THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kesedihan Dan Rasa Bersalah Rica



BRAK!


Riyan seketika mendobrak kuat gerbang rumah keluarga Mahendra. Riyan tidak sendirian, melainkan bersama keempat saudara sepupunya dan dua puluh anak buahnya dan dua tangan kanannya.


Setelah pintu gerbang tersebut terbuka dengan keadaan rusak parah. Riyan bersama keempat saudara sepupunya dan para anak buahnya langsung melangkah masuk.


Melihat Riyan yang datang dengan banyak orang dan ditambah lagi Riyan datang dalam keadaan mengamuk. Beberapa penjaga disana langsung menghalangi Riyan dan orang-orangnya untuk tidak membuat keributan. Bahkan penjaga-penjaga itu meminta Riyan dan orang-orangnya untuk pergi.


Riyan menatap tajam para penjaga tersebut. Setelah itu, Riyan menatap para anak buahnya. Riyan benar-benar marah saat ini.


"Kalian urusi mereka."


Setelah mengatakan itu, Riyan pergi menuju pintu utama dan diikuti oleh keempat sepupunya, dua tangan kanannya dan sepuluh anak buahnya.


Kini mereka sudah berdiri di depan pintu utama. Kemudian Riyan menendang pintu itu dibantu oleh Barra.


Dengan sekali tendangan dari Riyan dan Barra. Pintu itu terbuka dan rusak seketika.


Riyan dan Barra langsung melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Mahendra diikuti oleh Billy, Rehan, Ricky, dua tangan kanannya dan sepuluh anak buahnya.


Sementara anggota keluarga Mahendra yang saat ini berada di ruang tengah sembari membahas masalah Aruna dan Bethran ketika di mall seketika terkejut. Mereka semua mendengar suara langkah kaki beberapa orang memasuki ruang tengah.


Detik kemudian, semua anggota keluarga Mahendra terkejut ketika melihat kedatangan Riyan dan beberapa orang di samping dan di belakangnya.


"Mana Aruna!" teriak Riyan melengking di ruang tengah.


Mendengar perkataan dan teriakan dari Riyan membuat keluarga Mahendra kembali terkejut.


"Riyan..." perkataan ibunya Aruna terhenti dikarenakan mendapatkan tatapan tajam dari Riyan.


"Aku tanya sekali lagi. Mana Aruna!" teriak Riyan.


"Riyan! Yang sopan kalau bertamu ke rumah orang. Dan yang sopan juga kalau bertanya. Jangan seperti preman!" bentak kakak laki-laki Aruna yang paling tua.


Mendengar perkataan dan juga bentakkan dari kakak laki-lakinya Aruna membuat amarah Riyan semakin naik. Riyan menatap tajam kearah laki-laki itu.


"Baiklah kalau itu mau kalian."


Riyan menatap anak buahnya lalu memberikan perintah kepada anak buahnya itu.


"Kalian! Cari perempuan itu sampai dapat. Setelah kalian mendapatkannya, seret perempuan itu kemari!"


"Baik, Bos!"


Kesepuluh anak buahnya itu langsung berpencar untuk memeriksa setiap ruangan guna mencari Aruna.


Beberapa detik kemudian...


"Bos. Perempuan itu tidak ada di setiap kamar yang kami cari."


"Benar Bos!"


Mendengar laporan dari dua anak buahnya membuat Riyan tersenyum di sudut bibirnya. Sedangkan kedua orang tua dan ketiga kakak laki-laki Aruna tersenyum bahagia dan merasa lega karena mereka berhasil menyembunyikan Aruna.


Semua anggota keluarga Mahendra sudah sangat tahu bagaimana tipikal keluarga Aldama jika ada yang mengusiknya. Jadi mereka meminta Aruna untuk pergi dan bersembunyi.


Ting!


Terdengar suara notifikasi pesan WA di ponsel milik Riyan. Mendengar itu, Riyan langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Riyan melihat satu pesan dari salah satu tangan kanannya yang lain.


Setelah puas membaca pesan tersebut, Riyan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya. Dan kembali memberikan tatapan tajamnya kearah anggota keluarga Mahendra.


"Sekuat apapun usaha kalian menyembunyikan perempuan murahan itu dariku. Bahkan sampai ke ujung dunia sekali pun. Aku bisa menemukannya. Dan sekarang aku sudah mendapatkannya. Jangan harap kalian akan bertemu dengan perempuan itu lagi. Selamanya kalian tidak akan pernah bertemu dengan Aruna!"


