THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kumpul Keluarga



Waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Di kediaman Fathir Aldama terlihat ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul, baik dari pihak Nashita maupun dari pihak Fathir. Hanya dua orang yang belum ikut berkumpul dengan mereka semua. Orang itu adalah Fathir Aldama dan Kimberly Aldama.


"Kakak senang kamu datang berkunjung kesini Indira!" seru Nashita.


"Terlebih aku kak Nashita. Aku memang sudah sejak lama ingin mengunjungi kakak dan yang lainnya, tapi belum ada waktu. Dan ini adalah waktu yang tepat untuk aku mengunjungi kakak serta yang lainnya. Terlebih lagi Mila sudah rindu Risma."


Mendengar perkataan Indira membuat Nashita, Clarita, Rafassya dan Nirvan paham. Bagaimana pun Indira dan Tantri saudari sepupunya itu harus ekstra bekerja untuk kemajuan perusahaan keluarga Fidelyo di Berlin. Bukan itu saja keduanya juga sebagai tuan rumah di rumah besar keluarga Fidelyo di Berlin.


"Kakak, aku rindu kakak!" Mila berseru sambil mengeratkan pelukannya kepada sang kakak.


Risma yang mendengar ucapan dari adik satu-satunya tersenyum dan membalas pelukan adiknya itu.


"Kakak juga rindu kamu. Maafkan kakak kalau saat itu kakak nggak pamit sama kamu perginya."


"Aku maafkan. Aku nggak bisa marah sama kakak karena kakak adalah kakak kesayangan aku," jawab Mila.


"Terima kasih sayang."


Indira, Nashita dan keluarga lainnya tersenyum ketika mendengar ucapan kerinduan Mila terhadap Risma.


Indira melihat sekelilingnya untuk mencari seseorang yang begitu dia rindukan.


Melihat sang Bibi mencari-cari sesuatu membuat Enda langsung paham.


"Apa Mama Indira mencari Kimberly?" tanya Enda.


Indira langsung melihat kearah Enda. "Iya, Enda! Mana adikmu? Kenapa sejak tadi Mama tidak lihat adikmu itu?"


"Kimberly menggantikan Daddy di perusahaan cabang. Daddy sangat sibuk dengan mengurus perusahaan utama. Daddy sama sekali tidak meninggalkan perusahaan itu."


"Ini sudah pukul 5 sore. Masa iya Kimberly masih di perusahaan. Kasihan kan dianya."


Mendengar perkataan dari Indira mereka semua tersenyum. Mereka paham akan Indira. Dan mereka juga tahu bagaimana sayangnya Indira terhadap Kimberly.


"Mama tidak perlu khawatir. Daddy sudah mengatur semuanya. Daddy nggak akan buat putri kesayangannya kelelahan. Kimberly disana bertujuan agar perusahaan cabang ada pemimpinnya. Kan nggak mungkin selama lima hari perusahaan tersebut tidak ada pemimpinnya." Jason menjelaskan maksud ayahnya meminta bantuan Kimberly.


"Kan ada kalian. Apa kalian tega sama adik kalian? Kimberly juga masih sekolah. Terus sekolahnya bagaimana?"


Mereka lagi-lagi tersenyum mendengar ucapan serta kekhawatiran dari Indira.


"Seperti yang aku katakan tadi, Ma! Daddy sudah mengatur semuanya. Dan masalah aku, Uggy, Enda dan Riyan yang tidak bisa bantu Daddy. Posisi kita juga sama seperti Daddy. Tidak bisa ninggalin perusahaan. Dan satu lagi, kita seperti ini juga sembari mengajarkan Kimberly bagaimana cara memimpin perusahaan. Jadi nanti ketika Kimberly sudah memiliki perusahaan sendiri, Kimberly sudah paham."


"Jadi maksud kalian kalau Kimberly ingin seperti kalian menjadi seorang pebisnis?" tanya Indira.


"Iya, Ma!" jawab Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.


Ketika mereka tengah mengobrol terdengar suara klason mobil diluar.


"Itu pasti Daddy atau Kimberly yang pulang!" seru Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


"Aku pasti yang pulang itu adalah Daddy Fathir," sahut Aryan.


"Aku nggak yakin," sela Triny.


"Pasti Daddy Fathir sama Kimberly," ucap Billy.


"Kita lihat saja," tantang Aryan.


Beberapa menit kemudian..


"Daddy pulang!" teriak Fathir memasuki rumah dan melangkah menuju ruang tengah.


Semua anggota keluarga yang berkumpul di ruang tengah tersenyum mendengar teriakkan tersebut.


"Kan benar apa yang aku katakan kalau Daddy Fathir yang pulang duluan!" seru Aryan yang tebakannya tepat sasaran.


Mereka semua terus menatap Fathir sampai keduanya duduk di sofa.


"Hah! Lelahnya!" Fathir berucap bersamaan.


"Mau dibuatkan yang segar-segar, hum?" tanya Nashita kepada suaminya.


"Boleh sayang!" Fathir menjawab perkataan dari istrinya.


Ketika Nashita hendak berdiri. Helena sudah terlebih dulu menyela. "Kak, biarkan aku saja yang buatkan minuman untuk kak Fathir. Kakak layani saja kak Fathir. Lihatlah, kakak Fathir tampak lelah banget."


Nashita tersenyum mendengar ucapan dari adik iparnya. "Terima kasih ya. Kamu benar-benar peka dengan keadaan sekitarnya."


"Aku seperti ini karena aku sayang kak Fathir. Aku nggak mau kak Fathir kenapa-kenapa. Kak Fathir dan kak Ardian, mereka berdua adalah kakak sekaligus ayah bagi aku dan Samuel."


