
"Sebenarnya ada apa kak Fathir? Kenapa Kimberly pergi dari rumah?" tanya Ardian yang menatap wajah kakaknya itu sedih.
"Ini untuk pertama kalinya loh Kimberly pergi dari rumah," ucap Clarita.
Adik-adik dari Fathir dan adik-adik dari Nashita saat ini sudah berada di kediaman Fathir Aldama. Mereka semua saat ini tengah mengkhawatirkan Kimberly.
Ketika Fathir hendak menjawab pertanyaan dari kedua adiknya, tiba-tiba terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras dan disertai teriakan seseorang.
Blaamm..
"Aarrgghh!"
Mendengar suara bantingan pintu rumah dan suara teriakan seseorang yang mereka duga adalah suara teriakan dari Uggy membuat Nashita dan Fathir langsung berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua berlari menuju ruang tamu.
"Aarrgghh!"
Praannggg..
Uggy berteriak sembari memukul kaca meja sehingga kaca meja tersebut pecah.
"Kak Uggy!"
"Uggy!"
Enda, Riyan, Barra, Fathan, Arziki dan Ricky seketika berteriak ketika melihat Uggy yang tiba-tiba memukul meja kaca hingga pecah dan mengakibatkan punggung tangannya terluka.
"Kimberly kamu dimana sayang," ucap Uggy. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Uggy!" Nashita, Fathir dan Jason seketika syok melihat kondisi Uggy, apalagi ketika melihat punggung tangannya yang terluka.
Aira meminta kepada pelayan untuk mengambil kotak p3k. Dirinya akan mengobati punggung tangan keponakannya itu.
"Dad, jaga Mommy!"
Setelah mengatakan itu, Jason berjalan menghampiri adiknya itu. Dirinya sudah tidak sanggup melihat kesedihan dan rasa bersalah adiknya terhadap adik perempuan mereka.
Semuanya duduk di sofa dengan tatapan mata menatap kearah Uggy. Mereka sangat mengkhawatirkan Uggy.
Jason mengusap lembut punggung adiknya. Dapat Jason rasakan tubuh adiknya itu sedikit bergetar. Jason tahu bahwa adiknya itu berusaha untuk menahan tangisnya.
"Jangan seperti ini Uggy. Kita akan cari Kimberly dan membawanya pulang. Kita berdoa saja semoga Kimberly baik-baik saja," ucap Jason.
"Ini sudah malam kak. Kimberly itu seorang gadis dan dia sendirian diluar sana. Sekali pun Kimberly sudah dibekali ilmu bela diri, jika dia diganggu banyak orang atau beramai-ramai. Pasti Kimberly akan kalah juga. Aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Dan aku tidak ingin trauma Kimberly kambuh lagi."
Grep..
Jason seketika menarik tubuh adiknya dan membawa ke dalam pelukannya. Apa yang dirasakan dan ditakuti oleh Uggy. Hal itu juga yang dirasakan dan ditakuti oleh Jason. Begitu juga dengan Enda, Riyan dan semua anggota keluarga.
Ketika semuanya sedang bersedih dan khawatir memikirkan Kimberly, tiba-tiba ponsel milik Uggy berdering menandakan sebuah panggilan masuk.
Uggy yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya. Kebetulan ponselnya itu berada di saku celananya sebelah kiri.
Setelah mendapatkan ponselnya, Uggy melihat nama 'Leon' tangan kanannya di layar ponselnya. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Uggy pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Apa tidak ada waktu sampai besok pagi sehingga kau menghubungiku malam ini juga?" Uggy berucap dengan nada ketus.
Mendengar Uggy yang berbicara dengan nada ketus membuat semua anggota keluarganya terkejut. Uggy tidak pernah seperti setiap menerima panggilan jika itu panggilan pertama dari seseorang. Kecuali orang-orang tertentu seperti musuh. Jika yang menghubunginya itu orang terdekatnya dan orang-orang yang ada di kantor, Uggy tidak pernah berbicara ketus. Ini adalah untuk pertama kalinya.
Sementara Leon sang penelepon seketika terkejut ketika mendengar nada bicara atasannya itu. Sama seperti dengan anggota keluarga Uggy yang terkejut. Leon juga terkejut. Bagi Leon ini adalah untuk pertama kalinya atasannya itu berbicara ketus ketika menerima panggilannya.
"Ma-maafkan saya, Bos! Saya tidak bermaksud untuk menggangu Bos malam-malam begini. Tapi saya menghubungi Bos hanya untuk memberitahu sesuatu hal yang buruk." Dan saya tidak bisa menunggu sampai besok pagi."
Mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Leon ditambah lagi ketika mendengar suara gugup asistennya itu seketika membuat Uggy tersadar akan kesalahan. Uggy lagi-lagi tanpa sadar melakukan kesalahan untuk yang kedua kalinya. Pertama pada adik perempuannya dan sekarang kepada asistennya.
