
Setelah lima hari dirawat di rumah sakit. Dan setelah sepuluh hari Kimberly istirahat di rumah dan sepuluh hari juga Kimberly izin sekolah pasca kecelakaan yang dialaminya. Kini kondisinya sudah berangsur-angsur membaik. Hanya saja kakinya masih belum sembuh seratus persen. Kimberly masih merasakan nyilu di pergelangan kaki kirinya.
"Astaga, Kimberly!" Riyan terkejut ketika melihat adiknya tengah menuruni anak tangga. Riyan langsung berlari menghampiri adiknya itu.
Mendengar teriakan dari Riyan. Fathir yang ada di ruang kerjanya bersama Jason dan Uggy, Nashita yang berada di dapur. Sementara Enda bersama Riyan di ruang tengah terkejut mendengar teriakan Riyan.
Enda langsung melihat kearah adik perempuannya. Seketika kedua matanya membelalak sempurna. Enda pun ikut berlari menghampiri keduanya.
Enda dan Riyan membantu adiknya menuruni anak tangga. Keduanya tidak ingin kaki adiknya makin parah sakitnya.
"Kamu ini bikin kita panik aja Kim!" seru Riyan.
Kini Riyan, Enda dan Kimberly sudah berada di sofa ruang tengah. Keduanya menatap kesal adik perempuannya. Sementara Kimberly hanya memasang wajah acuh dan cuek bebeknya.
"Ada apa?"
"Apa yang terjadi?"
"Kenapa kamu berteriak Riyan?"
"Dan kenapa dengan anak kelinci ini?"
Fathir, Nashita, Jason dan Uggy datang menghampiri Enda, Riyan dan Kimberly yang berada di ruang tengah dengan memperlihatkan wajah panik mereka masing-masing.
Fathir, Nashita, Jason dan Uggy kini sudah duduk di sofa. Nashita duduk di samping putrinya.
Enda dan Riyan yang mendapatkan beberapa pertanyaan dari kedua orang tuanya dan kedua kakaknya hanya menghela nafas. Sementara Kimberly mendegus kesal ketika mendengar pertanyaan kejam dari kakak keduanya.
"Aku bukan anak kelinci, saudara Uggy Aldama," sahut Kimberly dengan memasang wajah garangnya dengan menatap tajam kakaknya itu.
Fathir, Nashita, Jason, Enda dan Riyan tertawa ketika mendengar perkataan dari Kimberly. Sementara Uggy yang tak mau kalah balik menatap tajam adiknya yang super super pedas jika berbicara.
"Jawab pertanyaan Kakak tadi Riyan. Kenapa kamu berteriak?"" sahut Jason.
"Noh." Riyan menunjuk kearah Kimberly dengan dagunya. Mereka semua melihat kearah Kimberly.
Merasa disudutkan. Kimberly melihat kearah Riyan. "Loh! Kok aku sih Kak Iyan? Memangnya aku kenapa? Kan aku gak ngapa-ngapain dari tadi! Yang teriak tadikan Kakak. Yang ditanyain juga Kakak," ucap Kimberly dengan wajah polosnya.
Mendengar jawaban dari adiknya membuat Riyan menggeram kesal. Bisa-bisanya adiknya memberikan jawaban seperti itu.
"Dasar adik yang menyebalkan," gumam Riyan.
"Dasar kakak-kakak overprotektif," balas Kimberly tak mau kalah.
Sontak membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan dari adik perempuannya.
Sementara Fathir dan Nashita sedari tadi hanya tersenyum melihat dan mendengar perang mulut anak-anak mereka.
Kimberly memeluk pinggang ibunya dan menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu.
"Mommy, aku lapar."
Baik Nashita, Fathir dan keempat kakaknya tersenyum gemas ketika melihat mode manja Kimberly kumat.
"Princess Mommy sudah lapar ternyata, hum!" Nashita menggoda putrinya sembari mengecup pucuk kepala putrinya.
"Udah dari tiga jam yang lalu aku nahan lapar. Mommy aja yang ngelupain anak Mommy yang super cantik ini. Aku bosen di kamar terus. Ditambah lagi kaki aku masih sakit dan gak bisa leluasa untuk dibawa jalan."
Mendengar rentetan aduan dan keluhan dari putrinya membuat Nashita tersenyum gemas. Tangannya pun mengacak-acak rambut putrinya itu saking gemasnya. Begitu juga dengan Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan.
Mereka tersenyum bahagia ketika melihat princess mereka dalam mode manja seperti saat ini. Inilah yang mereka inginkan.
Nashita melepaskan pelukan putrinya dan tak lupa mengecup pipi putrinya itu.
"Princess Mommy sudah lapar, bukan? Sekarang kita ke meja makan. Mommy sudah selesai masaknya dan semuanya sudah tersaji di meja makan." Nashita berbicara sambil menarik lengan putrinya untuk berdiri dan kemudian menggandeng lengan putrinya itu dan membawanya menuju ruang makan.
Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan hanya menghela nafasnya ketika melihat kepergian kedua kesayangannya.
Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan saling menatap sambil memperlihatkan wajah sedih masing-masing.
"Kita dilupain."
"Kita anak yang diabaikan."
"Kita kakak tersingkirkan."
Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan berbicara dengan ekspresi wajah yang dibuat-buat sedih.
Setelah mengatakan itu, Fathir, Jason, Uggy, Enda dan Riyan pun melangkah menuju ruang makan.
***
Kimberly memutuskan untuk masuk sekolah. Dan kini dirinya sudah dalam keadaan rapi.
