
Billy, Tommy, Aryan, keempat sahabatnya dan para sahabat-sahabatnya Billy, Aryan dan Triny sekarang berada di ruang rawatnya Kimberly.
Setelah kejadian di kantin. Mereka semua memutuskan untuk membolos dan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Kimberly.
Tommy duduk di samping ranjang Kimberly. Tangannya memegang tangan Kimberly dengan lembut. Tatapan matanya fokus menatap wajah cantik Kimberly.
"Kim. Sudah dua hari kamu tidur. Kamu gak kangen aku ya?" Tommy mengecup berulang kali punggung tangan Kimberly sembari tangannya kirinya mengelus lembut kepalanya.
"Ayo, dong. Buka mata kamu Kimberly," ucap Tommy lagi.
Sementara keempat sahabatnya Kimberly kini berdiri di samping ranjang Kimberly. Mereka menatap sedih Kimberly.
"Kim. Lo kapan bangun. Kangen tahu," lirih Santy.
"Kim, lo harus bangun sekarang! Kalau lo gak bangun. Lo bakal nyesel. Tommy udah berniat ninggalin lo dan bakal jadian sama si kuntilanak itu," sahut Rere asal.
Mendengar perkataan Rere membuat Tommy menatap horor padanya. Sementara yang lainnya tertawa.
"Hahahaha."
"Iya, Kim! Apa yang dikatakan Rere benar. Tommy bakal ninggalin kamu jika kamu gak bangun juga. Bahkan Tommy bilang ke kita kalau dia bosen nungguin kamu bangun." Sinthia juga ikut menjahili Tommy.
"Iya, Kim! Kamu harus bangun sekarang!" seru Cathrine menambahkan.
Baik Rere, Sinthia maupun Cathrine sengaja berbicara seperti itu tentang Tommy. Sesekali membully Tommy gak ada salahnya kan? Siapa tahu saat mereka membully Tommy dan Kimberly dengar. Kimberly langsung bangun dari tidurnya. Sambil menyelam minum air.
Mendengar perkataan dari ketiga sahabatnya Kimberly membuat Tommy mendengus kesal. Tommy tidak habis pikir jika Rere, Cathrine dan Sinthia kompak memfitnah dirinya di depan Kimberly.
Sementara yang lainnya lagi-lagi tertawa keras mendengar perkataan demi perkataan yang dilontarkan oleh Sinthia, Rere dan Cathrine.
Ketika Tommy ingin membalaskan perkataan Rere, Sinthia dan Cathrine, tiba-tiba Tommy merasakan tangannya digenggam oleh Kimberly.
Tommy yang merasa tangannya di genggam oleh Kimberly langsung mengalihkan pandangannya untuk melihat tangan Kimberly. Dan benar saja. Kimberly kembali menggerakkan tangannya.
"Kim," ucap Tommy dengan raut bahagia.
Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine melihat kearah tatapan mata Tommy. Seketika mereka tersenyum bahagia ketika melihat tangan Kimberly bergerak.
"Kimberly!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine bersamaan dengan menatap wajah Kimberly.
Billy, Triny, Aryan dan yang lainnya mengerubungi ranjang Kimberly.
"Ada apa?" tanya Billy, Triny dan Aryan bersamaan.
"Tangan Kimberly bergerak," jawab Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine bersamaan.
"Bahkan berulang kali Kimberly menggenggam tanganku," sahut Tommy.
Mereka semua menatap wajah Kimberly. Mereka berharap Kimberly membuka mata bulatnya itu.
"Kim," ucap Billy dengan tangannya mengusap lembut kepala Kimberly.
Dan berlahan Kimberly membuka kedua matanya yang bulat itu. Mereka semua tersenyum bahagia ketika mata yang sudah tertutup selama dua hari terbuka.
"Kimberly," panggil mereka semua.
Kimberly menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya. Dan berakhir menatap wajah Tommy yang saat ini duduk tak jauh dari ranjangnya.
"Tommy." Kimberly memanggil Tommy dengan pelan.
"Ada apa, hum?" tanya Tommy dengan mengusap-ngusap lembut punggung tangan Kimberly lalu mengecupnya.
"Kamu bosen sama aku?" tanya Kimberly.
DUUAARR!
Seperti disambar petir di siang bolong ketika mendengar perkataan dari Kimberly.
Sementara yang lainnya berusaha untuk tidak tertawa mendengar pertanyaan dari Kimberly dan melihat wajah terkejut Tommy. Bahkan sebentar lagi ketakutan dan kebucinan Tommy bakal keluar.
Tommy menatap horor Rere, Sinthia dan Cathrine. Sementara Rere, Sinthia dan Cathrine langsung mengalihkan pandangannya kearah lain.
"Tommy," panggil Kimberly.
"Ach, iya. Ada apa sayang?" gelagat ketakutan dan bucin Tommy sudah mulai kelihatan.
"Jawab pertanyaan aku yang tadi," ucap Kimberly.
"Tidak, Kim! Aku sama sekali tidak bosan sama kamu. Aku tidak akan pernah bosan sama kamu," jawab Tommy. Tommy berusaha untuk meyakinkan Kimberly.
