THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Sikap Berani Kimberly Melawan Asena



Suasana kantin tampak ramai pada jam istirahat kedua. Para murid berbondong-bondong datang. Saling berebut bangku kantin untuk mereka duduki. Begitu pun stand makanan yang tampak ramai. Apalagi istirahat kedua ini sudah termasuk jam makan siang.


Sherina dan Riana sahabatnya duduk di meja tengah kantin membuat mereka mudah tersorot dan tampak mencolok di antara siswi-siswi lain.


Sementara itu Alea dan Talla bertugas membeli makanan dan minuman.


Sherina berdehem sembari mengangguk pelan sebagai respon untuk Riana yang sedari tadi bercerita sambil menatap ponselnya.


Sherina memandang sekeliling kantin. Matanya menjelajahi setiap sudut membuat dirinya di pandang balik oleh beberapa orang yang tidak sengaja Sherina lihat.


"Sher! Woy!"


Sherina menoleh menatap Riana dengan pandangan bertanya.


"Apa?"


Sementara tangannya sibuk memainkan botol kemasan minuman yang tadi Sherina beli di koperasi sekolah.


"Cari siapa sih? Kayaknya lo lagi cari orang nih. Siapa sih? Gue kepo." tanya Riana beruntun.


"Aryan. Lo liat?" Sherina menjawab pertanyaan dari Riana sekaligus memberikan pertanyaan.


Riana berdehem. Apakah dia tidak salah dengar?


"Aryan?" tanya Riana.


Sherina mengangguk sebagai jawabannya. "Iya. Lihat nggak?"


Riana meletakkan ponselnya di atas meja. Dia kemudian memicingkan matanya ke arah Sherina membuat Sherina mengerutkan keningnya.


"Lo ada ehem-ehem ya sama Aryan? " tanya Riana pelan yang bisa di samakan seperti bisikan sampai memajukan wajahnya ke depan.


"Ehem-ehem?"


"Iya ehem-ehem. Itu loh rahasia hubungan gitu. Lo pasti ada, kan? Ngaku lo, Sher!"


"Ngada-ngada lo!"


Sherina menoyor pelan kening Riana. "Gue ada urusan sama Aryan."


"Urusan apa? Apa ini ada hubungannya dengan video Aryan sama Prisca itu?"


Belum sempat Sherina menjawab pertanyaan dari Riana. Alea dan Talla datang membawa pesanan mereka.


Talla menggerutu pelan. "Enak ya duduk-duduk kita di sana panas-panasan rebutan makanan," ucap Talla mencibir.


Namun tetap memberikan pesanan Sherina dan Riana.


Sherina seketika tertawa. "Maafkan aku, sayang." Sherina berucap mengucapkan maaf sembari menggoda Talla namun di balas dengusan oleh Talla.


"Besok kan giliran gue, Talla! Jadi untuk hari ini, nikmati saja dulu." Riana ikut menimpali kekesalan Talla.


Sementara itu Alea menggeleng pelan. Dia langsung mengambil posisi duduk di samping Sherina.


"Nah kan sampe lupa. Tadi mau ngomong apa, Sher? Lo punya urusan apa sama Aryan?" tanya Riana lagi.


Talla dan Alea kompak menatap keduanya secara bergantian. Sherina yang akan memasukkan baksonya ke dalam mulut mengurungkan niatnya.


Sherina balik menatap tiga sahabat dengan wajah risih.


"Lo pada kenapa sih? Jangan natap gitu lah," ujar Sherina dengan tawa garing.


"Lo menyembunyikan sesuatu dari kita-kita. Udah main-main rahasiaan ya sekarang," ucap Talla.


"Apaan sih kamu, Talla! Nggaklah. Aku nggak menyembunyikan apa-apa dari kalian. Aku nyari Aryan karena aku ada urusan sama dia. Lebih tepatnya urusan video itu."


Mendengar jawaban dan juga penjelasan dari Sherina membuat Riana, Talla dan Alea langsung paham.


"Apa yang akan lo lakuin ketika nanti lo bertemu dengan Aryan?" tanya Alea.


"Lo tahu sendirikan bagaimana susahnya dekatin dia. Aryan itu terkenal sifat dinginnya, sifat ketusnya dan sifat kejamnya terhadap orang-orang yang mengganggu dia. Dia nggak jauh beda dengan kakak sepupunya yang bernama Billy," ucap Talla.


"Iya, gue tahu hal itu," jawab Sherina.


"Kalau lo tahu. Kenapa lo masih mencari dia, bodoh?! Dan bahkan lo berani merekam dia ketika bersama Prisca dua hari yang lalu. Lo mau cari mati!" ucap Riana dengan sadisnya.


Seketika Sherina membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan sadis dari Riana. Dia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan berbicara dengan nada seperti itu.


Sementara Alea dan Talla tersenyum gemas melihat wajah syok Sherina.


