
Kimberly saat ini bersama dengan keempat sahabatnya di kantin. Setelah berjuang menghadapi dua pelajaran yang menguras otak dan tenaga yaitu FISIKA dan MATEMATIKA. Kimberly dan keempat sahabatnya memutuskan untuk makan. Sejak tadi perutnya sudah berbunyi dan menari-nari untuk minta diisi.
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine memesan beberapa menu makanan dan minuman. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya memesan lebih dari satu makanan dan minuman.
Melihat begitu banyak makanan dan minuman di atas meja membuat beberapa penghuni kantin melongo dengan tatapan mata yang membesar kearah meja yang di tempati Kimberly dan keempat sahabatnya. Mereka hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Di kantin itu juga ada Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya. Mereka juga ikut tersenyum ketika melihat begitu banyak makanan dan minuman di atas meja.
Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya, Triny dan sahabat-sahabatnya serta Aryan dan sahabat-sahabatnya duduk paling pojokan sehingga para penghuni kantin tidak menyadari akan kehadiran mereka. Di tambah lagi bentuk kantin tersebut yang begitu luas dan besar.
"Itu Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine sanggup menghabiskan semua makanan itu?" tanya Dania yang menatap tak percaya bersamaan dengan kepalanya yang dia geleng-gelengkan.
Mendengar pertanyaan dari Dania membuat Billy, Aryan, Billy serta yang lainnya hanya bisa tersenyum sembari terus memperhatikan Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.
^^^
"Kim," panggil Rere.
"Hm." Kimberly menjawab panggilan dari Rere dengan deheman sembari tetap fokus menikmati makanannya.
"Gue dengar kemarin lo digangguin sama si Azka? Apa itu benar?" tanya Rere.
"Iya," jawab Kimberly.
"Mau ngapain lagi dia?" tanya Catherine.
"Nggak tahu. Tanyakan saja sama yang bersangkutan," jawab Kimberly asal.
"Aish!"
Catherine seketika berucap kesal akan jawaban dari Kimberly. Seketika dia memberikan tatapan mematikan kearah Kimberly.
"Jangan tatapan aku seperti itu, Catherine Carney!" Kimberly berucap sembari menikmati makanannya.
Sementara Catherine seketika membelalakkan matanya ketika ketahuan oleh Kimberly karena tengah menatapnya. Seketika Catherine langsung mengalihkan pandangannya menatap makanannya dengan bibir yang mengerucut.
Rere, Santy dan Sinthia tersenyum. Begitu juga dengan Kimberly.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah menikmati makan siangnya sembari bersenda gurau, tiba-tiba datang hama pengganggu.
Braakkk..
Salah satu ketujuh hama pengganggu tersebut langsung memukuli meja tempat Kimberly dan keempat sahabatnya duduk sehingga beberapa menu makanan dan minuman berserakan.
Kimberly melirik sekilas kearah para pengganggu. Begitu juga dengan Santy, Rere, Sinthia dan Catherine. Setelah itu, mereka kembali fokus pada makanannya masing-masing.
"Mau apalagi sih dia?" batin Kimberly. Begitu juga dengan Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.
"Lebih baik lo pergi dari sini, Tasya! Bawa sahabat-sahabat lo itu sekalian," usir Catherine.
Yah! Ketujuh hama pengganggu itu adalah Tasya dan keenam sahabatnya. Mereka memberikan tatapan tajam kearah Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Apa lo bilang, hah?! Lo berani ngusir gue dan keenam sahabat gue dari sin!" bentak Tasya tak terima.
"Kenapa tidak? Gue barusan melakukan hal itu. Gue nyuruh lo dan sahabat-sahabat lo pergi dari sini," balas Catherine.
"Lo nggak berhak ngusir kita dari sini!" bentak salah satu sahabatnya Tasya.
"Kalau tidak mau di usir. Minimal lo semua menjauh dari hadapan kita. Jangan disini. Yang ada kalian mengganggu kami yang mana kami sedang menikmati makan siang kami," sahut Rere.
Mendengar ucapan dari Rere membuat Tasya dan keenam sahabatnya mengepal kuat tangannya.
"Berani lo ya!" bentak sahabat Tasya yang lainnya.
"Sejak kapan gue takut sama hama pengganggu seperti kalian," jawab Rere dan diangguki oleh Santy, Sinthia dan Catherine.
"Lo...."
Seketika sahabat dari Tasya tersebut mengangkat tangannya hendak menampar wajah Rere, namun dengan gerakan cepat Kimberly menendang kursi di depannya sehingga kursi tersebut mengenai lutut sahabatnya Tasya tersebut.
Bugh..
"Aakkhhh!"
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya mendengar ringisan dari sahabat Tasya tersebut. Begitu juga dengan Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.
Tasya serta kelima sahabatnya menatap tajam kearah Kimberly. Mereka tidak terima atas apa yang dilakukan oleh Kimberly.
Braakkk..
"Lo apa-apaan, hah?! Berani sekali lo nyakitin sahabat gue!" bentak Tasya.
Melihat kelakuan Kimberly yang bersikap tak peduli membuat Tasya geram. Bahkan tatapan matanya semakin tajam menatap Kimberly.
"Apa begini ajaran dari orang tua lo?! Pasti orang tua lo yang sudah nyuruh lo bersikap buruk terhadap teman-teman sekolah lo! Pantas saja kelakuan lo seperti ini, kelakuan ibu lo....."
Sreekkk..
Bugh..
"Aakkkhh!" teriak kencang Tasya sembari memegang mulutnya yang mengeluarkan banyak darah.
