THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kerinduan Kimberly Terhadap Jason Dan Uggy



Bugh.. Bugh..


Duagh..


Sreekk..


Kreekk..


Gedebug


Brukk..


Terjadi perkelahian di pinggir jalan dimana satu pemuda melawan sekitar 12 preman sehingga membuat 5 preman terkapar di aspal. Tersisa 7 preman lagi.


Pemuda itu menatap tajam kearah 7 preman yang tersisa dengan kedua tangannya mengepal kuat lalu melirik kearah gadis yang seusia dengannya tengah ketakutan.


"Sher, lo nggak apa-apa?"


Mendengar ucapan serta suara dari seseorang membuat gadis itu langsung melihat kearah orang itu.


"A-aryan," ucap lirih gadis itu.


Yah! Pemuda itu adalah Aryan Fidelyo. Sementara gadis yang ditolong itu adalah Sherina Mumtaz.


"Gue baik-baik aja."


Aryan kembali menatap ketujuh preman-preman itu dengan tatapan matanya yang tajam. Dia paling tidak suka jika ada laki-laki yang menyakiti perempuan.


"Lebih baik kalian pergi dari sini!" teriak Aryan.


"Hei, bocah! Lo yang datang mengganggu pekerjaan kami. Seharusnya lo yang pergi dari sini. Bukan kami!" bentak salah satu ketujuh preman-preman itu.


"Memang gue yang telah mengganggu kalian, tapi kalian sudah mengganggu orang yang salah. Orang yang kalian ganggu itu teman gue!" teriak Aryan.


"Sekarang, pergilah kalian dari sini. Atau...."


"Atau apa, hah?!" bentak preman kedua.


"Gue hubungi polisi. Kebetulan kakak gue seorang pimpinan polisi," ucap Aryan.


"Hahahaha." ketujuh preman-preman seketika tertawa ketika mendengar perkataan Aryan yang mengatakan bahwa dirinya memiliki kakak seorang polisi berpangkat sebagai pimpinan polisi.


Mendengar gelak tawa ketujuh preman-preman itu membuat Aryan tersenyum di sudut bibirnya. Tangannya merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.


Setelah itu, Aryan langsung mencari kontak kakaknya dan segera menghubunginya.


Melihat pemuda yang telah mengganggunya dan rekan-rekannya terkejut ketika melihat pemuda tersebut tengah menghubungi seseorang.


"Apa kalian masih mau disini dan berakhir diseret ke kantor polisi? Atau memilih untuk pergi dari sini?" tanya Aryan.


Mendengar pertanyaan dari pemuda tersebut membuat ketujuh preman-preman itu saling memberikan tatapan.


"Kalau kalian tidak mempercayaiku dan beranggapan aku membual. Baiklah. Sekarang juga aku akan membuktikan kepada kalian bahwa aku memiliki kakak seorang polisi. Tapi ingat! Jangan sampai kalian menyesal jika beberapa polisi datang lalu membawa kalian pergi."


Aryan menatap satu persatu ketujuh preman-preman itu dengan senyuman di bibirnya. Aryan tahu bahwa ketujuh preman-preman itu sudah ketakutan ketika mendengar kata polisi.


Namun karena ingin memperlihatkan keberanian, preman-preman itu berusaha menutupi ketakutannya.


Salah satu preman itu membisikkan ke telinga salah satu rekannya.


"Lebih baik kita pergi dari sini. Sepertinya pemuda itu bersungguh-sungguh mengatakan bahwa dia memiliki kakak seorang polisi."


"Kenapa kau bisa seyakin itu?"


"Coba saja lihat cara dia bicara. Perhatikan tatapan matanya. Terlihat dari tatapan matanya kalau pemuda itu berkata jujur."


Preman tersebut menatap kearah Aryan dan diikuti oleh keenam preman lainnya. Mereka menatap intens kearah Aryan.


"Bagaimana? Pergi atau berakhir di kantor polisi?"


Beberapa detik kemudian..


"Ayo pergi!"


Setelah itu, ketujuh preman-preman itu beserta lima preman-preman yang terkapar di aspal pergi meninggalkan Aryan dan Sherina. Kini tinggal Aryan dan Sherina.


Aryan melangkahkan kakinya menghampiri Sherina yang saat ini masih berdiri di tempatnya.


"Yakin lo nggak apa-apa?" tanya Aryan dengan menatap wajah Sherina.


"Ya. Gue benaran nggak apa-apa," jawab Sherina.


"Ngapain lo ada disini dan nggak langsung ke sekolah?"


Mendengar jawaban sekaligus penjelasan dari Sherina akhirnya membuat Aryan paham kejadian yang sebenarnya.


"Ya, sudah! Lo ikut gue."


