THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Keterkejutan Keenam Wanita Paruh Baya



Di sebuah gedung tempat acara ulang tahun perusahaan Metro Advertising milik keluarga Elmon sudah tampak ramai dimana semua tamu undangan telah hadir. Tamu undangan yang datang tersebut rata-rata dari kalangan bisnis. Baik kalangan bisnis teratas menengah dan kebawah. Mulai dari kalangan bisnis yang paling kejam dan berpengaruh sampai kalangan bisnis yang biasa saja, termasuk perusahaan milik keluarga Aldama dan perusahaan milik keluarga Alexander.


Kimberly sendirian berdiri tak jauh dari beberapa meja yang diatasnya sudah tersaji berbagai jenis menu makanan dan minuman. Di tangannya memegang segelas minuman jus.


Sementara kedua orang tuanya dan keempat kakaknya sedang berbicara dengan sang tuan rumah dan beberapa pengusaha lainnya.


Tanpa Kimberly ketahui ada enam wanita paruh baya yang sedang bersenda gurau dan tertawa dan duanya menatap tak suka kearah Kimberly. Dua wanita itu adalah Agatha ibunya Talitha dan ibunya Syafina.


Berlahan ibunya Talitha dan ibunya Agatha berjalan mendekati Kimberly yang saat ini tengah asyik sendiri menikmati minumannya.


Melihat dua temannya yang tiba-tiba saja pergi membuat keempat wanita lainnya menatap bingung dua temannya itu, lalu keempatnya mengikuti langkah kedua temannya tersebut.


"Oh, ternyata anak pembunuh sepertimu masih berani memperlihatkan wajahnya di tempat umum."


Kimberly yang tadinya fokus pada dunianya seketika terkejut ketika mendengar suara serta ucapan seseorang.


Berlahan Kimberly melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh Kimberly enam wanita paruh baya tengah menatap kearah dirinya, dua diantaranya menatap tajam dan jijik padanya.


"Mau apa lagi mereka? Nggak bosan-bosannya mencari masalah mulu. Nggak anak nggak ibunya sama aja. Menjijikan!" batin Kimberly.


"Tidak tahu malu kamu ya. Sudah jadi pembunuh, tapi kamu masih santai-santainya keluar rumah. Apa memang hobi kamu melakukan pekerjaan kotor!" bentak ibunya Syafina.


"Eh, Jeng! Apa Jeng katakan tadi? Pembunuh? Gadis ini seorang pembunuh?" tanya seorang wanita yang mana istri dari pemilik perusahaan Metro Advertising dengan tangannya menunjuk kearah Kimberly.


"Iya. Dia seorang pembunuh. Dia sudah membunuh anak perempuan saya," jawab ibunya Syafina.


Kimberly yang mendengar ucapan sekaligus jawaban dari ibunya Syafina seketika terkejut dan tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang.


Kimberly benar-benar tidak tahu tentang kondisi terakhir Syafina setelah dirinya mencekik dan mendorong Syafina demi membela harga diri ibunya.


"Dia juga yang sudah membuat putriku Talitha terusir dari keluarga Robert. Sekarang hidup putriku menderita gara-gara dia," ucap Agatha ibunya Talitha.


Mendengar ucapan dari ibunya Syafina dan ibunya Agatha membuat keempat temannya menatap jijik kearah Kimberly.


"Wah, benarkah begitu?!" tanya keempat wanita itu bersamaan dengan menatap jijik kearah Kimberly.


"Seperti itulah kenyataannya," jawab ibunya Syafina dan ibunya Talitha.


"Kamu benar-benar manusia kotor!" bentak istri dari pemilik perusahaan Metro Advertising.


"Kamu tidak pantas hidup di dunia ini," ucap wanita yang berdiri di samping wanita yang berstatus istri dari pemilik perusahaan Metro Advertising.


"Dasar gadis menjijikan!" bentak wanita yang lainnya.


Sementara Kimberly hanya diam mendengarkan ucapan dan hinaan dari keenam wanita yang ada di hadapannya. Tatapan matanya menajam menatap keenam wanita paruh baya tersebut. Kemungkinan sebentar lagi sosok Kimmy akan keluar.


"Gadis ini juga telah membuat hubungan putri saya hancur dengan calon suaminya," ucap ibunya Talitha.


