THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Tommy



Kimberly berada di sekolahnya. Setelah kejadian dua hari yang lalu dimana dirinya yang memberikan pelajaran kepada Ishana dan keempat temannya dengan sangat extrem hingga berakhir rasa takut datang menghampirinya sampai muncul niat untuk pindah sekolah.


Dengan rayuan, bujukan, kata-kata penenang dari kedua orang tuanya dan keempat kakak-kakaknya membuat Kimberly kembali bersemangat dan tetap bertahan di sekolah tersebut sampai dirinya lulus.


Kini Kimberly berada di dalam kelas. Kelasnya saat ini sedang ada materi fisika. Baik Kimberly, keempat sahabatnya maupun teman-teman sekelasnya sangat serius memperhatikan dan mendengarkan penjelasan dari guru yang sedang menjelaskan di depan.


"Baiklah anak-anak. Sampai disini apa ada yang belum mengerti?" tanya guru tersebut.


"Sudah, Bu!" seru mereka semua.


"Jadi sudah paham semuanya?"


"Sudah, Bu!"


"Baiklah. Sekarang buka halaman 100. Dan kerjaan soal nomor 1 sampai 10. Ibu beri waktu sampai pukul 9. Berati sekitar satu jam. Jadi selama satu jam tugas itu sudah selesai. Kalian mengerti!"


"Mengerti, Bu!"


"Seperti biasa. Ibu akan memberikan hukuman bagi yang tidak mengerjakan tugasnya."


"Baik, Bu!"


Setelah itu, semua murid pun termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya langsung mengerjakan tugas tersebut.


Tommy dan para sahabatnya sedang bermain basket di lapangan, termasuk Billy. Mereka saat ini sedang berlatih untuk pertandingan antar sekolah satu minggu lagi.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh dan terik matahari sudah terlihat karena ini waktunya mereka untuk istirahat.


Tommy, Billy dan Andhika memutuskan untuk menyudahi latihannya dan mengistirahatkan tubuh mereka. Sementara sahabat-sahabatnya yang lainnya masih asyik dengan dunia basketnya.


"Nathan, oper bolanya kesini!" seru Ivan yang melihat Nathan yang sedang mendriblle bola.


"Males," jawab Nathan enteng.


Mendengar jawaban dari Nathan membuat Ivan menatap kesal sahabat laknatnya itu.


Mereka bermain basket bersama. Akan tetapi Nathan hanya bermain sendiri dengan menguasai bola basketnya tanpa memberikan operan kepada sahabat-sahabatnya yang saat ini menatap kesal kearahnya.


"Aish. Oper bolanya bodoh!" kali ini Mirza dan Andry yang berteriak kepada Nathan.


"Ogah! Tuh bola cadangan banyak. Kalian main saja tuh bola. Ngapain pake rebutan bola yang ada padaku," jawab Nathan enteng.


"Wah. Benar-benar nih bocah. Ngajak ribut rupanya."


Henry yang sedari menatap kesal Nathan akhirnya mengambil tindakan. Henry melangkahkan kakinya menghampirinya Nathan.


Henry menendang kaki Nathan sehingga Nathan terjatuh di lantai dengan pantatnya yang terlebih dahulu mendarat di tanah dan bola tersebut pun terlepas dari tangannya Nathan.


"Aw! Sialan. Sakit tahu," umpat Nathan menatap horor Henry sembari mengusap-ngusap pantatnya. Henry langsung mengambil bola itu.


Henry, Lionel, Satya, Ivan, Mirza dan Andry tersenyum. Mereka tersenyum penuh arti.


"Lionel, Satya, Ivan, Mirza dan Andry. Serang!"


"Siap, Kapten!" seru mereka bersamaan. Dan terjadilah penganiayaan dan kekerasan dalam lingkungan basket.


Henry, Lionel, Satya, Ivan, Mirza dan Andry memberikan pukulan, tendangan dan lain sebagainya.


BAGH! BUGH!


GEDEBAG! GEDEBUG!


PLETAK! TAK!


DUG! DAG!


KRETEEK!


"Yak! STOP! Apa kalian semua berniat ingin melenyapkanku, hah!" teriak Nathan.


"Hahahahaha."


Melihat kelakuan para sahabatnya. Tommy, Billy dan Andhika hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Tommy, Billy dan Andhika saat ini tengah beristirahat. Ketika mereka sedang beristirahat. Mereka dikejutkan dengan kedatangan Talitha bersama keempat temannya.


