THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Di Jegat



Mendengar jawaban kompak dari ketiga sepupunya, keempat sahabatnya, kekasihnya dan para sahabat-sahabat dari ketiga sepupunya membuat Kimberly tersenyum.


"Ya, sudah! Aku akan telepon Paman Harris dan memintanya ke sekolah bersama Bibi Luna untuk menjemput kamu," sahut Billy.


"Loh kenapa Bibi Luna diajak juga?" tanya Kimberly.


"Untuk jaga-jaga saat dijalan," jawab Billy.


"Terserah kamu aja," jawab Kimberly.


Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban pasrah dari Kimberly. Dan setelah itu, Billy pun menghubungi Harris sang sopir pribadi keluarga Aldama.


Beberapa detik kemudian terdengar suara seseorang di seberang telepon.


"Hallo, tuan Billy."


"Hallo, Paman. Bisa ke sekolah menjemput Kimberly?"


"Bisa tuan muda. Memangnya nona muda kenapa?"


"Tidak apa-apa, Paman. Hanya lelah saja."


"Baiklah tuan muda."


"Oh iya. Sekalian nanti ajak Bibi Luna bersama Paman."


"Baiklah, tuan muda. Saya mengerti."


"Ya, sudah kalau begitu Paman. Saya tutup teleponnya."


PIP!


Setelah selesai berbicara dengan sopir pribadi keluarga Aldama. Billy memasukkan kembali ponselnya di dalam saku celananya.


"Paman Harris sudah dalam perjalanan kesini. Sekarang kita akan antar kamu ke depan gerbang sekolah. Kita akan nunggu di sana," ucap Billy.


"Yak, Bil! Kamu kok seenaknya aja bawa aku ke sana. Terus tas aku gimana?" tanya Kimberly dengan wajah masamnya.


Mendengar perkataan dari Kimberly. Chathrine langsung memperlihatkan tas sekolahnya ke wajah Kimberly.


"Ini tas nya udah aman sama aku."


Kimberly melotot saat melihat tas sekolahnya ada di hadapannya. Seketika Kimberly memberikan tatapan horornya kepada semua orang. Sementara mereka hanya terkekeh melihat wajah kesalnya.


"Kalian semua memang udah niat ngusir aku dari sini ya," ucap Kimberly.


"Hei, siapa yang ngusir kamu? Kan kamu sendiri yang minta pulang," jawab Aryan.


"Iya, emang aku yang minta pulang. Tapi kan itu juga gara-gara kalian." Kimberly tetap tidak mau mengalah.


"Lah kok kita?" mereka bertanya secara bersamaan.


Kimberly mendengus kesal mendengar pertanyaan kompak dari keempat sahabatnya, ketiga sepupunya, kekasihnya dan para sahabat dari ketiga sepupunya.


"Udah salah pake nanya lagi." Kimberly berucap kesal dengan bibir yang dimanyunkan


Setelah itu, Kimberly langsung bangun secara tiba-tiba dari tidurnya sehingga membuat tengkuknya merasakan sakit yang teramat.


"Aakkhhh!" Kimberly memegang tengkuknya.


"Kimberly!" teriak mereka khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Kalian tidak perlu khawatir," sahut Kimberly.


"Yakin?" tanya Triny.


"Hm." Kimberly mengangguk.


"Ya, sudah. Ayo," Tommy membantu Kimberly untuk turun dari tempat tidur.


"Sanggup jalannya?" tanya Tommy.


"Sangguplah. Yang sakitkan tengkuk aku. Bukan kaki aku. Memangnya kenapa?" jawab dan tanya Kimberly yang kini sedang dipapah oleh Tommy.


"Siapa tahu kaki kamu juga ikutan sakit jadi ada alasan buat kamu minta digendong," jawab Tommy.


"Yeeey! Itu kamu nya yang pengen gendong aku. Bukan aku nya yang minta digendong," jawab Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.


