
Sejak kejadian dimana Kimberly dan keempat sahabatnya melawan Gracia dan keenam teman-temannya sehingga membuat kondisi Gracia dan keenam teman-temannya dalam keadaan tak baik-baik saja membuat murid-murid yang tidak menyukai Kimberly, murid-murid yang selalu bergosip dan menghina Kimberly seketika bungkam. Tidak ada lagi yang berani mengeluarkan kata-kata manis tersebut dari mulut mereka masing-masing.
Alasannya hanya satu. Murid-murid tersebut tidak ingin anggota keluarganya menjadi tumbal dan menjadi bahan percobaan dari kemarahan Kimberly dan anggota keluarga Kimberly akibat mulutnya yang tidak bisa dikontrol.
Jadi, murid-murid tersebut mencari jalan aman, walau murid-murid tersebut masih menunjukkan sikap ketidaksukaannya terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya.
Sedangkan untuk Kimberly dan keempat sahabatnya begitu menikmati ketakutan para murid-murid yang tidak menyukainya akibat insiden kemarin di lapangan. Ditambah bonus ancaman yang mengerikan dari seorang Kimberly untuk murid-murid tersebut.
Kimberly dan keempat sahabatnya juga tampak bahagia karena telinga mereka tidak lagi mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut para murid-murid yang tidak menyukainya.
Saat ini Kimberly dan keempat sahabatnya tengah melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor sekolah untuk menuju Perpustakaan. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya bertujuan ke Perpustakaan untuk meminjam buku paket matematika dan bahasa Inggris.
Guru bidang studi matematika dan bahasa Inggris di kelas Kimberly dan keempat sahabatnya memberikan begitu banyak soal. Baik soal tersebut dikerjakan di sekolah maupun dikerjakan di rumah sebagai pekerjaan rumah.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor sekolah, tatapan mata mereka masing-masing tak lepas menatap kearah dimana murid-murid menatap kearah dirinya dan keempat sahabatnya.
Berbagai macam tatapan yang diberikan oleh murid-murid tersebut. Ada tatapan kagum, tatapan senang, tatapan bahagia dan juga tatapan tak suka.
Bagi murid-murid yang menyukai Kimberly dan keempat sahabatnya, setiap bertemu dan berpapasan dengan Kimberly dan keempat tak sungkan-sungkan untuk menyapa Kimberly dan keempat sahabatnya itu. Mereka dengan lembut menyapa Kimberly dan keempat sahabatnya.
Hasil dari sapaan mereka itu disambut baik oleh Kimberly dan keempat sahabatnya.
Mendapatkan balasan dari Kimberly dan keempat sahabatnya membuat murid-murid yang menyukai Kimberly dan keempat sahabatnya itu tersenyum bahagia. Menurut mereka semua, Kimberly dan keempat sahabatnya itu orangnya asyik dan tidak neko-neko. Serta mudah bergaul dengan semua murid-murid.
Sementara murid-murid yang tidak menyukai keberadaan Kimberly dan keempat sahabatnya hanya menatap jijik tanpa bersuara.
"Ini semua gara-gara lo, Kim!" seru Rere.
Mendengar perkataan dari Rere membuat Kimberly menghentikan langkahnya lalu pandangannya langsung menatap kearah Rere. Begitu juga dengan Santy, Sinthia dan Catherine.
"Apa maksud lo, Re?" tanya Catherine.
"Tuh." Rere menunjuk kearah teman-teman sekolahnya yang tidak menyukainya dan keempat sahabatnya terutama Kimberly dengan dagunya.
Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine langsung melihat kearah tunjuk Rere. Dapat dilihat oleh Kimberly, Santy, Sinthia dan Catherine murid-murid yang tidak menyukainya dan keempat sahabatnya dengan tatapan tak suka.
Kimberly kembali menatap wajah Rere. "Biarkan saja mereka menatap kita seperti itu. Itu urusan mereka bukan urusan kita. Selama mereka tidak mengeluarkan kata-kata indah itu lagi. Biarkan saja mereka menatap seperti itu."
Mendengar perkataan panjang dari Kimberly membuat Rere langsung mengangguk tanda mengerti. Begitu juga dengan Santy, Sinthia dan Catherine.
"Dan satu lagi!" seru Kimberly sembari melirik kearah murid-murid yang tak menyukainya.
"Apa, Kim?!" tanya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
"Mereka menatap kita seperti itu karena kita ini kan artis terkenal di seluruh dunia. Sebenarnya mereka ingin meminta tanda tangan kita. Karena gengsi, jadilah mereka seperti sekarang ini."
Seketika Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum. Bahkan senyuman mereka melebar seakan-akan senyuman tersebut adalah senyuman mengejek.
"Benar juga," sahut Santy.
"Sayang sekali. Jika mereka tidak gengsi. Kita sudah pasti mau memberikan tanda tangan kita secara gratis. Bahkan kita juga bakal mentraktir mereka makan di kantin," sela Sinthia.
"Hm." Catherine dan Rere mengangguk membenarkan perkataan Sinthia.
Sementara murid-murid yang tidak menyukai Kimberly dan keempat sahabatnya makin menatap tak suka kearah Kimberly dan keempat sahabatnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly dan keempat sahabatnya itu.
Catherine melirik kearah murid-murid yang tidak menyukainya dan Kimberly sembari berucap.
"Tuh lihat! Tatapan mata mereka makin membesar kearah kita. Tatapan mata mereka seakan-akan ingin memakan kita hidup-hidup!" seru Catherine.
Kimberly, Rere, Santy dan Sinthia melihat kearah murid-murid yang tidak menyukai Kimberlynya.
Detik kemudian....
"Hahahahaha."
