
Saat ini Kimberly ditemani oleh keempat kakaknya. Baik Jason, Uggy maupun Enda dan Riyan sepakat untuk menemani Kimberly di rumah sakit.
"Kakak, sudah." Kimberly menggelengkan kepalanya dan bibir yang mengatup rapat ketika Jason yang masih menyuapi bubur kepadanya.
"Tapi kamu baru memakannya lima sendok sayang," ucap Jason.
"Tapi aku sudah kenyang, Kak."
"Oke... Oke! Sekarang kamu mau makan apa?" tanya Jason.
"Aku mau chiki potato. Boleh?"
Baik Jason, Uggu maupun Enda dan Riyan tersenyum ketika melihat wajah berharap adiknya.
"Baiklah," jawab Jason.
"Kalau begitu biar Kak Iyan yang belikan!" seru Riyan.
"Sekalian susu pisang ya," cicit Kimberly dengan wajah memelasnya.
"Ach, baiklah."
"Makasih Kak. Kakak yang terbaik," jawab Kimberly lalu mencium pipi Riyan. Riyan yang mendapatkan ciuman dari adiknya tersenyum bahagia.
"Cuma Riyan doang yang dicium. Kita-kitanya gak," ucap Uggy dengan menunjukkan wajah sedihnya. Begitu juga dengan Jason dan Enda.
Mendengar sindiran dan wajah memelas ketiga kakaknya membuat Kimberly cengo. Dan pada akhirnya, Kimberly memberikan masing-masing ciuman di pipi ketiga kakaknya itu.
"Sudah," jawab Kimberly.
Jason, Uggy dan Enda tersenyum bahagia. "Terima kasih sayang," jawab mereka kompak.
"Sambil nunggu Riyan kembali. Kamu istirahatlah. Nanti jika Riyan kembali. Kakak akan bangunin kamu," sahut Uggy lembut sambil tangannya membelai kepala adiknya.
"Baiklah." Kimberly pun langsung memposisikan dirinya untuk tidur dan dibantu oleh Jason dan Enda.
***
Di sebuah rumah sederhana terlihat seorang gadis yang kini sedang duduk di ruang tengah yang sangat kecil.
Gadis itu tengah berbicara dengan seseorang di telepon. Terlihat dari wajahnya yang kentara dengan amarah.
"Pokoknya aku tidak peduli. Apapun yang terjadi. Kau harus bisa membawa Kimberly ke markasmu. Dan kau bisa sedikit bermain-main dengannya. Aku ingin sekali melihat wajah ketakutannya ketika berada di markas milikmu dalam keadaan tidak berdaya. Kebetulan Kimberly sedang dirawat di rumah sakit."
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Aku akan melakukannya. Hanya kali ini saja. Setelah itu, kau urus sendiri."
"Baik."
Setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon. Gadis itu pun mematikan panggilannya.
"Kimberly. Tunggu kejutan dariku."
Gadis itu tersenyum sembari membayangkan akan rencananya besok.
***
Di ruang rawatnya Kimberly. Kimberly sedang tertidur. Riyan yang masih belum kembali. Jason dan Uggy, telah kembali ke Perusahaan mereka lima menit yang lalu. Keduanya mendapatkan telepon dari asistennya dan meminta keduanya untuk ke Perusahaan. Dan mau tidak mau keduanya pun pergi meninggalkan Kimberly.
Sebelum Jason dan Uggy pergi. Mereka memint Enda untuk tetap di rumah sakit menjaga Kimberly sampai keempat sahabatnya Kimberly, Billy, Aryan, Triny dan para sahabatnya datang. Bahkan Jason dan Uggy meminta Enda untuk tidak meninggalkan Kimberly dalam waktu yang lama.
Jason dan Uggy masih mengkhawatirkan Kimberly. Dan mereka berdua juga punya pirasat yang tak baik yaitu jika orang itu akan kembali mengincar Kimberly. Sekali pun Jason dan Uggy sudah mengerahkan anggotanya untuk berjaga-jaga di setiap area rumah sakit. Baik diluar maupun di dalam rumah sakit.
Saat ini Enda duduk di samping ranjang adiknya. Sesekali Enda memperbaiki selimut adiknya. Enda tersenyum hangat ketika menatap wajah lelap adiknya.
Ketika Enda sedang menjaga adiknya, tiba-tiba pintu ruang rawat Kimberly dibuka. Enda yang mendengar seseorang membuka pintu ruang rawat adiknya langsung melihat kearah pintu tersebut. Dan dapat dilihat oleh Enda seorang perawat yang masuk.
"Maaf tuan mengganggu. Bisa ikut dengan saya sebentar. Dokter yang memeriksa pasien ingin berbicara sesuatu mengenai kondisi pasien setelah empat hari dirawat. Kebetulan hanya ada tuan."
Mendengar ucapan dari perawat itu. Enda langsung melihat kearah adiknya yang saat ini masih tertidur. Setelah itu, Enda kembali melihat kearah perawat tersebut
"Tapi siapa yang akan menjaga adikku? Aku tidak akan meninggalkan adikku sendirian," sahut Enda.
"Tuan tenang saja. Selama tuan menemui Dokter. Saya akan menjaga pasien," ucap perawat itu.
"Baiklah kalau begitu. Tolong jaga adikku selama saya sedang berbicara dengan Dokter. Dan jangan sedikit pun anda meninggalkan adikku. Jika terjadi sesuatu pada adikku. Aku akan melakukan hal buruk kepada anda." Enda berbicara dengan penuh penekanan disetiap kata.
