
[Sekolah]
Kimberly sudah berada di sekolah. Saat ini dia sedang melangkah menyusuri luasnya sekolah untuk menuju kelas.
Ketika Kimberly melangkahkan kakinya menuju kelas, tiba-tiba keempat sahabat-sahabatnya datang dan langsung memeluk tubuhnya.
"Kim!"
Grep..
Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendapatkan pelukan dari keempat sahabatnya.
Tanpa Kimberly ketahui bahwa tiga sepupunya bersama sahabat-sahabatnya kini tengah melihatnya bersama dengan keempat sahabatnya. Mereka tersenyum ketika melihat Kimberly yang tersenyum mendapatkan pelukan dari keempat sahabatnya.
"Kita ke kelas yuk!"
"Sejak tadi aku memang mau ke kelas. Kalian aja yang tiba-tiba aja datang dan menghalangi jalanku," ucap Kimberly kesal.
"Hehehehe." Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkekeh ketika mendengar ucapan dari Kimberly.
Setelah itu, mereka melangkahkan kakinya menuju kelas dengan raut bahagia di wajah masing-masing.
Seketika langkah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terhenti kala melihat sosok Tommy yang tengah melangkah untuk menuju kantin.
Kimberly menatap kearah Tommy. Begitu juga dengan Tommy. Keduanya saling memberikan tatapan masing-masing.
Detik kemudian..
Tommy membuang pandangannya kearah lain bersamaan dengan melanjutkan langkahnya.
Sreekk..
Kimberly seketika mencekal pergelangan tangan kanan Tommy sembari berucap dengan suara lirihnya.
"Tom-tommy."
Tommy melihat kearah tangan Kimberly yang memegang tangannya, lalu tatapan matanya menatap kearah wajah Kimberly.
Deg..
Tommy seketika terkejut ketika melihat Kimberly yang menangis.
"Kim," batin Tommy.
Hati Tommy benar-benar sakit ketika melihat wajah sedih Kimberly.
"Tommy, aku......."
Tommy seketika menyentak tangan Kimberly dari tangannya sehingga pegangan tangan Kimberly terlepas.
Tes..
Air mata Kimberly berlomba-lomba jatuh membasahi pipinya.
"Apa-apaan kamu, kak Tommy!" bentak Catherine.
Kemudian Catherine menatap wajah sedih Kimberly. "Kimberly, kita ke kelas. Jangan pedulikan laki-laki brengsek ini!"
Kimberly tidak bergeming. Dirinya masih setia menatap wajah Tommy dengan air matanya yang terus mengalir.
"Tommy... Hiks," isak Kimberly.
"Ayo, Kim!" Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung menarik tangan Kimberly dan membawanya ke kelas.
Tes..
Setelah kepergian Kimberly dan keempat sahabatnya, air mata Tommy mengalir deras. Tatapan matanya tak lepas menatap punggung Kimberly yang kian menjauh.
Andhika langsung berlari menghampiri sepupunya itu. Dan disusul oleh yang lainnya.
Puk..
Andhika menepuk pelan bahu Tommy ketika sudah berdiri di sampingnya.
Tommy menatap satu persatu sahabat-sahabatnya dan berakhir menatap Billy, Triny dan Aryan.
"Maafin gue," ucap Tommy lirih.
Puk..
Kini Billy yang menepuk bahu Tommy. Billy paham akan apa yang dirasakan oleh Tommy saat ini.
"Sejak awal gue nggak setuju dengan rencana lo karena itu akan buat lo dan Kimberly sama-sama tersiksa. Dan benar kan kata gue. Hati lo hancur ketika lo bersikap acuh dan tak peduli dengan Kimberly pasca foto itu," ucap Tommy.
"Dan gue selalu sepupunya Kimberly sama sekali tidak marah sama lo karena lo tidak bersungguh-sungguh melakukan hal itu kepada Kimberly," ucap Billy lagi.
"Kenapa tidak berhenti saja jika lo nggak sanggup, Tommy? tanya Andry.
"Berhenti lalu katakan yang sebenarnya kepada Kimberly," ucap Lionel.
