
Mendengar isak tangis Arlo membuat semua yang ada di dalam ruang rawat Kimberly ikut menangis. Mereka menatap sedih kearah Arlo.
"Jujur aku begitu merindukan mereka, Tante! Aku merindukan pelukan mereka. Aku merindukan semua dari mereka. Tapi setiap kali aku melihat wajah mereka seketika wajah sedih, wajah kesakitan dan wajah penuh harap adik perempuanku berputar-putar di kepalaku. Adik perempuanku begitu merindukan mereka, adik perempuanku ingin memeluk mereka. Tapi mereka sama sekali tidak pernah memikirkan hal itu."
Arlo menangis terisak sembari mencurahkan isi hatinya kepada Nashita. Dirinya benci sekaligus rindu terhadap kedua orang tuanya.
Mendengar rentetan curahan hati Arlo membuat hati Nashita sesak. Nashita makin mengeratkan pelukannya terhadap Arlo.
"Tante paham sayang. Paham sekali. Maka dari itulah kenapa tante meminta kamu untuk membuka hati kamu untuk kedua orang tua kamu. Dengan kamu membuka hati untuk kedua orang tua kamu. Kamu akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Salah satunya adalah kamu akan merasakan kelegaan di dalam diri kamu. Dan kamu juga tidak akan bersedih terus. Bagaimana pun kamu berhak untuk hidup bahagia."
Nashita melepaskan pelukannya lalu menatap wajah basah Arlo. Tangannya kemudian terangkat untuk menghapus air mata Arlo.
"Hidup kamu masih panjang. Dendam tidak akan membuat kita bahagia, nak! Buka hati kamu, terima mereka lalu peluk mereka. Setelah itu, kamu akan mendapatkan apa yang tidak kamu dapatkan selama ini dari mereka."
Mendengar perkataan lembut dari Nashita. Arlo menatap wajah cantik Nashita. Setelah itu, Arlo menatap wajah cantik Kimberly yang kini tengah menatap dirinya.
"Mau ya kak. Demi adik perempuan kakak. Kalau kakak seperti ini terus, maka adik perempuan kakak akan menangis di atas sana."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Arlo ketika mendengar ucapan permohonan dan wajah memelasnya Kimberly.
"Baiklah. Demi adik perempuan kakak yang telah tiada. Dan demi kamu adik angkat kakak. Kakak akan mencoba menerima mereka dan memberikan kesempatan untuk mereka," jawab Arlo.
Mendengar perkataan dari Arlo membuat semuanya tersenyum. Mereka semua benar-benar bahagia apa yang mereka dengar dari Arlo.
"Benarkah kak?" tanya Kimberly.
"Iya," jawab Arlo.
"Terima kasih ya kak. Aku sudah yakin sejak awal kalau kakak pasti akan mau memberikan mereka kesempatan. Bahkan ketika pertama kali kakak menceritakan masalah tersebut kepadaku, aku yakin kakak masih menyimpan rasa rindu dan sayang untuk mereka. Hanya saja saat itu hanya ego kakak saja yang terlihat sehingga kakak enggan untuk memaafkan kesalahan mereka."
Arlo tersenyum bahagia melihat wajah cantik Kimberly. Bahkan Arlo bisa melihat dari manik coklat Kimberly, tersimpan banyak rasa sayang dan rasa peduli untuk orang-orang terdekatnya.
"Oh iya! Satu lagi, kakak tahu dari mana kalau aku masuk rumah sakit?"
"Kakak dapat kabar dari tangan kanan kakak. Dia mengatakan bahwa kamu masuk rumah sakit. Karena itulah kenapa kakak ada disini sekarang," jawab Arlo.
Mendengar jawaban dari Arlo membuat Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan tersenyum. Mereka tidak menyangka jika Arlo akan melakukan hal itu demi kesayangan mereka. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka semua benar-benar kagum akan kasih sayang Arlo terhadap Kimberly.
Ketika mereka semua tengah bahagia akan keputusan Arlo yang mau memberikan kesempatan untuk kedua orang tuanya, tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka oleh seseorang.
Cklek...
Semua yang ada di dalam ruang rawat Kimberly langsung melihat kearah pintu. Mereka semua melihat kedatangan Tommy dan ketiga sepupunya yaitu Fazio, Carlen dan Nigel.
Melihat kedatangan Tommy, Fazio, Carlen dan Nigel seketika Rere dan Sinthia tersenyum evil. Mereka berdua ingin membuat Tommy cemburu dan berakhir Tommy yang menatap Arlo dengan tatapan cemburunya.
"Wah, Tommy! Kenapa kamu terlambat datangnya?!" tanya Rere.
Mendengar pertanyaan dari Rere membuat Tommy langsung melihat kearah Rere. Begitu juga dengan yang lainnya. Semuanya menatap kearah Rere.
"Mulai lagi nih anak," batin Kimberly.
"Kenapa memangnya?" tanya Tommy.
"Tuh kamu lihat kesana!" kini Sinthia yang beraksi sambil menunjuk kearah Arlo.
