
Talitha saat ini berada di kamarnya. Dia saat ini tersenyum sembari memikirkan obrolannya dengan sang paman di telepon.
"Tommy, sebentar lagi kau akan jatuh ke dalam rayuanku. Dan sebentar lagi kau akan mengemis cinta padaku dan meninggalkan kekasihmu," ucap Talitha dengan penuh rasa percaya diri.
"Besok aku akan mendatangi Tommy ke perusahaannya. Setiba disana nanti aku akan mencoba merayunya," ucap Talitha.
Ketika Talitha tengah memikirkan rencana besok, tiba-tiba terdengar suara ponsel miliknya.
Talitha yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu. Setelah ponselnya di tangannya, Talitha melihat nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.
"Hallo. Siapa ini?" tanya Talitha.
"Kau sudah berani mengkhianatiku, hah!" teriak seseorang wanita di seberang telepon.
Deg!
Talitha seketika terkejut ketika mendengar suara teriakan dan juga perkataan dari orang di seberang telepon.
"Siapa kau? Dan kenapa kau menuduhku telah mengkhianatimu?"
"Kau melupakanku, Talitha Robert!" ucap wanita di seberang telepon dengan penuh penekanan.
Deg!
Talitha kembali terkejut ketika mendengar perkataan dari wanita di seberang telepon. Apalagi wanita itu menyebut nama lengkapnya.
"Siapa kau? Aku tidak mengenalimu."
"Bagus. Sudah berani ternyata. Beberapa hari yang lalu kau mendatangi rumahku dan memohon bantuanku untuk merebut Tommy serta membuat Kimberly menderita."
Lagi-lagi Talitha terkejut ketika mendengar perkataan dari wanita yang ada di seberang telepon.
"Cla-clara."
Talitha menyebut nama Clara dengan suara gugupnya.
"Iya, ini aku. Kenapa? Apa kau kaget, hum?"
"Aku benar-benar nggak menyangka dengan tindakan kamu itu, Talitha!"
"A-apa maksud kamu, Clara? Aku benar-benar tidak mengerti."
"Hahaha." Clara tertawa. "Apa kau pikir aku ini anak kecil yang bisa kau bodohi, Talitha! Kau meminta bantuan padaku. Tapi di belakangku, kau meminta Pamanmu untuk mencurangi perusahaan Tommy dengan memberikan dokumen kerja sama palsu. Dengan begitu Pamanmu bisa mengambil alih perusahaan milik Tommy."
Seketika mata Talitha membelalak sempurna ketika mendengar perkataan dari Clara. Dia tidak menyangka jika Clara mengetahui rencananya untuk mendapatkan Tommy dengan cara menguasai perusahaan Tommy.
"Clara, dengarkan aku dulu. Aku...."
"Kau dengarkan aku baik-baik Talitha. Tidak ada yang boleh bermain curang denganku. Apalagi mengkhianatiku. Kau tahukan siapa aku dan bagaimana cara kerjaku untuk membasmi musuh-musuhku. Kau sudah salah mencari masalah denganku. Kau meminta bantuanku, tapi kau juga meminta bantuan Pamanmu. Kau sama sekali tak menghargaiku."
"Clara, maafkan aku. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya...."
"Aku tidak peduli dan aku tidak mau tahu alasanmu itu. Yang jelas kau sudah mengkhianatiku. Jadi sebagai balasannya. Aku Clara Amalia akan menyudahi kerja sama ini. Dan aku sudah tidak ingin membantumu untuk mendapatkan Tommy. Justru kebalikannya, aku akan membantu Kimberly dalam mempertahankan hubungan asmaranya dengan Tommy."
Mendengar penuturan dari Clara membuat Talitha terkejut. Dia tidak menyangka jika Clara akan berpaling darinya dan memihak Kimberly.
"Clara, aku mohon. Maafkan aku. Aku akan...."