"Kalau iya kenapa? Kan gak ada salahnya menggendong kekasih sendiri? Beda jika itu wanita lain. Atau jangan-jangan kamu pengen aku menggendong wanita lain, hum?"


"Awas aja kalau berani. Kalau kamu berani macem-macem di belakang aku. Aku bakal diemin kamu selama sebulan."


"Hei, mana bisa gitu. Jika wanita itu adik aku atau ibu aku, bagaimana?"


"Yak, Tommy! Jangan coba-coba menghipnotis pikiran aku ya." Kimberly menatap horor kearah Tommy.


Mendengar obrolan unik dan lucu Tommy dan Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan dan yang lainnya terkekeh geli. Mereka berjalan di belakang Tommy dan Kimberly.


^^^


Kini mereka semua sudah berada di depan gerbang sekolah. Ketika tiba di depan gerbang sekolah. Pelayan perempuan yang tak lain adalah Bibi Luna terkejut melihat Kimberly yang dipapah.


"Nona. Anda tidak apa-apa?"


"Saya tidak apa-apa, Bi."


"Apa nona yakin?"


"Iya, Bi! Aku baik-baik saja. Bibi tidak perlu khawatir."


Setelah itu, Bibi Luna mengambil tas sekolah Kimberly yang diberikan oleh Chaterine.


"Ini tasnya Kimberly, Bi!"


Tommy membelai pipi Kimberly lembut. Tatapan matanya menatap wajah cantik Kimberly. Berlahan Tommy mendekatkan wajahnya ke wajah Kimberly. Setelah itu, Tommy memiringkan kepalanya.


Tommy ingin memberikan ciuman di bibir Kimberly. Ketika bibir Tommy sedikit lagi menyentuh bibir Kimberly. Tiba-tiba saja mereka semua dengan kompak berdehem.


"Eehheem."


Mendengar deheman dari para sahabatnya, keempat sahabatnya, ketiga sepupu Kimberly, sahabatnya Triny dan juga sahabatnya Aryan membuat Tommy seketika menjauhkan wajahnya dan mengumpti mereka semua di dalam hatinya. Sementara Kimberly wajahnya sudah memerah karena malu.


"Sampai di rumah kamu harus istirahat, oke!"


"Hm." Kimberly mengangguk sambil memperlihatkan senyumannya. Tommy menutup pintu mobil Kimberly.


"Kalian jangan lupa pulang sekolah main ke rumah aku," ucap Kimberly.


"Siap Tuan Putri!" seru mereka semua dengan kompak.


"Jika kalian tidak datang. Aku bakal diemin kalian semua. Tidak pengecualian!"


"Iya.. Iya!" seru mereka semua.


Kimberly melihat kearah Tommy. "Jangan dekat-dekat dengan kuntilanak itu," sahut Kimberly.


"Siap, ratuku!" Tommy memberikan hormat kepada Kimberly.


"Paman Harris. Hati-hati bawa mobilnya. Jangan ngebut!" seru Billy, Aryan dan Triny.


"Baik nona muda Triny, tuan muda Billy, tuan muda Aryan."


Setelah itu, mobil yang membawa Kimberly dan Bibi Luna pun pergi meninggalkan perkarangan sekolah.


***


Di dalam perjalanan Kimberly banyak diam. Tiba-tiba kepalanya pusing. Dan berakhir Kimberly bersandar di bahunya Bibi Luna.


Melihat majikannya yang tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahunya membuat Bibi Luna khawatir.


"Non Kimberly kenapa? Apa ada yang sakit? Katakan Bibi."


"Kepalaku pusing, Bi!


"Astaga, Non! Tahan sebentar ya. Non tidur aja dulu. Nanti kalau sudah sampai Bibi akan bangunin Non."


"Hm."


"Pak Harris. Bisa kebut sedikit. Kasihan non Kimberly nya."


"Tidak bisa Bi. Jika saya ngebut. Justru kita kecelakaan nanti."