"Dasar perempuan murahan!" bentak wanita yang lainnya.


"Dasar gadis pembawa sial. Kau tidak pantas hidup di dunia ini!" bentak bentak istri dari pemilik perusahaan Metro Advertising.


"Siapa yang kau sebut sebagai perempuan murahan!"


"Siapa yang kau sebut gadis pembawa sial dan tidak pantas hidup di dunia ini!"


Deg..


Seketika keenam wanita paruh baya itu terkejut ketika mendengar suara serta teriakan dari dua orang pemuda. Begitu juga dengan para tamu undangan yang lainnya.


Berlahan keenam wanita itu melihat kearah dimana dua pemuda berjalan menghampirinya. Dan jangan lupa tatapan mata yang menajam menatap keenam wanita tersebut.


Seketika ibunya Syafina dan ibunya Talitha ketakutan ketika melihat kedatangan Tommy bersama salah satu putra dari Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo. Keenam wanita itu belum tahu bahwa gadis yang mereka hina adalah putri dan adik kesayangannya keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.


"Kakak Enda, Tommy!" sapa Kimberly.


Yah! Dua pemuda yang berucap sembari berteriak adalah Enda Aldama dan Tommy Alexander. Kedua pemuda itu menatap khawatir kearah Kimberly.


"Apa mereka menyakitimu?" tanya Enda.


"Mereka tidak menyakitiku secara pisik, melainkan mereka menyakiti dengan cara menghinaku. Bahkan mereka juga menghina Mom dan Dad," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari adik perempuannya membuat Enda mengepal kuat tangannya dan menatap penuh amarah keenam wanita tersebut.


Kimberly menatap wajah Tommy. Dirinya ingin menanyakan tentang kematian Syafina.


"Tommy."


"Aku mau menanyakan soal Syafina."


Tommy menatap Kimberly tepat di manik coklatnya. Tommy bisa mengartikan dari tatapan mata Kimberly tersebut.


"Nanti aku ceritakan tentang Syafina. Untuk sekarang ini aku mau menyelesaikan urusanku dengan perempuan sialan ini," ucap Tommy.


"Baiklah," jawab Kimberly.


Tommy menatap ibunya Syafina dan ibunya Talitha dengan tatapan penuh amarah.


"Anda benar-benar tidak berubah nyonya Agatha! Apa belum cukup hukuman yang aku dan kakakku berikan padamu, putrimu dan seluruh anggota keluargamu sehingga anda berulah lagi," ucap dan tanya Tommy.


Tommy menatap tajam kearah kelima wanita lainnya yang berdiri diantara ibunya Talitha dan ibunya Syafina.


"Aku katakan kepada kalian sebuah kebenaran agar kalian sadar sebelum menghina orang lain. Dulu aku memang ada hubungan dengan anak perempuan dari wanita sialan ini." Tommy berucap dengan kejamnya sembari menunjuk kearah ibunya Talitha. "Aku sangat mencintai anak perempuannya, namun apa yang aku dapatkan sebagai balasan atas cintaku? Anak perempuan dari wanita sialan ini mengkhianatiku dengan menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Bahkan anak perempuannya dengan bangga memperkenalkan laki-laki tersebut sebagai calon suaminya. Sementara wanita yang tidak tahu diri ini justru merestui hubungan anak perempuannya dengan laki-laki lain. Sekarang aku bertanya kepada kalian. Apa masih pantaskah perempuan itu aku pertahankan?!"


Tommy berucap dengan suara yang sengaja dibesarkan agar semua tamu undangan bisa mendengarnya.


"Singkat cerita. Setelah hubunganku dengan anak perempuan dari wanita tidak tahu diri ini berakhir, aku bertemu dengan seorang gadis cantik dan baik hati. Dialah gadis itu," sahut Tommy sembari menarik Kimberly ke dalam pelukannya. "Kita aku sedang membentuk hubungan baru dengan gadis lain. Disaat aku sudah menemukan kembali kebahagiaanku. Anak perempuan dari wanita sialan ini kembali dan berulang kali ingin menghancurkan hubungan asmara kami."


Tommy menatap penuh kebencian keenam wanita di hadapannya saat ini, terutama kearah dua wanita yang beberapa bulan ini selalu berusaha untuk membalas Kimberly.


