THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kebahagiaan Kimberly Terhadap Ardian



Kimberly, Aryan, Triny dan Billy sudah berada di depan sebuah rumah mewah dan besar. Begitu juga dengan Jason. Baik Kimberly maupun Aryan, Billy dan Triny menatap bingung rumah tersebut. Sedangkan Jason tersenyum melihat wajah bingung keempat adik-adiknya.


"Ini rumah siapa sih kak?" tanya Kimberly kepada kakaknya.


"Masuk saja dulu. Nanti kamu dan kalian juga bakal tahu pemilik rumah ini," jawab Jason sembari melangkah memasuki rumah tersebut.


"Aish! Kebiasaan," ucap kesal Kimberly lalu mengikuti kakaknya itu di belakang dengan terus mengomel tak jelas. Begitu juga dengan Aryan, Triny dan Billy.


^^^


Kini Jason sudah berada di ruang tengah. Begitu juga dengan Billy, Triny dan Aryan. Namun mereka belum menyadari sesuatu, terutama Kimberly dan Aryan.


Nashita bangkit dari duduknya lalu menghampiri putri bungsunya yang tampak bingung dengan suasana rumah dan sekitarnya.


"Bengong aja!" seru Nashita sembari mengusap wajah cantik putrinya itu.


"Aish, Mom!" kesal Kimberly dengan mempoutkan bibirnya.


"Dan kalian keponakan-keponakannya Mommy. Ayo kemari!"


Setelah itu, Nashita membawa putri dan keponakannya untuk duduk di sofa karena sejak tadi putri dan keponakannya itu terus berdiri seperti patung.


Beberapa detik kemudian keluarlah Ardian bersama istri dan keempat anak-anaknya menuju ruang tengah.


"Sekarang kamu lihat kesana. Apa yang kamu lihat. Itulah si pemilik rumah ini," ucap Jason sembari menunjuk kearah datangnya Ardian, istrinya dan anak-anaknya.


Kimberly langsung melihat kearah tunjuk Jason. Begitu juga dengan Aryan, Billy dan Triny.


Kimberly membelalakkan matanya bersamaan dirinya beranjak dari duduknya. Dan detik kemudian...


"Papi Ardian!" teriak Kimberly.


Kimberly langsung berlari menuju sang Paman dengan wajah bahagianya.


Grep..


Kimberly langsung menerjang tubuh Pamannya itu dan disambut tak kalah oleh Pamannya. Mereka saling berpelukan.


Sementara yang lainnya tersenyum ketika melihat begitu bahagianya Kimberly ketika melihat Paman kesayangannya.


"Papi, aku rindu Papi!"


"Papi juga rindu kamu, sayang!"


"Eheem!" seseorang orang berdehem sehingga membuat Kimberly melepaskan pelukannya.


"Apa cuma Papi saja yang kamu rindukan, hum? Bagaimana dengan Mami dan keempat kakak-kakak kamu?"


"Hehehehe." Kimberly terkekeh ketika mendengar ucapan sekaligus sindiran dari bibinya.


Grep..


Kimberly langsung memeluk tubuh Bibinya itu sembari mengumandangkan kerinduannya.


"Aku merindukan Mami."


"Mami juga merindukan kamu. Kamu sehat kan?"


"Aku sehat, Mi! Udah beberapa minggu ini kondisi tubuh aku baik-baik saja."


"Ach, syukurlah!"


Setelah puas memeluk bibinya. Kimberly pun melepaskan pelukannya itu.


"Aku juga rindu kakak Adhit, kakak Jovi, kakak Ziki dan kakak Uzan."


"Kita juga merindukan kamu, Kimberly!" jawab Adhitama, Jovita, Arziki dan Fauzan bersamaan.


Setelah itu, mereka kembali ke sofa dan duduk disana.


Ardian dan Aira bersamaan menatap kearah Aryan, Triny dan Billy dengan senyuman di bibirnya.


"Apa kalian tidak akan memberikan pelukan untuk Papi sama Mami, hum?" tanya Ardian dan Aira bersamaan.


Mendengar ucapan dari Ardian dan Aira membuat Aryan, Triny dan Billy langsung berdiri dan berjalan menghampiri Ardian dan Aira. Dan mereka saling berpelukan.


