
Kimberly telah sampai di sekolahnya. Kimberly berangkat dengan menggunakan mobil mewahnya yang merek Koenigsegg CCXR Trevita. Setelah memarkirkan mobilnya. Kimberly pun keluar dari dalam mobilnya.
Kimberly melangkahkan kakinya menyusuri koridor sekolah seperti biasanya. Kimberly melangkah menuju kelasnya yaitu kelas X IPA 1. Melihat kedatangan Kimberly semua murid-murid menatapnya dengan rasa kagum dan rasa suka. Dan ada juga sebagian yang menatapnya dengan tatapan jijik dan penuh kebencian. Mereka yang membenci Kimberly tak sungkan-sungkan membicarakannya.
Sementara untuk Kimberly sendiri. Hal itu sudah terbiasa baginya. Selama mereka tidak mengusiknya, selama mereka tidak membawa-bawa keluarganya. Selama itulah Kimberly akan membiarkan dan tidak mempedulikan omongan dari murid-murid yang tidak menyukainya. Menurut Kimberly, mereka hanya berani dibelakang saja. Mereka tidak berani melawan dirinya secara terang-terangan seperti kelompok Talitha, kelompok Syafina dan kelompok Ishana.
Ditambah lagi menurut Kimberly. Semua murid-murid menatapnya karena dirinya sangat cantik. Bahkan kecantikannya mengalahkan kakak kelasnya Ishana.
Kimberly memasuki kelasnya. Ketika sudah berada di dalam kelasnya. Kimberly melihat keempat sahabatnya tengah bergosip.
"Woi! Pagi-pagi sudah bergosip!" Kimberly berteriak sambil melangkah menuju kursinya.
Kimberly menduduki pantatnya. Setelah itu, tatapan matanya menatap wajah keempat sahabatnya itu.
"Kalian gosipin apa? Kasih tahu dong," ucap dan tanya Kimberly.
"Tidak terlalu penting," jawab Sinthia.
"Oh!" Kimberly hanya ber oh sebagai balasan dari jawaban Sinthia.
Semua murid-murid termasuk Kimberly dan keempat sahabatnya kembali sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sudah banyak murid-murid yang berdatangan, namun guru yang akan mengajar di kelas mereka belum juga datang.
BRAAKK!
Tiba-tiba Rere memukul meja dengan sangat kerasnya sehingga membuat para penghuni kelas terlonjak kaget sembari mengeluarkan sumpah serapah mereka untuk Rere.
"Berisik lo sialan!" sungut Syafina yang terbangun dari tidurnya karena mendengar pukulan meja dari Rere.
"Yeeyy! Siapa suruh lo tidur di kelas. Ini di sekolah bukan di rumah. Apa lo kagak punya rumah, hah?" Rere menjawab perkataan dari Syafina dengan nada ngegas.
Sementara Syafina menatap tajam Rere. "Awas lo. Gue bakal balas lo," batin Syafina.
Kimberly, Santy, Catharine dan Sinthia melihat kearah Rere dengan wajah kepo mereka.
"Ada apa sih, Re?" tanya Kimberly.
"Lo kayak kesambet setan aja yang tiba-tiba mukul meja," ujar Santy.
"Iya, nih! Ada apa? Buruan katakan," sahut Sinthia.
Rere menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya, lalu kemudian memperlihatkan pesan yang didapatnya kepada keempat sahabatnya itu.
Baik Kimberly maupun Santy, Sinthia dan Catharine langsung melihat ke layar ponsel milik Rere. Dan beberapa detik kemudian...
"Hah!" Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine dengan kompaknya menghela nafas bersamaan dengan punggung yang dihempas di sandaran kursi.
"Yaelah, Rere! Kirain ada apa," ucap Santy.
"Hanya gara-gara berita kalau kelas kita bakal kedatangan murid baru membuat lo jadi semangat kayak gini?" ucap dan tanya Kimberly dengan menatap tak percaya Rere.
Rere langsung menganggukkan kepalanya antusias. Teman-teman sekelasnya minus kelompok Syafina dan teman-temannya Talitha tersenyum sembari menggelengkan kepalanya.
"Murid baru kali ini beda Kimberly," ucap Rere.
"Beda dari mananya Rere Pratista?" tanya Catharine.
Rere menatap wajah Catharine. Setelah itu Rere menatap wajah Kimberly, Santy dan Sinthia.
"Pertama, murid baru itu berjumlah 5 orang. Kedua, murid baru itu berjenis kelamin laki-laki. Ketiga, mereka semua pindahan dari negara China. Keempat, mereka semua asli orang Jerman. Dan yang kelima, mereka semua memiliki wajah yang sangat tampan."
Rere menjelaskan secara lengkap tentang ciri-ciri dari murid baru tersebut kepada keempat sahabatnya. Sementara keempat sahabatnya langsung menghela nafas pasrah sembari menepuk pelan kening masing-masing.
Melihat reaksi keempat sahabatnya membuat Rere merengut kesal. Rere menatap horor keempat sahabatnya itu.
"Kenapa reaksi kalian seperti itu?" tanya Rere.
Mendengar pertanyaan dari Rere. Kimberly, Santy, Catharine dan Sinthia dengan kompaknya menatap wajah Rere.
"Apa lo ingin kita jawab 'waw' gitu," ucap Catharine.
"Apa lo ingin kita berteriak heboh karena kelas kita kedatangan murid baru yang super tampan. Begitu?" tanya Sinthia.
"Hallo, Rere! Kamu masih sehatkan? Kamu masih waraskan?" tanya Kimberly.
"Iya iyalah! Gue masih sehat dan gue masih waras," jawab Rere dengan wajah kesalnya.
Kimberly tersenyum. Begitu juga dengan Santy, Sinthia dan Catharine.