"Maafkan aku karena sudah berbicara ketus padamu. Aku sedang tak baik-baik saja malam ini sehingga aku melampiaskannya padamu."
Mendengar ucapan serta permintaan maaf dari atasannya , Leon di seberang telepon seketika paham. Dan dia tidak marah atau pun tersinggung akan ucapan atasannya itu.
"Tak masalah Bos. Saya mengerti."
"Sekarang katakan padaku. Hal buruk apa yang ingin kau sampaikan padaku?"
Seketika semua anggota keluarganya terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus pertanyaan dari Uggy.
"Begini Bos. Saya mendapatkan informasi dan informasi ini sudah final. Calon rekan kerja perusahaan kita yang tak lain teman satu sekolah Bos dulu yaitu tuan Ragil Prasetyo. Dia melakukan kecurangan terhadap Bos."
"Apa?! Kecurangan? Kecurangan dalam hal apa?"
"Tuan Ragil Prasetyo tidak benar-benar ingin menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan kita, melainkan tuan Ragil Prasetyo ingin merebut perusahaan kita dan menjadi perusahaan GG'Al Corp menjadi miliknya. Bahkan bisa berdampak pada perusahaan keluarga Bos."
Seketika Uggy membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Leon tentang niat busuk Ragil Prasetyo teman satu sekolahnya dulu.
"Bagaimana cara dia melakukan itu?"
"Melalui berkas kerjasama. Dengan Bos menandatangani berkas yang diberikan oleh tuan Ragil Prasetyo, maka semua milik Bos akan menjadi miliknya karena berkas tersebut ditulis dengan tinta yang bisa hilang dengan sendirinya. Jadi dengan begitu tuan Ragil Prasetyo akan mengubah isi dari berkas tersebut dengan isi semua aset kekayaan Bos bahkan keluarga Bos menjadi milik Ragil Prasetyo."
Deg..
Uggy terkejut ketika mendengar sebuah kebenaran tentang Ragil Prasetyo dari asistennya yaitu Leon. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya ketika ingatan dimana adik perempuannya yang menghalangi dan melarang dirinya untuk menandatangani berkas tersebut.
"Kim," ucap Uggy dengan suara bergetarnya.
Setelah itu, Uggy langsung mematikan panggilannya secara sepihak.
Dan detik kemudian....
"Aarrgghh!" Uggy berteriak sekeras mungkin guna mengeluarkan kekecewaan, kemarahan dan penyesalannya dengan disertai air matanya yang semakin mengalir deras.
"Uggy!" Nashita langsung berdiri dan menghampiri putra keduanya itu. Hatinya benar-benar sakit melihat kondisi putranya.
Grep..
Nashita langsung memeluk tubuh putranya. Dan dapat dirasakan olehnya tubuh putranya itu bergetar hebat.
"Mommy, aku kakak yang bodoh. Aku kakak yang tidak tahu diri. Seharusnya aku sadar sejak Kimberly melarangku untuk menandatangani berkas itu. Kimberly sudah memintaku bahkan memohon padaku untuk aku tidak menandatangani berkas itu. Tapi aku sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan Kimberly padaku. Justru aku mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Hiks... Hiks... Ketika aku ingin kembali menandatangani berkas itu, Kimberly langsung menarik berkas itu. Saat aku ingin memintanya, Kimberly langsung merobek-robek berkas itu."
Mendengar ucapan demi ucapan serta alasan Kimberly melakukan hal tersebut membuat adik-adiknya Fathir dan adik-adiknya Nashita berserta para keponakannya kecuali Billy, Triny dan Aryan akhirnya tahu permasalahan yang terjadi sehingga membuat Kimberly pergi dari rumah.
Semua anggota keluarga berpikir jika kepergian Kimberly dari rumah karena rasa kecewanya terhadap kakak kesayangannya itu. Dan mereka juga yakin jika Kimberly tidak marah atau pun membenci kakaknya. Kimberly hanya kecewa saja.
Baik adik-adiknya Fathir maupun adik-adiknya Nashita dan para anak-anaknya meyakini jika disaat Uggy dan Kimberly berdebat masalah berkas tersebut kemungkinan besar tanpa sadar Uggy membentak Kimberly. Hal itulah yang menjadi alasan terkuat Kimberly nekat pergi meninggalkan rumah. Kimberly ingin menghindari sang kakak.
"Hiks... Mom. Aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku berterima kasih Kimberly menyelamatkan perusahaanku, tapi apa yang aku lakukan? Aku justru memarahinya dan tanpa sadar aku membentaknya... Hiks."
