THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Mengatur Pembalasan Untuk Syafina



Setelah mengikuti pelajaran di kelas selama dua jam setengah. Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya memutuskan untuk langsung ke kantin.


Sejak mereka mengikuti pelajaran, perut mereka sudah berdendang ria minta diisi.


"Billy, Tommy!" panggil Ivan.


Billy dan Tommy melirik sekilas kearah Ivan. Setelah itu, keduanya kembali menatap makanannya di hadapannya.


"Kalau mau ngomong tingga ngomong doang," ucap Billy.


"Ribet banget hidup lo. Nggak usah bikin ribet kenapa," sela Tommy sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Mendengar ucapan kejam dan sindirannya dari Billy dan Tommy membuat Ivan mendengus.


Sementara sahabat-sahabatnya yang lain tertawa melihat wajah kesal Ivan.


Billy dan Tommy kembali melirik kearah Ivan sembari tersenyum, lalu kembali fokus pada makanannya.


"Lo mau nanya apa, marmut? Buruan!" seru Tommy.


"Mumpung gue lagi baik hati nih sama lo. Buruan sampaikan apa yang ingin lo sampaikan sama gue. Nggak elit kan kalau lo mati hanya karena keinginan lo tak tersampaikan," ucap Billy.


"Sialan kalian berdua," ucap Ivan kesal sembari melempar kentang goreng kearah Billy dan Tommy.


"Hahahahaha."


Dan pada akhirnya, baik Billy dan Tommy maupun Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain tertawa keras ketika melihat wajah kesal Ivan.


"Oke, oke! Sekarang lo mau nanya apa ke gue?" tanya Billy yang tidak tega melihat wajah kesal Ivan.


"Gue mau nanya sama lo berdua. Apa kalian udah tahu kalau Molly dan Sheela mencari masalah dengan Kimberly. Bahkan mereka berdua bergabung dengan Syafina dan keempat teman-temannya untuk menyerang Kimberly." Ivan berucap sambil menatap kearah Billy dan Tommy bergantian, lalu menatap wajah sahabat-sahabatnya yang lain.


Mendengar pertanyaan dari Ivan seketika membuat Billy dan Tommy terkejut. Begitu juga dengan Andhika dan yang lainnya.


Disini yang lebih terkejut adalah Tommy. Dirinya tidak menyangka jika Molly langsung menyerang Kimberly


"Yang benar?" tanya Tommy.


"Apa gue terlihat sedang bercanda," jawab Ivan.


"Lo tahu dari mana?" tanya Andhika.


"Buka ponsel kalian. Seseorang merekam kejadian dimana Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya mengganggu mencari ribut dengan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine. Bahkan mereka nekat menyerang Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine secara diam-diam."


Tanpa membuang-buang waktu lagi. Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain langsung mengambil ponselnya di saku celananya lalu membuka video yang dimaksud oleh Ivan.


Video tersebut sudah terkirim di grup sekolah. Dan semua sudah melihat adegan itu.


Detik kemudian...


"Brengsek! Besar juga nyali mereka mengusik cewek gue," ucap Tommy marah ketika melihat adegan di dalam video tersebut.


"Benar-benar cari mati mereka," ucap Andhika yang tak kalah emosi seperti Tommy ketika melihat video tersebut.


"Heran lihat kelakuan Syafina Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna. Mereka nggak pernah jera sama sekali. Mereka masih saja mencari masalah dengan Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine!" sahut Mirza.


"Sekarang mereka bersekutu dengan Molly dan Sheela lalu kembali mengusik Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine!" sahut Satya.


"Dan aku rasa ini ada hubungannya dengan mulut cabe-cabean Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna!" seru Lionel.


Billy, Tommy, Andhika dan yang lainnya menatap kearah Lionel. Mereka menatap wajah Lionel untuk meminta penjelasan akan perkataannya barusan.


"Apa maksud lo, Lionel?" tanya Tommy.


"Maksud gue adalah kemungkinan Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna telah mengatakan yang tidak-tidak sama Molly dan Sheela. Kemungkinan besar mungkin Syafina mengatakan bahwa Kimberly suka gonta-ganti pasangan. Lebih tepatnya, Syafina menyebut Kimberly gadis yang suka mengganggu hubungan asmara orang lain."


Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari Lionel membuat Billy, Tommy, Andhika dan yang lainnya langsung paham dan mengerti. Mereka meyakini jika penyerangan tersebut juga atas pengaruh Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna.


"Kemungkinan juga Syafina atau keempat teman-temannya mengatakan kepada Molly dan Sheela, jika hubungan Kimberly dengan Tommy adalah bahwa Kimberly yang telah merebut Tommy dari wanita lain." Henry menambahkan tentang pemikirannya untuk Syafina dan keempat teman-temannya.


Mereka semua berdehem sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan oleh Lionel dan Henry. Mereka berpikir jika Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna mengatakan hal yang buruk tentang Kimberly.


