THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Memutuskan Untuk Memberitahu



"Aakkhhh!" Tasya berteriak kesakitan saat rambutnya ditarik kuat oleh Kimberly.


"Yak, Kimberly! Lepasin Tasya!" bentak sahabatnya Tasya.


Seketika Kimberly menatap kearah sahabatnya Tasya itu dengan tatapan matanya yang begitu tajam.


Deg..


Sahabatnya Tasya seketika ketakutan, tubuhnya merinding ketika melihat tatapan mata Kimberly yang menakutkan.


Bukan hanya dia saja yang bergidik, melainkan lima sahabat Tasya yang lainnya juga menatap ngeri Kimberly, termasuk orang-orang yang ada di lapangan basket tersebut.


Tapi tidak dengan Santy, Rere, Sinthia dan Catherine. Mereka langsung tahu dengan menatap manik Kimberly. Saat ini yang bersama mereka bukan Kimberly, melainkan Kimmy.


Bola mata Kimberly yang tadinya berwarna hitam, namun berubah menjadi kuning sehingga membuat semua ketakutan.


Setelah memberikan tatapan kepada salah satu sahabatnya Tasya. Kimberly kembali menatap Tasya. Kimberly kembali menarik rambut Tasya. Kali ini tarikan sangat-sangat kuat.


"Lo didiamin makin ngelunjak. Bahkan teguran dari guru olahraga bahkan nilai lo yang sudah berkurang, tapi lo masih saja main curang dengan gue sebagai targetnya!"


Yah! Dari ronde pertama sampai dengan ronde ketiga, Tasya selalu bermain curang dengan sengaja melempar bola kearah Kimberly sehingga membuat Kimberly berulang kali mendapat lemparan bola di tubuhnya. Mulai dari bahu, kepala bagian samping dan pinggang sehingga membuat Kimberly merasakan sakit luar biasa.


Dikarenakan fisik Kimberly kuat ditambah lagi di dalam tubuhnya ada pelindung yaitu Kimmy si Altar Ego nya sehingga membuat Kimberly mampu bertahan.


Tindakan Tasya tersebut sudah berulang kali dapat teguran, namun Tasya tidak mengindahkannya. Justru Tasya makin menjadi-jadi.


Sementara Kimberly berusaha untuk tidak terpancing dengan menyakiti Tasya.


Namun tindakan Tasya kali ini sudah diluar batas dimana Tasya menyebut Kimberly perempuan murahan dan perempuan gampangan. Tasya juga menyebut Kimberly perempuan yang tak setia terhadap pasangannya. Tasya menghina Kimberly habis-habisan di semua orang.


Mendengar ucapan serta hinaan dari Tasya membuat Kimberly kalap. Kimberly tidak mampu untuk menahan amarahnya lagi sehingga membuat Kimberly memberikan tendangan kuat di perut Tasya sehingga membuat Tasya tersungkur.


Bukan itu saja, Kimberly menarik rambut Tasya kemudian membawanya berdiri sehingga menimbulkan rasa sakit yang luar biasa bersamaan dengan teriakan Tasya.


Sreekkk..


"Aakkhhh!" teriak Tasya merasakan sakit di lehernya.


Kimberly melepaskan tarikan di rambutnya Tasya, lalu kemudian berganti dengan mencekik leher Tasya dengan kuat.


Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat semua orang berteriak termasuk dua guru olahraga tersebut. Mereka ingin menolong atau dengan kata lain ingin membujuk Kimberly, namun mereka tidak berani.


"Dari mulai permainan sampai permainan tersebut masuk ke ronde ketiga, gue berusaha mati-matian menahan sakit di tubuh gue akibat lemparan bola dari lo! Gue berusaha mati-matian menahan kesabaran gue agar gue nggak nyerang lo. Tapi lo makin ngelunjak dan makin menjadi-jadi!"


Kimberly berbicara dengan penuh penekanan, suara yang keras dan dengan sorot mata yang begitu tajam menatap Tasya.


