THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Bermain Curang



[PERUSAHAAN FATHIR]


Fathir saat ini berada di ruang kerjanya. Dirinya sedang sibuk dengan beberapa berkas yang menumpuk diatas meja.


Saat dirinya sedang fokus, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.


TOK!


TOK!


TOK!


"Bos," panggil seseorang dari luar.


"Masuk," jawab Fathir.


CKLEK!


Pintu tersebut akhirnya dibuka oleh orang itu. Dan orang itu adalah sekretaris nya Zacky.


"Ada apa, Zacky?"


"Saya ingin memberitahu anda, Bos! Nanti pukul 11 siang kita akan ada rapat pemegang saham di Perusahaan Samuel Grup dan juga menandakan tanganan kerja sama dengan Perusahaan Artha Company."


"Baik. Kau atur saja semuanya. Hari ini aku berencana ingin mengunjungi Perusahaan Js'nAld milik putra sulungku. Nanti dari sana aku akan langsung ke Perusahaan Samuel Grup."


"Baik, Bos."


Setelah mengatakan hal itu, Zacky langsung pergi meninggalkan ruang kerja Fathir. Dan Fathir kembali melanjutkan pekerjaannya. Tinggal sedikit lagi pekerjaannya selesai. Setelah pekerjaannya selesai, Fathir akan langsung pergi menuju Perusahaan Jason putra sulungnya.


***


[PERUSAHAAN ARTHA COMPANY]


Di sebuah ruangan yang cukup besar terlihat seorang pria yang sedang duduk manis di sofa yang ada diruangan tersebut. Pria itu sudah tidak sabaran menunggu pukul 11 siang. Dimana pukul 11 siang nanti adalah dirinya akan mengadakan rapat pemegang saham yang akan dihadiri sepuluh Perusahaan yang memiliki saham tertinggi. Dan juga penandatanganan kontrak kerja sama dengan kesepuluh Perusahaan tersebut. Dari sepuluh Perusahaan yang hadir, dua diantara Perusahaan itu adalah FTR'CORPdan Js'nAld. Kedua Perusahaan itu juga memiliki saham terbesar di Perusahaan SAMUEL GRUP.


"Sebentar lagi," gumam pria itu.


Saat pria itu sedang memikirkan tentang rapat saham dan penandatanganan kontrak kerja sama yang akan dilakukan pukul 11 siang nanti, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Hal itu membuat pria itu terkejut. Dan tanpa menunggu lama lagi, pria itu langsung menjawab panggilan tersebut karena pria itu sudah tahu siapa yang menghubunginya.


"Hallo."


"Bagaimana?"


"Untuk saat ini aku belum bisa mengatakan apapun padamu. Nanti aku akan menghubungimu setelah rapat dan penandatanganan kontrak kerja sama itu selesai."


"Baiklah. Aku harap rencanamu berhasil karena aku mengandalkanmu kali ini. Aku tidak mau kalau kau sampai gagal juga."


"Kau tenang saja. Aku tidak akan gagal. Selama ini semua rencanaku selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Untuk mengambil alih Perusahaan Js'nAld itu hal yang mudah bagiku. Apalagi aku dengar Direktur dari Perusahaan tersebut hanya seorang laki-laki lemah. Memangnya, apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki lemah seperti dia," ucap pria itu dengan sombongnya.


"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu. Pokoknya aku tidak ingin mendengar yang namanya kegagalan."


"Kau tenang saja."


Setelah mengatakan hal itu, pria itu langsung menutup teleponnya.


***


[PERUSAHAAN Js'Ald]


Jason sekarang ini bersama Ronald di ruang kerja Ronald. Mereka tengah membahas masalah tugas Ronald saat diluar negeri.


"Bagaimana Ronald?"


"Kau tidak perlu khawatir, Jason! Semuanya baik-baik saja. Perusahaan cabang yang di Australia aman terkendali."


Jason tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Ronald yang tak lain kepercayaan sekaligus sahabatnya.


Ronald sudah kembali dari Australia. Dirinya berada disana selama 1 minggu. Seharusnya Jason yang pergi kesana. Dikarenakan saat itu Jason masih dalam misi balas dendamnya akan adik perempuannya yang disakiti, maka Ronald lah yang menggantikannya. Ronald melakukan tugasnya dengan sangat baik.


"Terima kasih, Ronald."


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya."


Ronald tersenyum hangat pada Jason. Baru kali ini Ronald bisa melihat senyuman di bibir Jason. Selama ini Ronald hanya melihat wajah dingin dan datar Jason. Ditambah lagi tutur kata Jason sedikit lembut. Jason akan tersenyum jika bersama anggota keluarganya.


Melihat Ronald yang melamun sembari menatap dirinya, Jason langsung menepuk pelan bahu Ronald.


PUK!


"Kamu melamun? Pasti lagi jelek-jelekin aku di hati kamu. Iyakan?"


"Waah! Dari mana datangnya sifat buruk sangkamu itu, Jason Aldama!"


Jason mendengus kesal mendengar penuturan dari Ronald. Melihat Jason yang kesal membuat Ronald tertawa.