"Tapi aku tadi dengar perkataan Rere, Sinthia dan Cathrine bahwa kamu bosan nunggu aku bangun. Dan bahkan mereka bilang kamu bakal jadian sama Talitha jika aku gak bangun juga." Kimberly berbicara dengan mimik wajah sedih.
Mendengar ucapan dan melihat wajah sedih Kimberly membuat Tommy kelabakan. Dirinya tidak tahu harus melakukan apa buat meyakinkan Kimberly.
Tommy menatap kearah Rere, Sinthia dan Cathrine. Melihat dirinya ditatap. Rere, Sinthia dan Cathrine hanya acuh dan mengabaikan tatapan Tommy.
Justru Rere, Sinthia dan Cathrine terus memfitnah Tommy di depan Kimberly. Mereka melakukan hal itu hanya sekedar ingin melihat bagaimana caranya Tommy meyakinkan Kimberly agar percaya padanya.
"Kim. Apa yang kamu dengar barusan itu benar lo? Aku, Sinthia dan Cathrine tidak bohong." Rere berucap sambil menahan tawa di hatinya ketika melihat wajah kesal Tommy.
"Iya, Kim! Bahkan di sekolah Tommy pelukan sama Talitha loh," kata Cathrine.
"Memang bukan Tommy duluan, melainkan kuntilanak itu yang meluk Tommy. Tapi Tommy nya gak menghindar. Bahkan Tommy membalas pelukan sikuntilanak itu." Cathrine menambahkan.
"Tommy juga teleponan sama Mamanya Talitha. Lembuuuut banget ngomongnya." Rere kembali menambahkan.
Kimberly menatap sedih Tommy. "Tommy," lirih Kimberly.
Tommy langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tangannya menggenggam erat tangan Kimberly. Bahkan berulang kali Tommy menciumnya.
"Tidak, Kim! Itu tidak benar. Kamu jangan percaya sama ketiga nenek lampir yang berdiri di hadapan kamu saat ini. Mereka itu para netizen yang tidak menyukai hubungan kita. Mereka itu satu klompotan dengan Talitha. Hanya yang membedakannya adalah Talitha itu kuntilanak. Sementara mereka nenek lampir."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Tommy. Rere, Sinthia dan Cathrine menatap Tommy dengan kedua mata mereka yang melotot. Sedangkan Tommy fokus menatap wajah cantik Kimberly sembari terus meyakinkan Kimberly bahwa perkataan ketiga sahabatnya itu hanya sekedar bualan untuknya.
Billy, Triny, Aryan dan yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala yang sedari tadi menyaksikan peperangan antara Tommy dan ketiga sahabatnya Kimberly.
"Kamu harus percaya denganku Kim. Bukankah dalam sebuah hubungan harus didasari dengan kepercayaan. Kamu jangan terlalu percaya dengan orang luar. Mereka itu hanya bisa merecoki hubungan kita saja. Salah satunya ketiga nenek lampir itu." Tommy kembali bersuara.
Mendengar perkataan Tommy. Rere, Sinthia dan Cathrine mendengus kesal. Tommy melirik sekilas kearah Rere, Sinthia dan Cathrine. Dapat dilihat oleh Tommy kekesalan di wajah ketiganya.
Melihat hal itu, seketika Tommy tersenyum kemenangan. Dirinya berhasil membalas keusilan ketiganya.
"Benarkah?" tanya Kimberly.
"Iya, sayang! Itu benar. Aku tidak ada hubungan apapun dengan kuntilanak itu. Kamu kan tahu sendiri bagaimana kelakuan menjijikkan kuntilanak itu ketika melihatku! Aku paling tidak suka melihat wanita yang terlalu over, tebar pesona dan murahan seperti kelompok Talitha dan kelompok Syafina."
"Aku percaya," jawab Kimberly.
"Jadi kamu..."
"Iya. Aku percaya sama kamu. Aku akan selalu percaya sama kamu," jawab Kimberly.
Mendengar penuturan dari Kimberly membuat Tommy tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki kekasih seperti Kimberly.
Tommy bersumpah pada dirinya sendiri dan juga hidupnya kalau dirinya akan selalu ada untuk Kimberly. Dirinya akan selalu percaya dengan Kimberly. Kepercayaan itu sangat penting dalam sebuah hubungan. Tommy tidak ingin menyesal dikemudian hari jika dirinya tidak mempercayai pasangannya sendiri.
Kimberly melihat kearah Rere, Sinthia dan Cathrine. Kimberly menatap horor ketiganya.
Melihat tatapan horor dari Kimberly membuat Kimberly Rere, Sinthia dan Cathrine ciut.
"Hehehehe." ketiganya terkekeh.
"Maaf, Kim! Kita ngelakuin itu agar lo bangun," jawab Rere.
"Dan buktinya lo bangun ketika dengar omongan kita tentang Tommy," sela Sinthia.
"Hm," Cathrine manggut-manggut.
"Hah." Tommy hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar pembelaan dari Rere, Sinthia dan Cathrine. Begitu juga Kimberly dan yang lainnya.