
Sinthia hanya diam saja antara percaya dan tidak percaya. Sinthia dan Satya sudah menjalin hubungan sekitar setengah tahun. Mereka juga sekolah yang sama dan beda tingkat. Jika Satya kelas 3, maka Sinthia kelas 1.
Saat ini mereka sedang berada di parkiran mobil. Kebetulan mereka berdua sama-sama selesai mengikuti pelajaran. Jika Satya selesai mengikuti pelajaran bahasa Inggris. Sedangkan Sinthia selesai mengikuti pelajaran kimia.
Ketika Sinthia hendak ke kantin, namun Satya datang dan mengajaknya untuk membicarakan sesuatu. Sementara untuk keempat sahabatnya sudah berada di kantin.
"Kamu dengar kan Sinthia?" tanya Satya lagi.
"Apa maksud kamu, kak Satya? Kakak lagi bercanda kan?" tanya Sinthia tidak percaya akan perkataan Satya yang mengatakan putus.
"Aku sedang tidak bercanda, Sinthia! Aku minta maaf, tapi kita harus putus." Satya berucap dengan penuh kesadaran.
Setelah mengatakan itu, Satya kemudian masuk ke mobilnya dan pergi meninggalkan Sinthia sendiri.
Sementara Sinthia tidak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Dia merasa selama ini hubungannya dengan Satya baik-baik saja. Bahkan tiga hari yang lalu mereka sempat merencanakan untuk liburan bersama dengan keempat sahabatnya dan sahabat-sahabatnya Satya.
Tapi kenapa Satya bisa berubah secepat ini. Tak terasa air mata Sinthia menetes perlahan. Dia kemudian berlari menuju ke kantin sekolah tempat biasanya keempat sahabatnya nongkrong.
Sinthia ingin menceritakan kejadian ini kepada keempat sahabatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa setelah kejadian tadi. Dia berpikir pasti keempat sahabatnya bisa menghiburnya.
"Kim," panggil Sinthia dan langsung duduk di samping Kimberly.
"Sinthia, kamu kenapa kamu?" tanya Kimberly.
"Aku... Aku...!" Sinthia menangis.
Melihat Sinthia menangis membuat Kimberly, Rere, Santy dan Catherine menjadi sedih.
Kimberly kemudian memeluk tubuh Sinthia dengan tangannya mengusap-usap lembut punggung sahabatnya itu.
"Ada apa? Katakan padaku," ucap Kimberly.
"Iya, Sin! Ada apa? Katakan pada kamu," ucap Santy.
"Tadi tiba-tiba kak Satya mutusin aku, Kim! Dan dia nggak bilang apapun alasannya," jawab Sinthia sambil menangis.
Mendengar jawaban dari Sinthia membuat Kimberly, Rere, Santy dan Catherine terkejut.
"Waduh, kok bisa?" tanya Rere.
"Kenapa kak Satya tega sekali mutusin Sinthia? Ih, jahat banget kak Satya." Santy berucap kesal.
"Aku juga nggak tahu. Kak Satya tiba-tiba aja minta putus. Padahal kemarin kami masih baik-baik saja," jawab Sinthia.
"Sudah. Jangan sedih lagi. Ada kau dan yang lainnya. Kamu nggak sendirian," ucap Kimberly.
"Iya, Sinthia. Apa yang dikatakan oleh Kimberly benar. Kamu nggak sendirian," ucap Catherine.
"Terima kasih ya," ucap Sinthia.
***
"Bagaimana Riyan?" tanya Jason kepada adiknya.
"Apa kamu mau memberikan satu perusahaan milik kakek Aldez yang sudah kamu hancurkan?" tanya Uggy.
Saat ini Riyan bersama dengan ketiga kakak laki-lakinya. Sementara kedua orang tuanya berada di luar kota. Keduanya akan pulang besok. Sedangkan Kimberly, kemungkinan sebentar lagi pulang dari sekolahnya.
