THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
USD$4000 Doang



Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di sofa. Pemuda itu adalah Arlo Fernandes.


Arlo saat ini tengah mengerjakan beberapa tugas kantor dan juga sedang mengecek data-data pemasukan sekolah yang dipimpin olehnya selama ini.


Sejujurnya, Arlo adalah seorang penguasa atau bisa di sebut seorang CEO. Sama seperti kakak-kakaknya Kimberly. Sekolah tempat Kimberly, Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya milik pribadinya. Sekolah itu dibangun ketika dirinya duduk di bangku kelas 1 SMP sampai sekarang. Sudah 12 tahun sekolah itu berdiri.


Arlo juga memiliki dua perusahaan yang sudah terkenal yang bergerak di bidang Hukum dan di bidang IT.


Untuk di bidang hukum, Arlo adalah seorang pengacara saat ini. Dan untuk di bidang IT, Arlo saat ini seorang Gamer handal dan terhebat. Banyak perusahaan yang sudah bekerja sama dengan perusahaan GAMER miliknya.


Usia dari kedua perusahaannya itu juga sama dengan usia sekolah miliknya yaitu sama-sama 12 tahun.


Ketika Arlo sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar bunyi bell rumahnya. Mendengar suara bell berbunyi, Arlo langsung berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju pintu utama.


^^^


Cklek..


Suara pintu dibuka oleh Arlo. Setelah pintu terbuka lebar, Arlo seketika terkejut ketika melihat dua sosok pria dan wanita telah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


"Arlo, sayang!"


Arlo tidak membalas sapaan dari wanita yang masih terlihat cantik di hadapannya itu. Bahkan tersenyum pun tidak.


Wanita itu berlahan melangkah sedikit mendekati Arlo. Kemudian tangannya mengusap lembut kedua pipi Arlo.


"Sayang, Mami rindu kamu. Izinkan Mami meluk kamu. Sekali aja," ucap wanita itu.


Yah! Dua sosok pria dan wanita yang ada di hadapan Arlo adalah kedua orang tuanya Arlo. Mereka adalah Ricco Fernandez dan Kikan Fernandez.


Mendengar ucapan kerinduan dari ibunya, Arlo hanya diam tanpa memberikan reaksi apapun.


Dikarenakan tidak mendapatkan jawaban atau reaksi dari putra sulungnya membuat Kikan memberanikan diri untuk langsung memeluk tubuh putranya itu.


Grep..


Kika pun berhasil memeluk tubuh putranya yang sudah lama dia rindukan sejak kejadian dirinya enggan pulang ketika putri bungsunya sedang sakit dan berakhir dirinya dan suaminya tidak diizinkan untuk melihat wajah putrinya untuk terakhir kalinya.


"Mami rindu kamu Arlo. Jangan benci Mami lama-lama. Hiks... Mami benar-benar tidak sanggup. Mami mohon kembali pada Mami. Hiks... Mami janji akan memberikan semua yang kamu inginkan. Mami akan menggantikan semua yang tidak kamu dapatkan dari Mami... Hiks," mohon Kikan disela isak tangisnya.


Mendengar ucapan demi ucapan dan juga isakan dari ibunya membuat hati Arlo sakit dan sesak.


Kikan mendongakkan kepalanya keatas hanya untuk sekedar menatap wajah tampan putranya itu. Putra yang sudah dia lahirkan ke dunia ini.


"Hiks... Arlo. Mami mohon, nak! Maafkan Mami. Berikan kesempatan Mami untuk menjadi ibu yang baik untukmu," ucap Kikan.


Arlo mengalihkan perhatiannya menatap wajah cantik ibunya. Dapat dilihat oleh Arlo ada begitu besar kerinduan dari tatapan mata ibunya itu.


Seketika air mata Arlo jatuh membasahi wajahnya ketika menatap wajah memohon ibunya dan mendengar ucapan serta permohonan ibunya.


"Hiks... Mami... Mami... Hiks," ucap Arlo sembari terisak.


Mendengar sapaan disertai isakan dari putranya membuat Kikan tersenyum bersamaan air mata kembali mengalir membasahi wajahnya. Begitu juga dengan Ricco yang sejak tadi hanya sebagai penonton.


Ricco hanya ingin memberikan waktu kepada istrinya. Jika setelah istrinya selesai. Barulah Ricco akan melepaskan rindunya terhadap putra satu-satunya saat ini setelah putrinya pergi meninggalkan dirinya dan istrinya untuk selamanya.


Kikan makin memeluk erat tubuh putranya ketika mendengar ucapan dari putranya itu.


"Mami... Hiks. Aku merindukan Mami. Aku merindukan Mami," Isak Arlo.


"Mami begitu juga nak! Rasa rindu Mami ke kamu lebih besar dari apapun. Mami sangat merindukan kamu. Maafkan Mami... Maafkan Mami... Hiks."


Arlo pun kemudian membalas pelukan ibunya dan tangisan kembali pecah ketika dirinya memeluk tubuh ibunya setelah sekian lama tidak memeluk ibunya atau tidak merasakan pelukan ibunya.


"Hiks... Hiks... Hiks," Isak Arlo.


Tangan Ricco berlahan menghapus air mata putranya yang saat ini memeluk tubuh istrinya.


"Papi... Hiks," sapa Arlo dengan tatapan matanya menatap wajah tampan ayahnya.


Kikan kemudian melepaskan pelukannya dan membiarkan suaminya memeluk putranya juga.


"Arlo, putra Papa. Papa...."


Grep..


