THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kedatangan Orang Tua Molly Dan Sheela



Namun detik kemudian...


"Yak! Tidak!"


Seketika tiba-tiba Kimberly berteriak sehingga membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut. Begitu juga dengan beberapa penghuni yang ada di perpustakaan.


Plak..


Catherine yang kebetulan duduk di samping kirinya langsung memukul bahu Kimberly. Dirinya benar-benar kesal akan kelakuan Kimberly. Begitu juga dengan Rere, Santy dan Sinthia.


"Kenapa lo berteriak sih?!" tanya Rere yang tak kalah kesal menatap Kimberly.


Kimberly yang sadar akan kesalahannya langsung mingkem sembari tersenyum tanpa dosa.


Yang membuat Kimberly tiba-tiba berteriak dimana dirinya tadi tengah membayangkan wajah tampan Tommy.


Tiba-tiba dalam bayangan Kimberly itu berubah jadi adegan dimana Tommy yang memeluk tubuh Molly dengan begitu eratnya. Ditambah lagi Tommy yang tersenyum manis menatap wajah cantik Molly. Bahkan keduanya saling berpagutan dan berciuman bibir.


"Ada apa sih?" tanya Santy penasaran.


"Ach, lupakan!" jawab Kimberly.


Mana mungkin Kimberly mengatakan tentang apa yang ada di pikirannya itu. Bisa malu dirinya dan bisa-bisa dirinya diledek habis-habisan sama keempat sahabatnya terutama Rere.


"Kim," panggil Sinthia.


Kimberly langsung melihat kearah Sinthia.


"Iya," jawab Kimberly singkat.


"Lo nggak ada rencana buat balas Syafina dan keempat teman-temannya itu?" tanya Sinthia.


"Nggak," jawab Kimberly.


"Kenapa?" tanya Santy.


"Nggak kenapa-kenapa juga. Intinya, gue males berurusan dengan mereka," jawab Kimberly.


"Tapi kalau mereka cari masalah lagi sama lo, bagaimana?" tanya Catherine.


"Tinggal hajar aja mereka. Bereskan! Gitu aja kok repot," sahut Kimberly lalu kembali membaringkan kepalanya di atas tumpuan ke dua tangannya.


Sementara Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berdecak kesal ketika mendengar jawaban demi jawaban yang diberikan oleh Kimberly. Apalagi semua jawaban yang diberikan oleh Kimberly semuanya jawaban sangat pas dan juga benar.


Dan mereka pun kemudian membenarkan apa yang dikatakan oleh Kimberly tentang Syafina dan keempat teman-temannya.


Ketika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sedang mengobrol di Perpustakaan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara panggilan dari salah satu teman sekelasnya.


"Kimberly!"


Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya langsung melihat kearah teman sekelasnya itu.


"Ada apa?" tanya Kimberly.


"Itu... Lo dipanggil sama kepala sekolah."


Kimberly dan keempat sahabatnya saling tatap. Mereka saling memberikan kode sembari sesekali mengangkat kedua bahu masing-masing.


"Memang ada apa ya? Kenapa kepala sekolah memanggil Kimberly?" tanya Santy.


"Aku juga tidak tahu. Tapi sepertinya ini masalah besar," jawab teman sekelasnya Kimberly dan keempat sahabatnya.


"Baiklah," jawab Kimberly.


"Kim, apa ini ada hubungannya dengan Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya?"


"Mungkin iya. Mungkin tidak. Tapi kayaknya iya," jawab asal Kimberly.


"Aish! Lo ini bagaimana sih. Buat kita bingung aja," kesal Catherine.


Setelah itu, Kimberly dan keempat sahabatnya berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan perpustakaan.


^^^


Brak!


Pintu dibuka dengan kasar oleh Andry.


"Eh, sialan! Kalau buka pintu itu yang benar. Kaget kita!" seru Lionel kesal.


Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya sahabatnya berada di ruang komputer. Mereka tengah menyelesaikan tugasnya yang sempat tertunda beberapa jam yang lalu.


"Billy, Tommy! Gawat!" seru Andry.


Billy dan Tommy seketika menghentikan kegiatannya. Dan langsung menatap kearah Andry. Dapat keduanya lihat tersirat raut kecemasan di wajah dan tatapan matanya.


"Gawat kenapa?" tanya Billy dan Tommy bersamaan.


"Tadi gue nggak sengaja lihat Kimberly melangkah menuju ruang kepala sekolah. Dan informasi yang gue dapatkan bahwa di ruang kepala sekolah itu ada beberapa orang tua."


Lionel, Henry, Satya, Nathan, Ivan, Mirza berseru bersamaan. Mereka langsung mengerti arah pokok permasalahannya.


Setelah itu, Billy dan Tommy serta Andhika langsung keluar meninggalkan ruang komputer untuk segera menuju ruang kepala sekolah. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Kimberly. Dan disusul oleh sahabat-sahabatnya di belakang.


^^^


"Kimberly, maaf kalau saya memanggil kamu kesini," ucap kepala sekolah itu lembut.


"Tidak apa-apa, pak! Memangnya ada apa? Kenapa bapak memanggil saya kesini?" tanya Kimberly sopan.


