THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Video



Di kediaman Aditya terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di ruang tengah. Pria tersebut tidak sendirian melainkan bersama dengan kedua anaknya dari istri pertamanya. Gustavo Chena Aditya, itulah namanya.


Gustavo saat ini tengah menunggu kepulangan istrinya yang pergi sejak pukul 9 pagi hingga sekarang pukul 2 siang belum kembali. Bahkan Gustavo sudah berulang kali menghubungi istrinya itu, namun panggilan darinya tak satu pun dijawab alias ponsel milik istrinya tidak aktif.


Keadaan Gustavo saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja dengan kata lain, Gustavo dalam keadaan hatiĀ  yang panas.


"Brengsek! Kemana perginya perempuan sialan itu? Kenapa sampai sekarang belum kembali juga?" tanya Gustavo dengan nada emosinya.


Mendengar perkataan dari ayahnya membuat Naina dan Nando langsung memeluk ayahnya. Keduanya berusaha menenangkan emosi ayahnya.


"Pa, sabar! Tahan emosi Papa," ucap Naina selalu putri sulung di keluarga Aditya.


"Bagaimana Papa bisa menahan emosi Papa, sayang! Setiap Papa mendengar kabar perempuan itu dan putrinya buat masalah. Emosi Papa langsung keluar. Sejak Papa menikahi perempuan itu, hidup Papa tidak pernah tenang."


"Papa," lirih Naina dan Nando dengan mengeratkan pelukannya.


Naina dan Nando menangis ketika mendengar ucapan dari ayahnya itu. Baik Naina maupun Nando membenarkan apa yang dikatakan oleh ayahnya bahwa ayahnya tidak pernah hidup tenang sejak menikahi perempuan yang dulunya bekas sekretaris ayahnya di perusahaan.


"Papa menyesal telah menikahi perempuan itu Naina, Nando! Papa benar-benar menyesal. Jika bukan karena perempuan itu hamil, Papa tidak sudi menikahinya. Dan Papa tidak akan kehilangan Mama kalian."


Yah! Gustavo sampai menikah dengan Lindaweni Fanetri istrinya yang sekarang ini karena Lindaweni Fanetri telah menjebaknya di sebuah hotel sepulang dari pertemuan dengan beberapa rekan kerja.


Lindaweni memberikan sesuatu ke dalam minuman Gustavo sehingga membuat Gustavo tak sadarkan diri dan berakhir melakukan hubungan layaknya suami istri.


Ketika Gustavo dan kedua anaknya tengah memikirkan Lindaweni, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara langkah kaki menuju ruang tengah.


Mendengar suara langkah kaki menuju ruang tengah membuat Gustavo, Naina dan Nando langsung melihat keasal suara tersebut.


Gustavo langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam kearah istrinya.


"Dari mana saja kau, hah?!" bentak Gustavo.


Seketika tubuh Lindaweni tersentak ketika mendengar bentakan dari Gustavo suaminya. Bagi Lindaweni, ini adalah untuk pertama kalinya Gustavo membentaknya. Selama ini suaminya itu tidak pernah membentaknya sekali pun dirinya melakukan kesalahan.


"Sayang," ucap Lindaweni gugup.


"Jawab pertanyaanku sialan! Dari mana saja kau?!"


Tidak mendapatkan jawaban dari istrinya. Yang ada istrinya saat ini hanya berdiri mematung dengan wajah ketakutannya membuat Gustavo melangkah mendekati Lindaweni.


"Papa!" seru Naina dan Nando bersamaan.


Naina dan Nando mengikuti ayahnya di belakang. Mereka tidak ingin ayahnya kelepasan, walau bagaimana pun mereka ingin sekali memukul wanita itu.


Plak!


Gustavo menampar kuat wajah Lindaweni setelah berdiri di hadapan istrinya.


***


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saat ini berada di kantin. Setelah tiga jam mengikuti materi pelajaran di kelas. Mereka langsung menuju kantin untuk mengisi perutnya yang sudah sejak tadi minta diisi.


Beberapa menit kemudian, menu makanan dan minuman telah tertata rapi di atas meja. Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung memulai melahap makanan-makanan tersebut.


Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tengah begitu menikmati makanan-makanan di atas meja. Mereka tidak menyadari bahwa ada beberapa orang yang sejak memasuki area kantin tatapan matanya tak lepas menatap kearahnya.


Orang-orang yang menatap kearah meja Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum dan geleng-geleng kepala ketika melihat cara makan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Orang-orang yang sejak tadi memperhatikan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine adalah Tommy, Billy, Triny, Aryan, Andhika dan para sahabatnya.


"Mereka kayak nggak makan satu minggu saja," ucap Mirza.


"Tuh coba lihat Rere. Amit-amit dah," sela Andry yang geleng-geleng kepala melihat Rere yang begitu bernafsu memakan makanannya.


"Cewek siapa dulu tuh," ejek Ivan.


"Bukan cewek gue," jawab Henry asal.


