THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Amarah Tommy



Setelah bertarung selama 3 jam di dalam kelas. Kini Kimberly, Tommy serta yang lainnya berada di kantin. Mereka butuh asupan untuk mengisi perutnya yang sudah sejak tadi minta diisi.


Khusus hari ini dimana para murid-murid mendapatkan waktu istirahat selama satu jam.


Setelah pesanan yang mereka pesan datang. Dan semua pesanan tersebut sudah tertata rapi di atas meja. Baik Kimberly, Tommy maupun yang lainnya pun memulai menikmati makan siangnya.


"Udah benar-benar yang bahu kamu sembuh Kim?" tanya Triny.


"Udah," jawab Kimberly sembari memasukkan sepotong kentang goreng ke mulutnya.


"Yakin?" tanya Aryan.


"1000 persen keyakinanku," jawab Kimberly.


"Kalau bahu kamu sakit lagi, bagaimana?" tanya Risma.


"Makanya jangan didoain," jawab Kimberly.


"Siapa yang doain?" tanya Risma kesal.


"Tuh barusan," jawab Kimberly.


"Gue nggak doain lo dodol. Gue cuma nanya," kesal Risma.


"Menurut gue itu sama aja, bodoh!" jawab Kimberly sarkas.


"Hahahaha."


Mendengar perkataan kejam dari Kimberly membuat mereka semua tertawa keras.


Sementara Risma mendengus kesal mendengar perkataan kejam dari Kimberly.


Ketika mereka semua sedang tertawa dan bahagia seketika mereka semua dikejutkan dengan suara dua orang murid perempuan.


"Hai, Tommy!"


"Hai, Andhika!"


Mendengar sapaan dan melihat wajah keduanya seketika ekspresi wajah Tommy, Andhika serta yang lainnya berubah suram. Sedangkan Kimberly menatap intens kearah kedua murid perempuan itu terutama gadis yang berdiri tak jauh dari Tommy.


"Jadi dia yang bernama Molly," batin Kimberly.


Dua murid perempuan yang memanggil nama Tommy dan Andhika adalah Molly dan Sheela.


"Minggir lo," Molly langsung mendorong kasar tubuh Andry yang duduk di samping Tommy.


"Sialan nih cewek. Jika bukan cewek lo. Habis lo sama gue," batin Andry.


Saat ini posisi duduk mereka adalah saling berhadapan dengan pasangan masing-masing. Bukan duduk berdampingan, kecuali Risma yang menjadi obat nyamuk bersama Aryan dan kelima sahabatnya.


"Dan lo juga minggir. Gue mau duduk di samping bebeb gue," ucap Sheela sambil mendorong tubuh Mirza ke samping sehingga membuat tubuh Mirza mengenai Ivan yang duduk di sampingnya.


Sheela langsung duduk di samping Andhika setelah berhasil menyingkirkan Ivan.


Molly bergelayutan manja di pergelangan tangan Tommy. Sedangkan Sheela memeluk tangan Andhika.


"Tommy kita jalan yuk," ucap Molly dengan tangannya menyentuh dada bidang Tommy.


Tommy yang merasakan tangan Molly menyentuh tubuhnya langsung memegang dan sedikit merematnya sehingga membuat Molly sedikit kesakitan. Terlihat jelas di wajah Molly.


Merasakan sakit di pergelangan tangannya, Molly pun menyingkirkan tangannya dari tubuh Tommy.


"Dhik, kok diam aja sih? Ngomong sesuatu dong," ucap Sheela.


Mendengar perkataan dari Molly dan Sheela membuat Billy, Risma serta yang lainnya menatap jijik keduanya.


Kimberly yang sejak tadi hanya diam sembari tatapan matanya fokus menatap kearah Molly akhirnya memutuskan untuk bersuara.


"Tahu malu dong. Jika orangnya nggak mau jangan dipaksa," ejek Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Tommy, Andhika dan yang lainnya tersenyum. Sedangkan Molly dan Sheela menatap tajam kearah Kimberly.


"Siapa lo?!" bentak Molly.


"Gue?" tanya Kimberly.


"Iya, lo sialan!" bentak Molly.


Billy, Aryan dan Tommy mengepalkan kuat tangannya ketika mendengar bentakan dari Molly untuk Kimberly. Dan ini adalah bentakan kedua.


"Oh, gue! Nama gue... Eemmm... Nggak jadi deh. Panggil aja gue tanpa nama," jawab Kimberly.


Mendengar perkataan dan kelakuan menjijikkan Kimberly, itu menurut Molly dan Sheela membuat Molly makin menatap tajam kearah Kimberly.


Sementara Tommy, Andhika, Billy serta yang lainnya tersenyum mengejek kearah Molly.


"Tuh tangan kapan mau di lepasin? Betah amat lama-lama meluknya. Coba lihat wajah dari orang yang kalian peluk. Terlihat tak nyaman dan juga risih dipeluk kalian," sindir Kimberly.


"Lo nggak usah ikut campur. Ini urusan gue sama pacar gue!" bentak Molly.


"Dan lo bukan siapa-siapanya Andhika. Jadi lo diam!" bentak Sheela.


Mendengar perkataan sekaligus bentakan dari Molly dan Sheela membuat Kimberly tersenyum di sudut bibirnya.


"Hahahaha. Apa? Pacar? Yakin kalau Tommy pacar lo?"