"Hari ini dia meminta perusahaannya kembali. Setelah mendapatkan perusahaannya. Dia pasti akan meminta kita untuk memaafkan kesalahan cucunya," ucap Riyan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena hal itu tidak akan pernah terjadi," sahut Uggy.
Riyan menatap wajah kakak keduanya, lebih tepatnya di manik hitam kakaknya itu.
"Kakak sudah menyelidiki tentang kakek Aldez. Dia pria yang baik. Begitu juga dengan anak, menantu dan cucu-cucunya yang lain. Keluarga kakek Aldez tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Di dunia bisnis, mereka bersih."
Uggy menatap wajah adik laki-lakinya itu lekat. Terlihat keraguan di tatapan mata adiknya itu.
"Sifat kakek Aldez hampir sama seperti kakek kita. Dia tidak akan memohon kepada siapa pun. Jika anggota keluarganya murni bersalah dan ditambah lagi kesalahan tersebut sangat fatal, kakek Aldez tidak akan melakukan apapun untuk membela. Kecuali anggota keluarganya itu difitnah, barulah kakek Aldez akan membelanya."
"Untuk laki-laki yang bernama Bethran. Baik kakek Aldez maupun anggota keluarga Ramendra tidak mengetahui tentang semua yang dikerjakan oleh Bethran dan Aruna selama ini. Bisa jadi ini semua ulah dari Aruna. Dia pacaran dengan Bethran, tapi dia juga pacaran dengan kamu. Kakak juga ikut menyelidiki masalah. Kakak menyelidiki keluarga Aruna dari pihak ayahnya. Keluarga itu memang terkenal suka menipu orang. Kekayaan yang didapat oleh keluarga itu hasil dari menipu keluarga-keluarga kaya. Keluarga Ramendra adalah korban yang ke 119. Dan kita adalah yang ke 120 melalui kamu."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari kakak tertuanya membuat Riyan terkejut. Seketika Riyan langsung menatap wajah kakak laki-lakinya itu.
"Kakak kenapa begitu mudah mendapatkan tentang kebusukan keluarga menjijikkan itu sampai ke akar-akarnya. Sementara aku ketika mencari tahu tentang latar belakang keluarga Aruna, baik keluarga ayahnya maupun keluarga ibunya. Aku hanya mendapatkan sebagian saja." Riyan berucap dengan wajah yang kentara kesal.
Mendengar perkataan sekaligus keluhan dari Riyan membuat Jason, Uggy dan Enda tersenyum.
"Bukankah kita sudah memiliki tugas-tugas masing-masing untuk urusan selidiki menyelidik?" tanya Enda.
"Kamu yang ringan-ringannya. Sementara kak Jason dan kakak yang berat-beratnya," sela Uggy menatap wajah adiknya yang saat ini masih terlihat kesal.
Puk!
Jason menepuk bahu Riyan pelan. "Sudah, jangan dipikirkan hal itu. Sekarang bagaimana? Mau tidak memberikan kembali perusahaan itu kepada kakek Aldez. Kita cukup fokus kepada Bethran, Aruna dan keluarganya. Setidaknya kita melakukan ini demi adik perempuan kita."
"Baiklah. Demi Kimberly aku akan kembali lagi perusahaan itu kepada kakek Aldez. Aku akan pulihkan kembali keempat perusahaan itu."
Mendengar jawaban dari Riyan membuat Jason, Uggy dan Enda tersenyum.
"Anggap saja kita melakukan ini untuk memberikan kesempatan kepada keluarga Ramendra melalui kakek Aldez. Kakek Aldez itu orang baik," ucap Uggy.
"Iya, kak!"
***
Di dalam kamarnya, Sinthia cuma bisa menangis sendiri. Orang tuanya pergi keluar kota untuk 2 hari ke depan. Begitu juga dengan kedua kakak laki-lakinya. Kedua sibuk dengan perusahaan masing-masing. Keduanya memutuskan untuk menginap di perusahaan. Jadi dia hanya di rumah sendirian.