"Ini minum untuk kamu, Tommy! Aku sangat yakin kamu pasti haus." Talitha menyodorkan botol mineral kearah Tommy.


"Dan ini untukmu, Billy." Kiara juga menyodorkan botol mineral kepada Billy. Dirinya berharap Billy akan luluh padanya.


Baik Tommy maupun Billy hanya menatap Talitha dan Kiara malas. Keduanya tidak ada niatan untuk menerima botol minuman itu. Mereka menatap jijik Talihta dan Kiara.


"Maaf terima kasih," ucap Tommy dengan wajah datarnya.


Setelah itu, Tommy, Billy dan Andhika pun pergi meninggalkan lapangan basket.


Baru beberapa langkah, seketika langkah Tommy terhenti karena Talitha berhasil mencekal tangan Tommy.


Melihat Tommy berhenti, otomatis Billy dan Andhika juga ikut berhenti.


Tommy menatap nyalang kearah Talitha. "Lepas!" bentak Tommy.


"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau menerima minuman dariku," jawab Talitha.


Talitha kembali menyodorkan botol minuman itu kearah Tommy. Begitu juga Kiara.


Tommy dan Billy saling lirik, lalu kembali menatap kearah Talitha dan Kiara. Baik Tommy maupun Billy secara bersamaan menerima botol minuman itu dari tangan Talitha dan Kiara.


Talitha dan Kiara tersenyum bahagia karena Tommy dan Billy mau menerima botol minuman darinya.


Namun seketika senyuman mereka luntur saat melihat Tommy dan Billy yang membuang habis isi botol minuman. Setelah botol itu kosong, Tommy dan Billy membuang asal botol itu.


"Sudahkan?" tanya Billy menatap jijik kearah Kiara. Begitu juga dengan Tommy.


Sementara Andhika tersenyum mengejek menatap kedua wanita yang sedang berusaha mendapatkan hati kedua sahabatnya.


"Kenapa minumnya dibuang, Tommy?" tanya Talitha.


"Kenapa? Tidak suka? Aku membuang minuman itu karena aku takut jika di dalam minuman itu ada peletnya. Aku takut jika sampai aku meminum minuman darimu aku tidak akan bisa terlepas darimu." Tommy berbicara dengan menekan disetiap ucapannya.


"Sudahlah, Talitha. Berhentilah mengejar Tommy. Apalagi mengganggunya. Kau sendirikan yang sudah mencampakkan Tommy dan memilih laki-laki yang lebih kaya dari pada Tommy." Andhika berbicara dengan menatap tajam Talitha.


"Dan sekarang kau kembali dan berusaha mendapatkan hati Tommy kembali dikarenakan kau telah mengetahui status asli Tommy," ucap Andhika lagi.


Mendengar ucapan dari Andhika membuat Talitha marah. Talitha menatap tajam Andhika.


"Jangan ikut campur urusanku. Kau bukan siapa-siapanya Tommy!" bentak Talitha.


"Hahahahah." Andhika tertawa keras. "Hei, nona Talitha. Bagaimana bisa kau mengatakan bahwa aku bukan siapa-siapanya Tommy? Apa kau lupa kalau aku ini saudara sepupunya Tommy?" tanya Andhika dengan menatap remeh Talitha. Begitu juga Tommy dan Billy.


Seketika Talitha terkejut dengan perkataan Andhika. Dirinya baru sadar dan juga ingat jika Tommy dan Andhika adalah saudara sepupu.


"Sudahlah. Ngapain juga meladeni dua nenek lampir ini. Lebih baik kita segera ganti pakaian kita, lalu ke kantin. Aku sudah lapar!" seru Billy.


"Ya. Itu ide bagus. Lagian sedari tadi aku menahan muntah karena terlalu lama menatap wajah mereka." Tommy berbicara sembari menatap satu persatu wajah Talitha dan keempat temannya.


Setelah mengatakan itu, Billy, Tommy dan Andhika pun pergi meninggalkan lapangan basket. Dan kemudian disusul oleh sahabat-sahabatnya yang lainnya.


"Makanya sadar diri jadi cewek," ejek Henry.


"Jangan kecentilan," ucap Lionel.


"Jadilah cewek yang bener. Jangan suka merusak hubungan orang lain," Satya.


"Jangan suka memaksa jika orang itu tidak mau," sindir Nathan.


Sementara Ivan, Mirza dan Andry menatap jijik Talitha dan keempat temannya.