THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Keterkejutan Aruna



"Kim, siapa dia?" tanya Aryan ketika melihat gadis berdiri di samping Kimberly.


Billy, Triny, Aryan, para sahabatnya, kecuali keempat sahabatnya Kimberly melihat kearah gadis di sebelah Kimberly.


Kimberly melirik sekilas ke samping lalu kembali menatap ketiga sepupunya, kekasihnya dan para sahabat dari ketiga sepupunya.


"Dia Rania. Aku ingin antar dia pulang ke rumah keluarga dari pihak ibu kandungnya," ucap Kimberly.


Mendengar perkataan sekaligus jawaban dari Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan, Tommy serta yang lainnya menatap Kimberly dan murid perempuan itu.


Melihat kebingungan di wajah ketiga sepupunya, kekasihnya dan para sahabatnya membuat Kimberly tersenyum.


"Nanti aku ceritakan. Lebih baik sekarang kita pulang," ucap Kimberly.


"Kim, kamu satu mobil sama aku!" seru Tommy.


"Terus mobil aku bagaimana?" tanya Kimberly menatap wajah Tommy.


"Buang aja ke laut," jawab Tommy sembari menjahili Kimberly.


Mendengar jawaban seenaknya dari Tommy membuat Kimberly membulatkan matanya.


Melihat wajah terkejut dan syok Kimberly membuat mereka semua termasuk Tommy tersenyum geli.


"Enak banget jawabnya ya," kesal Kimberly.


"Lah, memangnya kenapa? Kan tinggal jawab doang," sahut Tommy.


"Kalau begitu aku nggak mau satu mobil sama kamu. Kamu pergi saja sendiri," balas Kimberly.


Setelah itu, Kimberly pergi meninggalkan Tommy dan yang lainnya. Dan tak lupa Kimberly menarik pelan tangan adik kelasnya.


Seketika Tommy melongo mendengar perkataan dan melihat kepergian Kimberly. Sementara Billy, Triny, Aryan, Andhika dan yang lainnya tertawa nista.


"Hahahaha."


***


Di sebuah mall yang terkenal dan besar di kota Hamburg, Jerman terlihat seorang gadis cantik tengah melangkahkan kakinya menyusuri luas mall. Matanya tak lepas memperhatikan beberapa macam barang yang berjejer di dalam mall tersebut.


Gadis cantik itu adalah Athaya Ravindra, putri kedua dari Clarita Fidelyo dan Ammar Ravindra.


Athaya memasuki sebuah toko handphone. Dirinya berencana ingin membeli ponsel baru. Ponsel yang dibeli oleh Athaya bukan untuk dirinya, melainkan untuk adik bungsunya yaitu Billy.


Ponsel baru tersebut merupakan hadiah ulang tahun dari Athaya untuk adik bungsunya karena ketika adik bungsunya berulang tahun seminggu yang lalu, dirinya tidak hadir dikarenakan berada di luar kota mengurus pekerjaannya.


Athaya melihat-lihat dan juga memilih-milih jenis ponsel yang ada di hadapannya. Serta beberapa ponsel yang ditawarkan oleh penjual tersebut.


Setelah beberapa menit memilih-milih, akhirnya Athaya mendapatkan satu pilihan yang menarik perhatiannya.


"Saya mau yang ini."


"Baik, nona! Saya akan buatkan nota nya," ucap penjual wanita itu.


Ketika Athaya sedang menunggu penjual tersebut menulis nota jumlah harga ponsel yang dibelinya, tiba-tiba dirinya dikejutkan dengan suara seorang wanita dan seorang laki-laki yang mengarah kearah toko ponsel dimana dirinya berada.


"Sayang, aku mau yang ini! Ini bagus banget."


"Baiklah sayang!"


Laki-laki itu langsung meminta kepada penjual toko itu ponsel yang diminta oleh kekasihnya.


"Mbak, saya mau yang ini!"


"Baik, tuan!"


Athaya memperhatikan wajah dari perempuan yang sedang berduaan dan tampak bahagia dengan seorang laki-laki.


"Di-dia kan Aruna? Dia sudah kembali dari London? Terus laki-laki itu siapa?" tanya Athaya pada dirinya sendiri dengan tatapan tak lepas menatap kearah Aruna.


"Nona, ini barangnya dan ini nota nya."


Selesai dengan urusannya, Athaya tidak langsung pergi melainkan Athaya kembali menatap kearah Aruna dan laki-laki bersama Aruna. Keduanya masih ada di toko ponsel yang sama.


Athaya kemudian melangkahkan kakinya menghampiri Aruna dan laki-laki tersebut. Dirinya benar-benar penasaran sekaligus curiga dengan Aruna.


"Aruna," panggil Athaya setelah berada didekat Aruna.


Wanita yang dipanggil Aruna itu langsung menolehkan wajahnya menatap kearah Athaya.


"Kamu Aruna kan?" tanya Athaya.


"Iya, saya Aruna. Anda siapa ya?" tanya Aruna.


Disini Aruna memang tidak kenal dengan Athaya karena Athaya jarang berkumpul dengan seluruh anggota keluarganya, termasuk keluarga besar dari pihak ibunya. Athaya banyak menghabiskan waktu di luar kota dan di luar negeri mengurus pekerjaannya.


