THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Terbangun Dimalam Hari



Setelah selesai makan malam bersama lengkap dengan keempat sahabatnya yaitu Rere, Cathrine, Santy dan Sinthia. Ketiga sepupunya yaitu Billy, Triny dan Aryan. Para sahabat-sahabatnya Triny, Aryan, dan Billy yaitu Tommy selaku kekasih Kimberly, Andhika selaku kekasihnya Triny, Henry, Lionel, Satya, Ivan, Andry, Mirza, Nathan, Lisa, Alisha, Dania dan Danela memutuskan pamit pulang ke rumah masing-masing, termasuk Billy, Aryan dan Triny.


Nashita dan Fathir sudah meminta kepada ketiga keponakannya untuk menginap. Namun ketiga keponakannya itu tetap memilih pulang dengan alasan tidak membawa perlengkapan sekolah dan seragam sekolah untuk besok.


Setelah ketiga sepupunya, keempat sahabatnya dan para sahabat dari ketiga sepupunya pulang. Kimberly pun langsung pergi ke kamarnya di lantai dua. Setelah tiba di kamarnya Kimberly mempersiapkan perlengkapan sekolahnya untuk besok.


Setelah selesai mempersiapkan perlengkapan sekolahnya. Kimberly menuju meja riasnya dan duduk disana. Kimberly berniat untuk mengubah penampilan warna rambutnya. Warna rambutnya sekarang adalah rainbow. Kimberly berniat mengubah warna rambutnya menjadi color full.


Selesai dengan masalah rambutnya. Kimberly pun memutuskan naik ke atas tempat tidurnya dan mulai menjelajahi alam mimpinya.


Sekitar pukul 12 malam. Kimberly tiba-tiba terbangun. Kimberly terbangun karena merasa haus. Tangannya pun meraba-raba diatas meja di samping tempat tidurnya untuk meraih gelas yang berisi air.


Ketika mendapati gelas tersebut. Ternyata isi gelasnya sudah kosong. Melihat gelasnya yang kosong. Kimberly pun bangun dari tidurnya. Dan mau tidak mau Kimberly pun harus pergi menuju lantai bawah guna mengambil air minum.


Kimberly melangkahkan kakinya menuruni anak tangga untuk menuju arah dapur.


Setiba di dapur, Kimberly langsung menuju kulkas. Setelah itu, Kimberly langsung membuka pintu kulkas dan mengambil sebotol air minum, lalu menuangkannya ke dalam gelas yang di pegangnya. Setelah gelas terisi penuh, Kimberly langsung meneguk habis isinya tanpa sisa.


"Ach, segarnya!"


Kimberly memasukkan kembali botol air itu ke dalam kulkas. Ketika Kimberly ingin menutup pintu kulkas, tiba-tiba dirinya terkejut akan ulah Riyan, kakaknya yang telah berdiri tepat di samping kulkas sehingga tanpa sadar Kimberly mengeluarkan kata-kata umpatannya.


"Setan, monyet, sialan, kampret!"


Riyan yang mendengar kata-kata manis dari adiknya seketika membelalakkan matanya. Dan jangan lupa mulutnya yang sudah berbentuk o.


Beberapa detik kemudian....


"Hehehehe. Kak Iyan."


Kimberly melihat kakaknya yang berdiri dengan wajah laparnya.


"Bagus ya. Udah berani ngatain kakak. Awas aja. Kakak aduin sama Mommy dan Daddy."


"Ih, Kakak!Jangan dong! Aku kan gak sengaja. Kan kakak sendiri yang salah. Kakak yang ngagetin aku." Kimberly berucap dengan bibir yang dimanyunkan.


"Lah. Kakak kan gak ngapa-ngapain. Kakak hanya diam disini. Dan kakak tidak ngagetin kamu sama sekali," elak Riyan.


"Ih, kakak! Kakak tuh ya. Sudah salah pake ngeyel lagi. Kakak memang gak ngagetin aku langsung. Tapi kakak itu berdiri di samping kulkas diam-diam tanpa sepengetahuan aku. Jadi saat aku mau menutup pintu kulkasnya. Otomatis aku kaget lihat kakak."


Setelah mengatakan itu, Kimberly melangkah menuju meja makan dan duduk disana. Melihat adiknya duduk dimeja makan. Riyan pun mengikutinya, lalu menduduki pantatnya di kursi.


"Kak Iyan ngapain malam-malam begini ke dapur?" tanya Kimberly menatap penasaran kakaknya itu.


"Kakak lapar Kim... Hehehehe!" sahut Riyan disertai kekehannya.


"Kalau kakak lapar ya makanlah. Kenapa tadi malah bengong dan pake berdiri di samping kulkas segala?"


"Bagaimana kakak mau makan. Semua makanan sudah pada habis. Dan kakak juga bingung mau makan apa."


Mendengar jawaban dari kakak keempatnya membuat Kimberly kasihan. Kimberly kemudian berpikir ingin memasak apa untuk kakaknya.


Selang beberapa detik. Kimberly pun mendapatkan ide.


"Kak," panggil Kimberly.


"Ada apa?"


"Bagaimana kalau aku bikin telur kepala sapi?" tanya Kimberly.


Riyan menatap cengo Kimberly. "Telur kepala sapi. Emang ada ya nama makanan itu," batin Riyan


Melihat kakaknya yang menatapnya aneh membuat Kimberly bingung.


