THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kejahilan Lionel, Nathan Dan Ivan



"Sudah ya. Jangan sedih lagi. Semuanya baik-baik saja. Asena dan Cherry sudah dibawa ke kantor polisi," ucap Billy sembari menghibur Catherine yang saat ini masih terlihat syok.


Mereka semua menatap khawatir Catherine. Dapat mereka lihat masih tersirat ketakutan di manik coklat Catherine akan apa yang menimpanya.


Baik Billy maupun Tommy. Keduanya masih berusaha memberikan ketenangan kepada Kimberly dan Catherine.


Jika Kimberly yang dalam keadaan emosi. Sementara Catherine yang dalam keadaan ketakutan. Emosi Kimberly dan ketakutan Catherine masih belum hilang sepenuhnya. Keduanya masih dalam suasana buruk, terutama Kimberly.


"Sayang," ucap Tommy lembut dengan tangannya membelai kepala belakang Kimberly.


Billy, Tommy dan yang lainnya saat ini berada di lapangan. Mereka duduk di bawah pohon rindang.


Billy menatap kearah adik sepupunya yang saat ini masih diam dan dalam rangkulan Tommy. Billy menatap khawatir adik sepupunya itu. Begitu juga dengan Aryan, Risma dan Triny.


"Kim," panggil Billy.


Sementara yang dipanggil tidak memberikan reaksi apapun. Pikirannya masih tertuju dimana kejadian sahabat terbaiknya hendak disakiti oleh orang yang sudah membuat dirinya hampir mati karena alerginya.


Melihat keterdiaman Kimberly membuat Billy, Triny, Aryan dan Risma menatap Kimberly khawatir. Begitu juga dengan Tommy serta yang lainnya.


Aryan melihat kearah Catherine yang saat ini sama seperti Kimberly. Namun Aryan harus melakukan sesuatu.


"Catherine," panggil Aryan.


Catherine langsung melihat kearah Aryan. Dirinya menatap tepat di manik hitam Aryan. Tersirat sebuah pertanyaan disana.


"Iya."


"Lo benar-benar cinta kan sama Billy?" tanya Aryan.


"Kenapa lo nanya gitu? Gue benar...."


"Lo sayang kan sama Kimberly?"


"Aryan, gue....."


"Jawab Catherine!"


"Gue cinta sama Billy! Gue sayang sama Kimberly. Rasa cinta dan rasa sayang gue sama mereka berdua begitu besar."


"Kalau begitu. Lupakan apa yang sudah lo alami beberapa menit yang lalu. Jangan diingat-ingat lagi. Semuanya udah selesai. Asena dan Cherry sudah di bawa ke kantor polisi. Dan kemungkinan besar mereka berdua akan dihukum seumur hidup di dalam penjara. Gue udah buat laporan dan memberikan bukti kuat kepada polisi. Ditambah lagi kak Pasya dan kak Ricky ada di dalam sana yang akan mengurus semuanya."


Aryan menatap wajah Catherine bergantian dengan menatap wajah Kimberly. Aryan begitu mengkhawatirkan Kimberly.


"Catherine! Kemungkinan besar, jika lo dalam keadaan baik-baik saja. Jika lo berusaha untuk melupakan kejadian itu. Secara otomatis Kimberly juga akan melupakan kejadian itu juga. Secara Kimberly memiliki dendam terhadap Asena dan Cherry. Dendamnya belum terbalas, tapi justru lo sahabat terbaiknya hampir dilukai oleh Asena dan Cherry. Hal itu membuat dendamnya menjadi dua kali lipat. Apa lo memang berniat Kimberly menjadi seorang pembunuh, walau alasannya membela diri atau balas dendam."


"Semarah apapun kita, sebaiknya jangan sampai kelepasan hingga menghilangkan nyawa orang. Apalagi orang itu adalah teman kita sendiri."


Mendengar perkataan dari Aryan membuat Billy, Triny, Risma, Tommy, Andhika dan yang lainnya menganggukkan kepalanya membenarkan. Mereka tidak ingin hal yang tidak diinginkan terjadi.


"Cat, coba lo lihat Kimberly!" seru Aryan.


Catherine langsung melihat kearah Kimberly. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Apa lo nggak kasihan lihat Kimberly yang saat ini masih belum menerima atas apa yang lo alami. Bahkan kejadian dimana Asena dan Cherry yang mencampuri udang dan strawberry ke dalam makanan dan minumannya terus berputar-putar di kepalanya. Saat ini Kimberly masih diselimuti amarah."


