
Kota Munich
Di pagi hari Ashilla berjalan tak tentu arah dibawah derasnya hujan yang melanda kota Jerman di hari minggu. Ashilla terus menikmati perjalanannya dibawah hujan tanpa peneduh apapun.
Ketika Ashilla tengah menikmati air hujan, tiba-tiba seorang laki-laki memayungi dirinya dari belakang. Mungkin laki-laki itu tak tega melihat Ashilla kedinginan dibawah hujan yang mengguyur kota Jerman.
Ashilla seketika menoleh perlahan. Dilihatnya laki-laki yang terlihat sangan menawan menghampiri dirinya.
"Siapa kamu? Dan ngapain kamu bawain payung segala untukku? Aku sama sekali tidak begitu benci terhadap hujan. Aku justru sangat menyukai hujan," ucap Ashilla.
Mendengar perkataan dari wanita di hadapannya laki-laki itu tersenyum. Laki-laki itu begitu tertarik dengan wanita tersebut.
"Wanita yang menarik. Aku suka," batin laki-laki itu.
"Ini bukan masalah benci atau tidaknya. Semua orang tak menginginkanmu sakit. Termasuk aku," ucapnya di dalam hati ketika mengatakan kata terakhir itu. "Hujan akan membuat badanmu tidak enak," ucap lelaki itu.
Ashilla melirik sekilas kearah melihat laki-laki itu. "Kau seharusnya tidak perlu takut terhadap sakit apabila kau dapat hidup sehat," balas Ashilla.
"Hah!" laki-laki itu menghela nafasnya. "Sudahlah! Lupakan masalah hujan dan lupakan perdebatan ini! Ada baiknya kita pulang. Aku akan antar kamu pulang."
"Baiklah. Lagian aku juga sudah kedinginan. Mari antar aku pulang. Tapi ingat!" Ashilla berbicara sambil menatap wajah laki-laki itu.
"Tapi apa?" tanya laki-laki itu dengan balik menatap wajah Ashilla.
"Kamu tidak boleh berbuat hal buruk padaku ketika berada di dalam mobil," sahut Ashilla.
Seketika laki-laki itu tertawa ketika mendengar perkataan dari Ashilla. Kemudian laki-laki itu tersenyum menatap wajah cantik Ashilla.
"Kalau aku mau melakukan hal buruk padamu. Apa kamu menyetujuinya, hum?" tanya laki-laki itu menggoda Ashilla.
"Ya, enggalah! Gila aja kalau aku mengizinkan kamu melakukan hal buruk padaku," jawab Ashilla yang sudah mulai ketakutan.
"Tapi aku benaran mau melakukan hal buruk sama kamu. Bagaimana dong?" goda laki-laki itu lagi sembari berusaha menahan senyuman menatap wajah Ashilla.
"Kamu tidak akan melakukan itu padaku," pungkas Ashilla.
"Kenapa kamu seyakin itu?" tanya laki-laki itu yang matanya masih menatap wajah Ashilla.
"Karena kamu laki-laki baik," jawab Ashilla.
Seketika senyuman laki-laki itu mengembang ketika mendengar jawaban dari wanita di hadapannya. Hatinya saat ini benar-benar nyaman.
"Kau akan segera menjadi milikku, cantik!" batin laki-laki itu.
Melihat laki-laki yang ada di hadapannya terus menatap dirinya membuat Ashilla menjadi tidak karuan. Jantungnya tiba-tiba berdetak tak karuan.
"Ke-kenapa menatapku seperti itu? Kita jadi pulang apa tidak?" tanya Ashilla menyadarkan laki-laki tersebut.
Seketika laki-laki itu tersadar ketika mendengar suara dan perkataan dari wanita cantik di hadapannya.
"Ach, maaf. Ayo!"
Keduanya pun berjalan bersama menuju arah dimana mobil laki-laki itu berada.
Setelah tiba didekat mobil, keduanya berhenti tepat di samping BMW mewah berwarna hitam milik lelaki itu.