Kimberly berdiri dari duduknya bersamaan tangannya langsung memberikan pukulan keras kearah mulutnya Tasya yang sudah menghina ibunya sehingga membuat mulutnya Tasya sobek dan mengeluarkan banyak darah.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly terhadap Tasya membuat keenam sahabatnya Tasya terkejut. Namun tidak dengan penghuni kantin, karena mereka sudah tahu tabiat Kimberly jika sudah menyangkut orang tuanya. Bahkan rata-rata penghuni kantin sangat suka dengan apa yang dilakukan oleh Kimberly. Begitu juga dengan semua murid-murid yang menyukai Kimberly.
Jika mereka di posisi Kimberly pasti mereka akan melakukan hal yang sama seperti Kimberly. Anak mana yang tidak marah jika kedua orang tuanya dihina. Otomotif sang anak akan kalap dengan memberikan pelajaran terhadap orang-orang yang sudah menghina kedua orang tuanya.
Sementara Billy, Aryan, Triny, Tommy dan sahabat-sahabatnya tersenyum bak iblis ketika melihat Tasya yang mendapatkan pukulan keras di mulutnya dari Kimberly.
"Lo apa-apaan, hah?! Kenapa lo mukul Tasya?!" bentak sahabat Tasya marah.
"Jika lo tidak ingin gue nyakitin sahabat lo, mending lo kasih tahu sama sahabat lo itu untuk tidak mencari masalah dengan gue, apalagi sampai menghina kedua orang tua gue!" bentak Kimberly balik.
Kini posisi Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catherine sudah berdiri dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Tasya dan keenam sahabatnya.
"Kalian terlebih dahulu mencari masalah dengan kita. Ketika dilawan, kalian malah tak terima seolah-olah kalian adalah korbannya." Sinthia berucap dengan menatap jijik Tasya dan keenam sahabatnya.
"Cih! Menjijikan," sela Santy.
"Kita mencari masalah dengan kalian karena sahabat kalian itu telah merebut pacar dari sahabat kami, Tasya!" bentak sahabatnya Tasya sembari melirik kearah Kimberly.
"Hahahaha."
Mendengar ucapan dari sahabatnya Tasya membuat Santy, Rere, Sinthia dan Catherine tertawa keras. Bagi mereka adalah bahwa apa yang dikatakan oleh sahabat Tasya itu adalah kata-kata lucu.
"Hei, nona! Kalau saya boleh tahu, siapa pacar dari sahabat anda itu, nona?" tanya Rere dengan nada ejekan.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kalian sudah tahu siapa orangnya!" bentak sahabat Tasya yang lainnya.
Santy, Rere, Sinthia dan Catherine saling memberikan tatapan matanya. Kemudian mereka menatap kearah Kimberly yang juga menatap mereka.
Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Tasya dan keenam sahabatnya dengan tersenyum di sudut bibirnya.
"Maksud kamu adalah Tommy Alexander?" tanya Santy.
"Iya. Tommy adalah pacarnya Tasya," jawab sahabat Tasya itu.
"Hahahahaha." Santy, Rere, Sinthia dan Catherine langsung tertawa ketika mendengar jawaban dari sahabatnya Tasya.
"Wah, nona! Anda terlalu percaya diri. Sejak kapan saudara Tommy Alexander berpacaran dengan saudari Tasya? Selama aku sekolah disini, aku tidak pernah mendengar kabar tentang mereka berdua. Bahkan aku tidak pernah melihat mereka makan berdua di kantin, bermesra-mesraan di sekolah dan jalan berduaan selama di sekolah," ejek Rere dengan senyumannya.
"Justru kami malah sering melihat saudara Tommy Alexander lebih dekat dengan Kimberly Aldama. Bahkan mereka sering bermesraan di sekolah. Satu sekolah juga sudah tahu hubungan mereka berdua," ucap Sinthia dengan tatapan meremehkan.
"Jangan ngaku-ngaku deh," ejek Rere.
"Malu kali mengakui pacar orang sebagai pacar dari sahabat kalian itu," ejek Santy.
Mendengar ucapan demi ucapan serta ejekan dari keempat sahabatnya Kimberly membuat keenam sahabatnya Tasya menggeram marah.
Keenam sahabatnya Tasya menatap tajam Santy, Rere, Sinthia dan Catherine. Dan detik kemudian, keenamnya langsung menyerang Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.
Byur...
"Aakkhh!" teriak kencang keenam sahabatnya Tasya sembari menutup kedua matanya.
Santy, Rere, Sinthia dan Catherine bersamaan menyiram wajah keenam sahabatnya Tasya dengan kuat bakso yang mana kuah bakso tersebut berwarna merah sehingga membuat keenam sahabatnya Tasya berteriak.
Santy, Rere, Sinthia dan Catherine melakukan hal extreme itu karena mereka tidak ingin membuang-buang tenaganya. Dengan menyiram wajah keenam sahabatnya Tasya dengan kuah bakso miliknya sudah termasuk meringankan pekerjaannya.
Setelah puas dengan aksinya, Kimberly memutuskan pergi meninggalkan kantin diikuti oleh keempat sahabatnya dengan tersenyum penuh kebahagiaan.
Sementara untuk Billy, Tommy, Aryan, Triny serta sahabatnya tersenyum penuh kebahagiaan atas apa yang dilakukan oleh Kimberly, Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.
"Itu baru cewek gue!"
"Itu baru sepupu gue!"
Aryan, Triny, Lionel, Satya, Billy, Tommy, Henry berucap bersamaan.