
Kimberly dan Tommy saat ini berada di sebuah mall yang cukup terkenal dan besar di negara Jerman. Bukan hanya mereka berdua saja melainkan para sahabat-sahabatnya dan juga sepupunya.
Mereka pergi ke mall dan juga ke tempat-tempat lainnya guna untuk menghabiskan waktu kebersamaan mereka sembari berkencan. Setelah puas, barulah mereka pulang ke rumah masing-masing.
Sementara untuk Aryan dan sahabat-sahabatnya sibuk dengan urusan masing-masing karena hanya mereka tidak membawa pasangan.
Kimberly, Tommy dan yang lainnya melangkahkan kakinya menyusuri luasnya mall. Mereka mengobrol dan tertawa sembari terus melangkahkan kakinya.
Melihat kekompakan dan kebersamaan Kimberly, Tommy dan yang lainnya membuat para pengunjung mall menatap dengan tatapan kagum. Mereka kagum akan kecantikan dan ketampanan yang dimiliki oleh Kimberly, Tommy dan yang lainnya.
Kini Kimberly, Tommy dan yang lainnya memasuki sebuah restoran yang dikenal cukup luas di mall.
Setelah berjalan-jalan mengelilingi luasnya mall sehingga membawa beberapa paper bag di tangan masing-masing, terutama untuk para gadis. Mereka semua pun memutuskan untuk makan.
Setelah berada di dalam restoran, mereka semua pun langsung mencari tempat yang kosong. Ketika sudah mendapatkan tempat, mereka semua pun langsung menduduki pantatnya di kursi yang telah tersedia.
"Kalian makan apa?" tanya Billy dengan menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya, sepupunya dan kekasihnya.
"Apa aja!" jawab para sahabatnya kompak.
"Kamu Kim?" tanya Billy.
"Kali ini aku samaan sama Tommy," jawab Kimberly.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Tommy tersenyum.
"Kamu sayang?" tanya Billy menatap wajah cantik Catherine.
"Aku samain sama kamu aja," jawab Catherine sembari tersenyum.
"Copy paste lo," ejek Kimberly.
"Biarin, wlee!" jawab Catherine sembari menjulurkan lidahnya kearah Kimberly.
"Gue copot lo dari status calon kakak ipar gue," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Catherine melotot. Sementara yang lainnya tersenyum gemas melihat perang kecil antara Kimberly dan Catherine.
"Nggak asyik lo. Bisanya ngancam doang," ucap Catherine kesal.
"Biarin... Wlee!"
Lagi-lagi Catherine melotot ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Apalagi Kimberly yang meniru perkataannya.
"Nah, tuh lo copy paste punya gue!" sahut Catherine menatap wajah Kimberly.
Kimberly seketika terdiam dengan tatapan matanya menatap wajah Catherine. Namun detik kemudian, Kimberly berucap sehingga membuat Catherine dan semuanya hanya bisa menghela nafas pasrah.
"Khusus buat gue diperbolehkan untuk copy paste punya orang," jawab Kimberly seenaknya.
"Iyain aja deh!" seru mereka semua bersamaan, kecuali Tommy yang hanya tersenyum.
"Aish!" Kimberly menatap kesal semuanya.
Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah kesal Kimberly. Dan bertepatan itu, pesanan mereka semua pun datang dan langsung disajikan di atas meja.
Setelah semua pesanan mereka tersaji di atas meja. Mereka semua pun mulai menikmati makanan dan minuman yang sudah dipesan.
Ditengah-tengah mereka menikmati makanan dan minuman yang ada di atas meja, tiba-tiba mereka dan para pengunjung restoran lainnya dikejutkan dengan suara keributan.
"Lo nggak punya mata, hah?!" bentak wanita angkuh kepada wanita yang ada di hadapannya.
"Kenapa anda marah-marah kepada saya? Jelas-jelas anda yang jalannya tidak melihat ke depan. Ditambah lagi anda dengan seenaknya mendorong wanita lain hanya untuk mendapatkan posisi depan." wanita yang menjadi korban bentakan membalas perkataan dari si wanita angkuh.
Mendapatkan perlawanan dari wanita di hadapannya membuat wanita angkuh tersebut menatap marah. Wanita angkuh itu tidak terima jika ada yang berani melawan dirinya.
Mendengar keributan tersebut membuat kedua wanita itu menjadi pusat perhatian. Para pengunjung restoran termasuk Kimberly, Tommy, Andhika, Billy, Triny, Aryan dan para sahabat melihat kearah kedua wanita tersebut.
"Triny," panggil Kimberly.
