempat teman-temannya.