Sinthia mencoba menelpon keempat sahabatnya secara bergantian, tapi tidak ada satu pun yang mengangkat panggilan darinya.
Sinthia coba untuk SMS atau mengirim pesan WA. Namun hasilnya nihil. Keempat sahabatnya itu tidak membalas SMS dan pesan WA darinya.
Sinthia merasa hari ini adalah hari yang paling menyedihkan baginya. Setelah putus oleh cowok yang sangat disayanginya, sahabat-sahabatnya pun serasa menjauhinya.
Sebenarnya apa salah dirinya sehingga kekasih dan keempat sahabat-sahabatnya memperlakukan dirinya seperti ini. Sinthia semakin sedih dan terus menangis sampai akhirnya tertidur.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam. Setelah menyantap makan malam. Kelima Aldama bersaudara memutuskan untuk berkumpul di ruang tengah.
Dan saat ini Kimberly tengah tiduran di paha Riyan sembari bermain ponsel. Sesekali Kimberly tertawa dan sesekali Kimberly mengumpat kesal ketika dirinya menang dan kalah dalam permainan gamenya.
Sedangkan para kakaknya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar umpatan kesal yang keluar dari mulut adik perempuannya itu.
"Tuh mulut kapan cutinya dari umpatan, hum?" tanya Riyan sembari tangannya bermain-main di kepala adiknya.
"Tidak akan pernah cuti, kak Iyan!" Kimberly menjawab dengan entengnya.
Mendengar jawaban yang begitu santai dari Kimberly membuat Riyan melongo. Begitu juga dengan Jason, Uggy dan Enda. Mereka hanya tersenyum.
"Kak Iyan," panggil Kimberly.
"Hm." Riyan berdehem menjawab panggilan dari adik perempuannya itu.
"Bagaimana? Apa kak Iyan mau memberikan perusahaan itu kembali untuk kakek Aldez?"
"Kalau kakak nggak mau. Kamu mau lakuin apa sama kakak?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari adik perempuannya. Justru Riyan memberikan pertanyaan kepada adik perempuannya itu.
Kimberly yang mengharapkan kakaknya itu menjawab pertanyaannya. Justru kakaknya itu memberikan pertanyaan balik padanya.
"Kebiasaan," sahut Kimberly.
Mendengar perkataan dan juga nada kesal Kimberly membuat Riyan seketika tersenyum. Begitu juga dengan Jason Uggy dan Enda.
"Kakak, aku serius!"
Riyan mengusap-usap lembut kepala adiknya. "Iya. Kakak mau mengembalikan perusahaan itu kepada kakek Aldez."
Mendengar jawaban dari kakaknya itu. Kimberly langsung bangun dari acara tidurnya di paha Riyan.
Kimberly langsung menatap wajah tampan kakaknya itu tepat di manik hitamnya.
"Serius kak?"
"Dua rius mala."
"Kakak pasti bohong."
"Nggak percaya?"
"Nggak."
"Coba tanyakan sama kak Jason, kak Uggy dan kak Enda."
Kimberly langsung menatap kearah Jason, Uggy dan Enda secara bergantian.
Melihat adik perempuannya yang menatap dirinya. Jason, Uggy dan Enda secara bersamaan langsung menganggukkan kepalanya.
Seketika terukir senyuman manis di Kimberly ketika melihat ketiga kakaknya itu menganggukkan kepalanya secara bersamaan.
Kimberly kembali menatap wajah kakak keempatnya. Dan detik kemudian, Kimberly memeluk erat kakaknya itu.
"Terima kasih kak. Aku sayang kakak."
Riyan membalas pelukan adiknya itu lalu memberikan ciuman di pucuk kepalanya.
"Sama-sama sayang. Kakak juga sayang kamu."