THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Menunggu Sebuah Kejutan



Kimberly dan Catharine berada di ruang ganti. Mereka sedang mengikuti pelajaran olahraga. Dan waktu pelajaran olahraga mereka selama dua jam. Kimberly membuka pintu loker.


KLAK!


Pintu loker itupun terbuka. Setelah pintu loker terbuka. Kimberly melihat ada beberapa surat, kotak permen, juga coklat dan bunga. Kimberly yang melihat hal itu sepertinya sama sekali tidak tertarik. Kimberly mengalihkan perhatiannya kearah sahabatnya.


"Ada apa?" tanya Catharine.


"Kau lihatlah sendiri," jawab Kimberly lalu menyingkir dari depan loker dan membiarkan Catharine untuk melihatnya.


Catharine berdiri di depan loker Kimberly dan dapat dilihat oleh Catharine ada lima surat, dua kotak permen, dua coklat dan satu bunga mawar plus sebuah surat.


"Kim. Ada suratnya!" seru Catharine.


"Dari siapa? Jika tidak penting buang saja semuanya," jawab Kimberly.


Catharine membuka surat tersebut. Setelah terbuka, Catharine mengeluarkan isinya dan membuka lipatan kertasnya. Catharine pun langsung membacanya.


Beberapa detik kemudian, Catharine menunjukkan reaksi yang tak mengenakkan. "Ih. Dasar laki-laki gak guna. Mati saja lo," ucap Catharine.


"Siapa?" tanya Kimberly.


"Siapa lagi?" Catharine balik bertanya.


"Si pria brengs*k itu?" tanya Kimberly.


"Hm." Catharine berdehem.


"Buang saja semuanya. Gak butuh juga," sahut Kimberly.


"Okelah," jawab Catharine.


Catharine mengambil semua pemberian Antoni lalu membuangnya ke dalan tempat sampah. "Sudah ditolak masih saja ngejar-ngejar. Gak ada harga dirinya lo," ucap Catharine pelan.


Kimberly yang mendengar omelan Catharine tersenyum geli. "Gak usah marah-marah. Orangnya juga gak ada disini. Marahnya nanti aja jika ada orangnya. Kalau perlu kamu bisa tampol tu wajahnya pake sepatu buntut kamu itu."


"Aish," kesal Catharine.


"Ya, sudah! Ayo, kita ke lapangan," ajak Kimberly.


Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan ruang ganti untuk menuju ke lapangan.


Kini semua murid kelas XA sudah berada di lapangan bersama dengan guru olahraga mereka.


"Baiklah anak-anak. Sebelum kita olahraga. Kita akan pemanasan terlebih dahulu. Pemanasan merupakan hal yang teramat penting untuk dilakukan. Kegiatan olahraga tanpa pemanasan kerap menimbulkan berbagai permasalahan, seperti kram."


"Badan yang kram akan merusak berbagai jaringan tubuh dan membuat otot menjadi tegang. Hal ini disebabkan aktivitas yang dilakukan secara berat tanpa adanya persiapan tubuh, seperti pemanasan."


"Tujuan kita melakukan pemanasan sebelum melakukan olahraga adalah untum melenturkan otot, meningkatkan detak jantung, meningkatkan suhu tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, mengurangi risiko cedera, meningkatkan performa tubuh, meningkatkan pernapasan tubuh, mempersiapkan kelenturan sendi, meningkatkan metabolisme otot, meningkatkan konduksi impuls saraf."


"Pemanasan akan kita lakukan selama lima belas menit."


"Siap, Pak!" seru para murid-murid kelas XA. Setelah itu, pemanasan pun dimulai selama lima belas menit.


Setelah lima belas menit melakukan pemanasan. Kini mereka pun mulai melakukan olahraga. Mereka akan olahraga basket. Dan nilai yang akan mereka dapatkan adalah 10. Nilai 10 itu sebagai tambahan untuk nilai rapor mereka.


Guru olahraga tersebut membagi dua kelompok. Dan masing-masing kelompok terdiri dari 17 orang. Kelompok pertama tim Kimberly. Namun sayangnya. Ditimnya Kimberly, masuk kelompoknya Syafina, kecuali Syafina.


Setelah pembagian kelompok. Mereka pun mulai bermain. Sesi pertama dimainkan oleh Tim Kimberly dan Tim Talitha.


Tim Kimberly adalah Rere, Santy, Enzi dan Vanesha. Sementara timnya Talitha adalah Selena, Aurel, Aldira dan Regina.


Ketika bermain Enzi yang mendapatkan operan bola, tiba-tiba mengoper bola itu kepada Selena. Seharusnya bola itu dioper kearah Rere teman satu timnya.


"Yak! Enzi, apa yang kau lakukan? Kenapa kau mengoper bolanya kepada tim lawan?!" teriak Rere.


"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah? Bukannya mereka teman-temanku," jawab Enzi santai.


"Woi, Enzi!" teriak Catharine yang sedang duduk di tepi lapangan. Enzi melihat kearah Catharine. "Semua orang tahu kalau lo dan kelompok simpanse itu berteman. Jadi gak usah pamer. Saat ini kalian itu musuhan. Dan lo ada timnya princess gue. Ngerti gak lo, hah!" teriak Catharine.