Mendengar ucapan demi ucapan dari Riyan membuat semua anggota keluarga Mahendra terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika Riyan berhasil menemukan keberadaan Aruna.


"Farid, Ilman. Kalian buat keluarga ini hancur tanpa sisa. Bukti-bukti yang sudah kita dapatkan kalian serahkan kepada Pasya, kakak sepupuku!"


"Baik, Bos!"


"Jangan lupakan keluarga besar mereka. Baik keluarga dari mantan calon ayah mertuaku maupun keluarga dari mantan calon ibu mertuaku. Buat dua keluarga itu hancur tanpa memiliki apapun."


"Siap!"


Mendengar perkataan dari Riyan membuat kedua orang tua dan ketiga kakak laki-laki Aruna terkejut. Mereka tidak menyangka jika Riyan akan melakukan hal kejam itu kepada keluarganya.


Riyan menatap tajam kearah kedua orang tua dan ketiga kakak laki-laki Aruna dengan tersenyum di sudut bibirnya.


"Ucapkan selamat tinggal dengan semua kekayaan kalian. Setelah kalian kehilangan kekayaan dan kalian ingin mencarinya lagi. Carilah dengan cara halal. Dan berhentilah menipu orang."


Mereka kembali terkejut ketika mendengar perkataan dari Riyan yang mengatakan 'Berhentilah menipu orang'.


Setelah mengatakan itu, Riyan pergi meninggalkan keluarga Ardana Mahendra untuk menuju markas. Dirinya tidak sabar untuk bertemu dengan seseorang.


"Yan," panggil panggil Rehan.


"Iya, Kak."


"Bagaimana dengan keluarga dari laki-laki bajingan itu? Bukankah laki-laki itu sudah menyakiti Kimberly," ucap Rehan.


"Kakak tidak mengkhawatirkan hal itu. Keluarga dari laki-laki bajingan itu sudah terlebih dahulu aku hancurkan. Kemungkinan besar mereka pasti akan datang menemui kita untuk meminta maaf."


Mendengar jawaban dari Riyan membuat Rehan tersenyum. Begitu juga Barra, Ricky dan Billy. Mereka tidak menyangka jika Riyan sudah membalas perbuatan dari laki-laki bernama Bethran.


***


Kimberly sudah dipindahkan ke ruang rawat. Dan saat ini semua anggota keluarganya tengah mengerubungi tempat tidurnya secara bergantian.


Mereka secara bergantian memberikan ciuman di pipi dan keningnya. Mereka menangis terutama Nashita, Fathir, Jason, Uggy dan Enda melihat Kimberly yang harus kembali masuk rumah sakit.


Rica menggenggam tangan Kimberly. Sesekali Rica menciumnya. Air matanya tak bisa dibendung lagi ketika melihat kondisi Kimberly.


"Kim, maafkan kakak ya! Maaf karena kakak lalai jagain kamu." Rica berbicara sembari satu tangannya membelai kepala Kimberly.


Mendengar ucapan dari Rica membuat mereka semua menatap iba kearah Rica. Kemudian Nashita berlahan melangkah mendekati Rica, calon menantunya itu.


Nashita membelai lembut kepala belakang Rica. "Kamu tidak salah disini sayang. Kamu sudah menjadi kakak ipar yang baik untuk Kimberly. Jadi tante minta sama kamu. Jangan menyalahkan dirimu kamu atas apa yang terjadi pada Kimberly."


"Iya sayang. Apa yang dikatakan oleh istri om benar. Kamu jangan menyalahkan diri kamu atas atas apa yang terjadi pada Kimberly. Jika kamu ingin mencari siapa yang salah. Yang salah itu adalah kedua manusia iblis itu. Jadi, berhentilah menyalahkan diri kamu. Jika Kimberly dengar kamu bicara seperti itu. Kimberly akan marah sama kamu."


Nashita dan Fathir berusaha memberikan ketenangan dan menghibur Rica agar Rica tidak terus menyalahkan dirinya.


Jason mengambil alih tubuh kekasihnya lalu membawanya untuk duduk di sofa. Jason tahu jika kekasihnya itu masih memikirkan kejadian di mall itu.


"Sudah ya. Kamu tenang dan jangan memikirkan apapun. Aku tidak mau kamu jatuh sakit hanya karena memikirkan kejadian itu. Dan berhentilah menyalahkan diri kamu. Kamu nggak salah."


Jason membelai wajah Rica dengan lembut lalu memberikan kecupan di keningnya.