Triny yang dipanggil oleh sepupunya langsung melihat kearah sepupunya itu. Begitu juga dengan Aryan dan Billy.
"Iya, Kim!"
"Aku seperti tak asing dengan salah satu dari wanita itu. Coba kamu lihat deh," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari Kimberly. Triny kembali melihat kearah dua wanita yang bertengkar tersebut. Begitu juga dengan yang lainnya.
Triny, Billy dan Aryan melihat dengan intens kearah wanita yang menjadi korban bentakan dari wanita angkuh.
"Eh, bukannya itu kak Vina!" seru Aryan yang langsung mengenali wanita yang bertengkar dengan wanita angkuh.
Aryan melihat kearah Kimberly. "Kim! Itu kak Vina, sahabatnya kak Riyan!"
Mendengar seruan dari Aryan membuat Kimberly seketika langsung teringat akan sahabat perempuan dari kakak laki-laki keempatnya.
Setelah itu, Kimberly langsung berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua wanita yang masih ribut saat ini. Lebih tepatnya si wanita angkuh itu yang masih mencari ribut dengan wanita yang dikenal oleh Kimberly, Billy, Triny dan Aryan.
Wanita angkuh itu masih tidak terima wanita yang ada di hadapannya melawan dirinya. Bahkan wanita angkuh itu berulang kali menghina dan merendahkan wanita tersebut.
Wanita angkuh itu merebut paksa minuman yang dipegang oleh wanita lain yang kebetulan lewat. Setelah mendapatkan minuman itu. Si wanita angkuh itu hendak menyiram minuman itu ke wajah wanita yang berdiri di hadapannya.
Ketika sedikit lagi air minum itu mengenai wanita yang menjadi lawannya, tiba-tiba seseorang datang dan langsung memutar tangannya sehingga dirinya yang basah oleh air tersebut.
Byur!
Melihat apa yang terjadi pada dirinya. Wanita angkuh itu langsung melihat kearah orang yang sudah berani ikut campur.
"Hai," sapa Kimberly dengan wajah tak bersalahnya. Dan jangan lupa senyuman manisnya yang tercetak di bibirnya.
Sementara wanita angkuh itu menatap tajam kearah Kimberly. Di dalam hatinya menyumpahi wanita yang sudah berani ikut campur urusannya.
"Siapa lo? Kenapa lo ikut campur urusan gue?!" bentak wanita angkuh itu.
"Aku bukan siapa-siapa. Hanya saja aku paling tidak suka melihat seorang wanita yang sok berkuasa dan angkuh seperti anda menyakiti wanita lain. Apalagi sampai menghina wanita itu," jawab Kimberly.
"Jangan sok jadi pahlawan untuk wanita tak tahu diri ini!" bentak wanita angkuh itu sembari menunjuk kearah wanita yang menjadi lawannya sejak awal.
"Anda dengan gampang menyebut wanita lain dengan sebutan wanita tak tahu diri. Lalu bagaimana dengan anda, hum?" ucap dan tanya Kimberly dengan wajah mengejeknya.
"Apa maksud lo, hah?!"
"Maksudku adalah kau yang terlebih dahulu mencari masalah dengan wanita itu. Kau berjalan tanpa melihat keberadaan wanita itu sehingga kau menabraknya. Dan berakhir makanan wanita itu tumpah dan mengenai pakaianmu. Bahkan kau juga mendorong wanita lain agar mendapatkan antrian depan."
Mendengar perkataan dari Kimberly membuat wanita angkuh itu mengepakkan kuat tangannya. Dan jangan lupa tatapan matanya yang tajam menatap Kimberly.
Melihat keterdiaman wanita angkuh itu membuat Kimberly tersenyum. Bahkan Kimberly sangat yakin jika saat ini wanita angkuh tersebut tengah menyumpahi dirinya.
"Kakak Vina kan?" tanya Kimberly langsung.
Mendengar perkataan dari wanita muda di depannya membuat wanita itu menatap bingung kearah Kimberly.
"Iya. Saya Vina. Kamu siapa ya?" tanya wanita itu lembut.
"Ih! Nggak asyik. Kakak Vina melupakanku," ucap Kimberly.
Mendengar perkataan dari wanita muda yang ada di hadapannya membuat wanita yang bernama Vina itu berusaha untuk mengingat akan wanita muda itu.
Vina menatap wajah cantik wanita muda yang berdiri di hadapannya. Vina berusaha terus untuk mengingat siapa wanita muda itu? Kenapa dirinya melupakannya? Sementara wanita muda itu mengenalinya.