Sedangkan untuk Riana hanya bersikap acuh setelah mengatakan hal kejam itu kepada Sherina.


^^^


Aryan dan kelima sahabatnya saat ini berada di sebuah lobi sekolah. Setiap jam istirahat kedua, Aryan dan keempat sahabatnya selalu nongkrong disana. Jam istirahat pertama saja Aryan akan bergabung dengan para sepupunya dan para sahabat sepupu-sepupunya itu.


Bukan hanya Aryan dan kelima sahabatnya saja yang suka nongkrong disana. Para sepupu dan para sahabat sepupu-sepupunya bahkan. Satu sekolah juga suka nongkrong disana lobi itu.


Namun untuk hari ini hanya Aryan dan kelima sahabatnya saja yang ada disana tanpa Billy, Triny, Risma, Kimberly dan para sahabatnya.


Lobi sekolah itu sudah menjadi rumah kedua untuk semua murid-murid. Jika mereka lelah akan pelajaran dan lelah akan aktivitas mereka, maka mereka akan lari kesana.


Di lobi itu terdapat beberapa sofa panjang dan berbentuk lingkaran. Ada beberapa makanan ringan dan beberapa minuman.


"Yan," panggil Evan.


"Iya, Van!"


"Bagaimana masalah foto itu? Apa foto itu sudah dihapus oleh Sherina?" tanya Evan.


"Gue nggak tahu. Tapi sepertinya belum," jawab Aryan.


"Lo nggak nanya sama Sherina soal foto itu?" tanya Raka.


"Buat apa? Yang ada nantinya tuh cewek bakal besar kepala jika gue samperin dia," sahut Aryan.


"Setidaknya buat mastitis aja Aryan!" seru Lian dan Dylan bersamaan.


"Percayalah! Tuh cewek nggak akan berani nyebarin foto itu ke siapa pun," ucap Aryan dengan penuh keyakinan.


"Kenapa lo bisa seyakin itu?" tanya Jerry.


"Lo tahu siapa gue kan, Jer! Dan lo juga tahukan bagaimana cara gue untuk membuat para musuh tak berkutik?"


^^^


Di kelas, Asena dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah memikirkan sesuatu untuk membalas perlakuan Kimberly dua hari yang lalu.


Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira masih tidak percaya bahwa Kimberly yang seorang murid biasa dan tidak memiliki pengaruh apapun di sekolahnya sudah berani melawan.


Selama ini tidak ada yang berani terhadap mereka. Namun sekarang apa? Seorang murid seperti Kimberly dan keempat sahabatnya berani melawan mereka.


"Sena, apa lo akan diam saja? Lo nggak ada niatan buat balas tuh cewek?" tanya Cherry.


"Lo pikir gue bakal diam aja. Ya, nggaklah. Lo tenang aja Cherry. Kita bakalan balas dia," sahut Asena.


"Kalau perlu sekalian keempat sahabatnya yang sok jagoan itu," sela  Caria.


"Sudah pastilah. Mereka itukan sepaket. Jadi sekalian," jawab Elnara.


"Oh iya! Gue baru ingat sesuatu!" seru Tsamira.


"Apa?!" tanya Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan dan Dilara bersamaan sembari menatap wajah Tsamira.


"Kayaknya kita nambah satu saingan lagi, terutama untuk lo Cher!" ucap Tsamira.


"Maksud lo? Siapa?" tanya Asena dan Cherry bersamaan.


"Lo berdua kenalkan sama murid bernama Sherina Muntaz?" tanya Tsamira.


"Iya. Dia murid kelas 1 IPA 3. Kenapa?" ucap dan tanya Cherry.


"Gue dengar-dengar dia juga berusaha untuk dekatin Aryan." Tsamira menjawab pertanyaan dari Cherry. "Bukannya lo suka sama Aryan?" tanya Tsamira dengan menatap wajah Cherry.


"Wah! Cari mati tuh anak!" seru Aiyla dan Jihan bersamaan.


"Kita selesaikan pembalasan kita terhadap Kimberly dan keempat sahabatnya terlebih dahulu. Setelah itu, baru kita mengurus anak IPA 3 itu." Asena berucap.


"Oke!" seru Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira bersamaan.


^^^


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saat ini tengah melangkahkan kakinya menuju kantin.


Setelah tiga jam mengikuti proses belajar mengajar di kelas. Mereka memutuskan untuk langsung pergi ke kantin.


Ketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sedang asyik melangkah sembari mengobrol kecil, tiba-tiba ada beberapa orang menghalangi jalannya.


"Mereka lagi. Apa nggak bisa ya sehari saja hidup gue nggak diganggu? Baru kemarin kelompok itu mengganggu gue di kantin. Sekarang kelompok itu ganggu gue. Besok kelompok siapa?" batin Kimberly.


