THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Air Mata Sinthia Dan Satya



Keesokan harinya Sinthia berangkat ke sekolah seperti biasa. Dirinya sudah memutuskan untuk melupakan dan mengikhlaskan semuanya. Hidup harus terus berlanjut, pikir Sinthia.


Jadi dirinya harus bisa terus semangat.


Tak butuh lama, Sinthia pun tiba di sekolahnya. Setelah dirinya tiba di sekolah dan setelah memarkirkan mobilnya. Sinthia pun pergi menuju kelasnya.


Sesampainya di dalam kelas. Sinthia berjalan menuju keempat sahabatnya Kimberly, Rere, Santy dan Catherine.


"Kalian sudah datang dari tadi ya?" tanya Sinthia kepada keempat sahabatnya itu.


"Nggak. Kita baru beberapa menit yang lalu nyampenya," jawab Rere dan Santy bersamaan.


Setelah itu, Sinthia menduduki pantatnya di sebelah Rere. Dan mengeluarkan buku pelajaran matematika. Dan setelah itu, Sinthia mengerjakan soal-soal yang ada di buku itu.


Kimberly, Rere dan Santy yang melihat Sinthia mengeluarkan buku matematika seketika bingung.


"Sin," panggil Rere.


"Iya," jawab Sinthia.


"Lo belum ngerjain tugas matematika?" tanya Rere.


"Belum," jawab Sinthia yang tetap fokus menatap buku tulisnya.


"Lo ngapain aja di rumah? Kenapa nggak ngerjain tugas matematika nya?" tanya Catherine.


"Gue nggak bisa mikir karena otak gue lagi sakit. Sakit akan ulah cowok brengsek itu," jawab Sinthia dengan kejamnya. Sementara tatapan matanya masih menatap buku tulisnya dan tangannya masih mengerjakan soal-soal matematika itu.


Mendengar jawaban kejam dari Sinthia membuat Kimberly, Rere, Santy dan Catherine saling memberikan tatapan. Setelah itu, mereka menatap bersalah kearah Sinthia.


"Tapi itu soal-soal masih banyak, Sin! Sebentar lagi guru matematika datang. Apa bakal selesai?" ucap dan tanya Santy.


"Nggak tahu. Dan gue juga nggak peduli. Selesai atau nggak. Yang penting gue udah buat, walau nggak selesai."


"Kalau lo dihukum, bagaimana?" tanya Kimberly.


"Bodo amat. Kalau misalkan gue disuruh keluar. Gue dengan senang hati bakal keluar dari kelas ini."


Mendengar jawaban-jawaban tak mengenakkan dari Sinthia membuat hati mereka sakit. Mereka tidak menyangka jika Sinthia memberikan jawaban seperti itu.


Setelah Sinthia mengatakan itu, tiba-tiba guru matematika pun memasuki kelas. Dan otomatis semuanya langsung duduk tertib.


"Baiklah anak-anak. Sebelum pelajaran dimulai. Silahkan kumpulkan tugas kalian!"


Mendengar seruan dari guru matematika. Semua murid-murid pun berdiri dari duduknya dan berjalan membawa buku tugasnya ke depan.


"Sinthia!"


"I-iya pak!"


"Mana tugas matematika kamu?"


"Belum selesai Pak!"


"Kenapa belum selesai? Apa kamu tidak mengerjakannya di rumah?"


"Soal matematika yang bapak berikan terlalu susah. Saya sama sekali tidak bisa memahaminya. Dan ditambah lagi saya lagi banyak masalah. Masalah tersebut membuat otak saya makin tidak bisa mengerjakan soal-soal itu."


Mendengar jawaban dari Sinthia membuat guru matematika itu hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Begitu juga dengan keempat sahabatnya.


Tiba-tiba Sinthia berdiri dari duduknya dan hal itu membuat semuanya terkejut.


"Kamu kenapa berdiri?" tanya guru matematika itu.


"Jika bapak ingin mengusir saya dari kelas ini karena saya tidak mengerjakan tugas yang bapak berikan. Saya bersedia untuk keluar dari kelas ini."


Seketika guru matematika itu membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Sinthia. Begitu juga dengan Kimberly, Rere, Santy, Catherine dan teman-teman sekelasnya.


"Tapi bapak....."


"Saya akan tetap keluar. Bagaimana pun bapak harus bersikap adil kepada semua murid-murid bapak jika kedapatan tidak mengerjakan tugas."


Setelah mengatakan itu, Sinthia langsung pergi meninggalkan kelasnya. Bahkan Sinthia tidak mengindahkan panggilan dari keempat sahabatnya.


Sinthia saat ini benar-benar tidak fokus. Jika dirinya tetap berada di kelas. Kemungkinan pelajaran tersebut tidak akan masuk ke otaknya.