"Maaf, aku tidak bisa bekerja sama dengan perempuan ular dan licik sepertimu. Jadi bersiap-siaplah kejutan dariku dan juga dari Kimberly. Kau tahukan seperti apa Kimberly jika sudah marah? Bahkan kau sudah merasakan kemarahannya bukan?"
Setelah mengatakan itu, Clara langsung mematikan panggilannya.
Sementara Talitha langsung terduduk lemas di lantai kamarnya.
***
Arka saat ini berada di rumah. Dia tengah sibuk berkutat dengan keyboard laptop miliknya.
Arka telah mengetahui masalah yang menimpa adiknya. Dan saat ini Arka tengah menyaksikan sebuah bukit tentang apa yang dilakukan oleh Talitha dan juga pamannya melalui laptop miliknya.
Arka benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh Talitha dan sang Paman.
"Kalian sudah berani mencari masalah dengan keluargaku, terutama kau Talitha!" Arka berbicara di dalam hatinya.
Ketika Arka tengah menatap ke layar laptopnya, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Arka langsung mengambil ponselnya dan melihat nama 'Dion' di layar ponselnya.
"Bagaimana perkembangan dengan perusahaan Tommy?"
"Perusahaan milik tuan Tommy memang sudah berada ditangan pemilik perusahaan Jy'Hs, Bos! Dan kemungkinan satu minggu dari sekarang pria itu akan mendatangi Tommy untuk mengambil alih."
"Sudah seperti ini, kenapa Tommy diam saja? Kenapa dia tidak membahasnya padaku?" batin Arka kesal akan kelakuan adiknya itu.
"Bagaimana dengan Tommy sendiri? Apa dia hanya diam saja atau...?"
Perkataan Arka terpotong karena Dion langsung memotongnya.
"Tuan Tommy sudah bertindak, Bos! Aku tidak sengaja mendengar ketika di markas bahwa tuan Tommy memberikan perintah kepada Delon adik laki-laki saya."
"Apa kau tidak bertanya kepada Delon?"
"Sudah, Bos!"
"Katakan padaku apa yang dilakukan Tommy bersama Delon?"
"Sama seperti yang dilakukan oleh pemilik perusahaan Jy'Hs itu terhadap perusahaan TMy'Alxdr Corp milik tuan Tommy."
Mendengar jawaban dari Dion. Seketika Arka tersenyum. Dia tidak menyangka jika adik laki-lakinya itu sudah bertindak sebelum meminta bantuannya.
"Jadi dengan kata lain jika semua kekayaan milik bajingan itu sudah ada di tangan Tommy. Begitu?"
"Benar, Bos. Bukan hanya kekayaan pribadi milik bajingan itu saja. Melainkan tuan Tommy juga mengincar kekayaan milik keluarga dari wanita murahan itu. Kekayaan dari pihak ayahnya."
Lagi-lagi Arka tersenyum ketika mendengar laporan dari Dion. Dirinya benar-benar bangga atas tindakan sigap Tommy adiknya.
"Baiklah. Dikarenakan Tommy sudah bekerja dengan merebut kekayaan pribadi milik bajingan itu dan juga milik keluarga dari wanita murahan itu. Maka kita akan menyelesaikan yang terakhir."
"Apa itu, Bos?"
"Keluarga dari pihak ibunya. Apa kita akan membiarkan keluarga dari pihak ibunya aman. Sementara keluarga dari pihak ayahnya sudah jatuh?"
"Anda benar, Bos! Baik! Kapan kita melakukannya, Bos?"
"Besok siang sekitar pukul 12 siang. Kita akan mendatangi keluarga itu. Kau kerahkan beberapa orang untuk menggebrak rumah milik keluarga besar dari pihak ibunya. Kau yang akan memimpin penyergapan itu. Sementara aku akan mendatangi kediaman dari kedua orang tua wanita murahan itu. Aku yakin Tommy dan Delon pasti kesana setelah menyelesaikan urusannya di perusahaan Jy'Hs dan kediaman pria itu."
