
Kimberly sudah berada di rumahnya. Begitu juga dengan kedua orang tuanya, keempat kakak laki-lakinya dan sepupunya.
Bagaimana dengan Tommy?
Tommy sudah kembali ke Hamburg dua hari setelah Kimberly dirawat di rumah sakit selama dua hari.
Kimberly tiba-tiba demam pada malam hari. Demamnya Kimberly disebabkan permasalahan hubungan asmaranya dengan Tommy.
Mendengar kabar Kimberly demam dan dilarikan ke rumah sakit membuat Tommy seketika menangis. Dia menyalahkan dirinya sendiri atau demamnya Kimberly.
^^^
Fathir, Nashita dan anak-anaknya saat ini sudah berada di meja makan. Mereka akan melaksanakan sarapan pagi bersama, termasuk Kimberly.
"Makan yang banyak ya, Sayang! Mommy tidak mau kamu jatuh sakit lagi."
Kimberly melihat kearah ibunya yang kini tengah menatap dirinya sembari tersenyum.
Kimberly kemudian tersenyum. "Baik, Mom!"
Nashita menatap sedih putrinya. Dirinya tahu bahwa putrinya masih memikirkan kejadian di cafe itu bersama Tommy. Dirinya juga tahu bahwa putrinya tidak akan sanggup berpisah dengan laki-laki yang begitu dia cintai.
Apa yang dirasakan oleh Kimberly, itu juga yang dirasakan oleh Fathir dan keempat putranya. Mereka semua sedih melihat Kimberly yang kehilangan senyuman dan semangatnya.
"Kau memang pria brengsek, Antoni! Apa belum cukup hukuman yang aku berikan padamu dan keluargamu sehingga kau kembali mengusik Kimberly. Lihat apa yang telah kau lakukan pada adikku. Gara-gara ulahmu, Tommy terpaksa berpura-pura menjauhi adikku demi menghancurkanmu sehingga membuat adikku bersedih." Jason berbicara di dalam hatinya sembari tatapan matanya menatap wajah cantik adiknya itu.
"Kali ini kau akan benar-benar hancur, Antoni Archard. Aku Uggy Aldama tidak akan membiarkanmu berkeliaran di dunia ini," batin Uggy.
"Kim," panggil Fathir.
Kimberly langsung melihat kearah ayahnya. "Iya, Dad!"
"Yakin mau sekolah hari ini, hum?"
"Yakin, Dad! Aku sudah lama liburnya. Ditambah lagi, aku sudah banyak ketinggalan pelajaran. Jadi aku nggak mau libur terlalu lama," jawab Kimberly.
"Bagaimana perasaan kamu nanti disaat bertemu Tommy, Sayang?" tanya Nashita.
"Aku mencintai Tommy. Aku sangat mencintai dia. Tapi kalau untuk masalah foto itu, sampai kapan pun aku nggak akan pernah menyembah apalagi ngemis untuk menjelaskan padanya. Jika dia cinta sama aku, maka dia sendiri yang mencari tahu tentang foto itu."
Kimberly menatap wajah cantik ibunya. Dan jangan lupa senyuman manis yang tercetak di bibirnya. Senyuman tersebut bukan senyuman palsu, melainkan Kimberly benar-benar memberikan senyuman itu pada ibunya.
"Mommy tidak perlu khawatir masalah aku jika bertemu Tommy di sekolah. Aku sudah banyak belajar dari kegagalan pertamaku. Apalagi Mommy dan Daddy pernah bilang padaku jangan sekali-kali kita perempuan yang mengejar cinta laki-laki. Buat kita yang sebagai perempuan yang dikejar cintanya."
"Mommy bangga sama kamu. Mommy akan berdoa untuk kamu agar masalah kamu dengan Tommy cepat selesai. Dan hubungan kalian kembali membaik."
"Terima kasih, Mom!"
"Sama-sama, Sayang!"
***
Tommy saat ini bersama anggota keluarganya di ruang tengah. Setelah selesai sarapan pagi, mereka menyempatkan beberapa menit untuk berkumpul di ruang tengah.
Andrean, Lusiana, Arka, Sovia, Salsa dan Tama sudah mengetahui perihal permasalahan yang dihadapi Tommy dan Kimberly. Bukan masalah berat, melainkan rencana Tommy yang ingin membuat Antoni benar-benar pergi menjauh dari kehidupan Kimberly.
"Apa rencana kamu selanjutnya, Tommy?" tanya Arka.
"Yang jelas aku akan membuat bajingan itu hancur sehingga dia tidak bisa mengganggu Kimberly lagi," ucap Tommy dengan raut wajah kentara dengan kemarahan.
"Coba pada saat itu ketika dia ketahuan mencoba merenggut kehormatan Kimberly di dalam gudang kau langsung menghabisi nyawanya. Kemungkinan besar dia tidak akan menggangu Kimberly lagi." Sovia berucap dengan sangat kejamnya.
Sovia tak jauh beda sifat kejamnya dengan kedua saudara laki-laki yaitu Arka dan Tommy. Jika ada orang-orang yang mengusik orang-orang terdekatnya, bagi Sovia tidak ada kata maaf darinya. Dia akan semakin kejam jika ada yang mengkhianatinya.
"Itu dia penyesalan terbesarku, kak! Jika saat itu aku dan Andhika membunuhnya, maka aku tidak akan melakukan rencana gila ini."
"Hari ini kamu sekolah? Begitu juga dengan Kimberly. Pasti kalian bertemu. Apa yang akan kamu lakukan ketika bertemu dengan Kimberly?" tanya Salsa.
"Aku tidak tahu, kak! Aku bingung sekarang. Ini hanya pura-pura. Sementara Kimberly berpikir bahwa aku sama bejatnya dengan Antoni yang tak mempercayai dirinya."
Puk..
Andrean seketika menepuk pelan bahu putra keempatnya. Dirinya paham dan mengerti akan masalah yang dihadapi putranya itu.
"Jika ini sudah menjadi rencanamu. Lanjutkan sampai selesai. Buat bajingan itu tidak lagi mengganggu Kimberly. Masalah Kimberly kamu lupakan dulu. Dia tidak sendirian, ada sahabat-sahabatnya dan ada sepupu-sepupunya di sekolah. Mereka pasti akan menjaga Kimberly dan membuat Kimberly tersenyum sekali pun tanpa kamu, walau di hati kecilnya Papi sangat yakin jika Kimberly butuh kamu."
"Apa yang dikatakan Papi itu benar, Tom! Selesaikan dulu rencana kamu tersebut!" seru Andhika yang tiba-tiba datang dan melangkah menuju ruang tengah.
"Andhika/kakak Andhika!" seru mereka semua bersamaan.
Andhika menatap wajah Tommy. "Masalah Kimberly kamu tidak perlu khawatir. Aku akan bantu kamu dengan mengajak Kimberly bicara. Aku akan menjadi perantara kamu. Jika nanti Kimberly sedih akan sikap kamu. Aku akan jelaskan bahwa kamu hanya manusia biasa, bukan Tuhan. Setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Intinya! Aku akan buat Kimberly tidak salah paham sama kamu, walau dia kecewa tentang sikap kamu akan foto itu."
"Kamu cukup fokus sama rencana kamu," ucap Andhika lagi.
"Hm." Tommy berdehem sebagai jawabannya sambil menganggukkan kepalanya.