
Kimberly dan keempat sahabatnya yaitu Rere, Sinthia, Catharine dan Santy kini berada lapangan luas yang biasa tempat murid-murid bermain basket. Di lapangan itu tersedia bangku dan meja untuk mereka duduk santai disana.
Mereka saat ini tengah membahas tentang murid laki-laki yang baru dua hari bersekolah di sekolah mereka.
"Kim. Apa yang harus kita lakukan jika cowok kampret itu mengganggu kita lagi?" tanya Santy.
"Iya, Kim! Apa yang harus kita lakuin?" tanya Sinthia.
Kimberly menatap wajah Santy dan Sinthia. Kimberly dapat melihat wajah enek, wajah tak suka terhadap para cowok-cowok tengil itu.
"Lakukan menurut kalian benar. Kalian kan udah aku ajari teknik bela diri. Bahkan kalian sudah pernah mempraktekkannya ketika melawan preman saat itu," ucap Kimberly.
FLASHBACK ON
Kimberly, Rere, Catharine, Santy dan Sinthia dalam perjalanan menuju mall. Mereka berlima berencana untuk berbelanja sepuasnya disana.
Satu setengah jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di mall tersebut. Sesampainya mereka di mall. Mereka memarkirkan mobilnya di parkiran. Mereka hanya membawa dua mobil. Kimberly bersama Catharine. Sementara Sinthia, Santy dan Rere satu mobil.
Setelah Catharine dan Rere memarkirkan mobilnya. Mereka pun keluar dari dalam mobil. Dan mereka pun langsung bergegas menyusuri area mall.
Kini Kimberly dan keempat sahabatnya sudah berada di dalam mall. Mereka melangkahkan kaki di dalam mall diselangi dengan canda tawa mereka.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya berjalan menyusuri setiap tempat yang ada di dalam mall. Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Orang-orang yang memperhatikan Kimberly dan keempat sahabatnya menatap kagum akan kecantikan yang dimiliki oleh Kimberly dan keempat sahabatnya. Bahkan ada yang menatap mereka dengan tatapan bahagia melihat kekompakan Kimberly dan keempat sahabatnya.
Kimberly dan keempat sahabatnya yang memang menyadari tengah menjadi pusat perhatian hanya bersikap acuh dan cuek. Mereka tetap fokus dengan kegiatan mereka yaitu memilih-milih barang-barang yang akan mereka beli.
Setelah berkeliling selama dua jam. Mereka pun mendapatkan banyak barang. Setelah merasa puas dengan hasil barang-barang yang mereka dapatkan. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke kasir.
Beberapa menit kemudian, semua barang-barang belanjaan telah selesai mereka bayar. Dan setelah itu, mereka pun memutuskan untuk pulang. Baik Kimberly, Rere maupun Santy, Sinthia dan Catharine menjinjing masing-masing sepuluh paper bag. Lima di tangan kiri dan Lima di tangan kanan.
Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tiba di luar, tiba-tiba ada tujuh laki-laki yang mencegat mereka. Kejadian itu disaksikan oleh para pengunjung mall yang tengah berlalu lalang.
"Hallo, cantik!" seru salah satu laki-laki itu.
"Minggir!" bentak Kimberly.
"Hei, cantik! Jangan galak-galak dong manis," ucap laki-laki yang lainnya.
Laki-laki itu hendak menyentuh wajah Kimberly. Namun dengan gesitnya, Kimberly menendang tepat di masa depan laki-laki.
DUUAAGGHH!
"Aaakkhhh!" laki-laki itu berteriak memegang masa depannya sambil melompat-lompat.
Rere, Santy, Sinthia dan Catharine tersenyum mengejek. Sementara para pengunjung yang melihat kejadian itu menatap takjub dan kagum akan keberanian Kimberly.
Sementara enam laki-laki lainnya yang melihat temannya kesakitan menjadi marah. Keenam nya melihat kearah Kimberly dan juga keempat sahabat Kimberly.
"Beraninya kau menyakiti teman kami, hah!" bentak laki-laki yang berstatus sebagai ketua.
"Tentu aku berani. Buktinya barusan aku melakukan hal itu kepada teman bancimu," sahut Kimberly.
Laki-laki itu marah ketika mendengar perkataan dari Kimberly. Begitu kelima rekannya.
"Brengsek!" laki-laki itu marah. "Serang mereka!" perintah laki-laki itu.
Dan akhirnya terjadilah perkelahian tujuh lawan empat. Empat wanita dan tujuh laki-laki. Banci bukan?
BUGH! DUAGH!
BAGH! DUAGH!
BRUUKK! BRUUKK!
Ketujuh preman-preman itu terkapar di tanah akibat pukulan dan tendang tak main-main dari Kimberly dan keempat sahabatnya. Wajah ketujuh preman-preman itu babak belur.
Melihat kejadian itu membuat semua penghuni mall yang menyaksikan langsung kejadian tersebut lagi-lagi dibuat kagum akan keberanian Kimberly dan keempat sahabatnya. Dan dengan kompak dan bersamaan semua penghuni mall itu bertepuk tangan.
Mendengar suara tepuk tangan dari para pengunjung mall membuat Kimberly dan keempat sahabatnya terkejut. Kimberly dan keempat sahabatnya langsung melihat kearah para pengunjung mall. Dapat mereka lihat, para pengunjung mall tersenyum sembari mengangkat dua jempol mereka ke udara menandakan bahwa mereka semua memuji keberaniannya.
Dengan kompak pula, Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum sembari membungkukkan sedikit badannya.
Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya langsung pergi menuju mobil. Mereka ingin segera pulang ke rumah.
FLASHBACK OFF
Setelah mengingat kejadian ketika pulang dari mall membuat mereka semua kembali tersenyum. Dan mereka sedikit melupakan kejadian kemarin dimana mereka diganggu oleh lima dari sepuluh murid baru di kelasnya.