"Siap, Bos!"
"Oh iya, Bos! Saya hampir lupa."
"Ini masalah Clara, mantan sahabat nona Kimberly."
"Kenapa dengan dia?"
"Nona Clara sangat marah terhadap Talitha."
"Jadi dia sudah tahu jika Talitha mengkhianati dia?"
"Sudah, Bos. Nona Clara akan sangat marah akan perbuatan perempuan itu yang seenaknya membuat rencana tanpa sepengetahuannya. Bahkan Nona Clara mengancam akan menghancurkan dia dan juga keluarganya demi melindungi Nona Kimberly."
"Apa itu benar, Bos jika nona Clara ingin melindungi nona Kimberly?"
Mendengar perkataan dan pertanyaan dari Dion membuat Arka tersenyum.
"Iya, Dion. Itu benar. Clara sudah berubah. Clara yang sekarang bukan lagi Clara yang dulu."
"Ach, aku senang mendengarnya Bos."
"Ya, sudah kalau begitu. Kau persiapkan semuanya."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, Arka langsung mematikan panggilannya.
"Talitha! Tunggu saja kejutan dariku, dari Tommy dan Kimberly, dari Clara juga. Aku sudah pernah memberikan peringatan kepadamu untuk menjauhi keluargaku. Tapi kau sama sekali tidak mengindahkannya. Bahkan kau juga sudah mendapatkan hukuman penjara, tapi kau sama sekali tidak berubah. Jadi sekarang terimalah hukuman dariku, terutam dari Tommy."
Setelah mengatakan itu, Arka kembali menghubungi seseorang. Dan orang yang akan Arka hubungi itu adalah Clara.
Arka mendapatkan nomor Clara dari Kimberly. Sementara Kimberly mendapatkan nomor Clara dari Clara sendiri. Nomor Clara yang lama sudah tidak aktif lagi.
***
Clara saat ini berada di ruang tengah bersama dengan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Mereka tampak bahagia.
Beberapa menit yang lalu Clara dan keluarganya habis makan siang bersama. Mereka makan dengan penuh kebahagiaan. Kini rumahnya tampak sangat harmoni.
Clara saat ini benar-benar bahagia. Bukan hanya bahagia menjadi adik perempuan satu-satunya. Clara juga bahagia karena apa yang dia inginkan selama ini sudah dia dapatkan yaitu perhatian kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Kebahagiaan Clara bertambah dua kali lipat dimana dia sudah merubah dirinya menjadi lebih baik dari yang sebelumnya.
"Apa yang akan kamu lakukan untuk membalas perempuan tidak tahu diri itu, sayang?" tanya ibunya.
"Yang jelas aku akan langsung mendatangi kediaman keluarganya. Setelah itu, aku akan memberikan perempuan itu hadiah yang tidak akan pernah dilupakannya seumur hidup."
"Ide yang bagus."
"Papi, Mami dan kakak Aldan nggak marah kalau aku berbuat jahat lagi?" tanya Clara dengan menatap wajah kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya.
"Untuk apa kita marah. Kamu melakukan semua ini demi melindungi sahabat masa kecil kamu yaitu Kimberly dari perempuan tak tahu malu itu bukan karena kamu ingin berbuat jahat kepadanya. Jadi, apapun yang kamu lakukan, asal tidak merugikan orang lain. Dan setiap perlakuan kamu itu membuat orang lain bahagia. Mami dan kita semua selalu mendukungku."
Wanita itu berbicara dengan tulus dan lembut sembari tangannya mengusap lembut pipi putih putrinya.
"Terima kasih, Mi! Aku benar-benar bahagia dan bersyukur kalian kembali lagi padaku."
"Apalagi kita. Papi adalah laki-laki yang paling beruntung memiliki anak perempuan secantik kamu, walau awalnya kamu selalu melakukan kehendak hati kamu dengan menyakiti orang-orang diluar sana dan itu semua tak lepas dari Papi, Mami dan kakak kamu."
