THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pembalasan Dari Kiara Dan Vina



Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Saat ini Kiara dan Vina berada di sebuah pusat perbelanjaan yang ada di dalam mall.


Kiara dan Vina tengah mencari gaun yang akan mereka kenakan di acara ulang tahun pernikahan sahabat dari kekasihnya yaitu Enda dan Riyan. Keduanya ingin terlihat cantik diacara tersebut. Dan keduanya juga tidak ingin kekasihnya malu dengan penampilannya.


"Vin. Aku kesana ya!" seru Kiara sembari menunjuk kearah pakaian yang ada di sebelah kiri.


Kiara melihat kearah tunjuk Vina dan setelah itu, Kiara menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapatkan persetujuan, Vina pun pergi meninggalkan Kiara sendirian.


Baik Kiara maupun Vina sama-sama fokus mencari dan memilih-milih gaun yang akan mereka beli.


Ketika Vina sedang memilih-milih, tiba-tiba datang lima gadis menghampirinya. Dan salah satu gadis itu menatap tak suka kearah Vina.


"Wah! Ternyata gadis miskin sepertimu berada di toko ini!" seru gadis itu dengan angkuhnya.


Mendengar suara seseorang membuat Vina terkejut. Vina langsung mengalihkan perhatiannya melihat ke samping. Dan dapat Vina lihat mantan teman satu sekolah dan juga satu kampus dengannya berdiri di hadapannya dengan menatap jijik padanya.


Melihat mantan temannya itu, Vina berusaha untuk tidak mempedulikannya. Dia sudah capek setiap lelah beradu mulut dengan orang-orang yang selalu mencari masalah dengannya.


Selama ini mantan temannya itu menganggap Vina adalah gadis miskin dikarenakan Vina selama ini selalu berpenampilan sederhana. Ditambah lagi, Vina pergi kemana-mana selalu menggunakan mobil buntutnya.


Tanpa diketahui oleh mantan temannya itu bahwa kehidupan Vina jauh diatasnya. Keluarga Vina lebih kaya dibandingkan keluarga dari gadis sombong itu.


Dan lebih parahnya lagi, perusahaan ayah dari gadis itu menjalin kerja sama dengan perusahaan milik ayahnya Vina. Jika seandainya perusahaan milik ayahnya Vina memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan ayahnya. Bisa dipastikan perusahaan ayahnya itu akan langsung gulung tikar.


Perusahaan ayahnya Vina memiliki banyak koneksi. Semua yang bekerja sama dengan perusahaan ayahnya Vina memiliki peran yang sangat penting.


Jika semua koneksi dari ayahnya Vina memutuskan hubungan kerjasama dengan satu perusahaan yang selama ini terjalin, maka semua koneksi tersebut juga akan memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan tersebut.


Vina tidak mempedulikan perkataan dari mantan temannya itu. Justru Vina terus mencari dan memilih-milih gaun yang akan dikenakannya diacara ulang tahun pernikahan sahabat suaminya.


Melihat sikap acuh dari Vina membuat gadis itu marah. Dirinya benar-benar tidak terima dirinya diabaikan apalagi diacuhkan oleh mantan temannya itu.


Gadis itu tiba-tiba mendorong kuat tubuh Vina sehingga tubuh Vina tersungkur di lantai.


Bruk!


"Aakkhhh!" Vina meringis merasakan sakit di pergelangan kakinya.


"Hahahaha."


Gadis itu tertawa keras. Dan diikuti oleh empat teman-temannya.


Mendengar tawa keras dari gadis itu dan keempat teman-temannya membuat para pengunjung langsung melihat kejadian itu, termasuk Kiara.


Seketika Kiara terkejut ketika melihat Vina yang tersungkur di lantai.


"Vina!" teriak Kiara dan langsung berlari menghampiri Vina.


Kini Kiara sudah didekat Vina. Lalu membantu Alisha untuk berdiri.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Kiara khawatir.


"Aku baik-baik saja, Ki!" Vina menjawab dengan lembut.


"Kita pergi dari sini dan cari toko lain saja," ucap Kiara lalu membantu Vina berjalan.


"Hei, mau kau bawa kemana wanita miskin itu!" teriak gadis sombong itu.


Seketika langkah kaki Kiara dan Vina terhenti ketika mendengar teriakan dan juga perkataan dari gadis sombong itu.


Ketika Kiara ingin membalikkan badan dan ingin membalas perkataan dari gadis sombong itu, Vina sudah terlebih dahulu menahannya.


"Sudahlah, Ki! Kau tidak perlu meladeninya. Lebih baik kita pergi dari sini," ucap Vina.


"Baiklah."


Setelah itu, Kiara dan Vina kembali melanjutkan langkahnya. Namun langkah mereka kembali terhenti karena gadis sombong itu kembali berteriak.


"Sekali pecundang tetap pecundang. Sekali miskin tetaplah miskin. Hahahaha!" ucap gadis itu disertai tawa kerasnya.


Gadis sombong itu berjalan mendekati Kiara dan Vina. Dia benar-benar berniat ingin mempermalukan Vina didepan semua para pengunjung yang saat ini tengah menonton kejadian tersebut.