Sementara yang lainnya, mendengar ucapan dari Kimberly di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang diucapkan oleh Kimberly. Disini memang Tasya yang bersalah. Tasya yang sudah memancing amarah seorang Kimberly keluar.


"Gue nggak punya urusan sama lo. Begitu juga dengan sahabat-sahabat gue. Bahkan gue juga nggak terlalu kenal sama lo. Tapi kenapa lo begitu antusiasnya dan begitu semangat mencari masalah sama gue!"


"Dan lebih parahnya lagi. Mulut lo tuh seenaknya ngatain gue perempuan murahan dan perempuan gampangan. Memangnya lo siapa, hah?!" teriak Kimberly bersamaan dengan tangannya menguatkan cekikikan di leher Tasya.


"Aaakkkhhh!" teriak Tasya.


"Le-pas-kan!"


"Kimberly, tolong lepaskan Tasya. Bapak berjanji padamu akan memberikan hukuman yang berat untuk Tasya!"


"Iya, Kimberly. Bapak sebagai guru olahraga di kelasnya Tasya juga akan memberikan hukuman yang berat untuknya."


"Kim, gue mohon. Lepaskan Tasya ya?" kini Catherine yang bersuara. Dirinya berharap ucapannya didengar oleh Kimberly.


Kimberly menatap satu persatu orang-orang yang ada di sekitarnya dengan tatapan matanya yang tajam.


"Jika kalian ikut campur dan berusaha untuk membela dia, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi nyawanya."


Deg..


Semuanya seketika terkejut ketika mendengar ucapan serta ancaman dari Kimberly. Mereka tidak menyangka jika Kimberly akan berbicara seperti itu.


Rere menatap wajah Catherine. Dia saat ini benar-benar mengkhawatirkan kondisi Kimberly.


"Cat, lebih baik lo ke kelasnya Billy. Hanya Billy yang bisa nenangin Kimberly. Buruan, Cat!"


"Baiklah!"


Setelah itu, Catherine pun berlari meninggalkan lapangan basket untuk menuju kelasnya Billy.


"Sin, San! Kalian berdua pergilah ke kelasnya kak Triny dan Aryan. Kasih tahu mereka kondisi Kimberly. Siapa tahu dengan adanya kak Billy, kak Triny dan Aryan. Kimberly bisa tenang."


"Baik, Re!" seru Sinthia dan Santy bersamaan.


"Lo tetap di samping Kimberly," ucap Sinthia.


"Hm." Rere berdehem sembari mengangguk.


Setelah itu, Santy dan Sinthia langsung berlari menuju kelas Aryan dan kelas Triny.


^^^


Di lokasi berbeda di waktu yang sama dimana Catherine, Santy dan Sinthia membuka pintu kelas Aryan, Billy dan Triny dengan kasar sehingga membuat penghuni di dalam kelas terkejut. Semua yang ada di dalam kelas langsung melihat kearah Santy, Sinthia dan Catherine.


"Ma-maaf!"


"Billy, ikut aku sekarang! Kimberly butuh kamu!"


Mendengar ucapan serta melihat wajah ketakutan Catherine membuat Billy langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan Henry, Ivan, Mirza dan Andry.


[[Author lupa Billy sekelas sama siapa saja. Dan Tommy juga sekelas sama siapa. Di bab sebelumnya sudah ada dialog mereka sekelas. Dikarenakan lupa, terpaksa Author bikin baru saja]]


Setelah mendapatkan izin dari guru kelas, mereka semua pergi meninggalkan kelas.


^^^


"Kak Triny, Kimberly butuh kakak. Ayo ikut aku, kak!" seru Santy dengan wajah ketakutannya.


Mendengar ucapan dari Santy membuat Triny sontak terkejut. Dia langsung berdiri dan disusul oleh sahabat-sahabatnya


"Pergilah kalian. Ibu izinkan kalian!"


"Terima kasih, Bu!"


Triny, Lisa, Alisha, Dania dan Danela langsung pergi meninggalkan kelas.


^^^


"Ayo ikut aku, Aryan! Terjadi sesuatu terhadap Kimberly!"


Deg..