"Jika lo sayang sama dia. Hibur dia. Ajak dia bicara. Bukankah memang itu tugas lo setiap Kimberly emosi. Selain gue, Triny dan Billy yang hanya bisa menenangkan Kimberly. Ditambah sekarang ada Tommy. Lo orang yang selalu ada untuk Kimberly. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia. Kalian selalu berusaha untuk meredam amarah Kimberly."


Tes..


Seketika air mata Catherine jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Aryan dengan tatapan matanya menatap kearah Kimberly yang saat ini hanya diam tanpa reaksi apapun.


Catherine merutuki kebodohannya karena tidak membantu Kimberly untuk menenangkan amarahnya. Justru dia yang sudah memancing amarah Kimberly makin meledak keluar.


"Kim," panggil Catherine dengan nada bergetarnya.


Mendengar panggilan dari Catherine, seketika Kimberly langsung melihat kearah Catherine. Dapat dilihat olehnya, Catherine menangis.


"Kim, maafin gue. Nggak Seharusnya gue membiarkan lo ngelakuin itu. Seharusnya gue nenangin lo."


"Kita lupain aja ya. Asena dan Cherry udah di kantor polisi. Biar itu jadi urusan polisi. Gue udah nggak apa-apa. Itu semua berkat lo," ucap Catherine sembari memohon kepada Kimberly.


Mendengar ucapan demi ucapan dari Catherine seketika membuat Kimberly tersenyum.


Melihat Kimberly yang tersenyum membuat mereka semua merasakan kelegaan. Setidaknya mereka mendapatkan balasan dari Kimberly.


"Gue baik-baik saja. Lo nggak usah khawatir apalagi merasa bersalah. Lo sahabat gue. Dan udah seharusnya gue nolongin lo."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat mereka semua tersenyum bahagia. Terutama Tommy, Billy, Triny, Aryan dan Risma.


Tommy mengusap lembut kepala belakang Kimberly. Dia tersenyum bahagia ketika melihat perubahan wajah kekasihnya itu.


"Kamu lapar?"


Kimberly langsung melihat wajah Tommy yang juga menatap wajahnya. Kimberly tersenyum ketika melihat tatapan mata Tommy yang teduh.


"Lapar. Tapi aku nggak mau makan di kantin."


"Terus kamu mau makan dimana?"


"Makan di cafe favorit kita."


"Sekarang?"


"Iya."


"Kita kan sedang......"


"Kita bolos aja ya. Piiisss!"


Kimberly memperlihatkan wajah sedih dan wajah memelasnya di hadapan Tommy.


Melihat wajah memelas serta wajah sedih Kimberly membuat Tommy kelabakan. Dirinya bingung.


Tommy melihat kearah sahabat-sahabatnya, terutama Billy. Namun apesnya, semua sahabat-sahabatnya termasuk Triny, Aryan, Risma serta yang lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing.


Disini Tommy sudah ketahuan oleh kedua orang tuanya membolos sebanyak sepuluh kali. Alasan dia membolos karena pikirannya sedang kusut akan masalah yang menghampirinya. Contohnya seperti : masalah ketika menghadapi Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya.


Tommy mendapatkan ancaman untuk bulan ini tidak ada lagi acara bolos-bolosan. Jika kedapatan dirinya membolos dalam bulan ini, maka dirinya akan dikurung di dalam kamar dan dilarang untuk bertemu dengan Kimberly.


"Sahabat-sahabat sialan," batin Tommy mengumpat.


"Tommy," panggil Kimberly.


"Ach, iya! Ada apa, hum?"


"Bagaimana? Kamu mau tidak?"


[Tommy, bukan depan kamu harus full masuk sekolah. Mami tidak mau ada acara bolos-bolosan lagi]


Tommy mengingat ancaman yang diberikan oleh kedua orang tuanya.


"Ach, sial!"


Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya tersenyum geli ketika melihat wajah frustasi Tommy. Mereka tahu bahwa saat ini Tommy benar-benar bingung harus milih yang mana. Menuruti kemauan Kimberly atau menuruti perintah kedua orang tuanya.


Dikarenakan tidak tahan melihat wajah frustasi Tommy membuat Lionel, Nathan dan Ivan seketika tertawa keras.


"Hahahahaha."


Mendengar tawa keras dari Lionel, Nathan dan Ivan membuat Kimberly menatap ketiganya bingung.


"Wajah lo jelek banget, Tom. Sumpah!" ledek Nathan.


"Lo pasti stres sekarang ya mau milih yang mana... Hahahahaha!" sahut Lionel disertai tawanya.


"Kasihan banget lo, Tommy!" sahut Ivan.


Mendengar perkataan serta ledekan dari Lionel, Nathan dan Ivan membuat Tommy mendengus kesal. Kemudian Tommy menatap tajam ketiganya.