Tommy langsung melihat kearah tunjuk Sinthia. Dan dapat dilihat oleh Tommy bahwa Arlo duduk di samping ranjang Kimberly. Dan duduknya terlalu dekat. Bahkan tangan Arlo yang menggenggam tangan Kimberly.
Tommy kemudian melangkah mendekati ranjang Kimberly. Tommy berdiri di samping ranjang kanan Kimberly.
"Jangan terlalu lama megang tangan Kimberly. Dia milik gue," ucap Tommy ketika matanya menatap kearah dimana Arlo yang masih menggenggam tangan Kimberly.
Melihat sifat cemburu Tommy keluar. Fathir dan Nashita kemudian beranjak dari sana.
"Daddy tidak ikut-ikutan."
"Mommy juga."
Setelah itu, Fathir dan Nashita pun melangkah menuju sofa dan duduk disana.
Mereka semua menatap dengan senyam-senyum di bibir masing-masing ketika melihat wajah cemburu Tommy.
Arlo seketika melepaskan genggaman tangannya dari tangan Kimberly. Kemudian Arlo menatap wajah cantik Kimberly.
Dan detik kemudian, Arlo mendekatkan wajahnya ke telinga Kimberly lalu membisikkan sesuatu disana.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar bisikan dari Arlo.
Setelah itu, Arlo menjauhkan wajah dari Kimberly. Dirinya tidak ingin dimakan hidup-hidup oleh Tommy karena terlalu dekat dengan Kimberly.
"Tommy," panggil Rere.
Tommy langsung melihat kearah Rere. "Ada apa?"
"Aku ada informasi untuk kamu. Mau dengar nggak?"
"Rere, jangan memulai peperangan ya!" teriak Kimberly.
"Siapa juga yang mau berperang sama lo. Sekarang ini gue lagi ngomong sama cowok lo," jawab Rere.
"Mau tahu tidak?"
"Apa? Buruan katakan," sahut Tommy.
"Kak Arlo berencana ingin membawa Kimberly ke Amerika. Dan akan tinggal disana. Nanti setiba mereka di Amerika, mereka bakal nikah karena kak Arlo sudah meminta izin sama om Fathir dan tante Nashita. Begitu juga sama keempat kakak laki-lakinya Kimberly."
Mendengar perkataan dari Rere seketika membuat Tommy membelalakkan matanya sempurna. Dirinya benar-benar terkejut akan hal itu.
Sementara semua orang yang ada di dalam ruang rawat Kimberly tersenyum sembari geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Rere dan melihat wajah syok Tommy.
Tommy kemudian menatap wajah Kimberly yang kini tengah menatap tajam kearah Rere.
"Kim," panggil Tommy.
Mendengar namanya dipanggil, Kimberly langsung melihat kearah Tommy.
"Apa benar ka...."
"Dalam sebuah hubungan itu kita harus apa?"
"Percaya."
"Yang pacar kamu siapa?"
"Kamu."
"Apa kamu percaya sama aku?"
"Jika kamu percaya sama aku, maka kamu jangan percaya sama siluman rubah itu!" Kimberly sembari menatap horor Rere.
Sementara Rere seketika melotot ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
Kimberly kembali menatap wajah tampan kekasihnya. "Bagaimana? Kamu percaya aku atau siluman rubah itu?" tanya Kimberly.
"Aku percaya sama kamu," jawab Tommy tapi tatapan matanya masih menatap was-was kearah Arlo.
"Kalau kamu percaya sama aku. Jangan tatap kak Arlo seperti itu. Bisa nggak biasa aja menatapnya?"
Mendengar perkataan dari Kimberly seketika Tommy merubah tatapan matanya. Kini tatapan mata Tommy sudah kembali normal.
Semua yang ada di dalam ruang rawat Kimberly hanya bisa tersenyum ketika melihat wajah cemburu Tommy terhadap Arlo.
"Untuk kalian berdua!" seru Kimberly dengan menatap kearah Rere dan Sinthia.
"Aku akan memberikan hukuman kepada kalian berdua. Selama satu bulan penuh kalian berdua harus membawa makanan dan minuman kesukaanku selama aku istirahat total di rumah. Masing-masing dari kalian harus membawa banyak makanan dan minuman. Jika hanya satu atau dua saja jenis makanan dan minuman yang kalian bawa, maka aku akan memberikan surat pemutusan hubungan persahabatan!"
Seketika Sinthia dan Rere membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly. Yang membuat keduanya lebih terkejut lagi adalah kata terakhir Kimberly yang mengatakan surat pemutusan hubungan persahabatan.
"Tega lo Kim!" seru Sinthia dan Rere bersamaan dengan memasang wajah super sedih.
"Itu sudah jadi derita kalian berdua. Siapa suruh jadi kompor meleduk," sahut Kimberly.
"Kasihan bebeb gue!" seru Henry dan Satya.
"Jika kalian kasihan. Kalian berdua boleh ikut membelikan makanan dan minuman lalu bawa ke rumahku," sahut Kimberly.
"Hah!" Henry dan Rere serta Satya dan Sinthia hanya bisa menghela nafas pasrahnya ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
Sementara yang lainnya tertawa nista. Yang paling happy adalah Risma.