Mendengar ucapan dari Enda membuat perawat itu ketakutan. Untuk menghilangkan rasa takut dan gugupnya. Perawat itu berusaha bersikap biasa saja.
"Baik, Tuan."
Lima menit kepergian Enda. Perawat itu pun bersuara. "Masuklah."
Setelah itu, masuklah dua laki-laki ke dalam ruang rawat Kimberly.
"Buruan. Kita tidak punya waktu banyak!" seru perawat itu.
Tanpa mereka sadari, Kimberly yang telah terbangun dari tidurnya. Kimberly bangun dari tidurnya setelah kepergian kakaknya untuk menemui Dokter.
Kedua laki-laki itu mendekati ranjang Kimberly. Mereka membagi tugas. Ketika salah satu laki-laki itu hendak menutup mulut Kimberly dengan menggunakan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius.
Dengan gerakan cepat, Kimberly langsung memberikan tendangan kuat tepat di perut laki-laki itu sehingga membuat laki-laki tersungkur ke lantai.
DUUAAGGHH!
Melihat Kimberly yang menyerang tiba-tiba membuat dua laki-laki yang lainnya dan perawat wanita itu menjadi panik.
Kimberly bangun dari tidurnya dan langsung melepaskan infus yang menancap di tangan kirinya. Ketika laki-laki yang kini sedang memegang botol infusnya hendak menyerang Kimberly. Kimberly sudah terlebih dahulu melilitkan selang infus itu ke tangan laki-laki dan setelah itu, Kimberly mengambil pisau yang ada di atas meja sebelah kanan. Kemudian pisau itu Kimberly hentakkan dengan kuat ke perut laki-laki itu.
JLEB!
Setelah pisau itu mendarat di perut laki-laki itu. Kimberly menarik pisau itu memanjang ke bawah sehingga membuat kulit perut laki-laki itu robek. Dan membuat laki-laki memekik kesakitan.
"Aakkkhhh!"
Kimberly menarik pisaunya, lalu mendorong tubuh laki-laki hingga tergeletak tak bernyawa di lantai.
Melihat kedua rekannya sudah tidak berdaya dan bisa dipastikan olehnya satu rekannya telah mati membuat perawat perempuan itu ketakutan.
Perawat itu juga melihat kearah tatapan mata Kimberly. Tatapan mata Kimberly yang memerah.
Perawat itu ketakutan dan hendak pergi meninggalkan ruang rawat Kimberly. Namun sayang, nasib baik tak memihak padanya. Kimberly dengan cepat melemparkan pisau yang masih dipegangnya kearah perawat itu.
JLEB!
Pisau itu tepat mengenai punggungnya sehingga membuat perawat itu berteriak kesakitan.
"Aakkhhh!"
Kimberly turun dari tempat tidurnya dan kemudian berjalan menghampiri perawat itu.
Kimberly menarik pisau yang ada di punggung perawat itu sehingga membuat perawat itu kembali berteriak.
"Aakkhhh!"
Kimberly menarik kuat rambut perawat itu. "Kau harus mati karena sudah berani berniat buruk kepada Kimberly."
JLEB!
JLEB!
Kimberly menusuk-nusukkan pisau itu berulang kali tepat di jantung perawat itu hingga perawat itu tidak bernyawa lagi.
***
Billy, Triny, Aryan, Tommy, keempat sahabatnya Kimberly dan para sahabat-sahabatnya Billy, Aryan dan Triny saat ini sedang melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Kimberly. Mereka sudah sangat merindukan Kimberly, terutama Tommy.
Ketika mereka tengah melangkahkan kakinya menuju ruang rawat Kimberly, Cathrine tak sengaja melihat kearah depan dimana Enda yang sedang berlari menuju ruang rawat Kimberly.
"Hei, lihatlah. Bukankah itu Kak Enda!" seru Cathrine.
Mereka semua melihat kearah tunjuk Enda. Mereka semua melihat bahwa Enda saat ini tengah berlari menuju ruang rawat Kimberly.
"Kak Enda," panggil Aryan.
Enda yang mendengar panggilan dari seseorang langsung berhenti dan melihat kearah orang yang memanggil. Dan dapat Enda lihat ketiga adik sepupunya bersama para sahabat-sahabatnya adiknya tengah berlari kearahnya.
"Kak, ada apa? Kenapa kakak ketakutan seperti ini?" tanya Triny.
"Kimberly baik-baik saja kan, Kak?" tanya Billy.
"Justru saat ini Kakak sedang mengkhawatirkan Kimberly Aryan, Triny, Billy. Kakak habis ditipu oleh seorang perawat yang katanya Dokter yang menangani Kimberly ingin bertemu dengan salah satu dari anggota keluarga dan kebetulan Kakak yang jagain Kimberly. Perawat itu bilang kalau Dokter ingin membicarakan masalah kesehatan Kimberly. Awalnya Kakak ragu buat ninggalin Kimberly. Saat mendengar perawat itu bersedia jagain Kimberly. Makanya kakak berani ninggalin Kimberly bersama perawat itu. Namun setelah bertemu dengan Dokter. Dan mendengar jawaban dari Dokter itu. Dari situlah kakak baru sadar. Kakak pun langsung pergi buru-buru untuk menuju ruang rawat Kimberly."
"Ya, sudah kalau begitu Kak! Ayo, kita ke ruang rawatnya Kimberly. Jangan sampai terjadi sesuatu dengan Kimberly."
Mereka semua pun berlari menuju ruang rawat Kimberly. Mereka semua tampak khawatir saat ini.