"Kak," panggil Kimberly.


"Kim! Apa kamu gak salah ngomong ya mau masak telur kepala sapi?" tanya Riyan.


"Iya. Memangnya kenapa? Kak Iyan gak suka?" tanya Kimberly balik.


"Oh, adekku sayang yang cantik dan juga manis. Bukan telur kepala sapi sayang. Tapi telur mata sapi."


"Hehehehe. Salah ya?"


"Hah!" Riyan hanya menghela nafasnya sembari menepuk jidatnya. Sementara Kimberly tersenyum.


"Bagaimana tawaran aku tadi Kak? Mau tidak?"


"Kalau aku gak bisa masaknya. Kenapa aku pake nawarin kakak segala?"


"Baiklah... Baiklah! Sekarang silahkan buatkan untuk Kakak."


"Oce!"


Kimberly langsung berdiri dari duduknya dan bersiap-siap untuk membuat telur mata sapi untuk kakaknya.


Kimberly kembali membuka pintu kulkas dan mencari telur disana. Ketika melihat ada empat butir telur di pintu kulkas membuat Kimberly tersenyum lebar.


Kimberly mengambil keempat telur itu. Setelah mendapatkan telur itu. Kimberly pun memulai aksinya. Sementara Riyan di meja sembari menunggu telur mata sapi buatan adik perempuannya dan tak lupa senyuman manis melihat adiknya yang begitu semangat membuatkan telur mata sapi untuknya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya telur mata sapi buatan Kimberly pun selesai. Dan Kimberly pun menghidangkannya di atas meja.


"Kak, kebetulan nasinya masih ada. Ini." Kimberly membawa dua piring nasi dan meletakkannya di atas meja.


Riyan mengambil dua potong telur mata sapi dan memasukkannya ke dalam piring yang berisi nasi. Setelah itu, piring tersebut diberikan kepada adik perempuannya.


"Ini untuk kamu."


Sisa dua telur lagi. Dua telur itu dimasukkan ke piring nasi yang satunya.


"Nah, ini untuk kakak!"


Setelah selesai pembagian. Keduanya pun mulai menyantapnya.


"Asin gak telurnya kak?"


"Tidak. Ini pas. Adek kakak pintar masaknya."


"Terima kasih."


"Sama-sama."


Setelah selesai menghabiskan makanannya. Kimberly yang kekenyangan matanya pun mengantuk. Dan seketika Kimberly langsung tertidur di atas meja dengan tangan kirinya sebagai tumpuan untuk kepalanya.


Melihat adiknya yang sudah tertidur. Riyan menghampiri adiknya, lalu menggendong tubuh adiknya dan membawanya menuju kamarnya.


Setelah tiba di dalam kamar adiknya. Riyan langsung membaringkan secara berlahan tubuh adiknya di atas tempat tidurnya agar adiknya tidak bangun.


Setelah membaringkan tubuh adiknya di atas tempat tidurnya. Riyan pun menyelimuti tubuh adiknya sebatas bahunya.


Riyan tersenyum ketika menatap wajah damai adiknya ketika tidur. Tangannya mengusap lembut rambut adiknya dan tak lupa mengecup sayang keningnya.


"Selamat tidur adik kakak yang paling cantik. Terima kasih telur mata sapi nya sayang."


Setelah puas menatap wajah cantik, manis, imut dan menggemaskan adiknya. Riyan pun memutuskan pergi meninggalkan kamar adiknya untuk menuju kamarnya.


Sesampainya di kamarnya, Riyan pun langsung menidurkan tubuhnya di tempat tidurnya dan langsung memejamkan matanya.


***


Keesokkan paginya, Nashita terlebih dahulu bangun paginya. Seperti biasa, sebelum berangkat ke kantor. Nashita menyempat waktunya untuk menyiapkan sarapan pagi untuk kelima anak-anaknya dan juga suaminya.


Ketika Nashita tiba di dapur. Nashita menatap keadaan dapur yang berantakan, terutama bagian lantai dan di atas meja.


Di atas meja terlihat tiga piring. Dua piring makan dan satu piring kecil. Serta dua gelas. Sementara di lantai terlihat beberapa kulit telur yang berserakan.


"Astaga! Ini siapa yang sudah berpesta tadi malam? Eemmm... Pasti ini kerajaannya Enda atau Riyan. Mereka berdua itu kalau laparnya kambuh di malam hari. Pasti ujung-ujungnya dapur akan menjadi korban," ucap Nashita.


"Bibi," panggil Nashita. Tak butuh lama, sang pelayan pun datang.


"Iya, Nyonya! Ada ap..." pelayan itu seketika melotot saat melihat keadaan dapur. "Astaga, Nyonya! Ini..."


Nashita tersenyum. "Ini pasti ulah anak-anak. Ya, sudah! Bibi tolong bersihkan ya. Saya akan menyiapkan sarapan untuk suami dan anak-anak saya dulu."


"Baik, nyonya!"


Pelayan itu pun langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Nashita. Sementara Nashita pun memulai memasak sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya.


Setelah berperang selama 30 menit. Nashita pun selesai memasak sarapan pagi untuk suami dan anak-anaknya. Dan semua masakannya itu pun juga sudah tertata rapi di atas meja.


Beberapa menit kemudian, semuanya telah berkumpul di meja makan. Dan mereka semua pun bersiap-siap untuk memulai sarapan paginya.