"Iya, iyalah! Kenapa? Lo nggak percaya kalau Tommy pacar gue?"


"Memang gue nggak percaya sama lo. Bahkan satu sekolah ini juga nggak percaya omongan lo kalau Tommy pacar lo," ucap Kimberly.


Kimberly menatap kearah Sheela. "Tadi lo bilang apa? Gue bukan siapa-siapanya Andhika? Hei, nona Sheela yang terhormat. Saudara Andhika itu calon kakak ipar gue. Jadi dengan kata lain gue ini adalah calon adik iparnya. Dan gue sangat yakin jika hari ini lo menghina gue. Pasti hari ini juga calon kakak ipar gue ini bakal belain gue."


Kimberly menatap wajah tampan Andhika sembari berkata, "Benarkan kakak iparku yang tampan?"


"Yup! Itu benar. Aku akan belaian kamu jika ada yang menghina kamu," jawab Andhika.


Kimberly memperlihatkan senyuman manisnya di hadapan Sheela. Ntah itu senyuman sungguhan atau senyuman mengejek dari Kimberly.


"Kok gitu sih kamu Andhika. Apa benar kamu udah punya calon istri?" tanya Sheela dengan memperlihatkan wajah sedihnya.


"Itu benar. Gue udah punya calon istri. Dia lebih cantik dari lo, lebih baik dari lo dan lebih segalanya dari lo." Andhika berucap dengan penuh penekanan.


"Calon istri gue itu ada di hadapan gue. Sedangkan yang duduk di samping calon istri gue itu adalah adiknya yang tak lain adalah calon adik ipar gue," ucap Andhika.


Mendengar penuturan dari Andhika seketika Sheela terkejut. Matanya menatap tak suka kearah Triny yang saat ini tengah tersenyum manis padanya.


"Bodo amat. Mau lo sendirian, mau lo udah punya kekasih, mau lo udah punya calon istri. Gue nggak peduli semua itu. Selama janur kuning belum melengkung. Gue bebas dekatin lo. Suami istri aja bisa cerai. Apalagi ini hanya pacaran," ucap Sheela dengan semangatnya.


Mendengar perkataan dari Sheela membuat Kimberly, Triny, Risma, Aryan, Billy serta yang lainnya menatap jijik kearah Sheela.


"Kalian benar-benar nggak ada urat malunya ya sama sekali. Dimana harga diri kalian sebagai perempuan? Apa nggak ada cowok lain selain Tommy dan Andhika? Kalian berdua mengejar-ngejar Tommy dan Andhika sampai ke sekolah ini. Lalu dengan bangganya kalian mengklaim Tommy dan Andhika sebagai pacar kalian. Kalian berdua benar-benar menjijikkan."


Kimberly berbicara dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua penghuni kantin bisa mendengarnya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menatap tajam kearah Molly dan Sheela secara bergantian.


"Kalau mau jadi wanita murahan jangan disini. Ini sekolah tempat menutut ilmu. Noh, di klub malam!" Risma berucap begitu kejam.


Mendengar perkataan kejam dari Risma membuat Molly dan Sheela menatap marah kearah Risma.


Seketika Molly dan Sheela berdiri dari duduknya dan menatap tajam kearah Risma. Mereka tidak terima akan perkataan dari Risma.


"Diam lo!" bentak Molly dan Sheela.


Sheela kemudian mengangkat tangannya hendak menampar Risma, namun ketika tangannya hendak menyentuh pipi Risma. Triny sudah terlebih dulu menahan tangan Sheela bersamaan dengan dirinya berdiri dari duduknya.


"Tidak semudah itu lo bisa menampar saudari gue," ucap Triny.


Triny meremat kuat tangan Sheela sehingga membuat Sheela meringis kesakitan.


Setelah puas meremat kuat tangan Sheela. Triny pun melepaskan tangan Sheela dengan cara menghempaskan tangan tersebut.


"Mending kalian pergi dari sini. Adanya kalian disini hanya menambah masalah," ucap Dania.


"Kita yang ada disini jijik lihat kalian berdua," ucap Danela.


"Saran dari gue. Kalau ingin punya cocok. Carilah yang masih sendiri. Jangan nyari yang sudah punya orang. Malu kali," ejek Lisa.


"Sebagai perempuan itu kita harus pintar-pintar jaga diri. Tapi kalian malah kebalikannya," sindir Alisha.


Mendengar ucapan demi ucapan yang begitu kasar dari orang-orang yang ada di hadapannya membuat Molly dan Sheela marah.


"Mending kalian pergi dari sini," ucap Kimberly.


"Lo ngusir kita, hah?!" bentak Molly.


"Menurut lo?" tanya Kimberly menatap tajam kearah Molly.


"Lo..."


Molly melayangkan tangannya hendak menampar wajah Kimberly, namun detik kemudian.


Bruk..


Tommy menahan tangan Molly lalu meremat kuat tangannya. Setelah itu, Tommy mendorong kuat tubuh Molly hingga tersungkur di lantai kantin.


"Pergi lo dari sini sebelum kesabaran gue habis!" bentak Tommy.


"To-tommy," lirih Molly.


"Pergi!" teriak Tommy.


"Lo juga pergi dari sini!" bentak Andhika kepada Sheela.


Sheela terkejut lalu kemudian Sheela menghampiri Molly dan membantunya berdiri. Setelah itu, Molly dan Sheela pergi meninggalkan kantin.