THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Bertemu Kakak Kelas Di SMP



Setelah mengikuti pelajaran selama tiga jam. Kini Kimberly dan keempat sahabatnya telah berada di kantin.


Ketika berada di kantin. Kimberly hanya duduk sendiri. Sementara untuk keempat sahabatnya bergabung dengan para kekasihnya.


Untuk Triny, Aryan dan Billy. Ketiga memutuskan untuk memisahkan diri dengan yang lainnya. Kelima sahabatnya Aryan bergabung dengan Aryan, Billy dan Triny. Begitu juga dengan Catharine.


Para penghuni kantin menatap Kimberly, Triny, Aryan, Billy dan para sahabat-sahabatnya dengan tatapan iba. Sejak kejadian dimana Tommy yang tiba-tiba memutuskan hubungan dengan Kimberly membuat ketiga sepupunya Kimberly dengan para sahabatnya, terutama Billy. Billy memutuskan hubungan persahabatannya dengan Tommy karena sakit hati akan sikap Tommy terhadap Kimberly.


Untuk Triny. Alasan Triny memisahkan diri karena Triny tidak ingin bergabung jika ada Tommy disana. Dan Triny juga tidak ingin egois dengan keempat sahabatnya. Keempat sahabatnya itu adalah kekasih dari sahabat-sahabatnya Billy yang juga sahabat Tommy dan Andhika.


Untuk Andhika. Disini Andhika yang dibuat bingung akan sikap sahabat, kekasih dan sepupunya. Andhika tidak tahu harus memihak siapa. Bagi Andhika, mereka semua sangat berarti dalam hidupnya.


Baik Billy, Triny, Aryan maupun yang lainnya sedari tadi memperhatikan Kimberly yang asyik dengan dunianya sendiri. Bahkan mereka memperhatikan wajah dan tatapan mata Kimberly yang jauh berbeda.


"Tatapan mata itu...," perkataan Aryan terpotong.


"Kimmy," sahut Catharine yang matanya masih memperhatikan Kimberly.


"Jadi kamu sudah tahu nama dari sosok yang ada di dalam diri Kimberly?" tanya Billy.


"Iya. Saat tadi pagi di kelas aku, Rere, Santy dan Sinthia ingin menghibur Kimberly. Tiba-tiba saja Kimberly langsung menolak kami. Dari situlah kami tahu bahwa sosok itu telah mengambil alih tubuh Kimberly."


"Jadi...," kali ini perkataan Aryan yang terpotong.


"Iya. Yang kita lihat saat ini adalah Kimmy. Sosok yang ada dalam diri Kimberly.


Mendengar perkataan dari Catharine membuat Triny langsung khawatir. Triny menatap kearah Billy.


"Billy."


Billy, Aryan, Catharine dan kelima sahabatnya Aryan melihat kearah Triny. Mereka melihat raut khawatir di wajah Triny.


"Kamu tidak perlu khawatir, oke! Kimmy tidak akan menyakiti Kimberly. Percayalah!" hibur Billy.


"Iya, Kak! Kimmy bilang padaku, Rere, Santy dan Sinthia kalau dia akan jagain Kimberly, terutama saat perempuan murahan itu gangguin Kimberly." Catharine menjelaskan tentang janji Kimmy kepadanya.


Mereka masih terus memperhatikan Kimberly. Begitu juga dengan Tommy. Dan detik kemudian, mereka semua melihat ada seorang pemuda datang menghampiri Kimberly.


Kimberly yang sedang asyik menyeruput jus jeruknya, tiba-tiba datang seorang pemuda yang menghampirinya. Pemuda itu langsung menduduki pantatnya di bangku dan berhadapan dengan Kimberly.


Kimberly atau Kimmy yang saat ini melihat kedatangan seorang pemuda. Bahkan pemuda itu dengan seenaknya langsung duduk di hadapannya.


"Pergi," usir Kimmy.


Pemuda tersebut hanya tersenyum ketika mendengar nada ketus Kimmy dan juga pengusiran yang dilakukan oleh Kimmy.


"Kamu tidak pernah berubah dari dulu anak kelinci," ucap pemuda itu.


Seketika sosok Kimmy pergi dan Kimberly mengambil alih tubuhnya kembali. Kimberly melihat wajah pemuda itu dengan menatap penuh selidik. Melihat Kimberly yang menatap curiga padanya. Pemuda itu kembali tersenyum.


"Apa kau benar-benar melupakan pangeran tampanmu ini, hum?" tanya pemuda itu.