"Terima kasih sudah melengkapi hidupku," ucap Clara dan langsung memberikan pelukan pada kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya secara bergantian.
Ketika Clara sedang mengobrol tentang kebersamaannya, tiba-tiba ponsel milik Clara berbunyi.
Clara mengambil ponselnya, lalu melihat nomor yang tak dikenalnya di layar ponselnya.
"Nomor siapa ini?" tanya Clara.
"Angkat saja. Siapa tahu penting," ucap kakak laki-lakinya.
Clara mengangguk, lalu menjawab panggilan tersebut.
"Hallo."
"Hallo, Clara."
Deg!
Seketika Clara terkejut ketika mendengar suara wanita yang amat dikenalnya.
"K-kak Arka," ucap Clara gugup.
Arka tersenyum di seberang telepon mendengar suara gugup Clara. Arka memaklumi hal itu.
"Tidak perlu gugup. Kakak sudah tahu semuanya dari Kimberly dan juga Tommy. Kakak senang mendengarnya ketika mereka berdua mengatakan bahwa kamu sudah berubah."
"Terima kasih, kak Arka. Aku melakukan itu karena..."
"Ya. Kakak tahu alasanmu saat melakukan hal-hal buruk terhadap Kimberly dulu. Kakka mengerti. Dan kakak tidak menyalahkanmu sepenuhnya. Perlu kamu tahu satu hal tentang kakak. Kakak menerima orang baru dalam kehidupanku jika orang itu benar-benar berubah dan tidak melakukan hal buruk lagi. Dan kakak akan menganggap orang itu sebagai keluarga kakak."
Mendengar perkataan tulus dari Arka. Seketika terukir senyuman manis di bibir Clara. Dia benar-benar merasakan kehangatan di dalam hatinya ketika mendengar perkataan dari Arka.
"Oh iya! Apa kakak boleh tahu rencana apa yang sedang kamu susun untuk menghancurkan perempuan murahan itu ketika kau mengetahui dia telah berkhianat?"
"D-dari mana kak Arka tahu?"
Arka tertawa mendengar pertanyaan dari Clara. "Apa yang tidak diketahui oleh seorang Arka Alexander akan dengan mudahnya diketahui. Kamu tidak lupakan siapa kakak, bukan?" Arka terkekeh di seberang telepon.
Mendengar kekehan dari Arka. Clara pun tersenyum. Dirinya seketika sadar siapa Arka Alexander yang sebenarnya. Keluarga Alexander sebelah dua belas dengan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo.
"Sekarang, apa kakak boleh tahu rencanamu itu?" tanya Arka lagi.
"Simple, kak Arka. Aku akan langsung keintinya yaitu mendatangi kediaman kedua orang tuanya. Sampai detik ini baik Talitha maupun kedua orang tuanya masih berpikir bahwa aku Clara yang jahat. Padahal aku bukanlah Clara yang jahat lagi. Setiba di sana aku akan memberikan sebuah kejutan kepada mereka terutama Talitha, siapa Clara yang sebenarnya."
"Rencana yang bagus. Kakak juga akan datang kesana bersama Kimberly dan Tommy. Dan untuk memperlancar rencanamu. Kamu harus memperlihatkan hubungan persahabatanmu dengan Kimberly di hadapannya."
Mendengar perkataan dan usulan dari Arka. Clara seketika tersenyum. Dia sangat menyetujui usulan dari Arka itu.
"Aku setuju, kak Arka!"
"Baiklah. Kapan kau akan mendatangi keluarga Talitha?"
"Besok siang, setelah selesai makan siang."
"Baiklah. Kita bertemu disana."
"Baik, kak Arka."
Setelah selesai berbicara, baik Arka maupun Clara sama-sama mematikan panggilannya.
"Tunggu kehancuranmu, Talitha!"
Arka dan Talitha berucap bersamaan di tempat yang berbeda.