Benar apa yang dipikirkan oleh semua anggota keluarga jika Uggy tanpa sadar kelepasan membentak Kimberly. Dan mereka semua terkejut.
"Mom... Hiks... Maafkan aku yang sudah menyakiti hati putri Mommy satu-satunya. Maafkan aku, Mom!"
Tangis Nashita tidak bisa dibendung lagi. Seketika air matanya berlomba-lomba mengalir membasahi pipinya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari putra keduanya.
Beberapa detik kemudian...
Nashita melepaskan pelukannya dan matanya menatap wajah tampan dan basah putranya itu. Kemudian tangannya terangkat untuk menghapus air mata putranya.
Uggy menatap kearah ayahnya dan air matanya kembali jatuh.
"Maafkan aku, Dad!"
Fathir tersenyum tulus menatap putra keduanya itu. "Daddy tidak marah sama kamu. Menurut Daddy tidak ada yang salah disini. Kamu melakukan apa yang menurut kamu benar. Begitu juga dengan adikmu, dia melakukan apa yang menurutnya benar. Sekarang katakan pada Daddy dan kita semua. Apa maksud kamu yang mengatakan menyelamatkan perusahaan?"
Semuanya menatap kearah Uggy. Mereka ingin tahu apa yang terjadi. Mereka juga ingin tahu apa yang disampaikan oleh Leon kepada Uggy.
"Ayo sayang. Katakan pada kami apa yang terjadi," ucap Aira lembut.
"Aku telah dibohongi mentah-mentah sama bajingan itu," ucap Uggy yang wajahnya seketika berubah dingin.
"Siapa? Dan apa yang dia lakukan?" tanya Rafassya.
"Ragil Prasetyo!"
Mendengar nama Ragil Prasetyo disebut membuat Jason, Enda dan Riyan terkejut. Mereka dengan kompak menatap kearah Uggy.
"Ragil teman satu sekolah kakak itu?" tanya Riyan.
"Iya," jawab Uggy. "Dia memberikan berkas palsu. Dia menggunakan tinta yang bisa menghilangkan dengan sendirinya. Jika saat itu aku berhasil menandatangani berkas itu, maka semua tulisan itu akan hilang dan menyisakan tanda tanganku. Dan dengan begitu dia akan mengubah isinya."
"Apa yang akan bajingan itu tulis di kertas kosong yang ada tanda tangan kamu itu?" tanya Jason.
"Pemindahan hak milik dimana semua yang aku punya secara pribadi bahkan berimbas kepada milik kalian menjadi milik bajingan itu."
"Apa?!"
Semuanya terkejut dan syok ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Uggy tentang rencana licik Ragil Prasetyo.
"Brengsek!" umpat Enda, Riyan dan saudara-saudara sepupunya marah.
Sementara Jason, Adhitama, Pasya, Alfan dan Zivan seketika mengepal kuat tangannya. Mereka benar-benar marah akan kelicikan seorang Ragil Prasetyo.
"Sudah-sudah! Tidak ada waktu untuk kita marah-marah sekarang. Yang kita pikirkan sekarang ini adalah Kimberly. Kita tidak tahu dimana Kimberly sekarang!" seru Ammar.
Mendengar seruan dari Ammar seketika mereka kembali ketakutan memikirkan Kimberly yang tidak tahu ada dimana.
"Coba hubungi Kimberly. Dan tanyakan dimana dia," usul Nirvan.
"Kimberly tidak membawa ponselnya, Pi!" Triny langsung menjawab usulan dari ayahnya itu.
"Kimberly sengaja meninggalkan ponselnya agar kita tidak bisa menghubunginya dan melacak keberadaannya," sahut Billy.
Mendengar ucapan dari Billy membuat Nirvan, Liana, Rafassya, Helena, Ardian, Aira, Clarita dan Ammar terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika Kimberly sengaja meninggalkan ponselnya agar tidak ada yang bisa menghubunginya.
"Terus apa yang harus kita lakukan sekarang? Kimberly diluar sana sendirian. Dan kita tidak tahu sedang apa dia sekarang," ucap Aryan.
"Positif thinking dan berdoa, itu adalah hal pertama yang kita lakukan. Semoga Kimberly baik-baik saja diluar sana. Kimberly itu gadis yang kuat dan pemberani. Siapa tahu saat ini Kimberly sedang berada di penginapan atau hotel." Rafassya berucap sembari memberikan ketenangan pada semua anggota keluarganya.
"Lebih baik kita istirahat. Besok pagi baru kita akan bagi tugas untuk mencari dan melacak keberadaan Kimberly sekali pun Kimberly tidak membawa ponselnya," sela Ardian.
Mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan oleh Rafassya dan Ardian. Saat ini mereka harus istirahat untuk mengumpulkan tenaga. Dan besok pagi baru mereka akan beraksi untuk mencari Kimberly.