"Sinthia," lirih Kimberly, Rere, Santy dan Catherine bersamaan di dalam hati masing-masing.


^^^


Di tempat lain dimana Satya bersama dengan para sahabatnya berada di rooftop. Mereka berada disana karena Satya yang terlebih dahulu pergi kesana.


"Sudahlah. Jangan bersedih begitu. Ini cuma sebentar doang kok," hibur Tommy.


"Besok lo dan Sinthia bakar bersatu lagi," ucap Andhika yang juga ikut menghibur Satya.


Ting!


Billy langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya. Billy melihat nama 'Catherine' di pesan tersebut.


Billy membuka pesan tersebut. Dan setelah itu, Billy membaca pesan tersebut.


To : Catherine


Bil, Sinthia diluar. Dia tidak ikut pelajaran matematika saat ini. Sinthia kayaknya tertekan deh masalah hubungannya putus sama kak Satya.


Setelah membaca pesan dari Catherine. Billy kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Siapa?" tanya Ivan.


"Catherine," jawab Billy.


"Catherine kirim pesan apa sama lo, Bil?" tanya Satya.


"Catherine bilang jika Sinthia keluar meninggalkan pelajaran matematika. Catherine juga bilang jika Catherine tampak tertekan," jawab Billy.


Mendengar jawaban dari Billy membuat hati Satya sakit. Seketika Satya menangis.


Satya seketika berdiri dari duduknya. Dirinya hendak pergi meninggalkan rooftop dan ingin menemui Sinthia.


Namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Billy.


"Mau kemana?"


"Gue mau menemui Sinthia," jawab Satya.


"Tapi....." perkataan Tommy terpotong.


"Kalian tidak perlu khawatir. Masalah ini tetap aku rahasiakan. Sisa satu hari lagi. Sayang jika aku bocorkan," ujar Satya.


Mendengar perkataan dari Satya. Seketika terukir senyuman di bibir Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain.


Setelah mengatakan itu, Satya pun pergi meninggalkan rooftop untuk menemui Sinthia. Dan diikuti oleh sahabat-sahabatnya di belakang.


^^^


Sinthia saat ini tengah duduk sendirian di sebuah bangku yang ada di lapangan basket yang ada diluar. Pikirannya saat ini tertuju pada satu orang. Orang itu adalah Satya sang kekasihnya yang sekarang sudah menjadi mantan.


"Hiks," isak Sinthia.


"Kamu jahat kak Satya. Kamu janji sama aku kalau kamu nggak akan ninggalin aku. Tapi ternyata semua itu hanya kebohongan kamu saja kak."


"Mami, Papi, kakak Azzo, kakak Izak... Hiks." Sinthia makin terisak.


Sementara disisi lain, Satya merasakan sesak di dadanya ketika mendengar ucapan dan isakan dari Sinthia.


Saat ini Satya bersama para sahabatnya berdiri tak jauh dari taman dimana Sinthia berada. Mereka menatap sedih kearah Sinthia.


Setelah puas menatap kekasihnya, Satya memutuskan untuk menemui Sinthia sembari membawa air mineral.


Dan tanpa diduga-duga, Sinthia juga berdiri dari duduknya. Dirinya hendak kembali ke kelas.


Namun seketika langkahnya terhenti ketika berpapasan dengan laki-laki yang begitu dia cintai. Begitu juga dengan Satya. Satya juga berhenti.


Baik Sinthia maupun Satya saling memberikan tatapan masing-masing.


Beberapa menit kemudian, Sinthia ketika sadar bahwa dirinya berdiri di depan seperti laki-laki yang sudah menjadi mantannya.


"Maaf. Aku harus pergi."


Setelah itu, Sinthia pun kembali melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Satya.


Seketika langkahnya terhenti karena Satya berhasil mencekal pergelangan tangannya.


Sinthia terkejut, namun dirinya tidak berniat untuk membalikkan badannya.


"Lebih baik kakak lepaskan tanganku. Kita sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Jadi tolong jangan bersikap kurang ajar."


Sementara Satya masih memegang pergelangan tangan Sinthia. Dirinya tidak berniat untuk melepaskan tangan tersebut.


Dikarenakan Satya tidak juga melepaskan tangannya. Sinthia pun berinisiatif untuk melepaskan tangannya itu.


Sinthia dengan kuat menarik tangannya dari pegangan tangan Satya. Dengan sekali tarikan kuat, tangannya berhasil terlepas.


Setelah itu, Sinthia pun pergi meninggalkan Satya untuk menuju kelasnya.


Seketika air mata Satya menetes membasahi wajah tampannya ketika melihat kepergian Sinthia.


"Maafkan aku sayang. Tunggu sebentar lagi, oke! Aku akan menggantikan air mata kamu itu dengan kebahagiaan," batin Satya.