Melihat wajah tenang dari keempat sahabatnya membuat Kimberly juga ikut senang dan juga bernafas lega.
Disini bukan keempat sahabatnya saja yang takut jika murid baru itu kembali mengganggu mereka. Kimberly juga merasakan hal yang sama.
Untuk Kimberly sendiri. Kimberly sama sekali tidak takut dengan kelima teman barunya itu. Kimberly masih bisa melawan mereka. Disini yang Kimberly takutkan adalah keempat sahabatnya.
Walau Kimberly sudah mengajari bela diri kepada keempat sahabatnya, namun Kimberly tetap saja takut jika terjadi sesuatu terhadap sahabat-sahabatnya itu.
Ketika Kimberly, Rere, Sinthia, Santy dan Catharine sedang sibuk dengan dunia mereka. Tanpa disadari, para kekasih dan ketiga sepupu Kimberly dan sahabatnya tengah memperhatikan mereka sejak tadi. Bahkan mereka juga mendengar pembicaraan Kimberly dan keempat sahabatnya.
Setelah puas menatap, memperhatikan dan mendengar pembicaraan Kimberly dan keempat sahabatnya itu. Billy, Tommy, Aryan, Triny dan yang lainnya memutuskan untuk menghampiri meja Kimberly dan keempat sahabatnya.
GREP!
Billy, Tommy, Lionel, Henry dan Satya langsung memeluk tubuh kekasih mereka masing-masing dari belakang. Mereka tahu jika saat ini hati kekasih mereka sedang galau. Bukan hanya pelukan. Mereka juga memberikan kecupan di pucuk kepala kekasihnya.
Mendapatkan pelukan tiba-tiba dari kekasih mereka masing-masing membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catharine terkejut. Namun detik kemudian, terukir senyuman manis di bibir mereka masing-masing.
Setelah puas memeluk kekasihnya. Billy, Tommy, Lionel, Henry dan Satya pun melepaskan pelukannya, lalu menduduki pantatnya di samping kekasihnya.
"Ada apa, hum?" tanya Tommy lembut sambil tangannya bermain-main di kepala belakang Kimberly.
"Apa kalian masih memikirkan kelima laki-laki jelek kemarin," ucap Satya dengan kejamnya.
"Sudahlah. Lupakan mereka. Tidak ada untungnya juga kalian memikirkan mereka," ujar Andry.
"Kami memang tidak ingin memikirkannya. Tapi bagaimana jika mereka terus mengganggu kami!" seru Santy.
"Bagaimana pun mereka itu sekelas dengan kami? Dan mau tidak mau kami akan selalu bertemu dengan mereka," ucap Sinthia.
"Apa memang begitu ya tradisinya?" tanya Catharine.
Mereka semua melihat kearah Catharine. Mereka semua bingung dengan pertanyaan dari Cathrine.
"Apa maksud kamu Catharine?" tanya Triny.
"Dua bulan yang lalu Talitha dan keempat sahabatnya menjadi murid baru di kelas kami. Awalnya kami berpikir Talitha dan keempat sahabatnya itu murid yang baik. Tadi pikiran kami salah. Hari pertama masuk sudah menunjukkan kelakuan buruknya kepada kami." Catharine berbicara dengan sorot mata yang memancarkan kekecewaan.
"Apa yang dikatakan Catharine benar?! Hari pertama sekolah Talitha dan keempat sahabatnya tidak pernah menunjukkan itikad baiknya, terutama pada kami!" seru Rere.
"Yang parahnya Talitha dan keempat sahabatnya bersatu denga kelompok Syafina untuk melawan kami. Dan yang menjadi sasaran empuknya adalah Kimberly," sahut Sinthia.
Mendengar perkataan Catharine, Rere dan Sinthia. Mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh ketiganya. Mereka kini tengah menatap Kimberly yang hanya diam tanpa bersuara sedari mereka datang.
Kimberly saat ini kembali memikirkan semua kejadian-kejadian yang dialami olehnya sejak pertama kali dirinya menginjakkan kaki di sekolah ini. Mulai Kimberly bertemu dengan Marco dan gengnya sehingga dirinya hampir ditampar oleh Marco. Bertemu dengan Ishana selaku kakak kelasnya ketika dipaksa ikut ospek sehingga berakhir sahabatnya Santy ditampar demi membelanya. Bahkan dirinya juga hampir mendapatkan tamparan kedua dari Ishana, walau dirinya berhasil ngelak. Diserang dengan kata kejam dan hinaan dari kelompok Syafina. Kedatangan murid baru yaitu Talitha dan keempat sahabatnya. Kelima murid baru itu bekerja sama dengan kelompok Syafina untuk membullynya dan keempat sahabat.
Berikutnya murid baru dari kelas X IPA 2 yang bernama Gracia Adity. Gadis itu juga menjadi musuhnya melalui kekasihnya Tommy. Dan sekarang datang lagi murid baru di kelasnya. Tapi bedanya murid baru itu laki-laki dan berjumlah lima orang. Tujuannya juga sama yaitu ingin menghancurkan kebersamaan Kimberly dan keempat sahabatnya dengan para kekasih-kekasih mereka.
"Kenapa jadi seperti ini? Kapan aku akan lepas dari masalah? Satu pergi, namun yang lain datang. Apa akan seperti ini selama aku sekolah disini? Kalau iya! Kapan aku akan merasakan ketenangan dan kenyamanan selama di sekolah?" batin Kimberly. Dan tanpa sadar, setetes air mata jatuh membasahi wajah cantiknya.
Mereka yang melihat Kimberly yang tiba-tiba menangis menjadi khawatir, terutama Billy, Aryan dan Triny.