^^^
[Kelas]
Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah di kelas. Mereka duduk di kursi masing-masing dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine memandangi Kimberly. Mereka tampak khawatir karena sejak tiba di kelas, Kimberly hanya diam saja.
"Kim, ngomong sesuatu kek. Jangan diam aja," ucap Santy.
"Berbagilah sama kita-kita," ucap Rere.
"Lo sama Tommy ada apa? Dan Tommy tadi kok kasar gitu sama lo," ucap Sinthia.
"Ada masalah ya?" tanya Catherine.
Disini Santy, Sinthia, Rere dan Catherine tidak mengetahui tentang Tommy yang berpura-pura ribut dengan Kimberly. Mereka tidak mengetahui tentang rencana Tommy untuk membalas perbuatan Antoni yang sudah berani menyentuh Kimberly.
Jadi, ketika Catherine marah kepada Tommy dimana Tommy yang bersikap kasar terhadap Kimberly murni dan bukan sedang berpura-pura marah.
"Kim, ayolah!" Catherine kembali bersuara.
Kimberly menatap keempat sahabatnya itu bergantian.
"Gue bertemu Antoni Ketika di kota Berlin!"
Seketika mata Rere, Santy, Sinthia dan Catherine membelalak sempurna ketika mendengar ucapan Kimberly yang mengatakan bahwa Kimberly bertemu dengan Antoni di Berlin.
"Lo serius?" tanya Rere.
Kimberly menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perempuan Rere.
"Apa yang terjadi?" tanya Sinthia.
"Apa dia masih gangguin lo?" tanya Santy.
"Sejak pertama kali bertemu dengan dia. Bajingan itu selalu ganggu gue tiap kali gue keluar rumah. Lebih tepatnya, dia selalu mengikuti gue kemana pun gue pergi."
"Cih!" ucap Santy.
"Dasar laki-laki busuk," ucap Sinthia.
"Laki-laki bejat," ucap Rere.
"Iblis," ucap Catherine.
"Pertemanan yang terakhir yang parah."
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menatap tepat di manik coklat Kimberly ketika mendengar ucapan Kimberly.
"Pasti terjadi sesuatu yang besar," ucap Catherine dan Santy bersama.
"Katakan, Kim!" seru Rere dan Sinthia.
"Aku mengunjungi sebuah Cafe yang mana Cafe itu adalah Cafe favoritku setiap aku datang ke kota Berlin. Bahkan pemilik dan manager Cafe itu sudah mengenalku dan keluarga Fidelyo. Aku duduk sendirian di kursi yang kebetulan berada di tengah-tengah karena hanya itu yang bagian kosong."
Mendengar ucapan Kimberly yang terakhir yang mana Kimberly mengatakan bahwa Antoni datang mengganggunya seketika membuat otak Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika Travelling.
"Pasti dia berbuat diluar pemikirannya."
"Dia pasti mengatakan kata-kata menjijikan untuk meluluhkan hati lo."
"Pasti dia mengatakan bahwa dia masih mencintai lo dan ingin menjalin hubungan lagi dengan lo."
"Dia pasti mengatakan bahwa lo wanita satu-satunya di hati lo."
Rere, Santy, Sinthia dan Catherine mengatakan kata-kata yang mana Antoni selalu mengatakan kata-kata tersebut.
Kimberly menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya itu yang kini juga menatap dirinya.
"Semua yang kalian katakan itu benar. Tapi ada yang lebih parah lagi dari pada kata-kata itu," ucap Kimberly.
"Apa?! Katakan! Buruan!" seru Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.
Flashback On
[Cafe]
Kimberly sedang menikmati hidangannya sembari menatap layar ponselnya.
Ketika sedang menikmati kesendiriannya, tiba-tiba Antoni datang dan mengganggu kenyamanan dan kebahagiaannya.
"Hei." sapa Antoni.
Mendengar sapaan dari laki-laki menjijikan menurutnya, Kimberly memiliki acuh dan tetap fokus dengan menatap layar ponselnya.