"Kamu gak lupakan sama Henry Emeric?" tanya Kimberly lagi.
"Yah enggaklah." Rere langsung menjawabnya.
"Siapa dia?" tanya Santy.
"Henry itu keka...," seketika Rere menutup mulutnya ketika dirinya telah sadar.
"Udah ingat sekarang kalau seorang Rere Pratista sudah memiliki kekasih, hum?" tanya Sinthia menggoda Rere.
"Udah ingat siapa itu Henry Emeric?" tanya Catharine.
"Hehehehe." Rere terkekeh geli ketika mengetahui statusnya.
Mendengar kekehan dari Rere membuat Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine menghela nafas pasrahnya.
Ketika Kimberly, keempat sahabatnya dan teman-teman sekelasnya pada heboh melihat kelakuan Rere. Mereka semua dikejutkan dengan masuknya seorang guru laki-laki yaitu pak Andrew selaku guru fisika. Kebetulan pak Andrew jadwal mengajarnya di kelas X IPA 1.
"Selamat pagi anak-anak," sapa pak Andrew ramah.
"Pagi pak," jawab semua murid kelas X IPA 1.
"Maaf ya anak-anak kalau bapak hari ini datangnya terlambat karena ada urusan mendadak."
"Kenapa urusan bapak gak sampai pulang sekolah saja, Pak!" celetuk Rere.
"Enggak ah. Jika bapak datangnya pada saat waktu pulang sekolah. Ntar malah kalian kesenangan lagi. Waktu adalah uang. Uang itu adalah rezeki. Jadi bapak tidak mau membuang rezeki," jawab pak Andrew.
Mendengar jawaban dari pak Andrew membuat mereka semua tertawa.
"Ach, iya! Bapak benar juga," sahut Rere.
"Sudah... Sudah! Sebelum bapak memulai pelajaran fisika nya. Bapak mau memperkenalkan kalian semua dengan murid baru. Mereka semua pindahan dari negara China," ucap pak Andrew.
Pak Andrew menolehkan wajahnya kearah pintu. "Silahkan masuk!" seru pak Andrew.
Setelah itu, masuklah kelima murid baru itu ke dalam kelas. Semua murid-murid di dalam kelas seketika menatap kearah kelima murid baru itu. Kedatangan kelima murid baru itu sukses membuat isi kelas heboh, kecuali Kimberly, Santy, Sinthia, Catharine dan Rere. Mereka tampak biasa saja.
Para murid-murid perempuan berbisik dengan teman sebangkunya, termasuk kelompok Syafina dan teman-temannya Talitha. Mereka terkesima dengan ketampanan dari kesepuluh murid baru itu.
"Stok cowok ganteng bertambah," ucap Syafina.
Mendengar perkataan Syafina. Mereka semua bersorak dan tertawa.
"Sudah.. Sudah!" lerai pak Andrew. Setelah itu, pak Andrew kembali menatap kelima murid baru itu. "Perkenalkan diri kalian."
"Namaku Ansell Adrian. Dipanggil Ansell."
"Namaku Elan Delwyn."
"Namaku Sean Shaquille."
"Namaku Aaron Almero."
"Namaku Austin Barayev."
Mendengar nama-nama dari kelima murid baru itu membuat para murid-murid perempuan berdecak kagum.
"Bukan hanya wajah saja yang tampan. Nama kalian semua juga bagus-bagus," sahut salah satu murid perempuan.
"Terima kasih," jawab kelima murid baru itu bersamaan.
"Baiklah. Sekarang kalian duduklah di bangku yang sudah disediakan di belakang," ucap pak Andrew.
Kelima murid baru itu mengangguk, lalu melangkahkan kakinya menuju kursi yang sudah tersedia di belakang.
Ketika kelima murid baru itu melangkah menuju kursi mereka masing-masing. Dua dari lima murid baru itu menatap dengan tatapan kagum kearah Kimberly dan Catharine.
Sementara Kimberly dan Catharine yang menyadari tatapan kedua murid baru itu hanya bersikap acuh dan cuek.
Setelah selesai perkenalkan dan murid-murid baru itu sudah duduk di kursi masing-masing. Pak Andrew pun memulai pelajaran fisikanya.
Kegiatan belajar mengajar berlangsung dengan khidmat. Sesekali terdengar suara keributan dan canda tawa. Wala demikian, tatapan mata murid-murid perempuan tak lepas dari kelima murid baru itu.
***
Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine sudah berada di Kantin. Setelah beberapa jam mengikuti pelajaran di kelas. Mereka memutuskan untuk mengisi perut mereka.
Ketika mereka tengah asyik dengan makan siangnya, tiba-tiba datang kelima murid laki-laki mengganggu kegiatan makan siang mereka.
Menyadari kedatangan kelima murid baru itu. Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine tidak menghiraukannya. Justru mereka tetap fokus dengan makanan masing-masing.
"Boleh kami bergabung disini?" tanya salah satu dari kesepuluh murid baru itu.
Mendengar pertanyaan dari salah satu murid laki-laki itu. Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine tidak mempedulikan hal itu.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine. Kelima murid laki-laki itu dengan beraninya langsung menduduki pantatnya di bangku.
Meja dan kursi yang mereka tempati berbentuk panjang. Kimberly dan Santy duduk berhadapan dengan Sinthia dan Catharine. Dan kemudian diapit oleh kelima murid baru itu.
Di meja lain, beberapa pasang mata menatap tajam kearah dimana Kimberly, Santy, Sinthia dan Catharine duduk. Mereka menatap marah ketika melihat kelika laki-laki yang baru pertama kali mereka lihat dengan seenaknya duduk didekat pacar mereka. Ditambah lagi mereka dengan beraninya menggoda para kekasih mereka.