"Sekarang aku tanya kepada kalian! Siapa yang perempuan murahan yang sebenarnya?! Kimberly calon istriku atau perempuan yang bernama Talitha Robert?!" teriak Tommy.


Mendengar ucapan serta teriakan dari Tommy membuat keenam wanita tersebut diam serta ketakutan. Tidak ada diantara mereka yang bersuara.


"Dikarenakan kalian sudah menghina calon istriku, maka bersiap-siaplah kalian mendapatkan sebuah kejutan dari keluargaku dan keluarga dari calon istriku!" teriak Tommy lagi.


"Sekarang giliranku," ucap Enda dengan tatapan tajamnya menatap keenam wanita paruh baya itu, salah satunya Enda tahu. Wanita itu adalah sang tuan rumah dalam acara ulang tahun ini.


"Bukankah anda yang mengatakan bahwa adik perempuan saya adalah perempuan pembawa sialan. Dan anda juga mengatakan bahwa adik perempuan saya tidak pantas hidup di dunia ini," ucap Enda dengan menatap nyalang wanita itu.


Sementara wanita yang berstatus sebagai istri dari pemilik perusahaan Metro Advertising terkejut dan juga syok ketika mendengar ucapan dari salah satu putra Fathir Aldama dan Nashita Fidelyo. Begitu juga dengan kelima wanita paruh baya lainnya. Mereka tak kalah terkejutnya.


"Ja-jadi gadis itu putri dari tuan Fathir Aldama dan Nyonya Nashita Fidelyo," batin keenam wanita paruh baya itu dengan menatap kearah Kimberly.


"Anda adalah tuan rumah dalam acara ini, namun anda tidak menyambut tamu-tamu anda dengan baik. Anda justru membeda-bedakan tamu anda. Terbukti dengan sikap anda yang sudah berani menghina dan mamaki adik perempuanku!" bentak Enda.


"Ma-maafkan saya tuan Enda. Saya tidak tahu jika gadis itu adalah adik perempuannya tuan Enda," ucap wanita itu.


"Itu bukanlah suatu jawaban yang bagus. Menurut saya anda tetap salah. Mau dia adik perempuanku maupun dia bukan siapa-siapaku. Intinya! Anda tidak diperbolehkan bersikap buruk terhadap siapa pun. Terserah jika itu orang lain, anda sebagai tuan rumah harus bersikap adil dan baik kepada semua tamu-tamu anda. Selama tamu anda tersebut tidak melakukan kejahatan, anda berhak memberikan pembelaan."


"Namun jika anda tidak ingin ikut campur. Anda cukup melakukan satu hal. Anda usir tamu-tamu anda yang membuat keributan tersebut untuk meninggalkan acara. Adik bukan?"


^^^


Di sebuah ruangan dimana Fathir, istrinya dan ketiga putranya bersama dengan beberapa pengusaha, termasuk pemilik perusahaan Metro Advertising.


Para pengusaha tersebut sedang membahas kerjasama yang akan dilakukan bulan depan. Kerjasama tersebut akan mendatangkan keuntungan besar untuk semuanya.


Tok..


Tok..


Tok..


Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara ketukan pintu dari luar.


"Ya, masuk!" teriak sang pemilik perusahaan Metro Advertising.


Cklek..


Pintu dibuka oleh seseorang. Dan setelah itu, orang tersebut masuk ke dalam ruangan dan menghampiri Uggy.


Kemudian orang itu membisikkan sesuatu ke telinga Uggy sehingga membuat Uggy sontak membelalakkan matanya.


Uggy menganggukkan kepalanya. Sementara orang itu langsung pergi meninggalkan ruang tersebut.


"Dad, kak Jason, Yan! Kita keluar. Ada yang mencari masalah dengan Kimberly. Disana sudah ada Enda dan Tommy," ucap Uggy.


"Brengsek!" Jason seketika langsung marah ketika mendengar ucapan dari adik pertamanya mengenai adik perempuannya.


Fathir, Jason, Uggy dan Riyan langsung berdiri dari duduknya. Dan diikuti oleh Andrean, Judika dan Jordy serta masing-masing anak sulungnya yaitu Arka, Carly dan Jacob.


Mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk menemui Enda, Tommy dan Kimberly. Diikuti oleh para penguasa lainnya di belakang.