THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Berusaha Menahan Emosi



Di kediaman Malachy terlihat seorang gadis sudah bersiap-siap dengan pakaian seragam sekolahnya. Gadis itu adalah Molly Malachy.


Molly sudah keluar dari rumah sakit akibat mendapatkan tendangan kuat dari Kimberly sehingga membuat perut Molly merasakan sakit luar biasa. Kini keadaannya jauh lebih baik.


Setelah selesai dengan urusannya, Molly pun langsung pergi meninggalkan kamarnya untuk menuju ruang makan di lantai bawah.


^^^


"Pagi Papa! Pagi Mama!" sapa Molly.


Mendengar sapaan dari putrinya membuat Radit dan Delina terkejut. Mereka menatap putrinya dari atas sampai bawah.


"Molly, kamu mau sekolah?"


"Yaelah, Ma! Apa Mama tidak lihat aku sudah rapi dengan pakaian seragam sekolahku," sahut Molly.


"Tapi..."


"Udah ya, Ma! Jangan buat mood aku buruk pagi ini. Sekali pun Mama dan Papa tidak izinkan aku ke sekolah. Aku akan tetap pergi sekolah. Aku masih belum menyerah untuk mendapatkan Tommy. Bagaimana pun caranya, Tommy harus jadi milik aku."


Setelah mengatakan itu, Molly langsung memasukkan satu potong nugget ke dalam mulutnya sembari tangan yang satunya menuangkan dua sendok nasi goreng ke piringnya.


Setelah merasa cukup. Molly pun segera memulai sarapannya tanpa mempedulikan tatapan mata kedua orang tuanya.


***


Di kediaman Shanley anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan termasuk Sheela. Sama halnya dengan Molly. Sheela juga memutuskan untuk sekolah hari ini dan melanjutkan memperjuangkan cintanya terhadap Andhika.


"Sheela, kamu yakin mau ke sekolah hari ini?" tanya Shireen.


"Yakin, Ma! Kenapa Mama nanya seperti itu?"


"Kamu benar-benar sekolah atau hanya untuk mengejar Andhika?" kini Farid yang bertanya kepada putrinya.


"Yakin, Pa! Kalau aku nggak yakin. Kenapa aku harus memakai seragam sekolah pagi ini?" jawab Sheela.


"Satu pesan Papa untuk kamu ketika kamu berada di sekolah. Berhenti untuk mengganggu Andhika. Seriuslah untuk sekolah. Jangan buat ulah lagi. Kali ini Papa tidak akan melakukan apapun untuk menolong kamu kalau kamu sampai melakukan hal-hal buruk lagi selama diluar rumah."


Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari ayahnya membuat Sheela terkejut. Kemudian Sheela menatap wajah ayahnya itu.


"Papa, kenapa bicara seperti itu?"


"Papa tidak main-main dengan ucapan Papa yang barusan. Ini adalah kesempatan terakhir kamu. Papa ingin kamu berubah."


Setelah mengatakan itu, Farid beranjak dari duduknya. Dirinya ingin segera berangkat ke kantor.


***


Kimberly sudah berada di sekolahnya. Saat ini Kimberly bersama dengan keempat sahabatnya di kantin.


Baik Kimberly, Rere, Santy maupun Sinthia dan Catherine memesan begitu banyak makanan dan minuman sehingga membuat para pengunjung kantin melongo melihat kearah mereka. Kimberly dan keempat sahabatnya makan begitu lahap tanpa memperdulikan tatapan teman-teman sekolahnya.


Ketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sedang menikmati sarapan paginya, tiba-tiba datang beberapa pengganggu sehingga membuat acara sarapannya terganggu. Mereka adalah Syafina, Vanessa, Jennie dan Aruna.


Dengan detik kemudian, Kimberly dan keempat sahabatnya berucap tanpa menatap lawan bicaranya.


"Kita nggak ada waktu buat ladenin kalian!"


"Jangan ganggu kita. Kita lagi makan."


"Lebih baik kalian pergi dari sini."


"Jika ingin makan. Cari tempat duduk yang lain. Disini sudah penuh."


"Jika ingin ribut dengan kita. Dipending aja dulu. Pokoknya jangan sekarang."


"Biarkan kita makan terlebih dahulu agar kita punya tenaga buat lawan kalian nanti."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membuat Syafina, Vanessa, Jennie dan Aruna mengepal kuat tangannya.


