THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Senyuman Devil



"Apa kamu yakin ingin membalas langsung kepada anak perempuannya tuan Fathir, Delina?" tanya Shireen ibunya Sheela.


"Iya. Aku sebagai seorang ibu tidak terima putriku disakiti sampai berakhir masuk rumah sakit," sahut Delina ibunya Molly.


Kedua wanita itu adalah ibunya Molly dan ibunya Sheela. Delina dan Shireen berada di sebuah cafe. Mereka bertemu untuk merencanakan sesuatu.


"Terus bagaimana jika apa yang kita lakukan ketahuan?" tanya Shireen.


"Kita melakukannya dengan hati-hati. Jangan sampai ketahuan. Setidaknya kita buat anak tak tahu diri itu merasakan apa yang dirasakan oleh putri-putri kita," ucap Delina.


"Baiklah. Aku mau ikut. Aku melakukan ini juga demi putriku," sahut Shireen.


Mendengar jawaban dari ibunya Sheela membuat Delina tersenyum.


"Kapan kita melakukannya?" tanya Shireen.


"Hari ini sekitar pukul 12 siang."


"Baiklah!"


"Kimberly, tunggu kejutan dari saya!" Delina berucap di dalam hatinya.


***


Hari ini adalah hari kedua Kimberly menggantikan ayahnya di perusahaan cabang. Dan kini Kimberly berada di ruang kerjanya tengah memeriksa beberapa berkas yang diberikan oleh wakil ayahnya.


Kimberly mempelajari setiap berkas-berkas itu dengan teliti. Dirinya tidak ingin ada yang terlewatkan sedikit pun.


Ketika Kimberly sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.


Tok..


Tok..


Tok..


"Masuk!"


Cklek..


Pintu dibuka oleh seseorang. Lalu orang itu melangkah masuk ke dalam ruang kerjanya Kimberly.


"Permisi nona."


Kimberly seketika menghentikan pekerjaannya, lalu tatapan matanya menatap seseorang di hadapannya.


"Ada apa?" tanya Kimberly.


"Begini nona. Diluar ada keributan."


"Keributan? Siapa yang sudah berani membuat keributan di perusahaan ini?"


"Saya kurang tahu nona. Tapi saya dengar dari beberapa karyawan kalau yang membuat keributan tersebut anggota keluarga dari perempuan yang mengaku sebagai nona dan keluarga dari keenam karyawan yang bersikap buruk selama ini."


Mendengar perkataan dari perempuan yang berdiri di hadapannya itu membuat Kimberly mengepalkan tangannya.


"Besar juga nyali kalian untuk datang ke perusahaan ini lagi. Ternyata hukuman kemarin tak buat kalian jera. Baiklah!"


"Bagaimana nona?"


"Biarkan saja mereka membuat keributan. Saya mau melihat sampai dimana mereka sanggup untuk membuat keributan di perusahaan ini."


"Tapi nona."


"Selama mereka tidak menyakiti karyawan dan karyawati disini, kita cukup menonton saja. Kalau mereka lelah, mereka akan berhenti sendiri. Setelah itu, barulah kita yang mengambil alih."


"Tapi jika mereka sampai menyakiti parah karyawan dan karyawati disini, maka aku yang akan hadapi mereka."


"Baik, nona!"


"Ya, sudah! Mari kita lihat mereka."


***


Keempat sahabatnya Kimberly, Tommy, Billy, Aryan, Risma dan para sahabatnya sedang berada di kantin. Sudah dua hari mereka tidak makan bersama dengan Kimberly karena Kimberly izin lima hari untuk menggantikan ayahnya di perusahaan cabang.


"Kangen sama Kimberly nih!" seru Danela.


"Iya, nih! Kangen sama anak kelinci itu. Sepi kalau nggak ada dia," sela Dania.


"Oh iya! Bagaimana kalau pulang sekolah kita mengunjungi Kimberly ke perusahaan cabang. Pasti Kimberly senang!" usul Rere.


"Wah! Ide yang bagus itu sayang." Henry menyetujui usulan dari kekasihnya.


"Bagaimana dengan kalian?" tanya Henry dengan menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya dan di sampingnya.


"Baik!" seru mereka secara bersamaan.


"Sekalian ajak Prisca. Jangan lupakan dia," sahut Risma.


"Ya, nggaklah. Kita akan ajak Prisca untuk ikut sama kita," ucap Billy.


"Aku akan kirim pesan sama Prisca," ucap Sinthia sembari mengeluarkan ponselnya.


Setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Sinthia mengetik sesuatu disana.