Mendengar perkataan dari Helena membuat Nashita tersenyum lalu tangannya mengusap lembut pipi adik iparnya itu.


"Anggap juga kakak sebagai orang tua kedua kamu. Kakak akan berusaha menjadi kakak sekaligus ibu untuk kamu dan Samuel. Begitu juga untuk Ardian. Jangan pernah sungkan untuk mengeluh bahkan mengadu kepada kakak."


"Terima kasih kak."


Setelah mengatakan itu, Helena langsung pergi meninggalkan Nashita untuk membuatkan minuman segar untuk kakak laki-lakinya dan untuk keponakan manisnya.


"Indira," sapa Fathir ketika melihat Indira adik iparnya.


"Baik. Kamu bagaimana? Kapan datang?"


"Beberapa jam yang lalu bersama Mila."


"Berdua saja. Tantri tidak ikut?"


"Kalau Tantri ikut, siapa yang akan jaga Mama Hilda? Belum lagi ngurusin perusahaan keluarga. Bisa-bisa Mama Hilda serta yang lainnya keteteran," sahut Indira.


Mendengar jawaban dari Indira membuat Fathir menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


"Apa perlu tambahan orang untuk membantu menjaga dan melindungi perusahaan besar keluarga Fidelyo?" tanya Fathir.


"Untuk saat ini tidak perlu kak. Masih aman. Mama Hilda, aku, Tantri dan anak-anak masih bisa mengurus semua."


"Ach, iya! Bagaimana kabar Mama Hilda sekarang?"


"Ini semua berkat doa kita semua. Mama Hilda dalam kondisi baik-baik saja," jawab Indira.


Mendengar hal itu membuat Fathir, Nashita dan semua anggota keluarga tersenyum.


"Aku berharap Mama Hilda dalam keadaan baik-baik saja. Hanya dia orang tua kita yang tersisa. Mama dan Mama Halimah sudah tidak ada lagi di dunia ini. Sebisa mungkin kita jangan sampai mengabaikan Mama Hilda," ucap Nashita sembari menatap wajah adik-adiknya.


"Iya, kak! Kakak Nashita benar. Hanya Mama Hilda yang tersisa. Dia adalah orang tua kita satu-satunya. Kita akan bantu Tantri dalam menjaga Mama Hilda, walau kita tinggal berjauhan." Nirvan berucap dengan kesungguhan hati. Nirvan begitu menyayangi Hilda setelah ibu kandungnya.


Baik Hilda maupun Nashita dan adik-adiknya mendapatkan wasiat dari ibunya/kakaknya. Begitu juga dengan Indira.


Huliyah dan Halimah meninggalkan pesan kepada anak-anaknya dan kepada adik bungsunya. Jika mereka pergi meninggalkan dunia ini, mereka meminta kepada adiknya yaitu Hilda dan anak-anaknya yaitu Nashita, Clarita, Rafassya, Nirvan dan Indira untuk saling menjaga, saling melindungi dan saling menyayangi satu sama lainnya. Jangan ada pertengkaran dan permusuhan diantara mereka.


Huliyah dan Halimah menitipkan anak-anaknya kepada Hilda. Untuk Hilda serta anak dan cucunya. Huliyah dan Halimah menitipkan mereka kepada anak-anaknya.


"Kimberly belum pulang?" tanya Fathir yang menyadari bahwa putri bungsunya tidak bersama dengan keluarganya.


"Belum Dad," jawab Riyan.


"Eh, ini kan sudah pukul 5 lewat loh!" Fathir seketika mendadak panik.


Ketika mereka tengah memikirkan Kimberly, tiba-tiba mereka mendengar suara seseorang tengah berbicara.


Dengan kompak mereka semua melihat keasal suara. Seketika mereka semua tersenyum ketika melihat orang yang mereka khawatirkan pulang dengan selamat.


"Bagaimana?"


"...."


"Benarkah?"


"...."


"Wah! Kakak Deryl benar-benar bisa diandalkan. Aku suka dengan cara kerja kakak Deryl."


"...."


"Biarkan saja. Aku nggak peduli. Aku yakin jika Daddy pasti setuju apa yang aku lakukan. Siapa suruh semena-mena di perusahaan. Memangnya mereka siapa!"


"...."


"Sekali terima kasih kak."


"...."


Setelah selesai berbicara dengan Deryl di telepon, Kimberly langsung mematikan panggilannya. Kimberly kemudian melanjutkan langkahnya menuju ruang tengah.


"Mommy, lapar!" teriak Kimberly.


Mendengar perkataan serta teriakan dari putrinya, Nashita langsung berdiri dan menghampiri putrinya itu.


"Lapar, hum?" tanya Nashita sembari mengusap lembut pipi putih putrinya itu.


"Hm!" Kimberly berdehem sebagai jawabannya dan disertai anggukkan kepalanya.


Nashita tersenyum gemas ketika melihat reaksi dari putrinya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Ya, sudah kalau begitu! Kamu bersih-bersih dulu. Nanti setelah itu baru kamu makan. Mommy akan masak makanan kesukaan kamu."


"Siap!"


Setelah itu, Kimberly langsung melangkah menuju kamarnya di lantai dua.


"Dan kamu juga sayang. Kamu juga baru beberapa menit pulang dari kantor. Kamu bersih-bersih dulu. Setelah itu, kamu bisa makan bersama dengan putri kesayanganmu."


"Ach, baiklah!"


Fathir berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju kamarnya bersama istrinya untuk bersih-bersih.


Sementara Nashita langsung ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk suami dan putrinya.