Sementara para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna yang ada di ruang itu menatap marah kearah Kimberly.


"Begini Kim. Mereka ini adalah orang tua dari dua murid baru yang bernama Molly Malachy, Sheela Shanley dan orang tua dari kelima teman-teman sekelas kamu. Mereka datang kesini karena marah bahwa anak-anaknya sudah kamu sakiti."


Kepala sekolah itu berbicara lembut kepada Kimberly karena kepala sekolah tersebut sudah tahu bahwa Kimberly tidak salah. Kimberly sampai melakukan itu hanya untuk melindungi dirinya dan keempat sahabatnya. Bahkan kepala sekolah itu sudah melihat video tersebut.


Sementara Kimberly yang mendengar ucapan dari kepala sekolah tersebut langsung langsung menatap satu persatu wajah kedua orang tua dari Molly, Sheela dan kelima teman-teman sekelasnya.


Setelah itu, Kimberly kembali menatap wajah kepala sekolah tersebut.


"Tujuan mereka datang kesini untuk apa? Dan apa keputusan bapak?" tanya Kimberly yang masih bersikap santai.


Mendengar pertanyaan dan melihat sikap santai Kimberly membuat kepala sekolah itu tersenyum. Kepala sekolah tersebut bangga akan sikap tenang dan sikap sopan Kimberly.


"Saya sebagai ibunya Molly akan membawa masalah ini ke polisi," ancam perempuan itu.


"Silahkan saja. Asal anda dan kalian semua tidak menyesal setelah membawa masalah ini ke polisi. Secara saya tidak bersalah disini."


Kimberly berbicara dengan penekanan. Dan bahkan mimik wajah sudah berubah menjadi dingin dan datar.


Kepala sekolah yang melihat perubahan mimik wajah dan tatapan mata Kimberly seketika sadar akan hal itu.


Kimberly menatap satu persatu wajah kedua orang dari Molly, Sheela dan kelima teman-teman sekelasnya dengan tatapan matanya yang menajam.


"Aku akui memang aku yang sudah membuat anak-anak kalian masuk rumah sakit. Tapi aku melakukan itu untuk membela diriku. Bukan semata-mata mau menjadi preman di sekolah ini," ucap Kimberly.


Setelah itu, Kimberly menatap wajah kepala sekolah tersebut. Tatapan yang sama yaitu tatapan datar dan dingin.


Melihat tatapan mata Kimberly, seketika membuat kepala sekolah itu sedikit takut.


"Di sekolah ini memiliki kamera cctv, bukan? Kenapa bapak tidak memeriksa?" tanya Kimberly.


"Bapak sudah memeriksanya. Namun hasilnya terlihat bahwa kamu yang terlebih dahulu menyerang Molly, Sheela dan kelima teman-teman kamu itu," jawab kepala sekolah itu.


"Oh, begitu!"


"Bapak percaya?" tanya Kimberly dengan tatapan lembutnya. Tidak seperti tadi.


"Kalau Bapak boleh jujur. Bapak percaya kamu. Kamu tidak melakukan hal itu," jawab Kepala sekolah itu.


Seketika terukir senyuman di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari Kepala sekolah itu. Kimberly sangat tahu bagaimana watak dan sifat kepala sekolahnya itu. Kepala sekolahnya itu tidak akan langsung percaya atas apa yang dia lihat dan dia dengar sebelum mendapatkan bukti yang kuat.


"Eem! Aku tahu kerjaan siapa ini? Mau bermain-main denganku ya. Baiklah kalau begitu," batin Kimberly dengan tersenyum di sudut bibirnya.


"Hei, kamu! Apa begini cara kedua orang tua kamu mendidik kamu, hah?!" bentak ibunya Sheela.


"Dasar anak tidak tahu diri!" bentak ibunya Molly.


"Kalau mau jadi preman. Jangan di sekolah ini. Keluar kamu dari sekolah ini. Setelah itu, lakukan sesuka hatimu diluar sana!" bentak Sheela.


Dan disusul oleh para orang tua yang lainnya. Mereka tidak kalah menghina Kimberly.


"Dasar manusia rendahan!"


"Menjijikkan."


"Mau jadi apa kamu. Di sekolahkan bukan berperilaku baik. Ini malah menjadi preman."


"Memalukan!"


Para orang tua dari Molly, Sheela dan kelima teman-temannya menatap jijik dan marah kearah Kimberly.


Sementara Kimberly hanya tersenyum menanggapi bentakkan dan hinaan dari orang tua dari Molly, Sheela dan kelima teman-teman sekelasnya.


"Ngatain anak orang tidak tahu diri. Padahal anak sendiri jauh tidak tahu diri. Bahkan menjijikkan," balas Kimberly.


"Apa yang kau katakan, hah?!" bentak ibunya Molly.


"Tidak. Aku barusan mengatakan untuk seekor anak hewan yang baru masuk rumah sakit kemarin," jawab Kimberly.


Mendengar perkataan kejam dari Kimberly membuat mereka menatap marah kearah Kimberly.


Ketika suasana dalam ruangan kepala sekolah memanas, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara pintu yang dibuka paksa.


Brak!