"Emang kampret kalian bertiga," ucap Tommy.


"Hahahahaha." Lionel, Nathan dan Ivan kembali tertawa.


Kimberly menatap tajam kearah Lionel, Nathan dan Ivan. Seketika Kimberly menggeram.


Tawa Lionel, Nathan dan Ivan seketika berhenti. Ketiganya menatap wajah Kimberly. Dan detik kemudian, mereka menelan ludahnya secara kasar.


"Hahahahaha. Rasain lo pada. Makan tuh pelototan gratis dari cewek gue!" seru Tommy.


"Kenapa kalian tertawa? Apa ada yang lucu?" tanya Kimberly yang masih memberikan pelototannya kepada Lionel, Nathan dan Ivan.


"Kita tertawa karena melihat wajah stres Tommy," ujar Nathan.


Kimberly langsung melihat wajah Tommy. Dapat Kimberly lihat wajah kalau perubahan wajah Tommy terlihat aneh.


Kimberly kembali menatap wajah Lionel, Nathan dan Ivan secara bergantian.


"Kalian mau masuk rumah sakit atau kuburan?" tanya Kimberly.


"Yak, Kim! Nggak kedua-duanya!" seru Lionel Nathan dan Ivan bersamaan.


"Kalau gitu kasih tahu aku. Ada apa?"


"Itu Tommy," sahut Ivan.


"Kenapa Tommy?" tanya Kimberly.


"Tommy dapat ancaman."


Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Nathan.


Sementara Lionel, Nathan dan Ivan berusaha mati-matian menahan tawanya ketika melihat wajah serius Kimberly ketika mendengar pujaan hatinya diancam.


Sedangkan yang lainnya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Ancaman? Siapa yang berani ngancam Tommy? Kasih tahu gue," ucap Kimberly.


"Teru lo mau ngapain jika kita kasih tahu orang yang sudah ngancam Tommy?" tanya Lionel.


"Yang pastinya gue bakal buat orang itu pergi dari dunia ini. Atau setidaknya tidur di rumah sakit berbulan-bulan."


Mendengar jawaban kejam dari Kimberly membuat Lionel, Nathan dan Ivan kembali tertawa.


"Hahahahaha."


Sementara Tommy seketika melotot menatap wajah Kimberly. Bukannya marah. Hanya Tommy gemas melihat wajah Kimberly ketika mengatakan itu. Lagian Tommy juga tahu bahwa Kimberly mengatakan itu karena kekasihnya itu tidak tahu siapa orang yang dimaksud oleh Lionel, Nathan dan Ivan.


"Wah, Kim! Jadi lo bakalan buat orang itu masuk rumah sakit?" tanya Lionel.


"Iya. Kenapa?" jawab Kimberly dengan tatapan menantangnya.


"Sekali pun orang yang ngancem Tommy itu adalah kedua orang tuanya, hum?" tanya Ivan.


Seketika Kimberly membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Ivan.


"Apa maksud lo?"


"Maksud gue. Orang yang ngancam Tommy itu tak lain adalah kedua orang tuanya Tommy. Bukan orang lain."


Kimberly kembali membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Ivan. Berlahan Kimberly menatap kearah Tommy.


"Tommy," ucap Kimberly.


"Belum jadi menantu Papi sama Mami, tapi kamu mau nyakitin mereka!"


Di dalam hatinya Tommy tersenyum gemas ketika melihat wajah Kimberly yang tampak bersalah.


"Aku kan nggak tahu. Kamu marahnya jangan sama aku. Marahin aja mereka." Kimberly menjawab perkataan dari Tommy sembari menunjuk kearah Lionel, Nathan dan Ivan. "Kan mereka yang biang keroknya."


Kimberly memanyunkan Bibirnya karena mendapatkan reaksi tak mengenakkan dari Tommy.


Tommy tersenyum ketika wajah manyun kekasihnya itu. Begitu juga dengan yang lainnya.


Ketika Tommy hendak membalas perkataan dari Kimberly, tiba-tiba datang seorang murid perempuan.


"Kimberly."


Kimberly langsung melihat kearah murid perempuan itu. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Ya, ada apa?"


"Di halaman depan sekolah. Ada gadis yang nyariin kamu."


"Siapa?"


"Nah, itu dia Kimberly. Ketika aku nanya namanya. Justru dia menjawab dengan mengatakan bahwa kamu kenal sama dia."


"Dia sendirian atau...."


"Bersama dua temannya."


"Ya, udah! Terima kasih ya."


"Sama-sama."


Setelah itu, Kimberly berdiri dari duduknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Kemudian mereka melangkah menuju halaman depan sekolah