Mendengar jawaban asal dari Henry seketika membuat Lionel, Andry, Nathan dan Mirza saling memberikan tatapan. Dan beberapa menit kemudian, terukir senyuman manis di bibir masing-masing. Lebih tepatnya senyuman evil.


"Wah! Parah lo Henry! Lo dengan kejamnya tidak mengakui pacar lo sendiri," ucap Mirza yang tatapan matanya masih menatap kearah meja Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Iya, nih! Parah banget," sahut Lionel menambahkan.


"Apa jadinya ya kalau Rere sampai tahu bahwa pacarnya tidak mau mengakuinya?" tanya Nathan.


"Sudah pastilah si Rere bakal marah sama Henry. Secara Henry kan nggak mau ngakuin dia sebagai pacarnya karena melihat cara Rere makan," ucap Andry.


Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus sekaligus ejekan dari keempat sahabatnya membuat Henry mendengus kesal.


"Jangan coba-coba kalian memancing diair yang keruh," sindir Henry.


Mendengar perkataan dari Henry membuat Lionel, Nathan, Mirza dan Andry seketika melihat kearah Henry yang saat ini fokus menatap kearah Rere.


Sementara untuk Billy, Triny, Aryan, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain serta sahabatnya Triny dan sahabatnya Aryan tersenyum mendengar ocehan-ocehan dari Henry, Mirza, Lionel, Nathan dan Andry.


Setelah itu, mereka pun melangkahkan kakinya menuju meja yang ditempati oleh Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Kimberly," panggil Catherine.


"Hm." Kimberly menjawab sembari menyeruput jus pokatnya.


"Boleh nanya gak?" tanya Catherine yang saat ini berperan menjadi gadis lugu dan polos.


Mendengar perkataan dari Catherine, seketika Kimberly langsung menatap kearah Catherine. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia. Mereka menatap wajah Catherine cengo. Di dalam hati mereka masing-masing 'sejak kapan seorang Catherine jika ingin bertanya harus minta izin terlebih dahulu?'


Santy yang kebetulan duduk di samping Catherine seketika meletakkan punggung tangannya di kening Catherine.


"Bagaimana San?" tanya Sinthia.


"Sehat. Suhu badannya juga nggak panas," jawab Santy lalu kembali fokus pada makanannya. Begitu juga dengan Kimberly, Rere dan Sinthia.


Sementara Catherine mendengus kesal akan ulah sahabat-sahabatnya tersebut.


Catherine kembali menatap kearah Kimberly. Dirinya masih pada keinginannya yang ingin menanyakan sesuatu kepada Kimberly.


Ketika Catherine hendak membuka mulutnya untuk bertanya kepada Kimberly, tiba-tiba datang para hama pengganggu. Itu menurut Catherine.


"Selamat siang calon istri," sapa Tommy dan langsung memberikan ciuman di pipi kiri Kimberly.


Tommy seketika tersenyum bahagia ketika melihat wajah malu Kimberly. Dan tanpa berpikir untuk yang kedua kalinya, Tommy kembali memberikan ciuman di pipi kanan Kimberly.


Setelah memberikan dua ciuman di pipi Kimberly. Tommy dengan santainya menduduki pantatnya di samping kiri Kimberly.


Sementara Billy, Triny, Aryan, Andhika dan para sahabatnya hanya tersenyum ketika melihat aksi Tommy yang mencium pipi Kimberly dan melihat wajah malu Kimberly ketika mendapatkan ciuman dari Tommy.


Billy, Henry, Lionel dan Satya sudah duduk anteng di samping kekasihnya masing-masing. Begitu juga dengan yang lainnya.


***


Di kediaman Fathir Aldama kini terlihat beberapa orang berkumpul di ruang tengah. Mereka adalah adik-adik dari Fathir dan Nashita, kecuali Ardian Aldama. Ardian Aldama sudah kembali ke Amerika.


"Ada apa kak?" tanya Helena kepada kakak laki-lakinya.


"Apa ada masalah baru lagi sehingga kita dipanggil kesini?" tanya Nirvan menatap wajah kakak iparnya dan wajah kakak perempuannya.


"Tidak ada masalah baru. Ini masih masalah lama," jawab Fathir.


"Ini masalah Kimberly!" seru Jason.


Mendengar seruan dari Jason yang menyebut nama Kimberly. Rafassya, Helena, Nirvan, Liana, Clarita, Ammar langsung melihat kearah Jason. Mereka menatap Jason dengan tatapan khawatir.


"Kenapa dengan Kimberly?"


"Apa terjadi sesuatu terhadap Kimberly?"


"Kimberly tidak apa-apa kan, Jason?"


Jason seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan yang diberikan oleh Rafassya, Nirvan dan Ammar yang berstatus sebagai Paman.


"Kimberly baik-baik saja. Papi, Papa dan Ayah tidak perlu khawatir," jawab Jason.


"Hah!"


Terdengar helaan nafas lega dari Rafassya, Nirvan dan Ammar. Mereka merasakan kelegaan mendengar jawaban dari Jason.


Sementara Fathir, Nashita, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum bahagia ketika melihat kepanikan dan kecemasan di wajah adik laki-lakinya/Pamannya terhadap Kimberly.