"Kenapa Vina? Apa kau malu jika semua orang yang ada disini mengetahui statusmu yang sebenarnya, hum? Kau itu sebenarnya miskin. Kau tidak memiliki apa-apa. Tapi lagakmu seperti orang kaya pada umumnya yang berbelanja di toko mahal ini!" gadis sombong itu berbicara dengan arogannya dengan suara yang sengaja dibesarkan.


Mendengar perkataan dari gadis sombong itu membuat para pengunjung langsung memaki dan menghina Vina dengan kata-kata kejam mereka.


Mendengar kata-kata hinaan dan makan yang dilontarkan dari para pengunjung membuat hati Vina sakit. Begitu juga Kiara. Kiara mengepalkan kuat tangannya.


Seperti hal nya dengan Vina. Vina juga sama seperti Kiara. Vina bukanlah gadis lemah. Dia bisa saja membalasnya. Tapi Vina tidak melakukannya. Vina hanya ingin melihat sampai dimana mantan temannya itu menghinanya. Dan juga para pengunjung tersebut.


"Sudahlah Vina. Jika kau miskin dan tidak memiliki uang. Mengaku sajalah. Jangan dipaksakan dan jangan kau perlihatkan kepada kami semua bahwa kau adalah orang kaya."


"Sekali pun kau memiliki uang. Pasti uang itu kau dapatkan dari hasil menjual diri. Benarkan?"


Mendengar perkataan dari mantan temannya itu membuat Vina marah. Dirinya tidak terima akan tuduhan tersebut.


Sementara Kiara langsung membalikkan badannya dan menatap tajam gadis itu.


"Jaga ucapanmu, nona! Tidak sepantasnya anda berbicara seperti itu. Anda tidak tahu siapa kami yang sebenarnya. Jika anda tahu siapa kami dan berasal dari keluarga mana. Aku yakin anda akan berpikir seribu kali untuk menghina kami. Begitu juga dengan kalian semua!" bentak Kiara dengan menunjuk kearah para pengunjung tersebut.


"Alah. Memangnya kalian itu siapa? Nggak penting!" bentak teman dari gadis itu.


"Palingan mereka itu berasal dari keluarga sampah atau keluarga yang kerjaannya menjual diri," ucap gadis sombong itu.


Kiara dan Vina sudah kehabisan kesabaran mendengar ocehan murahan dari orang-orang yang ada di hadapannya. Dan keduanya bertekad untuk memberikan pelajaran atas hinaan yang mereka terima.


Vina membalikkan badannya dan menatap tajam semua orang yang ada di hadapannya.


"Sepertinya kalian harus diberi sedikit pelajaran sehingga kalian bisa mengerti bagaimana caranya menghargai dan menghormati orang lain," ucap Vina.


"Alah. Nggak usah sok lo sialan!" bentak teman dari gadis sombong itu.


"Baiklah, jika itu mau kalian semua."


Kiara dan Vina saling memberikan tatapan. Setelah itu, keduanya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


Dan beberapa detik kemudian, terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, sayang."


"Hallo, sayang. Bisakah kau kesini."


"Baiklah."


Setelah selesai, Vina mematikan panggilannya.


"Sayang. Aku butuh bantuanmu."


"Baiklah. Aku akan kesana."


Setelah berbicara dengan Enda dan Riyan. Kiara dan Vina langsung mematikan panggilannya.


Keduanya memutuskan untuk menghubungi kekasihnya masing-masing.


"Palingan mereka berdua menghubungi pria simpanannya," ucap salah satu pengunjung.


Kiara dan Vina hanya tersenyum mendengar perkataan dari salah satu pengunjung.


Beberapa  menit kemudian, terdengar suara dua orang laki-laki yang memanggil nama Kiara dan Vina dengan lantangnya.


"Kiara."


"Vina."


"Kami disini!" teriak Kiara dan Vina bersamaan.


Mendengar suara dari kekasih mereka masing-masing. Keduanya langsung menghampiri keduanya.


Disaat melihat kehadiran dua pemuda yang menghampiri Kiara dan Vina membuat para pengunjung, gadis sombong itu beserta keempat teman-temannya terkejut. Mereka tidak tahu siapa kedua pemuda itu.


"Sayang," ucap Viba dengan menggelayut manja di pergelangan tangan Riyan.


Apa yang dilakukan oleh Vina, hal itu juga yang dilakukan oleh Kiara kepada Enda.


"Kenapa, hum?" tanya Riyan dengan membelai lembut kepala istrinya.


"Mereka," jawab Vina dengan menunjuk kearah gadis sombong, teman-teman dan para pengunjung tersebut.


Riyan langsung melihat kearah tunjuk istrinya. Begitu juga dengan Enda.


"Kenapa dengan mereka semua?" tanya Riyan dengan tatapan matanya masih menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Begitu juga dengan Enda.


"Mereka semua telah menghinaku. Mereka menyebutku wanita murahan, wanita miskin dan juga wanita rendahan. Bahkan mereka semua juga mengatakan kalau aku adalah wanita tidak tahu malu yang rela menjual tubuhku ini kepada laki-laki hidung belang hanya demi uang."


Mendengar aduan dari Vina membuat amarah Riyan keluar. Dirinya benar-benar tidak terima jika istrinya dihina.