"Aku merindukan Papi... Aku merindukan Papi. Maafkan aku... Maafkan aku."


"Tidak sayang. Kamu tidak salah. Papi yang salah. Papi tidak bertanggung jawab atas diri kamu dan adik perempuan kamu. Hiks... Papi yang sudah menyebabkan adik perempuan kamu pergi untuk selamanya meninggalkan kamu. Maafkan Papi, sayang! Maafkan Papi... Hiks."


Setelah puas berpelukan dengan kedua orang tuanya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya pada dirinya. Kini mereka saling menatap satu sama lainnya.


Detik kemudian...


Ricco dan Kikan secara bergantian memberikan ciuman di kening dan di kedua Pipi Arlo sebagai bentuk rindu dan bentuk penyesalan mereka.


"Terima kasih," ucap Kikan dan Ricco bersamaan.


"Sama-sama."


Setelah itu, Arlo membawa masuk kedua orang tuanya ke dalam rumah miliknya. Rumah yang dia beli dari kerjanya selama ini.


Rumah ini sebenarnya akan dia berikan kepada adik perempuannya karena adik perempuannya ingin sekali sekolah disini, di kota Hamburg. Adiknya ingin suasana baru dan kota baru. Adiknya ingin melamar sekolah di kota Hamburg.


***


Di kediaman Fathir Aldama tampak ramai dimana anggota keluarga tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka adalah Kimberly, Risma, Billy, Aryan, Triny, kedua orang tuanya Triny yaitu Nirvan, Liana, ketiga kakak laki-lakinya yaitu Zivan, Rehan dan Ricky.


Dan bukan itu saja. Ketika mereka tengah berkumpul di ruang tengah sembari membahas masalah mantan kekasihnya Zivan, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan pulangnya Kimberly dengan membawa 20 Paper Bag di tangannya lalu kemudian Paper Bag itu tersusun rapi di atas meja ruang tengah sehingga membuat semuanya menghela nafas pasrahnya.


Untuk Fathir, Nashita dan keempat putranya yaitu Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah tahu masalah yang dihadapi oleh Ashilla, kekasihnya Zivan.


"Sayang, sekarang jelaskan sama Mommy! Ini barang siapa saja? Kenapa banyak sekali?"


"Tunggu sebentar ya Mom. Nanti pertanyaan Mommy itu aku jawab. Biarkan aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Nashita hanya bisa pasrah. Ingin protes, ujung-ujungnya dirinya juga yang akan kalah. Lebih baik mengalah. Itulah menurut Nashita.


Kimberly menatap wajah tampan kakak sepupunya itu lalu kemudian tangannya menyodorkan sebuah kartu hitam.


"Ini aku kembalikan lagi. Udah nggak guna," ucap Kimberly seenaknya.


Mendengar perkataan seenaknya dari Kimberly membuat Billy mendengus kesal.


"Udah lo kuras berapa uang gue?" tanya Billy dengan tatapan kesalnya sembari menarik kartu itu dari tangan Kimberly.


"Yeeeyyy! Santai dong ngambilnya. Galak bener jadi laki. Yang lembut dong," sahut Kimberly dengan bibir dimanyunkan.


"Terserah gue lah. Masalah buat lo," jawab Billy tak ngegas.


Kimberly kaget lo dengan matanya yang bulat!


Ketika Kimberly hendak membalas perkataan Billy. Billy sudah terlebih dulu membungkamnya.


"Berapa uang gue habis?"


"Eeemmm!" Kimberly berpikir sejenak sambil jari telunjuknya menggaruk-garuk kepalanya.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. "Cuma USD$4000, doang!" jawab Kimberly dengan senyuman manis mengembang di sudut bibirnya.


Semuanya geleng-geleng kepala mendengar jawaban dari Kimberly yang seenaknya saja.


"Lo doang," tuduh Billy.


"Enak aja. Cewek lo juga ikut nyicip tuh uang. Dan juga....."


"Ketiga sahabat lo, iya kan?"


"Nah, itu lo tahu! Kan gue udah bilang saat di kantin sekolah kalau gue mau jalan-jalan ke Mall sama keempat sahabat gue. Dan uangnya dari lo. Kan gue udah ngasih tahu Lo dan dua antek lo itu," ucap Kimberly sembari melirik kearah Aryan dan Triny.


"Apa lo!" Aryan dan Triny langsung menyerang Kimberly sambil memberikan pelototannya.


"Widih! Setan apa yang masuk ke badan sepupu gue ini. Kok tiba-tiba nyerang gue," ucap Kimberly dengan mata bulatnya dan mulutnya yang berbentuk O.


Sementara anggota keluarganya yang lain hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat dan mendengar perang kecil antara Kimberly, Billy, Aryan dan Triny.


Kimberly balik menatap Billy. "Kalau bukan dari gue. Lo nggak akan tahu siapa pelaku yang sudah merombak ruangan OSIS lo itu menjadi bagus seperti biasanya. Uang yang lo kasih ke gue itu sebagai imbalan informasi dari gue. Jaman sekarang nggak ada yang gratisan."


"Iyain aja deh," sahut Triny.


"Jika tidak. Masalah nggak akan kelar sampai besok," sela Aryan.


Kimberly seketika menatap tajam kearah Triny dan Aryan. Dan jangan lupakan bibirnya yang bergerak-gerak mengeluarkan kata-kata indahnya untuk Triny dan Aryan.


Sementara anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat wajah kesal Kimberly. Apalagi ketika melihat bibirnya yang digerak-gerakin. Mereka tahu bahwa saat ini Kimberly tengah mengeluarkan sumpah andalannya.