Dan detik kemudian, Vina membelalakkan matanya ketika telah mengingat akan wanita muda yang berdiri di hadapannya sekaligus yang telah menolongnya.
"Kimberly! Kamu Kimberly adik perempuannya Riyan?!" wanita itu berucap penuh semangat sembari menunjuk kearah Kimberly.
Kimberly seketika tersenyum bahagia ketika mendengar perkataan dan melihat reaksi dari Vina.
"Iya. Aku Kimberly adik perempuannya kak Iyan," jawab Kimberly.
Grep!
Vina langsung memeluk tubuh Kimberly. Dan langsung dibalas oleh Kimberly.
Beberapa detik kemudian, Vina melepaskan pelukannya lalu tatapan matanya menatap wajah cantik Kimberly adik perempuan Riyan yang tak lain adalah sahabatnya.
"Kakak senang bisa bertemu kamu lagi Kimberly."
"Aku juga senang bisa bertemu dengan kak Vina lagi. Oh iya! Kita ngobrol disana aja yuk," ajak Kimberly sambil menunjuk kearah dimana kekasihnya, ketiga sepupunya dan para sahabatnya berada.
Vina langsung melihat kearah tunjuk Kimberly. Dan dapat dilihat oleh Vina ada beberapa orang yang saat ini tengah melihat kearah dirinya dan Kimberly.
Kimberly langsung menggandeng tangan Vina dan membawanya menuju ke tempatnya. Dan Kimberly tak lupa berpamitan kepada wanita angkuh tersebut.
"Aku bawa pergi ya kakak ini. Jika kakak ini terlalu lama disini. Bisa-bisa kakak ini mati kelaparan. Kalau sampai kakak ini mati, nanti anda masuk penjara. Anda tidak ingin masuk penjara kan?"
Wanita angkuh itu mengepalkan kuat kedua tangannya ketika mendengar perkataan dari Kimberly. Bahkan tatapan matanya tak lepas menatap kearah Kimberly dan Vina.
"Awas kalian. Tunggu pembalasanku," batin wanita angkuh itu.
***
Plak!
Plak!
"Akkhh!"
Terdengar suara tamparan yang begitu keras di kediaman Aditya. Kejadian itu tepat di ruang tengah.
Semua anggota keluarga Aditya berkumpul disana. Dengan kata lain saudara maupun saudari dari Gustavo Chena Aditya berkumpul disana. Mereka semua menatap penuh amarah kearah Lindaweni dan putrinya Gracia.
"Aku tidak habis pikir dengan ulah kalian berdua! Apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih bermanfaat selain mengganggu ketenangan dan kebahagiaan orang lain!" bentak kakak laki-laki tertua Gustavo yang bernama Andez.
"Adik laki-lakiku berulang kali menegur kalian. Dan meminta kalian untuk melakukan hal-hal positif dan hal yang bermanfaat. Tapi kalian berdua masih saja melakukan hal buruk!" bentak kakak laki-laki kedua Gustavo.
Untuk Gustavo saat ini tidak akan ikut campur atau hanya sekedar membela istri dan putrinya. Dirinya benar-benar suda tidak mau peduli terhadap keduanya. Gustavo saat ini sudah mengetahui satu rahasia besar yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh istrinya itu.
Untuk rahasia besar itu, Gustavo sudah menceritakannya kepada keluarganya. Karena itulah kenapa Gustavo tidak akan buka mulut sebelum kedua kakak laki-lakinya selesai dengan pekerjaannya.
"Dan kau Gracia!" Leony selaku adik perempuan Gustavo berbicara sambil menatap marah kearah Gracia. "Kelakuanmu benar-benar menjijikkan. Kau berulang kali mempermalukan keluarga Aditya. Dulu kau sendiri yang menolak untuk dijodohkan dengan putra tuan Andrean Alexander. Bahkan kau tidak pernah mau hadir ketika keluarga besar Alexander datang ke rumah ini. Dan sekarang, ketika putranya sudah menjalin hubungan asmara dengan gadis lain. Kau justru mengacaukannya. Bahkan kau terang-terangan ingin menghancurkan hubungan keduanya dengan memberikan ancaman akan mencelakakan kekasihnya jika dia tidak menerima cintamu!"
"Bukan itu saja. Kau justru mencari masalah dengan gadis itu dengan menyakitinya. Namun sayangnya, gadis yang kau lawan tersebut tak sebanding denganmu. Bahkan level kalian berdua jauh berbeda. Dengan kata lain, levelmu berada jauh dibawah gadis itu," ucap Miranda adik perempuan Gustavo lainnya.
