THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Pelukan Kerinduan



Kimberly terkejut ketika melihat Tommy yang sudah berdiri di hadapannya bahkan dalam satu Paviliun.


Kimberly menatap tanpa ekspresi, sementara Tommy menatap Kimberly dengan penuh kerinduan. Salah satunya adalah Tommy rindu memeluk tubuh Kimberly.


Berlahan Tommy melangkahkan kakinya mendekati Kimberly. Dirinya sudah tidak tahan melihat Kimberly yang hanya diam mematung tanpa mengatakan sesuatu setelah melihat dirinya.


Kini Tommy sudah berdiri di hadapan Kimberly. Mereka berdiri sangat dekat. Tommy menatap wajah cantik Kimberly.


Detik kemudian..


Grep..


Tommy memeluk tubuh Kimberly begitu erat seolah-olah dirinya tidak ingin melepaskannya.


Sementara Kimberly seketika terkejut ketika mendapatkan pelukan dari Tommy. Sejujurnya di dalam hatinya, dirinya begitu merindukan pelukan kekasihnya itu.


"To-tommy," batin Kimberly.


Setelah puas memeluk perempuan yang begitu dia cintai, Tommy pun melepaskan pelukannya itu. Kemudian Tommy menatap wajah cantik Kimberly yang saat ini juga menatap dirinya.


Tommy menyentuh lembut pipi Kimberly dan mengusap-usapnya. Setelah itu, Tommy memberikan ciuman di kening kekasihnya itu.


"Kim, dengarkan aku sampai selesai. Jangan potong setiap apa yang akan aku katakan padamu."


Tommy berbicara sembari tangannya terus mengusap-usap lembut pipi putih Kimberly. Sedangkan Kimberly masih setia menatap wajah tampan kekasihnya itu.


"Ini masalah foto itu. Foto dimana kamu berduaan dengan Antoni saat di Cafe ketika di kota Berlin dengan Antoni memegang tangan kamu. Sebenarnya, aku seratus persen percaya sama kamu. Aku sama sekali tidak mempercayai foto itu. Aku melakukan itu semua karena itu adalah rencanaku untuk menghancurkan Antoni agar dia tidak lagi mengganggu kamu."


Deg..


Kimberly seketika terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan tentang dirinya yang saat itu tidak mempercayai dirinya.


"Ketika di Cafe itu sebenarnya aku hanya akan membahas foto itu sama kamu dan aku akan bertindak seolah-olah foto itu benar adanya. Setelah itu, aku akan pergi meninggalkan kamu tanpa ada pertengkaran. Namun...."


Tommy menghentikan ucapannya dengan tatapan matanya menatap wajah cantik Kimberly.


"Na-namun apa?" tanya Kimberly.


"Di Cafe itu ada Antoni. Dengan kata lain dia melihat kita yang sedang lagi bermasalah. Maka dari itu aku langsung melancarkan aksiku dengan menyakitimu. Aku lebih memilih foto itu dari pada kamu. Bahkan kita bertengkar saat itu."


"Setelah aku mengatakan kata-kata yang menyakiti kamu. Aku langsung pergi meninggalkan kami sendirian. Sebenarnya aku tidak benar-benar pergi. Aku mengawasi kamu, takut terjadi sesuatu sama kamu setelah kita bertengkar. Setelah kepergianku, Antoni tampak bahagia. Dia menelpon seseorang dan mengatakan kepada orang itu apa yang dia lihat di Cafe itu."


Seketika Kimberly menangis ketika mendengar sebuah kebenaran tentang Tommy yang berpura-pura tidak mempercayai dirinya. Tommy melakukan semua itu untuk dirinya dan untuk hubungan mereka.


Grep..


Tommy kembali memeluk tubuh Kimberly. Dirinya paling tidak suka melihat kesayangannya menangis. Tangannya mengusap-usap lembut kepala belakangnya sembari memberikan kata-kata penenang.


"Maafkan aku yang sudah buat kamu nangis ketika di Cafe itu. Maafkan aku yang sudah buat kamu tertekan beberapa hari ini akan sikap ketidakpercayaanku padamu. Maafkan aku yang sudah buat kamu terluka. Maafkan ak......"


"Hiks... Aku sudah maafin kamu. Aku mencintai kamu. Aku sangat mencintai kamu.... Hiks. Jangan lakukan itu lagi. Jika kamu ingin melakukan sesuatu, bawalah aku dalam rencana kamu itu. Jangan berjuang sendirian. Aku mohon.... Hiks," ucap Kimberly disela isakannya.


Tommy tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Dirinya benar-benar bahagia Kimberly yang langsung mau memberikan maaf untuknya. Kesayangannya ini tidak terlalu marah atau dendam padanya. Dia benar-benar bersyukur memiliki Kimberly dalam hidupnya.