Awalnya kedua orang tuanya, keempat kakaknya melarang keras dirinya untuk masuk sekolah dulu. Tapi bukan Kimberly namanya jika Kimberly tidak bisa membuat kedua orang tuanya dan keempat kakaknya luluh.
Bahkan sempat terjadi perang mulut antara Kimberly melawan kedua orang tuanya dan keempat kakaknya. Dan tentu saja dimenangkan oleh Kimberly.
Kimberly menggunakan kelemahan kedua orang tuanya dan keempat kakaknya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya dan keempat kakaknya. Mereka juga menggunakan kelemahannya.
"Tidak lupakan dengan janjinya semalam Kimberly Aldama?" tanya Jason.
Mendengar pertanyaan dari kakak tertuanya itu membuat Kimberly mendengus. Mereka yang melihat wajah kesal Kimberly tersenyum puas.
"Satu sama Kim," batin Riyan tersenyum.
"Emangnya kamu aja yang bisa buat kita luluh akan keinginan kamu itu. Kita juga bisa," batin Uggy tersenyum gemas melihat wajah manyun adiknya.
Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban dari adiknya. Jason kembali bertanya. Jason sengaja pagi ini ingin membuat mood adiknya buruk.
"Kamu dengar Kakak tidak?" tanya Jason.
"Iya. Aku dengar dan aku ingat janji aku semalam. Aish!" Kimberly menjawab dengan kekesalan yang memuncak.
"GOOD GIRLS." Jason mengacak-acak rambut adiknya.
Perjanjian Kimberly dengan keempat kakaknya adalah Kimberly pergi dan pulang sekolah diantar jemput. Selama di sekolah harus menggunakan kursi roda. Jika kedapatan Kimberly memaksa untuk berjalan. Maka Kimberly kembali untuk istirahat di rumah selama satu minggu.
"Sudah... Sudah! Jangan diledekin terus adik kalian. Buruan habiskan sarapan kalian.
Setelah itu, mereka pun memulai sarapan paginya.
***
Kimberly sudah sampai di gerbang sekolahnya. Kimberly diantar oleh Jason. Dan di gerbang sekolahnya itu sudah berdiri Tommy dan Billy. Keduanya memang menunggu kedatangan Kimberly.
Setelah berdebat dan berperang mulut dengan adik perempuannya. Uggy menghubungi Billy dan mengatakan bahwa besok adiknya masuk sekolah. Uggy meminta Billy atau siapa pun untuk menunggu di depan gerbang sekolah.
"Tunggu disini. Dan jangan coba-coba untuk turun sendiri dari mobil," ucap Jason dengan jari telunjuknya menunjuk kearah Kimberly.
"Iya," jawab Kimberly dengan wajah masamnya. Jason terkekeh melihat wajah masam adiknya.
Jason keluar dari mobilnya. Setelah itu, Jason berjalan menuju arah belakang mobilnya. Jason kemudian membukanya dan mengambil kursi roda milik Kimberly. Setelah mendapatkannya, Jason menutup kembali pintu mobilnya itu.
Jason membuka kursi roda itu dan mendorongnya ke depan kearah pintu mobil dimana adiknya masih berada di dalam mobil.
Jason membuka pintu mobil itu dan membantu adiknya untuk keluar dari mobilnya.
"Kakak. Aku aku bisa turun sendiri," protes Kimberly.
"Kakak tahu. Tapi Kakak tidak akan membiarkan kamu untuk turun sendiri. Kakak gak kaki kamu kenapa-kenapa."
Mendengar jawaban dari kakaknya. Kimberly hanya menghela nafas pasrahnya. Mendengar helaan nafas dari adiknya. Jason tersenyum.
Jason menggendong adiknya lalu meletakkannya di kursi roda.
"Aish? Kakak benar-benar menyebalkan. Aku malu tahu Kak," ucap Kimberly ketika ada beberapa murid sekolahnya melihat kearahnya.
Billy dan Tommy yang sedari memperhatikan keduanya tersenyum. Mereka tersenyum ketika melihat wajah kesal Kimberly yang diperlakukan seperti bocah SD.
Setelah dipastikan adiknya duduk dengan nyaman. Jason pun mendorong kursi roda itu menuju dimana Billy dan Tommy berdiri saat ini.
"Kakak titip anak kelinci ini kepada kalian. Jaga dia selama berada di sekolah. Awas! Jangan sampai lepas apalagi kabur." Jason berbicara sembariĀ sambil menjahili adiknya.
Mendengar perkataan kejam dari kakaknya itu membuat Kimberly merengut kesal dengan bibirnya yang mengeluarkan sumpah serapah untuk kakaknya itu.
Jason melihat kearah adiknya. Jason dapat melihat wajah kesal adiknya itu. Jason tersenyum.
"Kakak pergi dulu. Ingat! Jangan kabur dan jangan nakal selama berada di sekolah. Jadilah adik yang baik. Cup!" Jason berucap sembari memberikan kecupan di pipi adiknya itu.
Setelah mengatakan itu, Jason pun pergi meninggalkan Kimberly, Billy dan Tommy untuk menuju Perusahaan miliknya.
Billy dan Tommy masih menatap wajah kesal Kimberly. Keduanya tersenyum gemas melihatnya.
"Terus saja tersenyum seperti itu. Jangan salahkan aku jika kalian tidak akan bisa tersenyum lagi." Kimberly berucap dengan kejamnya.
Setelah mengatakan itu, Kimberly mendorong kursi rodanya. Sementara Billy dan Tommy yang mendengar perkataan dari Kimberly seketika menelan ludahnya. Setelah itu, keduanya pun menyusul Kimberly.