THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Sosok Kimmy



Semuanya telah berkumpul di meja makan untuk sarapan pagi termasuk Kimberly. Sarapan pagi kali sangat berbeda. Tidak ada candaan dan kejahilan.


Uggy sudah menceritakan apa yang terjadi pada adiknya kepada kedua orang tuanya dan ketiga saudaranya.


Ketika mendengar cerita dari Uggy membuat Jason, Enda dan Riyan marah. Namun setelah mengetahui kebenaran dari kedua orang tuanya membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan antara marah, bahagia dan rasa syukur.


"Kimberly sayang," panggil Fathir lembut.


Sementara yang dipanggil tidak memberikan reaksi apapun. Orangnya ada di hadapan mereka. Tapi pikirannya melayang ntah kemana.


Melihat tidak ada kebahagiaan di tatapan mata putrinya membuat hati Fathir dan Nashita sedih. Begitu juga dengan Jason, Uggy, Enda dan Riyan.


Enda yang kebetulan memang duduk di samping adiknya seketika mengusap lembut kepala adiknya. Dan hal itu berhasil membuat Kimberly mengalihkan perhatiannya.


Ketika adiknya melihat kearahnya. Enda tersenyum. Tangannya masih berada di kepala Kimberly.


"Ada apa hum?"


Kimberly menggelengkan kepalanya sebagai jawabannya dan sedikit senyuman.


Baik Enda maupun yang lainnya sangat mengerti perasaan Kimberly. Mereka juga kasihan dan tidak tega melihat kesedihan dan kekecewaan di mata Kimberly.


"Sekarang habiskan sarapannya. Nanti Kakak yang akan antar kamu ke sekolah," ucap Enda.


Kimberly mengangguk lalu kembali memakan sarapan paginya.


***


Kimberly sudah berada di sekolahnya. Sesuai perkataan dari kakaknya Enda. Kimberly diantar ke sekolah oleh Enda.


Selama di dalam perjalanan. Kimberly hanya diam dan tidak banyak bicara. Melihat adiknya yang sama sekali tidak mau bicara dan tersenyum membuat hati Enda sakit.


Kimberly duduk di lobi sendirian. Pagi ini Kimberly ingin sendirian. Dirinya tidak ingin diganggu.


FLASHBACK ON


Kimberly menatap aneh Tommy. Di dalam hatinya berkata 'kenapa Tommy berbohong'. Kimberly menatap Kimberly tanpa ekspresi sama sekali. Ekspresi wajahnya dingin dan datar. Billy, Aryan dan Triny bisa merasakan aura-aura yang tidak enak dari wajah dingin dan datar Kimberly.


Sementara Tommy yang merasa bahwa Kimberly menatapnya bersikap biasa saja.


"Oh iya! Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian, terutama kamu Kimberly." Tommy berbicara dengan menatap wajah Kimberly dengan tatapan biasa.


"Kimberly. Sebelumnya aku mau minta maaf padamu. Sepertinya hubungan kita tidak bisa diteruskan. Kita akhiri saja sampai disini."


Mendengar perkataan dari Tommy sontak membuat Kimberly, keempat sahabatnya, Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya terkejut. Tidak ada angin dan tidak ada hujan. Bahkan hubungan keduanya beberapa bulan ini baik-baik saja. Tiba-tiba Tommy ingin mengakhiri hubungan tersebut.


Billy menatap marah kearah Tommy. "Tommy. Apa-apaan ini? Apa maksud semua ini?"


"Maafkan aku Billy. Seperti yang aku katakan barusan. Aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Kimberly."


"Kau...," tunjuk Billy kearah Tommy.


"Billy," ucap Kimberly dengan menggelengkan kepalanya.


Kimberly menatap wajah Tommy dengan tatapan kekecewaannya.


"Apa alasan kamu ingin mengakhiri hubungan ini?" tanya Kimberly.


"Tidak ada alasan untuk mengakhiri hubungan ini Kimberly. Hanya saja aku benar-benar meras bosan denganmu. Jadi aku memilih untuk mengakhirinya."


"Kau mengakhiri hubungan ini karena anak baru itukan!"


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua terkejut. Mereka mengerti dan paham arti dari Kimberly mengatakan 'anak baru'.


"Oh. Jadi kau sudah tahu jika aku sudah menjalin hubungan dengannya?" tanya Tommy.


"Jadi beneran kau dan Gracia udah jadian?" tanya Catharine dengan menatap tak percaya kearah Tommy.


"Ya. Seperti itulah. Aku dan Gracia sudah tiga hari jadian. Aku sengaja menyembunyikannya dari kalian, terutama dari Kimberly. Aku hanya ingin mencari waktu yang tepat untuk memberitahu hubunganku dengan Gracia."


"Hei," sapa Gracia yang tiba-tiba datang menghampiri mereka semua.


"Ach! Kebetulan kamu datang sayang." Tommy menarik pinggang ramping Gracia, lalu menariknya ke pelukannya.


"Ini pacarku mulai sekarang," ucap Tommy.


"Hei, Kimberly. Maaf ya kalau Tommy sampai rela mutusin kamu hanya demi mendapatkan aku," ucap Gracia.