"Bagaimana kabar kamu sekarang, Kim? Lama tidak mendengar kabar darimu."
Hening..
Tidak ada balasan dari Kimberly sehingga membuat Antoni berusaha untuk sabar.
"Selain sekolah, apa kesibukan kamu sekarang?"
Hening..
Tetap sama. Kimberly hanya acuh dan cuek akan pertanyaan dari Kimberly. Dia lebih fokus pada layar ponselnya sembari menikmati minumannya.
Dan detik kemudian..
"Kim." Antoni berucap sembari memberanikan diri dengan tangannya menyentuh punggung tangan Kimberly.
Deg..
Seketika Kimberly terkejut ketika Antoni dengan lancang memegang tangannya.
Kimberly menatap tajam kearah Antoni. "Lepaskan tanganku!" bentak Kimberly.
"Ayolah, Kim! Aku mohon. Berikan kesempatan untukku."
"Lepaskan tanganku, Tuan Antoni Archard!" bentak Kimberly.
"Aku tidak akan melepaskan tanganmu sebelum kau kembali padaku, Kimberly!" Antoni menjawab perkataan dari Kimberly.
"Aku meminta sekali lagi padamu. Lepaskan tanganku. Dan pergi dari sini. Jangan sampai kau menyesal karena sudah berada di desa Mitte ini. Aku bisa buat kau terusir dari sini. Jika kau datang bersama para antek-antekmu, maka mereka juga akan ikut terusir!" bentak Kimberly dengan nada mengancam.
"Kau mengancamku, Kim?" tanya Antoni.
"Aku bukan mengancammu, melainkan memberikan pilihan padamu. Aku memiliki keluarga disini. Dan keluargaku memiliki pengaruh besar disini. Aku bisa meminta mereka untuk melakukan sesuatu padamu dan antek-antekmu!" bentak Kimberly.
Mendengar ucapan serta ancaman dari Kimberly membuat Antoni hanya tersenyum. Dia yakin jika Kimberly hanya menggertaknya saja karena marah padanya. Antoni tahu bahwa anggota keluarga Kimberly ada di Hamburg. Bahkan Antoni tidak percaya jika Kimberly memiliki keluarga di Mitte, Berlin!
"Sejak kapan kau suka membual, Kimberly! Kau sengajakan mengatakan hal itu agar aku melepaskan tanganmu. Bagaimana bisa kau memilih keluarga disini, sementara semua keluargamu ada di Hamburg?" ucap Antoni.
Mendengar ucapan dari Antoni membuat Kimberly menatap nyalang wajah Antoni yang terlalu percaya diri.
Antoni tersenyum menatap wajah cantik Kimberly apalagi ketika Kimberly sedang marah.
Detik kemudian...
Antoni menatap kearah dimana para pengunjung Cafe sedang menikmati hidangannya.
"Hallo semuanya. Mohon perhatiannya!" seru Antoni.
Mendengar seruan dari Antoni membuat semua pengunjung langsung melihat kearah dirinya.
"Aku Antoni dan ini adalah kekasihku sekaligus istriku. Kami berdua sedang merayakan hari jadi pernikahan kami yang ke satu tahun. Untuk memeriahkan ulang tahun pernikahan kami berdua, aku akan mentraktir kalian semua. Silahkan jika kalian ingin nambah menu makanan!"
Mendengar ucapan dari Antoni membuat para pengunjung bersorak bahagia bersamaan dengan tepukan tangan. Dan juga disertai ucapan-ucapan selamat dari para pengunjung.
Sementara Kimberly saat ini kemarahannya sudah diujung batas. Matanya menatap nyalang kearah Antoni namun dibalas dengan senyuman dari Antoni.
Detik kemudian..
Plaakkk..
Kimberly menampar keras wajah Antoni disaat Antoni tersenyum manis padanya. Antoni berpikir bahwa Kimberly telah luluh akan perkataannya sehingga membuat Kimberly membalas dengan menyentuh tangannya.
Seketika Antoni terkejut kala mendapatkan tamparan keras dari Kimberly. Dia sudah salah menduga terhadap Kimberly sehingga kecolongan dan berakhir tamparan.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat para pengunjung Cafe terkejut dan syok.