"Mau apa lagi? Apa kalian nggak punya kerjaan lain selain gangguin gue dan keempat sahabat gue?" tanya Kimberly.


"Kalau lo nggak mau gue dan ketujuh sahabat-sahabat gue gangguin lo. Lo harus nurut dan juga patuh sama gue," sahut Asena.


"Yaelah! Ribet amat hidup lo," ucap Santy.


"Diam lo!" bentak Asena.


"Santai dong. Nggak usah ngebentak juga kali," jawab Rere.


"Berani ngelawan lo ya."


Asena melayangkan tangannya ke udara bermaksud untuk menampar wajah Rere.


Namun dengan gesit Kimberly langsung menangkap tangan Asena dan merematnya dengan kuat.


"Jangan sok jagoan lo di sekolah ini. Sekali pun sekolah ini milik keluarga lo. Lo nggak ada hak buat nyakitin murid-murid disini. Mereka sekolah disini bayar. Nggak gratisan. Lo harus nyadar diri."


Setelah mengatakan itu, Kimberly melepaskan tangan Asena dengan cara menghempasnya dengan kuat.


Asena menatap tajam kearah Kimberly. Begitu juga dengan Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira.


"Jangan sok jadi pahlawan!" bentak Asena.


"Mending sok jadi pahlawan. Dari pada sok jagoan. Bikin malu," ejek Kimberly.


"Lo dan keempat sahabat lo tuh murid biasa dan bukan siapa-siapa. Tapi sudah berani ngelawan kita," ucap Aiyla.


"Apa hubungannya dengan gue dan keempat sahabat gue yang berstatus murid biasa? Masalah buat kalian?" tantang Kimberly.


"Iya, iyalah ada hubungannya! Setiap murid di sekolah ini termasuk murid biasa alias murid yang rendah dan miskin itu harus tunduk sama kita. Jika ada yang berani melawan, maka dia akan bernasib sial selama berada di sekolah ini." Elnara menjawab perkataan dari Kimberly.


"Itu mereka. Kalau gue... Hahahaha. Jijik gue harus tunduk sama manusia busuk kayak kalian."


Mendengar ucapan kejam dari Kimberly membuat Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira mengepal kuat tangannya.


Sementara Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum dengan tatapan mengejeknya masing-masing.


"Gue nggak peduli. Ini adalah peringatan terakhir dari gue. Lo jauhi Tommy. Jangan lo dekat-dekati Tommy lagi. Tommy itu milik gue. Hanya gue yang punya hak buat dekat-dekat sama dia!" bentak Asena.


"Lo juga harus jauhi Aryan!" bentak Cherry menatap tajam kearah Kimberly. "Jangan dekati Aryan lagi. Jika lo ingin punya cowok. Cari yang lain. Aryan milik gue!" bentak Cherry.


Kimberly menatap kearah Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bergantian. Begitu juga keempat yang menatap Kimberly. Lalu mereka tersenyum.


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya menatap wajah Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira bergantian.


"Peduli setan dengan perkataan lo itu. Selama seorang Aryan dan Tommy belum nembak lo. Selama Aryan dan Tommy masih jijik dekat-dekat dengan lo. Selama Aryan dan Tommy masih anti sama lo. Selama Aryan dan Tommy masih jijik sama kelakuan lo berdua yang setiap hari gangguin mereka. Selama itu juga, gue akan selalu berada di samping Aryan dan Tommy. Gue sayang sama mereka berdua. Rasa sayang gue sama mereka berdua lebih besar dari lo."


"Jelaslah rasa sayang gue lebih besar sama Aryan dan Tommy. Secara dia sepupu dan kekasih gue. Hahahaha," batin Kimberly.


"Tommy itu kekasihnya Kimberly. Dan Aryan sepupu Kimberly. Sayangnya dia lebih besar dari pada lo, marmut."


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berucap di dalam hatinya masing-masing.


Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira menatap tajam kearah Kimberly. Mereka tidak terima jika Kimberly berani melawannya. Selama ini tidak ada yang berani melawan dirinya dan ketujuh sahabat-sahabatnya.


"Udah nggak ada lagi yang mau disampaikan, kan? Kalau begitu izinkan kami untuk pergi ke kantin. Perut kami sudah sangat lapar. Jangan sampai kelaparan perut kami seketika membuat kami berubah jadi Canibal," ucap Kimberly.


Mendengar kata Canibal dari mulut Kimberly seketika membuat tubuh Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira merinding.


Mereka seketika takut jika benar-benar tubuhnya dimakan oleh Kimberly dan keempat sahabatnya.


Melihat keterdiaman Asena, Cherry, Caria, Elnara, Aiyla, Jihan, Dilara dan Tsamira membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum bahagia.


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya langsung pergi meninggalkan Asena dan ketujuh dan ketiga sahabatnya untuk menuju kantin.