"Aku janji tidak akan melakukan hal ini lagi padamu. Aku juga janji akan melibatkan kamu dalam setiap rencanaku."


Kimberly seketika melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya menatap wajah tampan Tommy.


Tommy seketika terdiam ketika mendengar ucapan dari Kimberly yang mengatakan bahwa ini adalah yang kedua kalinya dia menyakiti Kimberly dengan berpura-pura tidak mencintai Kimberly lagi. Dia baru sadar dan ingat akan hal tersebut.


Seketika Tommy tersenyum dengan tatapan matanya menatap wajah cantik Kimberly. Kemudian tangannya menggetarkan tangan Kimberly. Berlahan Tommy mengangkat tangannya keatas, lalu kemudian menciumi punggung tangan Kimberly penuh sayang.


"Aku janji, tidak akan ada yang ketiga, keempat dan seterusnya. Aku akan membawa kamu dalam setiap rencanaku. Bukan kamu saja yang tersiksa dan bersedih, aku juga merasakan hal yang sama setiap hubungan kita tak baik-baik saja. Aku mencintaimu, selamanya! Hanya kamu yang akan selalu ada di hatiku. Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya kepada kamu. Sekali pun kita berpisah, aku tidak akan pernah mencari pengganti kamu. Dan aku akan meminta kepada Tuhan untuk menyatukan kita kembali, bukan sebagai sepasang kekasih, melainkan menjadi sepasang suami istri."


Kimberly tersenyum mendengar ucapan yang menyentuh hati dari mulut Tommy. Dia juga akan melakukan apa yang dikatakan oleh Tommy.


"Aku juga akan melakukan apa yang kamu lakukan. Aku tidak akan mencari pengganti kamu sampai kapan pun sekali pun nanti kita berpisah. Jika hal itu terjadi, maka aku bersedia menjadi istri kamu bukan kekasih kamu."


Kini Tommy yang tersenyum. Bahkan kali ini senyumannya begitu lebar. Dia benar-benar bahagia ketika mendengar jawaban dari Kimberly.


Tanpa diketahui oleh Kimberly dan Tommy yang sedang berduaan di dalam. Di luar Paviliun dimana Triny dan sahabatnya, Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya, Aryan dan sahabat-sahabatnya serta sahabat-sahabatnya Kimberly menguping pembicaraan antara Kimberly dan Tommy. Mereka semua tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dan janji antara Kimberly dan Tommy.


"Bahagia terus sayangnya kakak," batin Billy.


"Tetap tersenyum, Kim!" batin Triny.


"Ini yang aku suka dari kamu, Kimberly! Tetaplah tersenyum. Dan bahagia selalu untuk kamu," batin Aryan.


"Aku turut bahagia melihat kamu bisa kembali memeluk Kimberly, Tommy! Lain kali jangan lakukan hal ini lagi jika kamu tidak ingin tersiksa berjauhan dengan Kimberly," batin Andhika.


Setelah puas mengintip dan menguping pembicaraan antara Kimberly dan Tommy, akhirnya Triny membuka kunci pintu Paviliun itu. Dia tidak ingin mendengar suara teriakan Kimberly sembari memanggil namanya lengkap dengan marganya dengan lantang. Plus dengan kata-kata mutiara indah yang keluar dari mulutnya.


Ctek..


(Anggap saja seperti itu bunyi kunci pintu yang dibuka oleh Triny)


Cklek..


Setelah kunci dibuka, Triny pun langsung membuka pintu itu sehingga dirinya dan yang lainnya melihat pemandangan yang indah di hadapannya dimana Kimberly dan Tommy masih dalam pelukan.


Detik kemudian..


"Eehheeemmm!" Santy, Rere, Sinthia dan Catherine berdehem dengan sangat keras sehingga membuat Kimberly dan Tommy langsung melepaskan pelukannya.


Setelah itu, keduanya menatap keasal suara. Dapat mereka semua semua sahabat-sahabatnya/tiga sepupunya berdiri di hadapannya dengan tersenyum manis.


"Aish, mengganggu saja!" Kimberly dan Tommy berucap bersamaan.


Setelah itu, Tommy menarik lembut tangan Kimberly dan membawanya pergi meninggalkan Paviliun.


Melihat Tommy yang pergi sembari membawa Kimberly membuat mereka semua mendengus kesal.


"Tidak tahu berterima kasih," ucap Billy kesal.


"Kacang lupa kulitnya!" seru Andhika dan sahabat-sahabatnya.


Setelah itu, mereka semua menyusul Kimberly dan Tommy.


PEMBACA MAKIN HARI MAKIN BERKURANG.


JANGAN UNTUK MEMBACA. KOMENTAR SAJA NOL BESAR. ALIAS KOSONG. HANYA DUA ATAU TIGA YANG BERKOMENTAR