Kimberly langsung berdiri dari duduknya setelah berhasil melepaskan tangannya dari pegangan tangan Antoni. Dia saat ini benar-benar dalam keadaan tak baik-baik saja setelah apa yang dilakukan oleh Antoni padanya.
Kimberly menatap ke seluruh pengunjung Cafe yang mana saat itu semua pengunjung Cafe melihat kejadian tersebut.
"Aku kasih tahu pada kalian semua! Jangan ada diantara kalian mempercayai ucapan dari laki-laki brengsek ini!" Kimberly berucap sembari menunjuk kearah Antoni. "Laki-laki brengsek ini hanya masa laluku. Dia laki-laki brengsek yang suka mempermainkan perempuan. Bahkan dia juga suka menyakiti perempuan!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly kembali menatap kearah Antoni dengan tatapan matanya semakin tajam.
"Menjauhlah dari kehidupanku, laki-laki brengsek! Jangan pernah lagi mengusik kehidupanku! Sampai kapan pun, aku Kimberly Aldama tidak akan pernah sudi untuk kembali lagi padamu, walau aku hidup sendirian seumur hidupku!" teriak Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan Antoni. Kimberly berjalan menuju kasir.
Setelah Kimberly membayar pesanannya, Kimberly pun langsung pergi meninggalkan Cafe itu.
Namun seketika langkahnya terhenti ketika mendengar ucapan dari Antoni.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Kimberly! Kau harus menjadi milikku apapun yang terjadi. Dulu aku telah gagal menjagamu. Bahkan aku dengan tega melepaskanmu demi perempuan lain. Dan untuk kali ini aku akan merebutmu dari laki-laki itu!"
Mendengar ucapan demi ucapan serta ancaman yang Antoni berikan, Kimberly pun menjawabnya sehingga membuat beberapa pengunjung Cafe merinding mendengarnya.
Dan mereka semua sekarang percaya akan perkataan Kimberly bahwa Antoni telah berbohong dengan mengatakan bahwa mereka berdua telah menikah. Bahkan mereka menatap jijik kearah Antoni.
"Lakukan sesukamu asal kau tidak menyesal jika terjadi sesuatu terhadap anggota keluargamu terutama kedua orang tuamu. Jika waktu itu kakak-kakakku tidak menyakiti kedua orang tuamu hanya membuat bangkrut usaha mereka saja, tapi kali ini aku bisa menjamin kakak-kakakku akan menghabisi semua anggota keluargamu terutama kedua orang tuamu!"
"Pikirkan keselamatan keluargamu, saudara Antoni sebelum melakukan hal-hal bodoh!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly benar-benar pergi meninggalkan Cafe tersebut. Sementara Antoni terdiam di tempat. Begitu juga dengan para pengunjung Cafe tersebut.
Flashback Off
Mendengar cerita dari Kimberly membuat Santy, Rere, Sinthia dan Catherine seketika terkejut. Mereka tidak menyangka jika Antoni akan senekat itu. Bahkan atas perbuatannya itu hubungan Kimberly dan Tommy sedikit merenggang.
"Dasar laki-laki busuk," ucap Santy.
"Menjijikan," ucap Rere.
"Mudah-mudahan dia cepat mati agar tidak menyusahkan banyak orang," ucap Catherine.
"Dasar manusia tidak tahu diri. Sudah untung saat kejadian di gudang itu Tommy dan Andhika tidak menghabisi nyawanya karena masih memiliki hati. Bukannya berubah, malah makin ngelunjak." Sinthia berucap kesal sehingga tanpa sadar mulut mengatakan tentang kejadian di gudang tersebut.
Seketika Kimberly, Rere, Santy dan Catherine langsung melihat kearah Sinthia ketika mendengar ucapan Sinthia.
Rere, Santy dan Catherine seketika dengan memberikan pelototan kepada Sinthia bersamaan dengan mengumpati Sinthia di dalam hati.
"Sinthia bodoh! Kenapa lo malah membahas masalah itu?"