Aryan seketika berdiri dari duduknya. Dia menatap kearah Sinthia yang terlihat ketakutan.


"Apa yang terjadi?"


"Ada yang mencari masalah dengan Kimberly dan berakhir Kimberly tidak bisa mengontrol emosinya. Kimmy...."


"Aku mengerti!"


"Izinkan saya, Pak!"


"Pergilah!"


"Terima kasih, Pak!"


"Ayo!"


^^^


Billy, Aryan dan Triny sudah tiba di lapangan basket. Setibanya mereka disana, mereka terkejut ketika melihat Kimberly yang mencekik leher Tasya, anak kelas 1 IPA 3. Bukan hanya Billy, Aryan dan Triny saja yang ada disana, melainkan Tommy, Andhika serta sahabat-sahabatnya juga ada disana.


Sementara dua guru olahraga dan teman-teman sekelas Kimberly dan teman-teman sekelasnya Tasya akhirnya bisa bernafas lega karena melihat kehadiran Billy, Aryan dan Triny.


Billy berlahan mendekati Kimberly dan diikuti oleh Aryan dan Triny. Mereka menangis melihat Kimberly yang kembali kesakitan dengan menyakiti orang.


Baik Billy maupun Triny dan Aryan tahu jika Kimberly beberapa bulan ini belajar mengendalikan emosinya. Tujuannya adalah agar sosok Kimmy tidak muncul. Kimberly mati-matian untuk menahan amarahnya, walau dihadapkan dengan situasi rumit.


Puk..


Billy berlahan menyentuh bahu Kimberly, kemudian Billy berlahan mengusapnya dengan lembut.


"Kim, ini aku. Kamu bisa denger nggak," ucap Billy.


"Kim, gue juga disini. Lo dengar gue, kan?" ucap Triny.


"Gue juga disini, Kim!" Aryan mengusap lembut pipi Kimberly.


Billy, Triny dan Aryan menatap sendu Kimberly. Hati mereka sakit ketika melihat tatapan Kimberly yang saat ini menatap Tasya.


"Kim," ucap Billy lagi dengan tangannya membelai lembut kepala belakang Kimberly.


Tes..


Seketika air mata Kimberly jatuh membasahi pipinya kala merasakan sentuhan hangat dari ketiga sepupunya.


Melihat reaksi dari Kimberly membuat Billy, Aryan dan Triny tersenyum. Kemudian Aryan menyentuh tangan Kimberly yang saat ini masih berada di leher Tasya.


Berhasil...


Aryan berhasil menjauhkan tangan Kimberly dari leher Tasya. Setelah itu, mereka membawa Kimberly menjauh dari Tasya.


Sementara Tasya, tubuhnya langsung merosot ke tanah sembari terbatuk-batuk dengan kedua tangannya memegang lehernya.


"Kalian bawa Tasya ke UKS!"


"Baik, Pak!"


Setelah itu, beberapa siswi membawa Tasya ke UKS bersama dengan sahabat-sahabatnya.


"Hiks... Hiks...," seketika Kimberly terisak.


Grep...


Billy menarik tubuh Kimberly dan membawanya ke pelukannya.


"Hiks... Hiks..." Kimberly makin terisak di pelukan Billy.


"Tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Kamu sudah sama aku, sekarang!"


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Kimberly bisa seperti ini?" tanya Dania kepada keempat sahabatnya Kimberly.


"Ini semua ulahnya Tasya. Sejak awal olahraga dimulai, Tasya sudah menargetkan Kimberly," ucap Rere.


"Tasya selalu bermain curang dengan sengaja melempar Kimberly dengan bola basket. Bukan sekali tapi berkali-kali sehingga membuat Kimberly mengeluh kesakitan," ucap Santy.


"Tasya melempar Kimberly dengan bola basket tepat di bagian tubuh Kimberly yang rawan," kata Sinthia.


"Jangan bilang jika Tasya menargetkan kepala, bahu dan pinggang Kimberly karena ketiganya itu memang kelemahan Kimberly?!" tanya Aryan.