Mendengar perkataan Catharine semuanya tertawa kecuali kelompok Talitha dan kelompok Syafina. Mereka menatap tajam Catharine.


Dimenit yang ke lima belas. Santy mengoper bola kearah Enzi karena Enzi lah posisi yang bagus. Sementara Enzi mengoper bola kearah Vanesha dan ditangkap dengan baik oleh Vanesha. Dan lemparan selanjutnya seharusnya kearah Rere yang posisinya saat ini sangat bagus. Namun Vanesha justru melemparkan bola itu kearah Kimberly.


Ketika Vanesha hendak melemparkan bola tersebut kearah Kimberly. Santy yang melihatnya langsung berlari dan mendorong tubuh Kimberly. Dan berakhir kepala Santy yang mengenai bola basket tersebut.


BRUUKK!


DUG!


BRUUKK!


"Santy!" teriak Kimberly, Sinthia, Rere dan Catharine.


Santy jatuh dan tak sadarkan diri. Guru olahraga tersebut dengan sigapnya menggendong tubuh Santy dan membawanya ke ruang UKS.


Catharine menatap tajam Vanesha, lalu mendorong kuat tubuh Vanesha. "Lo apa-apaan sih! Lo sengajakan?!" bentak Catharine.


"Kalau iya, kenapa?!" Vanesha balik membentak Catharine.


"Lo." Catharine ingin menampar Vanesha, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Kimberly.


"Kim," Catharine menatap Kimberly kesal.


"Kita fokus sama Santy dulu. Urusan mereka nanti kita bahas," jawab Kimberly.


Kimberly dan Catharine memutuskan pergi meninggalkan lapangan basket untuk menuju ruang UKS.


Ketika baru tiga langkah Kimberly dan Catharine melangkah. Vanesha pun berteriak. "Seharusnya lo yang kena Kimberly. Aku memang ingin melukai kamu. Kau itu wanita murah*n tak tahu diri!"


Baik Vanesha maupun teman-temannya yang lainnya tertawa." Hahahahah."


Kimberly dan Catharine membalikkan badannya dan menatap tajam Vanesha. Berlahan Kimberly melangkah mendekati Vanesha.


"Apa yang barusan kau bilang?" tanya Kimberly.


"Kau itu wanita muraha*n tak tahu diri," jawab Vanesha mantap.


"Ooh, begitu. Jadi kau mengatakan bahwa aku adalah wanita muraha*n, begitu?"


"Memang kau wanita murah*n," jawab Vanesha.


"Lalu kalau kau sendiri bagus disebut apa? Kau setiap hari berjoget-joget di bar dengan pakaian setengah terbuka. Bahkan kau dipeluk dua laki-laki dari depan dan juga belakang. Kalau seperti itu, apa namanya coba?" Kimberly menatap nyalang Vanesha.


Baik Vanesha maupun teman-temannya yang lainnya termasuk kelompok Talitha mulai ketakutan.


"Kau ingin bermain-main denganku ternyata. Baiklah kalau itu yang kau inginkan, nona Vanesha! Kita lihat besok. Kau dan para antek-antekmu akan mendapatkan kejutan dariku dan juga sahabat-sahabatku. Tunggu saja."


Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan lapangan basket untuk menuju ruang UKS. Disusul oleh Catharine di belakang.


Sementara Vanesha dan teman-temannya serta Talitha dan teman-teman kini merasakan ketakutan. Mereka semua was-was untuk hari besok. Mereka berpikir apakah Kimberly dan keempat sahabat-sahabatnya akan menyebarkan video-video mereka itu ke internet? Atau Kimberly dan sahabat-sahabatnya itu akan mengirimkan video mereka ke semua teman-teman satu sekolah dengan mereka.


Jika Kimberly dan sahabat-sahabatnya benar-benar menyebarkan video itu. Habislah mereka. Masa depan mereka pasti hancur. Bahkan orang tua mereka akan marah besar dan juga malu.


"Kita harus memikirkan sesuatu!" seru Talitha.


"Apa kalian juga memikirkan apa yang aku pikirkan?" tanya Vanesha.


"Iya. Kami memikirkan jika Kimberly dan sahabat-sahabatnya akan menyebarkan video kita itu. Jadi sebelum semua itu terjadi. Ada baiknya kita melakukan sesuatu," ucap Talitha.


"Aku setuju dengan Talitha. Kalian tahu sendiri bukan. Kimberly itu wanita yang sangat kejam. Dan juga sangat menakutkan ketika sedang marah." Brenda berucap.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Jennie.


"Eemm. Begini saja. Kita laporkan saja Kimberly ke polisi tentang kekerasan yang dilakukan oleh Kimberly terhadap Aruna. Aku kebetulan kemarin diam-diam memvideokannya. Video itu bisa kita perlihatkan kepada pihak kepolisian." Enzi berbicara dengan sangat pedenya.


"Tenang saja. Video itu sudah aku edit alias aku potong pas dibagian Aruna ingin menumpahkan spageti Kimberly. Jadi hanya ada Kimberly saja di dalam video itu," sahut Enzi.


Mereka semua saling melirik. Detik kemudian, mereka semua menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa rencana tersebut akan mereka jalankan.