Miranda menatap tajam kearah kakak iparnya yaitu Lindaweni yang saat ini menundukkan kepalanya karena takut.
"Dan untuk kau," tunjuk Miranda kearah Lindaweni. "Jelas-jelas putrimu yang salah, tapi kau malah menyalahkan gadis itu dengan mendatangi sekolahnya. Kau memakinya dan juga menghinanya. Mendengar kabar dari tangan kanannya akan kelakuanmu, kakakku Gustavo berusaha untuk memaafkan kesalahanmu dan mencoba memberikan kesempatan padamu. Tapi nyatanya kesempatan yang diberikan oleh kakakku padamu tidak kau gunakan dengan baik. Baik kau dan putrimu makin menjadi-jadi."
Gustavo seketika berdiri dari duduknya lalu dirinya memanggil dua orang untuk menghadapnya.
"Salman, Khairy. Kemari kalian!"
Salman dan Khairy langsung datang menghadap. Kini ketiganya sudah berdiri di ruang tengah.
"Iya, tuan!"
"Kalian bantu kedua adik perempuanku untuk membereskan semua pakaian kedua wanita tidak tahu diri itu." Gustavo berucap dengan penuh penekanan dan kemarahan tercetak di wajahnya.
Mendengar perkataan dari Gustavo membuat Lindaweni dan Gracia terkejut dan juga syok. Mereka tidak menyangka jika suaminya/ayahnya berucap seperti itu.
"Sa-sayang!"
"Da-daddy!"
Lindaweni dan Gracia berucap dengan suara bergetarnya. Dan menatap sedih suaminya/ayahnya.
Sementara Gustavo bersikap biasa saja. Tidak ada raut bersalah dan tidak ada raut sedih sama sekali.
"Leony, Miranda. Silahkan kamu bereskan semua pakaian mereka. Kakak ingin mereka berdua pergi dari rumah ini. Mulai detik ini, mereka berdua bukan lagi bagian keluarga Aditya."
"Dengan senang hati kakak Gustavo!" Miranda dan Leony berucap bersamaan.
Setelah itu, keduanya langsung pergi menuju kamar Gustavo dan kamar Gracia untuk membereskan semua pakaian kedua wanita itu.
Gustavo menatap dengan tatapan amarahnya kearah Lindaweni dan juga Gracia.
"Aku sudah mengetahui satu rahasia yang kau sembunyikan dariku selama ini. Dan kesalahan tersebut tidak akan pernah aku maafkan. Karena kesalahanmu itu sudah merenggut nyawa perempuan yang begitu aku cintai dalam hidupku. Perempuan itu adalah ibu dari kedua anak-anakku, Naina dan Nando."
"Dan untuk kau." Gustavo menatap marah kearah Gracia. "Aku beritahu satu hal padamu akan statusmu di keluarga Aditya. Kau bukan putri kandungku. Aku bukanlah ayah kandungmu. Ibumu yang murahan ini telah membohongiku selama ini. Ibumu hamil dengan laki-laki lain. Tapi dia justru memfitnahku yang telah menghamilinya. Ibumu telah menjebak ku dengan memberikanku minuman yang sudah dicampur dengan obat perangsang sehingga terjadi hal yang tidak diinginkan itu. Dan saat kejadian itu, ibumu sudah hamil terlebih dahulu."
Mendengar ucapan demi ucapan dari ayahnya membuat Gracia terkejut. Dirinya tidak menyangka jika dirinya bukanlah putri kandung dari Gustavo Aditya.
"Tidak. Daddy pasti bohong."
"Kau tanyakan saja kepada ibumu," sahut Gustavo.
Leony dan Miranda datang dengan menyeret masing-masing dua koper. Dua koper milik Lindaweni dan dua koper lagi milik Gracia.
"Kalian, bawa kedua perempuan ini kembali kepada keluarganya. Dan pastikan kedua perempuan ini tidak mengusik keluarga Aditya. Jika kedua perempuan ini sampai berani masuk, mengganggu dan mengusik keluarga Aditya. Aku perintahkan kepada kalian untuk menghabisi mereka berdua. Begitu juga dengan anggota keluarganya. Kalian mengerti!"
"Kami mengerti tuan!"
"Kalau begitu. Bawa kedua benalu ini pergi dari rumah adik laki-lakiku!" perintah Andez.
Salman dan Khairy langsung menyeret paksa tangan Lindaweni dan Gracia untuk membawa keluar rumah. Sementara untuk koper-koper mereka dibawa oleh para pelayan.