"Sekarang apa yang akan lo lakukan setelah melihat video itu?" tanya Andry dengan menatap kearah Billy, Tommy dan Andhika.


"Nggak ada!" Billy, Tommy dan Andhika menjawab bersamaan.


Mendengar jawaban kompak dari Billy, Tommy dan Andhika terkejut.


"Kenapa?" tanya Andry.


"Apa kalian nggak akan membalas perbuatan Molly dan Sheela?" tanya Nathan.


"Bukan nggak mau balas perbuatan duo kunti itu. Tapi kita ada rencana lain," ucap Andhika.


"Gue cukup melihat situasi untuk beberapa hari ini. Gue yakin jika orang tua yang anaknya disakiti oleh Kimberly pasti minta pertanggung jawaban dari Kimberly," ucap Billy


"Dari situ nanti gue yang bakal hadapi mereka. Begitu juga dengan Billy dan Andhika. Kita akan bermain-main dengan kedua kedua anak-anak mereka," jawab Tommy.


"Lalu bagaimana dengan Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna?" tanya Mirza.


Billy, Tommy dan Andhika saling memberikan lirikan matanya. Setelah itu, mereka kembali menatap sahabat-sahabatnya secara bergantian.


"Kita akan langsung membalas mereka setelah keadaan mereka kembali membaik," jawab Tommy.


"Tapi kita akan ajak Triny dan keempat sahabatnya. Soal hukum menghukum kita serahkan sama mereka," sahut Billy dan diangguki oleh Tommy dan Andhika.


Mendengar jawaban dari Billy membuat Mirza dan yang lainnya menganggukkan kepalanya tanda setuju akan jawaban sekaligus rencana Billy.


^^^


Di kelas Sherina bersama tiga sahabatnya. Dia sudah memperlihatkan foto Aryan bersama dengan Prisca ketika di jalan raya yang sepi. Di dalam foto itu terlihat bahwa Aryan dan Prisca tampak tengah berciuman.


Ketiga sahabatnya yaitu Alea, Riana dan Talla terkejut ketika melihat foto tersebut. Bahkan ketiga mulia memaki, menyumpahi bahkan menghina Aryan dan Prisca.


Mereka melakukan hal itu karena marah akan Aryan yang memiliki hubungan dengan Prisca dan melukai sahabatnya Sherina yang sejak pertama bertemu sudah mulai menyukainya.


Sherina berusaha mengalah dan mundur ketika mengetahui bahwa Aryan telah memiliki kekasih dari sekolah lain.


Namun kenyataan menampar Sherina dimana Sherina memergoki Aryan bersamaan Prisca.


"Kalian jangan ada menyebarkan foto ini. Cukup kalian saja yang tahu," ucap Sherina.


Awalnya Sherina ingin menyebarkan foto itu ke semua teman-teman sekolahnya karena Aryan adalah cowok brengsek yang suka memainkan perempuan.


Sherina berpikir bahwa Aryan menduakan kekasihnya dengan menjalin hubungan dengan Prisca. Padahal kenyataannya bukan seperti yang dipikirkan oleh Sherina.


Namun dikarenakan mendapatkan ancaman dari Aryan. Di tambah lagi ketika Sherina mendengar pembicaraan Aryan dengan seorang di telepon membuat Sherina ketakukan.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Sherina. Salah satu teman sekelasnya memiliki niat licik. Dia berencana untuk menyebarkan foto aib itu kepada semua teman-teman sekolahnya.


Seseorang itu adalah saingan Sherina dalam segala hal. Orang itu marah selalu kalah bersaing dengan Sherina. Begitu juga dengan ketiga sahabatnya Sherina.


"Ini pembalasan yang bagus untuk lo, Sherina! Gue bakal buat hidup lo dan ibu lo hancur," batin orang itu.


^^^


"Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saat ini berada di Perpustakaan. Tujuan mereka disana sembari membaca buku bisa sembari ngadem.


Baik Kimberly maupun Rere, Santy, Sinthia dan Catherine malas untuk balik ke kelas karena mata mereka enek dan sakit jika nanti melihat wajah curut Syafina, Enzi, Vanessa, Jennie dan Aruna ketika di kelas.


"Kim, apa rencana lo selanjutnya? Lo nggak akan diam aja kan jika duo kunti itu balik gangguin lo? tanya Rere.


"Ngapain juga sibuk mikirin untuk balas mereka. Mending saat ini kita tidur-tiduran sambil nenangin pikiran. Atau kalau perlu kita bayangin wajah tampan pangeran-pangeran tampan kita. Itu baru mengasyikkan."


Kimberly meniduri kepala di meja dengan ke dua tangan sebagai alasnya. Lalu kemudian Kimberly membayangkan wajah Tommy yang begitu tampan bak pangeran yunani. Itu menurut Kimberly nya.