Kimberly menatap tajam kearah Tommy dan Gracia. Dirinya benar-benar jijik melihat kedua manusia yang saat ini berdiri di hadapannya.


Kimberly menangis ketika berbicara dengan Tommy. Dirinya benar-benar hancur saat ini. Apa yang ditakutinya selama ini terbukti. Dirinya kembali terluka untuk yang kedua kalinya.


Triny merangkul Kimberly dan memberikan ketenangan pada adiknya. "Lo benar-benar brengsek Tommy. Gue pikir lo laki-laki yang baik. Gue pikir lo beneran cinta sama adek gue. Tapi... Tapi lo sama seperti Antoni."


"Selamat saudara Tommy, saudari Gracia atas hubungan kalian. Semoga kalian bahagia sampai kalian menikah. Dan semoga gak ada pengganggu dalam hubungan kalian."


Kimberly melepaskan cincin yang dibelikan oleh Tommy saat di mall itu. Setelah cincin itu terlepas. Kimberly melemparkan cincin itu tepat ke wajah Tommy.


"Ini aku kembalikan," ucap Kimberly dengan nada ketusnya. Tommy menangkap cincin itu.


"Terima kasih untuk beberapa bulan ini bersamaku."


Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan mereka semua dengan hati yang benar-benar hancur. Kimberly gagal untuk yang kedua kalinya. Tangis Kimberly akhirnya pecah. Kimberly berlari sambil menangis.


FLASHBACK OFF


Setelah mengingat kejadian kemarin membuat Kimberly kembali merasakan sesak di dadanya. Dirinya tidak menyangka jika Tommy sama seperti Antoni. Sama-sama menyakiti perasaannya.


"Kenapa Tommy? Kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku? Apa salah aku?"


"Aku benci kamu Tommy. Aku benci kamu. Jangan harap aku bakal balik lagi sama kamu jika kamu menyesal. Aku gak akan pernah mau balik lagi sama kamu."


Ketika Kimberly sedang bersedih. Ditempat yang sama, di ruang yang sama. Hanya beda tempat duduknya. Seseorang yang sedari memperhatikannya dan juga mendengar kekecewaannya merasakan sesak di dada. Orang itu menangis ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Kim," lirih orang itu.


Setelah beberapa jam di lobi cafe. Kimberly memutuskan untuk pergi ke kelasnya.


***


Kimberly sudah berada di kelasnya. Ketika Kimberly berada di kelasnya. Keempat sahabatnya menyambutnya dengan baik. Mereka berusaha memberikan ketenangan dan kenyamanan untuk Kimberly.


Namun usaha mereka gagal. Kimberly sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dirinya baik-baik saja.


Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tidak tahu jika yang berada di hadapan mereka bukan Kimberly melainkan sosok Kimmy.


Sosok yang ada di dalam tubuh Kimberly sudah mengambil alih tubuh Kimberly. Jadi yang bersama mereka bukan Kimberly tapi Kimmy.


"Bisa tinggalkan aku. Jangan menggangguku."


DEG!


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catharine terkejut. Bahkan yang membuat mereka lebih terkejut lagi adalah ketika mendengar nada bicara dan suara Kimberly yang jauh berbeda. Dan mereka pun akhirnya paham jika yang ada di hadapan mereka saat ini bukanlah Kimberly melainkan sosok itu.


"Maafkan kami. Kami disini hanya untuk menemani dan menghibur Kimberly," ucap Catharine.


"Kimberly tidak butuh siapa-siapa. Kimberly tidak butuh kalian, Kimberly tidak butuh ketiga sepupunya selama di sekolah. Aku yang akan menjaga Kimberly selama di sekolah. Aku akan melindungi Kimberly dari perempuan murahan itu."


Mendengar perkataan dari sosok itu membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catharine paham. Mereka bisa melihat dari manik mata Kimberly tersirat amarah yang membuncah.


"Ta-tapi...," ucapan Santy terpotong.


"Kalian tidak perlu khawatir. Aku tidak akan menyakiti Kimberly. Seperti yang aku katakan barusan. Aku akan menjaga dan melindungi Kimberly. Percayakan Kimberly padaku."


Rere, Santy, Sinthia dan Catharine hanya bisa pasrah dan menurut akan keinginan sosok itu. Mereka sangat yakin jika ada sosok itu, Kimberly akan baik-baik saja.


"Baiklah," jawab Rere, Santy, Sinthia dan Catharine bersamaan.


"Tolong jaga Kimberly," mohon Sinthia.


"Pasti."


"Kami manggil kamu apa?" tanya Rere.


"Panggil aku Kimmy."


"Kimmy!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catharine bersamaan.


"Nama yang bagus," ucap Santy.


"Terima kasih."


Setelah itu, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine kembali duduk di kursi mereka masing-masing.


Sementara teman-teman sekelasnya yang sedari memperhatikan dan mendengar percakapan antara Rere, Santy, Sinthia,Catharine dan Kimberly menatap aneh dan juga bingung. Tapi mereka tidak ada yang berani untuk bertanya.