Sekali pun Athaya jarang berkumpul dengan dua anggota keluarga besarnya. Bukan berarti Athaya tidak mengetahui tentang anggota keluarganya. Justru Athaya mengetahuinya.


Athaya maupun anggota keluarganya saling bertukar komunikasi. Mereka juga sering memberikan kabar. Baik kabar buruk maupun kabar bahagia.


"Siapa laki-laki bersama kamu ini?" tanya Aruna dengan menatap laki-laki yang berdiri di samping Aruna.


Ketika Aruna hendak menjawab pertanyaan dari perempuan yang berdiri di hadapannya, kekasihnya sudah terlebih dulu bersuara.


"Perkenalkan saya Bethran Ramendra. Saya adalah kekasih sekaligus calon suami dari Aruna Gladiska Fredrick," jawab Bethran dengan lantangnya.


Mendengar jawaban lantang dari laki-laki yang berdiri di samping Aruna membuat Athaya terkejut. Ditambah lagi matanya menatap bagaimana laki-laki itu merangkul pinggang Aruna dan menariknya mendekat. Bahkan laki-laki itu dengan beraninya mencium bibir Aruna di depan umum.


Sementara Aruna yang diperlukan special oleh kekasih sekaligus calon suaminya memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Athaya. Dirinya tidak menyadari bahwa kebohongan dan pengkhianatannya sudah terbongkar di hadapan calon kakak iparnya.


Sementara para pengunjung dan pemilik toko ponsel sejak tadi memperhatikan interaksi Athaya, Aruna dan Bethran. Mereka menjadi pusat perhatian.


"Apa itu benar Aruna? Apa laki-laki yang ada di samping kamu ini kekasih sekaligus calon suami kamu?" tanya Athaya.


"Iya. Laki-laki ini adalah kekasih sekaligus calon suami saya." Aruna menjawab dengan lancar dan tanpa beban sama sekali.


Seketika Athaya tersenyum di sudut bibirnya. Tatapan matanya menatap jijik kearah Aruna.


"Kamu sudah salah pilih, Riyan! Inikah perempuan yang akan menjadi pendamping hidup kamu," batin Athaya dengan menatap jijik Aruna.


"Selamat ya Aruna Gladiska Fredrick. Kamu berhasil membohongi adik laki-lakiku. Aku salut padamu. Kau berhasil bermain di belakang adikku selama dua tahun." Athaya berucap dengan penuh penekanan serta Tatapan matanya yang dingin.


Aruna yang mendengar ucapan demi ucapan dari perempuan yang ada di hadapannya itu seketika terkejut. Matanya menatap lekat wajah wanita yang saat ini masih menatap dirinya. Aruna dibuat bingung sekaligus takut.


"Apa maksud dari perkataan anda barusan? Saya benar-benar tidak mengerti," ucap dan tanya Aruna.


Athaya tersenyum meremehkan ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Aruna.


"Kamu bukannya tidak mengerti. Hanya saja kamu saat ini tengah ketakutan karena kebohongan kamu telah terbongkar di hadapan saya," jawab Athaya dengan santainya.


"Jangan bertele-tele! Siapa kau?!" bentak Bethran dengan menatap tajam Athaya.


Athaya menatap dengan senyuman manis di bibirnya kearah Aruna sehingga membuat Aruna sedikit ketakutan.


"Perkenalkan nama saya adalah Athaya Ravindra, putri kedua dari Clarita Fidelyo dan Ammar Ravindra sekaligus keponakan dari Nashita Fidelyo yang sekarang menjadi Nashita Aldama!"


Mendengar Athaya yang menyebutkan nama kedua orang tuanya beserta nama marga dari keluarganya membuat Aruna terkejut. Begitu juga dengan para pengunjung mall yang memang sejak tadi menyaksikan pembicaraan Athaya, Aruna dan Bethran.


"Ka-kamu...," Aruna berucap dengan gugup.


"Iya. Aku adalah kakak sepupu dari Riyan Aldama, laki-laki yang sudah kau bohongi selama dua tahun ini. Kau menjalin hubungan dengan adik sepupuku, tapi kau juga menjalin hubungan dengan laki-laki lain. Kau pikir kau itu siapa, hah! Kau sudah salah besar bermain-main dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo, Aruna!"


Athaya berucap dengan penuh amarah. Bahkan Athaya tak peduli jika perkataannya didengar oleh semua pengunjung mall.


"Kau tidak akan bisa masuk apalagi menjadi bagian dari keluarga besar Aldama dan keluarga besar Fidelyo. Keluarga kami tidak menerima pengkhianat! Dan tidak ada kata maaf untuk seorang pengkhianat."


Setelah mengatakan itu, Athaya langsung pergi meninggalkan toko ponsel tersebut. Dirinya memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya.


Sementara Aruna saat ini tengah ketakutan. Dirinya tidak ingin sampai gagal menikah dengan Riyan. Dirinya juga takut jika Athaya menceritakan semuanya kepada Riyan dan keluarga besarnya.


Sedangkan untuk para pengunjung dan pegawai toko ponsel tersebut menatap jijik kearah Aruna dan Bethran, terutama terhadap Aruna. Mereka juga tidak suka akan kelakuan menjijikkan Aruna yang memiliki dua kekasih.