"Memang itu yang ditargetkan Kimberly. Jadi dengan begitu, Tasya bisa mengalahkan Kimberly," sahut Catherine.


Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Sinthia dan Catherine membuat Aryan, Triny dan Billy marah. Begitu juga dengan Tommy serta yang lainnya.


"Brengsek!"


"Bukan itu saja, Tasya menyebut Kimberly sebagai perempuan murahan dan perempuan gampangan. Perempuan yang tidak setia sama satu laki-laki. Perempuan pengkhianat," ucap Rere


"Apa?!" Billy, Aryan, Triny, Tommy terkejut mendengar ucapan Rere. Begitu juga dengan yang lainnya.


Kimberly tiba-tiba melepaskan pelukannya, lalu kemudian menatap wajah Billy.


"Aku mau pulang."


Billy tersenyum bersamaan dengan tangannya mengusap air mata adik sepupunya itu.


"Baiklah. Kita akan pulang."


"Bil!" panggil Tommy.


"Ya, Tommy?"


"Biarkan aku yang antar Kimberly pulang."


"Bai......"


"Nggak!" Kimberly langsung menolak.


"Kim!" seru Billy, Aryan dan Triny bersamaan.


Kimberly menatap wajah Tommy dengan mata memerah dan wajah basahnya.


"Aku nggak mau pulang sama kamu. Ini semua salah kamu. Seandainya kamu mau dengarin aku tentang foto itu, hubungan kita pasti akan baik-baik saja. Dan Tasya tidak akan berbicara seperti itu padaku!"


"Kim," lirih Tommy.


"Kamu tahu kenapa Tasya begitu membenciku sehingga dia mengatakan kata-kata menjijikkan itu untukku?" tanya Kimberly dengan menatap wajah Tommy. "Tasya menyukai kamu. Dia marah sama aku karena aku yang jadi pacar kamu bukan dia. Kemarahan dia makin besar padaku ketika mengetahui tentang foto itu dimana di dalam foto itu aku pegangan tangan dengan laki-laki lain. Dan lebih parahnya, laki-laki itu adalah mantanku."


"Jika kamu lebih percaya foto itu, silahkan! Itu hak kamu. Tapi kamu jangan berharap aku akan memohon sama kamu untuk menjelaskan tentang foto itu. Dan jika kamu ingin kita putus hanya karena foto itu. Aku dengan senang hati menerimanya. Dengan begitu kamu bisa jadian sama perempuan busuk itu."


Setelah mengatakan kata-kata kejam itu di hadapan Tommy. Kimberly langsung pergi begitu saja menuju ruang ganti. Disusul oleh Santy, Rere, Sinthia dan Catherine.


Sementara Tommy seketika menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Kimberly.


Puk..


Billy menepuk pelan bahu Tommy dan sesekali mengusapnya.


"Untuk kali ini aku setuju apa yang dikatakan Satya kemarin."


Tommy melihat kearah Billy. Begitu juga dengan Billy.


"Hentikan semuanya. Aku sudah tidak kuat melihatmu terluka, Tom! Disini bukan kamu saja yang terluka, Kimberly juga."


"Ada baiknya kamu ceritakan semua ini sama Kimberly. Katakan pada dia bahwa ini adalah sebuah rencana untuk membalas Antoni."


"Aku setuju apa yang dikatakan Billy. Tom, hentikan! Mulai sekarang, jujurlah kepada Kimberly. Jika perlu kau ajak Kimberly bekerja sama untuk menghancurkan Antoni. Aku yakin pasti Kimberly senang mendengar rencana kamu itu," ucap Andhika.


"Hm!" semua sahabat-sahabatnya termasuk Billy, Triny dan sahabatnya serta Aryan dan sahabatnya menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Baiklah. Aku akan mengatakan semuanya kepada Kimberly," jawab Tommy.


"Aku, Triny dan Aryan akan membantu kamu jika nantinya Kimberly tidak ingin berbicara dengan kamu."


"Terima kasih."


"Ya, sudah. Izinkan aku dengan guru kelas. Aku akan antar Kimberly pulang."


"Baiklah."