Ashilla terdiam sejenak sebelum pintu mobil terbuka untuknya. Laki-laki itu menyuruh Ashilla masuk ke dalam mobilnya.
Setelah berada di dalam mobil, laki-laki itu pun menghidupkan mesin mobilnya dan melesat pergi meninggalkan lokasi tersebut.
Selama di dalam perjalanan, keduanya saling bercerita tentang hujan. Keduanya saling berkenalan dengan menyebutkan nama masing-masing. Bahkan sang laki-laki memberanikan diri meminta nomor milik Ashilla, wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya.
***
Di sebuah toko yang menjual berbagai jenis kue-kue basah dan juga kue-kue kering terlihat ramai dimana begitu banyak pengunjung yang datang untuk membeli aneka kue-kue itu. Salah satu pengunjung tersebut adalah Salsa kakak perempuan Tommy.
Salsa datang bersama adik laki-lakinya yaitu Tommy. Kedua kesana untuk membeli beberapa jenis kue untuk dimakan bersama anggota keluarganya.
Jika Salsa berada di dalam toko. Sementara Tommy menunggu di luar toko. Tommy menyandarkan tubuhnya di mobilnya sembari bermain ponsel.
Yah! Tommy saat ini tengah berkirim pesan dengan gadis kesayangannya. Siapa lagi kalau bukan Kimberly Aldama.
CHAT :
"Kim."
"Ya."
"Jalan yuk."
"Kemana?"
"Enaknya kemana?"
"Kamu yang ngajakin, kenapa nanya balik."
"Memang aku yang ajak kamu jalan. Tapi tujuanku ajak kamu jalan itu buat kamu senang. Kalau kamu senang. Aku juga ikut senang!"
"Terserah kamu aja mau bawa aku kemana. Asal bersama kamu, aku bahagia."
Di lokasi yang berbeda namun di waktu yang sama. Baik Tommy maupun Kimberly sama-sama tersenyum bahagia ketika membaca balasan pesan dari kesayangannya.
Tommy yang mengerti dengan Kimberly. Begitu juga dengan Kimberly yang mengerti dengan Tommy. Keduanya lebih memilih kebahagiaan pasangannya.
Seketika Tommy membelalakkan matanya ketika melihat kakak perempuannya tengah beradu mulut dengan dua wanita. Bahkan salah satunya mendorong tubuh kakak perempuannya itu.
Tommy langsung berlari masuk ke dalam toko kue itu sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
Setiba di dalam toko, Tommy melihat kakak perempuannya hendak di tampar oleh wanita yang satunya di saat kakak perempuannya itu beradu mulut dengan wanita yang mendorongnya.
Sret!
Tommy berhasil menangkap tangan wanita itu yang hampir mengenai wajah kakak perempuannya.
Setelah itu, Tommy dengan amarahnya langsung mendorong kuat tubuh wanita itu hingga wanita itu tersungkur di lantai.
"Minggir!"
Tommy mendorong tubuh wanita yang menjadi lawan kakak perempuannya hingga tubuh wanita itu terhuyung ke samping.
"Kakak nggak apa-apa? Apa mereka menyakiti kakak?"
Salsa tersenyum mendengar pertanyaan dari adik laki-lakinya itu. Bahkan Salsa dapat melihat ada kekhawatiran di manik coklat adiknya itu.
"Kakak nggak apa-apa. Mereka tidak menyakiti kakak."
"Kakak nggak bohongkan?"
"Nggak Tommy."
"Terus kenapa mereka mencari masalah dengan kakak. Bahkan salah satunya hampir saja mau menampar kakak. Untung aku melihatnya dan langsung kesini. Kalau tidak, wajah cantik kakak sudah menempel cap tangan wanita itu."
Mendengar perkataan dari adik laki-lakinya seketika Salsa tersenyum. Dirinya benar-benar bersyukur memiliki adik laki-laki seperti Tommy. Adiknya itu memang selalu peka akan keadaan sekitarnya.