"Ach, iya. Maaf! Saya hanya mengkhawatirkan non Kimberly."


"Iya, Bi! Saya mengerti. Saya juga khawatir akan non Kimberly."


Setelah itu tidak ada lagi yang bersuara. Keduanya sama-sama terdiam. Sementara Kimberly sudah tertidur.


Namun beberapa detik kemudian, tiba-tiba ada beberapa motor yang memepet mobil yang di tumpangi oleh Kimberly. Bahkan orang-orang itu memukul kaca mobil itu dengan keras.


DUG! DUG!


DUG! DUG!


Orang-orang diluar tersebut memukul-mukul kuat mobil Kimberly sembari tangan mereka memberikan kode agar sopir tersebut berhenti.


"Pak Harris. Mereka siapa?" tanya Bibi Luna.


"Saya juga tidak tahu Bi," jawab Paman Harris sambil terus menjalankan mobilnya.


Dikarenakan mobil tersebut tidak juga berhenti. Dua pengendara motor itu tiba-tiba menggas kencang motornya dan berhenti seketika di depan mobil yang membawa Kimberly sehingga membuat Paman Harris menginjakkan kakinya di rem tersebut.


Kimberly yang tengah tertidur, tiba-tiba terbangun. "Ada apa Bi, Paman?"


"Maafkan saya, Non! Apa non terluka?"


"Saya tidak apa-apa, Paman! Ada apa?"


"Itu... Itu Non. Ada beberapa pengendara motor yang sedari tadi memepet mobil kita. Dan bahkan dua dari mereka berhasil menghadang mobil kita, Non!"


Mendengar jawaban dari sopirnya. Kimberly langsung melihat kearah depan dan juga ke samping. Dan benar. Ada sekitar tujuh motor dengan dua belas laki-laki.


"Keluar!" teriak salah satu laki-laki yang menghadang mobil Kimberly.


"Non, bagaimana ini?" tanya sopirnya.


"Paman tidak usah khawatir. Semuanya akan baik-baik saja."


DUG! DUG!


DUG! DUG!


Kaca mobil Kimberly kembali dipukul-pukul oleh orang-orang yang berada diluar.


"Siapa mereka?" batin Kimberly.


Diam-diam Bibi Luna mengeluarkan ponselnya. Setelah ponselnya ada di tangannya. Bibi Luna mencari kontak Jason karena hanya itu yang kepikiran oleh Bibi Luna.


Setelah mendapatkan nomor kontak Jason. Bibi Luna langsung mengirimkan pesan. Dan tak lupa menshare lokasi.


TO : Tuan muda Jason.


Tuan muda. Tolongin Bibi dan Non Kimberly. Bibi dan Non Kimberly sedang di jalan menuju pulang ke rumah. Ditengah jalan mobil kami dijegat oleh tujuh motor. Dan orangnya berjumlah sekitar 12 orang. Mereka sedari tadi memukul-mukul kaca mobil. Sementara Non Kimberly sedang demam saat ini.


***


Jason yang saat ini sedang ada Perusahaannya. Dirinya terlihat sibuk dengan beberapa berkas-berkas penting. Dan satu jam lagi dirinya akan segera mengadakan rapat. Sementara berkas-berkas yang akan ditandatangi belum juga selesai.


Ketika Jason tengah fokus sama berkas-berkas nya. Jason dikejutkan dengan bunyi notifikasi di ponselnya.


Jason mengambil ponselnya yang ada di sampingnya, lalu kemudian matanya melihat satu pesan masuk dari Bibi Luna.


"Bibi Luna," batin Jason.


Jason kemudian membuka pesan itu dan membacanya. Seketika matanya membelalak ketika membaca isi pesan tersebut.


"Sial," umpat Jason.


Jason langsung menghubungi tangan kanannya dan menyuruh tangan kanannya itu untuk pergi ke lokasi adik perempuannya saat ini.