Sherina melihat kearah dimana kendaraan milik Aryan terparkir tak jauh dari tempatnya dan Aryan berdiri.


"Na-naik motor?"


"Kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Aryan dengan menatap wajah Sherina yang terlihat gugup.


"Apa lo takut?" tanya Aryan lagi.


"Ng-nggak. Gue......."


Sreekk..


Aryan langsung menarik pelan tangan Sherina dan membawanya menuju motor miliknya. Sedangkan Sherina seketika terkejut ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh Aryan.


***


Kimberly berada di perpustakaan. Dia tidak sendirian, melainkan bersama dengan Tommy sang pujaan hatinya. Keduanya tengah mempelajari sesuatu tentang materi pelajaran selanjutnya sembari berkencan.


"Aish! Pusing kepala gue," ucap Kimberly yang tanpa sadar berteriak.


Mendengar ucapan dan teriakan dari Kimberly membuat orang-orang yang ada di perpustakaan itu langsung melihat kearah Kimberly.


Sementara Tommy langsung menundukkan kepalanya menatap orang-orang yang kini menatap kearah dirinya dan Kimberly.


"Maaf semuanya!"


Setelah mengatakan itu, Tommy langsung melihat kearah Kimberly yang saat ini memanyunkan bibirnya dengan kepala bertumpu di atas meja dengan punggung tangannya sebagai tumpuannya.


"Kenapa, hum?" tanya Tommy sembari membelai kepala Kimberly dengan lembut.


"Bosan. Tugasnya nggak kelar-kelar dari tadi. Tambah lagi aku nggak ada semangat sama sekali. Padahal sebenarnya lagi bel masuk akan berbunyi," jawab Kimberly.


Mendengar keluhan dan aduan dari Kimberly membuat Tommy tersenyum lalu mengacak-acak rambut kekasihnya itu gemas.


"Mau dibantuin nggak?"


Kimberly menolehkan wajahnya ke samping guna untuk melihat wajah tampan kekasihnya itu. Kemudian matanya turun kearah buku-buku milik Tommy yang dalam keadaan tertutup.


"Kamu sudah selesai?"


"Seperti yang kamu lihat."


Kimberly makin mengerucutkan bibirnya ketika mendengar jawaban dari Tommy.


"Ih, nyebelin! Kamu udah selesai. Sementara punyaku belum selesai. Dari 50 soal, baru 30 yang selesai."


"Itu karena kamu banyak melamunnya, makanya tugasnya nggak kelar-kelar dari tadi. Coba kamu fokus sama tugas-tugasnya, pasti dalam waktu lima belas menit kamu sudah selesai mengerjakan semua soal-soal itu."


Kimberly makin memperlihatkan wajah masam. Tak ada manis-manisnya sama sekali. Tommy seketika paham bahwa ada sesuatu yang sedang di pikirkan oleh Kimberly.


"Ada apa? Apa ada yang kamu pikirkan?"


"Aku kangen sama kakak Jason dan kakak Uggy. Mereka lama banget di kota Berlin. Tambah lagi Mommy sama Daddy juga masih diluar negeri," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Tommy seketika merasakan kesedihan. Dia tahu bagaimana kedekatan dan manjanya Kimberly dengan kedua kakak tertuanya itu.


Tommy seketika menarik tubuh Kimberly lalu membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Kimberly pecah.


"Hiks... Hiks... Tommy. Aku kangen kakak Jason dan kakak Uggy... Hiks... Aku juga kangen sama Mommy dan Daddy... Hiks."


Mendengar ucapan dan isakan dari Kimberly membuat Tommy seketika merasakan sesak di dadanya. Dia makin mengeratkan pelukannya pada kekasihnya.


"Yang sabar, oke! Semoga saja hari ini atau besok kakak Jason dan kakak Uggy sudah kembali," ucap Tommy sembari berusaha untuk menenangkan Kimberly.


"Tapi bagaimana kakak Jason dan kakak Uggy makin betah di Berlin?"


Tommy seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Kimberly. Dalam pikiran Tommy, segitu takutnya Kimberly jika ada orang yang merebut kedua kakaknya itu.


"Percayalah! Kakak Jason dan kakak Uggy hari ini atau besok pasti pulang. Bukan hanya kamu yang kangen sama mereka. Mereka juga kangen sama kamu adik kelincinya yang cantik dan manis."


Seketika Kimberly langsung melepaskan diri dari pelukan Tommy, lalu memberikan tatapan mautnya kearah Kimberly.


"Aku ini manusia bukan kelinci. Kalau aku kelinci kamu itu manusia alien."


Tommy tersenyum ketika mendengar julukan yang diberikan oleh Kimberly. Dirinya tidak marah, justru tersenyum. Setidaknya Kimberly sudah berusaha menunjukkan bahwa dirinya sudah dalam keadaan baik-baik saja