Ketika mereka tengah menikmati sarapan siang sembari memikirkan Kimberly karena rindu, tiba-tiba salah satu teman sekelasnya Billy datang.


"Billy."


Mendengar seseorang memanggil nama Billy. Semuanya langsung melihat kearah orang itu, termasuk Billy.


"Niko, ada apa?"


"Ach, itu! Aku tidak sengaja melihat beberapa orang yang mencurigakan berdiri di depan gerbang kampus. Mereka bahkan melihat-lihat sekeliling kampus seperti sedang mencari seseorang."


"Berapa jumlah mereka?" tanya Tommy.


"Kalau tidak salah aku melihat sekitar 10 orang."


"Ciri-ciri mereka seperti apa?"


"Mereka pakai pakaian hitam."


"Apa kamu mendengar mereka berbicara sesuatu?" tanya Andhika.


"Eemm.. sepertinya aku mendengar salah satu dari mereka bertanya kepada rekannya."


"Apa?" tanya Aryan, Billy, Tommy, Triny bersamaan.


"Kimberly!"


"Jadi maksud kamu salah satu orang itu bertanya kepada rekannya tentang Kimberly?" tanya Tommy.


"Seperti itu yang aku dengar."


Tommy, Billy, Aryan, Triny, Risma, Andhika serta yang lainnya saling memberikan tatapan matanya masing-masing.


"Apa mereka masih disana?"


"Sepertinya masih."


"Ayo, antar kami kesana."


Setelah Billy mengatakan itu, Billy serta yang lainnya langsung pergi meninggalkan kantin untuk menuju gerbang kampus.


^^^


"Nah, itu mereka Bil!" seru Niko sembari menunjuk kearah sepuluh laki-laki berpakaian hitam yang masih berdiri di depan gerbang kampus.


"Ikut aku!" seru Nathan.


Setelah itu, Nathan langsung pergi meninggalkan tempat tersebut untuk menuju tempat yang akan dia datangi. Dan diikuti oleh Billy, Tommy dan yang lainnya.


"Wah, Nathan! Sejak kapan lo tahu jalan pintas disini?" tanya Ivan sumringah.


"Sejak lama. Dan aku sangat yakin jika Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine juga tahu jalan ini. Aku sering memergoki mereka jika lagi bolos.


Mendengar perkataan dari Nathan membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine seketika terkejut. Mereka tidak menyangka jika Nathan mengetahui kalau mereka dan Kimberly sering kesini.


"Apa itu benar Catherine?" tanya Billy.


"Eemm.. itu....."


"Nggak ada waktu buat jelasin. Yang sekarang kita pikirkan orang-orang itu!" seru Sinthia tiba-tiba.


"Huff!" Catherine seketika menghembuskan nafas leganya ketika mendengar perkataan tiba-tiba dari Sinthia.


Setelah itu, merek semua kembali fokus pada jalanan. Dan beberapa menit kemudian mereka semua telah sampai diluar kampus.


Dari ujung sebelah kiri, dapat mereka lihat sepuluh laki-laki berpakaian hitam masih terus menatap ke dalam kampus sambil memegang sesuatu di tangan masing-masing.


Billy melihat kearah Tommy. Begitu juga Tommy. Setelah itu, keduanya memberikan kodenya kepada sahabat-sahabatnya.


Mendapatkan kode dari Billy dan Tommy membuat mereka langsung paham.


Billy, Tommy, Andhika dan para sahabat-sahabatnya melangkah secara berlahan menghampiri kesepuluh laki-laki itu.


Setelah tiba di belakang kesepuluh laki-laki itu. Billy, Tommy dan yang lainnya langsung memberikan pukulan keras di tengkuk kesepuluh laki-laki itu sehingga membuat kesepuluh laki-laki itu pingsan.


Melihat kesepuluh laki-laki itu pingsan, Billy meminta kepada Niko untuk memanggil teman-teman kampusnya untuk mengangkat kesepuluh laki-laki itu dan membawanya ke gudang belakang yang mana gudang itu sudah mereka jadikan penjara untuk orang-orang yang berbuat jahat di kampus mereka.


***


"Sudah puas membuat keributan disini, hum?" tanya Kimberly dengan menatap tajam satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya itu.


"Jadi kau orang yang sudah memecat anakku dari perusahaan ini, hah!" teriak salah satu laki yang berstatus ayah dari keenam karyawan perempuan yang bermasalah tersebut.


"Iya. Kenapa memangnya? Mau kenalan denganku? Tapi maaf. Aku tidak membuka lowongan pertemanan untuk saat ini," ucap Kimberly.


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat para karyawan dan karyawati tersenyum. Mereka semua tidak menyangka jika Kimberly akan berbicara seperti itu.