"Sekarang katakan kepada Bunda. Masalah apa yang akan dibahas kali ini?" tanya Clarita.


Jason melirik kearah Uggy. Begitu juga dengan Uggy. Setelah itu, keduanya menatap Paman dan Bibinya secara bergantian.


"Aku dan kakak Jason sudah memutuskan untuk melepaskan Anshell dan menyerahkan kepada Pasya," ucap Uggy.


"Apa kalian berdua yakin ingin melepaskan Pasya?" tanya Rafassya.


"Sebenarnya ini bukan keinginan kami, Pi!" ucap Uggy.


"Ini permintaan Kimberly," ucap Jason.


"Kimberly ngomong apa sama kamu?" tanya Helena kepada Jason.


"Kimberly hanya memintaku mengakhiri hukuman untuk Anshell. Kimberly juga yang memintaku untuk menyerahkan Anshell kepada Pasya untuk diproses secara hukum. Ketika aku mendengar permintaan Kimberly, aku memberikan pertanyaan padanya."


"Kamu bertanya apa kepada Kimberly?" tanya Ammar.


"Aku hanya nanya apa kamu tidak ingin memberikan hukuman kepada orang yang sudah berbuat tak senonoh pada kamu?"


"Terus Kimberly jawab apa?" tanya Nirvan.


"Kimberly hanya jawab kalau dia tidak ingin mengingat kejadian itu lagi kalau dia bertemu dengan Anshell."


Mendengar perkataan dari Jason membuat Clarita, Ammar, Nirvan, Liana, Rafassya dan Helena seketika terdiam. Namun di dalam hatinya membenarkan apa yang dilakukan oleh Kimberly.


"Mama setuju dengan keputusan yang Kimberly ambil. Jika saja Kimberly ikut memberikan hukuman kepada Anshell. Mama sangat yakin jika kejadian itu akan kembali membuka ingatan Kimberly akan kejadian itu sehingga membuat Kimberly kembali ketakutan. Mama sudah sangat bersyukur ketika Kimberly keluar dari rumah sakit dalam keadaan yang baik-baik saja. Tidak ada rasa takut dan trauma dalam diri Kimberly."


Mendengar perkataan dari Liana membuat Fathir dan Nashita menganggukkan kepalanya tanda setuju. Keduanya juga sejak awal mendengar informasi dari Jason dan Uggy mengenai Kimberly yang meminta untuk melepaskan Anshell dan menyerahkan Anshell kepada Pasya langsung menyetujuinya. Mereka melakukan hal itu demi kebaikan Kimberly, putri kesayangannya.


"Pasya, Daddy serahkan Anshell padamu untuk diproses secara hukum. Pastikan Anshell mendapatkan hukuman seberat-beratnya."


"Daddy tidak perlu khawatir akan hal itu. Aku bisa menjamin bahwa Anshell akan mendapatkan hukuman berat di dalam penjara. Apa yang dilakukan oleh Anshell sudah sangat keterlaluan," ucap Pasya.


Ketika mereka tengah membahas Anshell, tiba-tiba ponsel milik Uggy berbunyi. Bunyi ponsel Uggy menandakan sebuah notifikasi pesan masuk.


Uggy yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya yang kebetulan ada di atas meja.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Uggy melihat satu pesan masuk di WhatsApp miliknya.


Tanpa membuang waktu lagi, Uggy pun langsung membuka pesan WhatsApp nya itu.


Terlihat sebuah video. Uggy mengklik tanda segi putih di layar ponselnya. Dan terlihat adegan demi adegan di dalam video itu.


"Brengsek!"


Seketika Uggy berucap penuh amarah ketika melihat dan mendengar setiap perkataan dari orang yang ada di dalam video itu yang mana orang itu menghina ibu dan adik perempuannya.


Mendengar perkataan dari Uggy membuat Fathir, Nashita serta yang lainnya menatap kearah Uggy.


"Ada apa Uggy?" tanya Fathir.


"Ada yang mencari masalah dengan kita," jawab Uggy yang tatapan matanya masih fokus menatap layar ponselnya.


"Kemarikan ponsel kamu," pinta Jason."


Mendengar perkataan dari kakaknya, Uggy langsung memberikan ponselnya kepada Kakaknya itu.


Jason mengambil ponsel milik adiknya itu lalu tatapan matanya menatap ke layar ponsel tersebut.


Seketika raut wajah Jason berubah menjadi tak mengenakkan.


"Siapa mereka? Kenapa mereka mendatangi sekolah Kimberly? Dan apa maksud perempuan itu berbicara seperti itu terhadap Kimberly," ucap Jason penuh amarah.


"Cari mati nih orang," ucap Riyan ketika melihat video yang ada di ponsel kakak keduanya.


Bukan hanya Uggy dan Jason yang terlihat marah ketika melihat video itu. Fathir, Ammar, Clarita, Helena, Rafassya, Nirvan, Liana dan anak-anaknya juga tampak marah. Mereka tidak terima akan perkataan dari perempuan tersebut untuk Kimberly dan Nashita.