Syafina menatap tajam kearah Kimberly. Dirinya benar-benar sangat membenci Kimberly sejak pertama kali bertemu di sekolah ini. Apalagi keempat sahabatnya.


Kimberly yang sadar bahwa Syafina tengah menatap seketika melirik sekilas kearah Syafina dari sudut matanya.


Setelah itu, Kimberly kembali menatap sarapannya. Dirinya tidak ingin terlalu pusing dengan kehadiran Syafina dan ketiga teman-temannya.


Melihat reaksi Kimberly membuat Syafina makin menatap marah kearah Kimberly.


Detik kemudian, Syafina merampas minuman milik Kimberly dengan maksud hendak menumpahkan minuman itu ke kepala Kimberly.


Namun sayangnya, gerakannya itu sudah terlebih dulu terbaca oleh Kimberly. Kimberly dengan gerakan cepat menahan tangan Syafina dan merematnya kuat.


"Lo ngerti nggak apa yang gue dan keempat sahabat-sahabat gue omongin tadi? Pergi dari sini. Jangan ganggu kita. Kita lagi makan!"


Setelah mengatakan itu, Kimberly menghempaskan kuat tangan Syafina bersamaan dengan mendorong tubuh Syafina sehingga membuat Syafina terhuyung ke belakang.


"Lebih baik lo pergi dari sini. Ajak sekalian tiga kacung lo itu," usir Rere.


"Kita tidak ingin ribut sama kalian. Jadi, biarkan kami makan dengan tenang." Catherine berucap sembari menatap wajah Kimberly.


Catherine tahu bahwa saat ini Kimberly berusaha untuk menahan emosinya. Terbukti dengan Kimberly yang berusaha sabar menghadapi Syafina.


"Brengsek! Berani lo berdua sama gue, hah?!" bentak Syafina menatap Catherine dan Rere tajam.


"Lo dan sahabat-sahabat lo tuh nggak ada hak buat ngusir kita dari sini. Siapa pun berhak ada disini!" bentak Vanessa.


"Lo itu bodoh atau gimana sih? Ngerti bahasa manusia nggak? Gue minta lo dan teman-teman lo pergi dari sini bukan nyuruh lo pergi dari kantin ini," sahut Rere dengan menatap Syafina, Vanessa, Jennie dan Aruna sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Mendengar perkataan dari Rere membuat Vanessa menatap tajam kearah Rere. Dirinya tidak terima atas ucapan dari Rere tersebut.


Braakk..


Seketika Kimberly menggebrak meja dengan kerasnya bersamaan dirinya berdiri dari duduknya.


Kimberly membalikkan badannya lalu menatap nyalang kearah Syafina, Vanessa, Jennie dan Aruna.


"Bisa nggak lo dan ketiga teman lo ini pergi dari sini? Hari ini mood gue lagi nggak baik. Jangan sampai gue kelepasan bunuh lo dan ketiga teman lo disini."


Mendengar perkataan dari Kimberly seketika membuat Syafina, Vanessa, Jennie dan Aruna ketakutan. Apalagi ketika melihat tatapan mata Kimberly yang lain pada biasanya.


"Syaf, lebih baik kita pergi dari sini. Apa lo benaran ingin mati ditangan Kimberly," bisik Aruna di telinga Syafina.


Setelah itu, Syafina dan ketiga teman-temannya pergi meninggalkan kantin untuk menuju kelas.


Puk..


Catherine menepuk bahu Kimberly pelan sehingga membuat Kimberly menolehkan wajahnya kearah dirinya.


"Sabar, oke!"


"Gue sudah berusaha. Tapi jika saat ini dan detik ini para lampir itu masih disini. Gue nggak jamin para lampir itu selamat," jawab Kimberly.


"Buktinya para lampir itu pergi juga kan dari sini?" tanya Sinthia.


"Itu tandanya para lampir itu masih sayang nyawa," sela Santy.


"Nanti ketika di kelas kalau bertemu mereka lagi, usahakan sabar ya? Gue ada di samping lo." Catherine berucap lembut sembari tangannya mengusap lembut bahu Kimberly.


"Terima kasih."


"Your welcome."


"Lanjut makan!" seru Rere dan Sinthia bersamaan sembari melanjutkan makannya.


"Hahahaha!" Kimberly, Catherine dan Santy tertawa ketika mendengar ucapan dari Rere dan Sinthia.