"Brengsek! Berani kau melawan padaku!" bentak laki-laki itu.


"Hahahaha. Hei, tuan! Pertanyaan apa itu? Jelaslah saya berani melawan anda. Jika saya tidak berani alias takut. Mana mungkin saya memecat anak anda dan para antek-anteknya dari perusahaan ini sehingga membuat anda dan para manusia busuk itu marah dan menyerang perusahaan saya!" sahut Kimberly.


"Hahahahaha."


Seketika tawa para karyawan dan karyawati yang sejak tadi menahan tawanya. Pada akhirnya tawa mereka semua pecah. Mereka semua benar-benar bangga dan salut akan keberanian Bos mereka. Di dalam hati mereka masing-masing mengatakan bahwa mereka yang lebih tua dari Kimberly belum tentu berani melawan orang-orang tersebut. Sedangkan Kimberly dengan lantangnya tanpa ada rasa takut sama sekali berani melawan orang-orang yang mencari masalah dengannya.


"Brengsek!" pria itu benar-benar marah akan sikap Kimberly.


Pria itu melihat kearah anak buahnya yang dia bawa, lalu memerintahkan anak buahnya itu untuk menyerang Kimberly.


"Kalian! Serang perempuan sialan itu!"


Setelah itu, terjadilah perkelahian tidak seimbang dimana Kimberly yang sendirian melawan sekitar dua puluh anak buah dari ayah yang anaknya dipecat oleh Kimberly.


Bugh.. Bugh..


Duagh..


Srekk.. Kreettt..


Bagh.. Bugh..


Duagh..


Tak butuh waktu lama, Kimberly berhasil melumpuhkan semua anak buah dari pria itu dengan sangat mudah. Kedua puluh anak buahnya tersungkur di lantai dalam keadaan tubuh yang remuk.


Sedangkan semua yang melihat kejadian tersebut seketika menelan air ludahnya secara kasar. Tubuh mereka seketika merinding. Begitu juga dengan para karyawan dan karyawati tersebut. Mereka semua tak menyangka jika putri dari Bosnya memiliki ilmu bela diri yang begitu luar biasa.


"Kenapa? Takut? Atau kalian semua mau mencoba pukulanku atau tendanganku, hum? Nggak sakit kok. Pukulan atau tendangan dariku ini akan membuat kalian semua menghadapi sang kuasa."


Deg..


Semua terkejut dan syok ketika mendengar ucapan enteng dari Kimberly. Mereka semua tidak menyangka jika Kimberly akan berbicara seperti itu.


Kimberly tidak ingin berlama-lama berurusan dengan para manusia busuk itu. Dirinya kemudian mengambil ponselnya.


Setelah Kimberly mendapatkan ponselnya, Kimberly mengirimkan sesuatu kepada Deryl.


Beberapa detik kemudian...


"Nona!'


Mendengar suara seseorang membuat para karyawan dan karyawati tersebut melihat keasal suara. Begitu juga para pengganggu.


"Ada apa nona?"


"Mereka menggangguku, kak!" adu Kimberly.


"Apa yang mereka menyakiti nona?"


"Iya. Mereka tadi menamparku ketika aku lengah. Kakak tahukan kalau aku tidak pernah dipukul sama Mommy, sama Daddy, sama kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan?"


"Iya, nona! Saya tahu. Terus apa yang harus diberikan kepada mereka sebagai ganjarannya nona. Ditambah lagi mereka tidak jera sama sekali setelah apa yang terjadi dengan mereka semua." ucap dan tanya Deryl.


"Bagaimana kalau ambil saja nyawa mereka kak," jawab Kimberly seenaknya dan tanpa beban sama sekali.


"Jika mereka semua mati. Nggak akan ada yang mengganggu aku lagi. Aku pun bisa tenang bekerja."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat semua yang mendengarnya bergidik ngeri.


"Eemm... Sepertinya menarik nona. Mereka sudah diberikan kesempatan hidup oleh nona. Bahkan nona hanya menghukum mereka semua dengan membuat mereka tidak memiliki apa-apa lagi. Tapi ternyata mereka semua tidak bersyukur dengan hal itu."


"Nah, itu dia kak. Makanya kenapa aku meminta kakak untuk mengakhiri hidup mereka semua."


"Baiklah kalau itu mau nona. Saya akan menjalankan perintah nona."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar jawaban dari Deryl.


Sementara mereka yang melihat senyuman Kimberly membuat tubuh mereka seketika merinding. Bagi mereka senyuman Kimberly bukanlah senyuman manusia pada umumnya. Senyuman Kimberly mirip senyuman devil.