"Kakak juga nggak tahu apa masalah mereka dengan kakak. Mereka datang menghampiri kakak lalu langsung marah-marah. Nggak tahu kesambet setan mana."
Mendengar perkataan dari kakaknya membuat Tommy tersenyum. Setelah itu, Tommy langsung mengajak kakaknya untuk pergi meninggalkan toko kue itu.
"Kakak sudah selesai?"
"Sudah. Ini kakak lagi menunggu pelayan yang akan membawa pesan kakak."
Tepat setelah Salsa mengatakan itu pada adiknya. Seorang pelayan perempuan datang membawa kue pesanan Salsa.
"Ini pesanannya, Nona!"
Salsa mengambil pesanan kue nya itu sembari tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya.
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali, nona! Silahkan datang kembali."
"Pasti."
Setelah itu, Salsa dan Tommy pun pergi meninggalkan toko kue itu.
***
"Apa kamu begitu mencintai hujan?" tanya Zivan kepada Ashilla.
Laki-laki yang memberikan payungnya kepada Ashilla adalah Zivan Fidelyo.
Zivan saat ini berada di kota Munich karena urusan pekerjaannya. Zivan tengah melakukan perjalanan bisnis beberapa hari di kota Munich dengan beberapa rekan kerjanya.
"Iya, begitulah. Hujan yang pernah mempertemukanku dengan kekasihku dan hujan juga menyatukan cinta kami berdua. Dan hujan ini pula yang pernah menghiasi hari-hari ketika kami bersama," jawab Ashilla.
"Mengapa pernah? Hubunganmu dengan kekasihmu telah berakhirkah?" tanya Zivan lagi.
"Iya. Laki-laki itu meninggalkanku di bukit belakang kampus ketika pelangi muncul. Dan aku sangat membenci pelangi," sahut Ashilla.
Mengapa kita berbeda? Aku tidak suka hujan, tapi aku sangat menyukai kehadiran pelangi. Apalagi sore hari. Itu indah bukan?" ucap dan tanya Zivan.
"Indah? Apanya yang indah? Jika aku tak suka tetap tak suka," ketus Ashilla.
"Lihat saja nanti. Aku akan membuatmu menyukai pelangi!" ucap Zivan tegas.
"Apa? Kamu tidak bisa memaksaku untuk menyukai pelangi. Dan lihat saja, aku akan membuatmu tidak takut lagi terhadap hujan," ucap Ashilla.
Beberapa menit obrolan mereka berlalu. Akhirnya Ashilla dan Zivan berhenti di depan rumah mewah milik Ashilla. Lebih tepatnya rumah Paman dan Bibinya. Ashilla tinggal bersama Paman dan Bibi selama kuliah di Munich.
Sementara kedua orang tuanya dan ketiga kakak laki-lakinya berada di kota Hamburg.
Ashilla kemudian turun dari mobil milik Zivan. Dan dirinya kembali membiarkan tubuhnya diguyur hujan.
"Huh! Lelaki yang aneh. Kenapa dia tak menyukai hujan? Ehhh, tapi aku pun aneh. Aku sangat membenci pelangi," ucap Ashilla.
"Aahhh... lupakan," ucap Ashilla lagi.
Sementara Zivan tersenyum gemas ketika mendengar ucapan dari Ashilla.
Setelah melihat Ashilla memasuki gerbangnya, Zivan pun pergi meninggalkan lokasi rumah Ashilla. Dirinya tersenyum bahagia untuk kedua kalinya merasakan jatuh cinta.
Kaki Ashilla terhenti ketika melihat bunga edelweiss favoritnya yang biasa ada dalam vas cantik kini telah tiada jejaknya.
Ashilla sangat sedih. Bunga terakhir pemberian mantan terindahnya kini telah lenyap. Ashilla langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua dan membanjiri kamarnya hingga siang hari.