Kimberly menatap intens pemuda itu. Dari mulai matanya yang menyipit, membulat, lalu kembali menyipit hanya untuk mengingat pemuda yang ada di hadapannya ini.


Sementara yang lainnya, termasuk Billy, Aryan, Triny, keempat sahabatnya, Tommy serta para sahabat ketiga sepupunya tersenyum gemas ketika melihat wajah Kimberly yang begitu imut dan menggemaskan seperti anak kecil yang berusia 4 tahun.


Setelah berusaha untuk mengingat pemuda yang ada di hadapannya. Akhirnya, Kimberly pun mengingat siapa pemuda tersebut.


"Kak Arlo. Kak Arlo Fernandes. Iyakan!" seru Kimberly dengan suara yang begitu nyaring sehingga semua penghuni kantin bisa mendengarnya dengan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk kearah pemuda yang ada di hadapannya itu.


Arlo tersenyum gemas dan juga bahagia ketika Kimberly telah berhasil mengingat dirinya. Arlo benar-benar bahagia saat ini.


"Iya. Ini Kakak," jawab Arlo.


"Kakak sekolah disini juga?" tanya Kimberly dengan antusiasnya.


"Iya."


"Tapi kenapa aku gak pernah lihat Kakak. Bahkan Aku gak pernah lihat kakak di kantin."


Arlo tersenyum. "Emangnya kamu yang Hobinya selalu keluyuran ke kantin. Dikit-dikit ke kantin. Alasan mau ke toilet. Tapi sampai diluar malah putar arah menuju kantin. Apa sifat kamu masih sama? Apa kamu masih gunakan kebiasaan kamu itu di sekolah ini?" ucap dan tanya Arlo sembari menjahili Kimberly.


Mendengar perkataan dari Arlo membuat Kimberly langsung mencebik kesal. Dan jangan lupakan bibirnya yang mengeluarkan sumpah serapah untuk Arlo.


"Aish! Jangan diumbar juga dong kebiasaanku itu Kak Arlo. Tu lihat! Mereka semua ngeliatin aku," ucap Kimberly kesal.


"Hahaha. Maafkan Kakak," ucap Arlo.


"Aku akan maafkan Kakak. Tapi ada syaratnya," ucap Kimberly.


"Hah! Selalu seperti itu," gumam Arlo.


"Gak mau dimaafkan? Ya, sudah! Kita musuhan," sahut Kimberly.


Sontak Arlo langsung membelalakkan matanya ketika mendengar ancaman dari Kimberly.


Melihat interaksi Kimberly dan Arlo membuat para penghuni kantin dibuat penasaran. Sebagian murid tahu siapa Arlo Fernandes. Arlo Fernandes adalah pemilik sekolah ini.


"Siapa Arlo? Kenapa mereka begitu akrab," batin Tommy.


"Iya tahulah! Bukan hanya aku saja yang tahu dengan Arlo. Kedua orang tua Kimberly dan keempat kakaknya Kimberly juga tahu siapa Arlo dan apa hubungan mereka berdua." Billy berbicara dengan suara yang sedikit dikeraskan dan tatapan matanya menatap tajam kearah Tommy.


Mendengar jawaban dari Billy membuat mereka terkejut, terutama Tommy. Ketika Billy ingin melanjutkan ucapannya. Kimberly datang menghampiri dirinya, Triny, Aryan, Catharine dan para sahabatnya.


"Billy," panggil Kimberly.


Mereka melihat kearah Kimberly. "Ada apa, hum?"


"Begini. Kak Arlo ngajak aku jalan. Sepulang dari jalan-jalan. Kak Arlo akan langsung antar aku pulang. Boleh ya aku pergi sama Kak Arlo? Kalian juga Triny, Aryan. Izinkan aku ya," mohon Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly yang meminta izin membuat Aryan, Billy dan Triny tersenyum bahagia.


"Baiklah. Kami izinkan!" seru Aryan, Billy dan Triny bersamaan.


Mendapatkan izin dari ketiga sepupunya seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly.


"Pulangnya jangan sampai kesorean. Pukul 4 sore sudah harus di rumah," ucap Aryan.


"Hm." Kimberly mengangguk.


Setelah mendapatkan izin dari ketiga sepupunya. Kimberly kembali ke mejanya dimana disana masih ada Arlo.


"Bagaimana? Dapat izinnya?" tanya Arlo.


"Dapat. Tapi kata mereka pukul 4 sore aku sudah harus di rumah."


Arlo tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Dan tangannya terangkat untuk mengacak-acak rambut Kimberly.