Seketika tawa Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine pecah ketika melihat tatapan tak suka dari murid-murid yang tidak menyukainya.
Setelah itu, Kimberly kembali melanjutkan langkahnya untuk menuju Perpustakaan dan diikuti oleh Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
^^^
Billy, Triny, Aryan, Tommy beserta sahabat-sahabatnya berada di kantin saat ini. Setelah mengikuti dua mata pelajaran, mereka memutuskan untuk ke kantin. Tidak peduli jik jam pelajaran ketiga sudah dimulai. Yang mereka pikirkan saat ini adalah perutnya. Perut mereka sudah sangat lapar.
Mereka semua begitu menikmati makanan yang mereka pesan, kecuali satu orang. Orang itu adalah Aryan.
Sejak masuk ke dalam kantin, pikiran Aryan melayang jauh. Dirinya kini tengah memikirkan dua saudarinya.
Menyadari keterdiaman Aryan. Salah satu sahabatnya yaitu Lian langsung memanggil namanya hanya untuk sekedar menyadarkan sahabatnya itu dari aksi lamunannya.
"Aryan," panggil Lian.
Mendengar suara Lian yang memanggil Aryan, sementara Aryan tak bergeming sama sekali membuat Billy, Triny dan yang lainnya langsung melihat kearah Aryan.
Puk!
Billy menepuk pelan bahu adik sepupunya itu sehingga membuat sepupunya itu tersadar dari lamunannya.
Aryan langsung melihat kearah tersangka penepukan bahunya. Sementara sang tersangka memperlihatkan wajah keponya kepada Aryan.
"Ada apa?" tanya Billy.
Aryan seketika membuang wajahnya ke depan. Dan pikirannya kembali memikirkan dua saudarinya yaitu Kimberly dan Valen.
"Aku memikirkan Kimberly dan Valen, kak Billy!"
Mendengar jawaban dari Aryan membuat Billy, Triny dan yang lainnya terkejut.
Billy melihat kearah Triny. Begitu juga dengan Triny yang juga melihat kearah Billy. Setelah itu, keduanya kembali melihat kearah Aryan.
"Kalau masalah Kimberly. Kakak tahu bahwa saat ini pasti kamu tengah mengkhawatirkan Kimberly. Kamu khawatir dan juga tahu kalau keluarga Gracia dan keenam teman-temannya akan nuntut balas kepada Kimberly. Begitu juga dengan keempat sahabatnya. Bukan kamu saja yang khawatir. Kakak juga. Kita semua juga khawatir dan takut."
Billy berbicara lembut kepada Aryan sembari tangannya mengusap lembut punggung Aryan.
"Tapi percayalah. Semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan terjadi sesuatu terhadap Kimberly," ucap Triny yang juga ikut menghibur Aryan.
"Tadi kamu juga menyebut Valen. Kenapa kamu sampai memikirkan Valen? Tidak biasanya kamu seperti ini? Ada apa?" tanya Billy.
"Ada yang mengincar Valen, kak!"
Deg!
Mendengar jawaban dari Aryan seketika membuat Billy, Triny, Tommy dan yang lainnya terkejut.
"Apa maksud kamu ada yang mengincar Valen?" tanya Triny.
"Kemarin Valen pulang diantar sama kak Jason dan Kimberly. Padahal Valen setiap hari diantar jemput oleh sopir pribadinya. Dari cerita kak Jason kalau Valen hampir dibawa pergi oleh enam laki-laki yang tak dikenal. Keenam laki-laki itu membawa Valen atas perintah seseorang."
"Apa?!" Billy, Triny, Tommy dan sahabat-sahabatnya berteriak. Mereka semua benar-benar terkejut.
"Dan yang lebih parahnya lagi sopir yang selama dua tahun bekerja menjadi sopir pribadinya Valen terbukti sebagai pelakunya. Laki-laki brengsek itu yang sudah membayar keenam laki-laki itu untuk membawa pergi Valen. Laki-laki itu memberikan perintah kepada enam laki-laki itu untuk merusak Valen."
Aryan seketika menangis ketika mengingat penjelasan dari kakak laki-lakinya yaitu Fathan yang mengatakan bahwa sopir pribadi adik perempuannya telah membayar enam laki-laki untuk merusak adik perempuannya.
Billy, Triny, Tommy dan yang lainnya benar-benar terkejut ketika mendengar cerita dari Aryan tentang kejadian yang menimpa Valen.
"Jadi itu alasan Papi, Mami, kak Pasha, kak Fathan, kamu dan Valen menginap di rumah Daddy dan Mommy?" tanya Triny.
"Iya," jawab Aryan.
"Berarti Mommy, Daddy, kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Riyan sudah mengetahui masalah yang menimpa Valen?" tanya Billy.
"Iya. Mereka semua sudah tahu. Sementara untuk keluarga yang lainnya belum, termasuk Kimberly dan Valen sendiri." Aryan menjawab pertanyaan dari Billy.
"Memangnya Kimberly dimana ketika anggota keluarga kamu sedang membahas masalah Valen?" tanya Tommy.
"Kimberly bersama Valen berada di dalam kamar. Mommy sengaja meminta Kimberly untuk menemani Valen di kamar," jawab Aryan.
Billy mengusap-usap lembut punggung Aryan. Dirinya tahu jika saat ini Aryan tengah memikirkan adik perempuan satu-satunya. Dan Aryan tidak ingin terjadi terhadap adik perempuannya itu.
"Tidak akan terjadi apa-apa terhadap Valen. Banyak yang akan melindungi Valen. Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah!"
Billy berusaha untuk memberikan keyakinan terhadap Aryan, walau di hatinya juga memiliki perasaan takut terhadap adik sepupunya itu. Begitu juga dengan Triny.