"Iya ya! Terus saja tertawa. Jangan salahkan aku jika aku memotong gaji kamu sebanyak 80%."


Sontak hal itu membuat Ronald berhenti tertawa. Jason seketika tersenyum kemenangan ketika melihat Ronald yang berhenti tertawa.


Jason berdiri, lalu melangkah menuju pintu keluar. Tapi sebelumnya, Jason menghampiri Ronald, kemudian mendekatkan wajahnya ke telinga Ronald.


"Wajahmu itu sangat lucu sekali, Ronald!. Mirip seorang anak kecil yang habis dimarahi oleh ibunya."


Ronald yang mendengar ucapan Jason hanya tersenyum geli.


"Dasar sahabat sialan," ucap Ronald sembari tersenyum.


^^^


Jason sudah berada di ruangan pribadinya. Kini dirinya tengah duduk di kursi kebesarannya.


Jason membuka laptop miliknya dan mulai mengecek satu persatu laporan dari para kaki tangannya. Baik dari Perusahaan mau pun dari anggota kelompoknya.


Saat Jason tengah fokus dengan kerjaannya, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Saat Jason melihat kearah layar ponselnya tertera nama 'Joe' sang bawahan kepercayaannya. Tanpa pikir panjang lagi, Jason langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Joe. Ada apa?"


"Hallo, Bos. Bos ada dimana?"


"Aku ada di kantor. Memangnya kenapa?"


"Begini, Bos! Aku dapat informasi bahwa Perusahaan Artha Compeny berusaha ingin mencurangi kita, Bos!"


"Mencurangi dalam hal apa?"


"Beliau ingin merebut Perusahaan Js'nAdl1 dan juga perusahaan FTR'CORP milik tuan Fathir serta perusahaan Js'nAld2 yang ada di Singapura, Bos!"


"Apa yang sudah direncanakan oleh bajingan itu?"


"Khusus berkas kontrak kerja sama yang akan Bos dan Tuan Fathir tanda tangan, kedua berkas itu ditulis dengan tinta yang bisa hilang dengan sendirinya. Jadi saat Bos dan Tuan Fathir menandatangani berkas itu dalam waktu tiga jam, tulisan itu akan menghilang. Dan pria itu akan merubah isinya. Isinya...," perkataan Joe terpotong, karena Jason sudah terlebih dahulu berbicara.


"Isinya adalah mengalihkan hak kepemilikan."


"Ya, Bos. Kau benar!"


"Pasti pria itu tidak bekerja sendirian. Dan aku yakin ada seseorang di belakangnya."


"Kau benar lagi, Bos! Pria itu tidak sendirian. Ada seseorang yang memintanya untuk melakukan pekerjaan itu. Orang itu seorang laki-laki. Dan Bos pasti tahu siapa laki-laki itu."


"Hm." Jason langsung tersenyum licik. "Ternyata kau belum menyerah juga ya," batin Jason.


"Apa yang akan kita lakukan, Bos?"


"Kita ikuti permainan mereka, Joe! Buat pria dan wanita itu berhasil dalam rencananya. Dan kau ambil berkas itu, lalu kau bakar. Kemudian kau buat yang baru dengan isi yang sama."


"Baik, Bos! Aku akan melakukannya dengan baik."


"Satu lagi, Joe! Hancurkan Perusahaan milik pria bajingan itu. Buat juga pria itu kehilangan rumah mewah miliknya. Dan jangan lupa, buat juga laki-laki brengsek itu beserta anggota keluarganya kehilangan segalanya."


"Siap, Bos."


"Aku mengandalkanmu, Joe! Minta bantuan dengan anggota lainnya."


"Baik, Bos."


Setelah selesai berbicara, baik Joe maupun Jason sama-sama menutup teleponnya.


"Tidak semudah itu kau ingin merebut milikku bajingan," batin Jason.


Saat Jason sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba Jason dikejutkan dengan suara ketukan pintu.


TOK!


TOK!


TOK!


CKLEK!


Pintu dibuka oleh sekretarisnya. Lalu sekretarisnya itu melangkah masuk.


"Maaf, Bos."


"Ada apa?"


"Diluar ada Tuan Fathir."


"Ayahku?"


"Iya, Bos."


"Bawa ayahku masuk."


"Baik, Bos."


Lalu sekretaris itu pergi meninggalkan ruang kerja Jason. Dan tak lama kemudian, Fathir pun masuk ke dalam ruang kerja putra sulungnya.


"Selamat pagi putra Daddy yang tampan."


Jason yang mendengar sapaan dari ayahnya hanya tersenyum.


Fathir melangkah menghampiri Jason. Kemudian tangannya mengusap lembut kepalanya. Sedangkan Jason yang menerimanya usapan di kepalanya merasakan kehangatan di hatinya.


Setelah mengusap-usap lembut kepala putra sulungnya. Fathir melangkah menuju sofa dan duduk disana.


Melihat ayahnya yang duduk di sofa, Jason pun memutuskan untuk mengakhiri kerjaannya. Lalu menghampiri ayahnya itu.