"Kamu gak usah khawatir. Selama kamu bersamaku. Kamu dijamin aman." Kimberly tersenyum mendengar ucapan dari Arlo.


"Billy, Aryan, Triny. Aku pergi dulu. Catharine, Sinthia, Santy, Rere. Izinkan aku sama guru ya!" teriak Kimberly.


"Oke," jawab mereka kompak.


"Siap untuk pergi princess?" tanya Arlo sambil meletakkan tangannya di pinggang dan sedikit di lebarkan bermaksud agar Kimberly menggandeng tangannya.


Dan ternyata benar. Kimberly yang paham akan itu langsung mengalungkan tangannya di tangan Arlo. Dan setelah itu, keduanya pun pergi meninggalkan kantin.


"Bersenang-senanglah!" teriak Billy. Kimberly mengangkat ibu jarinya ke udara.


"Sepertinya ada yang cemburu," bisik Arlo di telinga Kimberly.


"Siapa? Dia? Ngapain dia harus cemburu! Bukannya dia sendiri mutusin aku demi perempuan murahan itu," jawab Kimberly.


Arlo hanya tersenyum mendengar jawaban dari Kimberly. Tanpa diketahui oleh Kimberly, Tommy dan yang lainnya. Arlo sudah mengetahui alasan Tommy yang memutuskan hubungan asmaranya dengan Kimberly. Dikarenakan Arlo sudah mengetahuinya. Maka Arlo datang dan masuk ke dalam permainan yang dibuat oleh Gracia sembari melindungi Kimberly.


Setelah kepergian Kimberly dan Arlo. Suasana kantin tampak sepi. Bukan sepi tanpa penghuni. Tapi sepi karena gak ada yang bersuara.


Namun beberapa detik kemudian, Gracia datang bersama keenam sahabatnya.


Gracia langsung duduk di samping Tommy. Sementara keenam sahabatnya berusaha untuk duduk di samping para kekasih dari Rere, Santy, Sinthia, Catharine, Triny dan sahabat-sahabat Triny. Namun sayangnya, usaha mereka gagal. Para sahabatnya Billy seketika langsung mendorong kasar tubuh keenam sahabatnya Gracia hingga keenamnya terjatuh.


"Menjauhlah dari kami!" bentak Henry.


"Jangan menjadi wanita murahan!" bentak Nathan.


"Jangan coba-coba kalian berniat merusak hubungan kami seperti yang dilakukan oleh salah satu sahabat kalian itu!" bentak Ivan.


"Jika kalian masih berani mengganggu hubungan kami dengan pacar-pacar kami. Jangan salahkan kami jika kami akan menghancurkan keluarga kalian!" bentak Andry.


Mendengar bentakkan dan ancaman dari sahabat-sahabatnya Billy dan Tommy membuat Hilda, Farah, Leece, Fenya, Ellsaa dan Elma terkejut.


Gracia yang melihat keenam sahabatnya dibentak tak terima dan langsung membentak balik Andry, Ivan,  Nathan dan Henry.


"Kalian apa-apaan! Berani sekali kalian membentak sahabat-sahabat aku!"


"Jika kau tidak mau keenam sahabatmu itu dibentak. Katakan pada mereka untuk menjauh dari kami," sahut Mirza.


"Katakan pada mereka untuk jaga sikap. Jangan menjadi perempuan murahan," ucap Satya.


"Jika ingin menjadi perempuan murahan. Bukan disini tempatnya. Pergi ke bar lalu langsung pesan kamar hotel." Lionel berucap dengan sangat kejamnya.


Gracia menggeram marah ketika mendengar ucapan demi ucapan dari sahabat-sahabatnya Tommy.


"Berani kalian melawanku, hah!" bentak Gracia.


"Kami tidak pernah takut dengan siapa pun. Apalagi dengan perempuan sepertimu," jawab Andhika.


"Awas saja. Aku akan balas kalian," ucap Gracia.


"Coba saja kalau kau berani. Jika ada yang terluka salah satu dari kami atau orang-orang terdekat kami. Maka kami semua akan membalas dua kali lipat padamu." Billy ikut menjawab ancaman dari Gracia sembari memutar tubuhnya untuk menatap wajah Gracia.


"Bukan hanya kepadamu. Kami juga akan membalas melalui keluarga kamu. Dengan kata lain. Kami akan menghancurkanmu dan keluargamu." Billy berbicara dengan menatap tajam Gracia.


Mendengar perkataan dari Billy. Baik Gracia maupun keenam sahabatnya terkejut. Gracia tidak menyangka jika ada yang berani melawannya. Ditambah lagi orang itu tidak takut dengan ancamannya.