Disini walau Billy bukan keponakannya, namun Ardian dan Aira tetap menyayangi Billy dan menganggap Billy keponakan mereka juga. Begitu juga dengan anak-anaknya.


Hubungan anak-anak mereka sangat baik. Seperti apa hubungannya Billy dengan Kimberly. Seperti itulah hubungan mereka.


Billy adalah putra dari Clarita Fidelyo yang tak lain adalah adik perempuannya Nashita Fidelyo. Jadi dengan kata lain, Billy adalah keponakannya Nashita Fidelyo perempuan yang mereka hormati dan sudah mereka anggap sebagai kakak kandungnya sendiri.


Jika mereka menyakiti keponakan-keponakannya, maka mereka juga menyakiti kakak perempuannya itu sekaligus kakak laki-lakinya Fathir Aldama.


"Kami merindukan Papi dan Mami!" seru Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


"Papi/Mami juga merindukan kalian sayang!"


Setelah melepaskan kerinduan dengan para keponakannya. Kini mereka semua duduk berkumpul di ruang tengah.


"Jadi rumah ini milik Papi sama Mami?" tanya Aryan.


"Iya. Kenapa?" tanya Ardian dan Aira bersamaan sembari tersenyum.


"Nah! Kalau ini rumah Mami sama Papi. Terus bagaimana dengan rumah Papi dan Mami di Amerika?" tanya Kimberly.


"Hm!" Aryan, Triny dan Billy berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


Ardian dan Aira tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


Ardian menatap kearah istrinya. Begitu juga dengan Aira yang menatap kearah suaminya. Setelah itu, keduanya menatap wajah anggota keluarga lainnya.


Sementara Kimberly seketika mencekik kesal melihat kelakuan anggota keluarganya yang sejak tadi tidak ada yang memberitahu dirinya. Begitu juga dengan Aryan, Triny dan Billy. Mereka benar-benar kesal saat ini.


"Sudahlah, Ardian! Kasih tahu mereka sekarang! Apa kamu tidak kasihan melihat mereka yang sejak tadi memperlihatkan wajah jeleknya," ucap Arvind yang menggoda putri dan keponakannya.


"Baiklah, Baiklah! Mulai hari ini dan seterusnya. Papi, Mami dan kakak-kakak kalian akan menetap di Jerman!"


"Kita tidak akan kembali ke Amerika lagi," sela Aira tersenyum.


Mendengar ucapan dari Aira membuat Kimberly seketika tersenyum. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar ucapan dari Aira dan Ardian.


"Benarkah?" tanya Kimberly.


"Benar sayang," jawab Ardian.


Kimberly berpindah duduk di samping Ardian lalu kembali memeluk tubuh Ardian.


"Papi nggak bohong kan? Kalau Papi bohong, dosa loh!"


"Hahahaha!" mereka semua tertawa ketika mendengar ucapan dari Kimberly. Begitu juga dengan Ardian dan Aira.


"Tidak sayang. Papi benar-benar menetap di Jerman. Dan Papi tidak akan kembali lagi ke Amerika, kecuali ketika ada masalah sama perusahaan disana."


Kimberly mengeratkan pelukannya ketika mendengar jawaban yang memuaskan dari Paman kesayangannya.


"Aku sayang banyak-banyak sama Papi."


"Papi juga sayang banyak-banyak sama kamu. Sehat terus ya. Jangan sakit-sakit lagi, oke!"


"Aku janji."


Ketika semuanya tengah mengobrol dan bersenda gurau, tiba-tiba seorang pelayan datang.


"Maaf tuan, nyonya!"


"Iya, Bibi! Ada apa?" tanya Aira.


"Makan siang sudah selesai dan sudah di hidangkan di atas meja."


"Ach, iya! Terima kasih ya, Bi!"


Setelah itu, sang pelayan pun pergi meninggalkan ruang tengah. Untuk menuju dapur.


"Lebih baik kita makan siang, sekarang! Sepertinya keempat keponakanku ini terlihat lelah!" seru Ardian ketika melihat wajah Kimberly, Aryan, Triny dan Billy secara bergantian.


Mereka semua pun beranjak dari duduknya untuk menuju ruang makan.


Namun baru tiga langkah Kimberly melangkahkan kakinya, tiba-tiba Kimberly jatuh tak sadarkan diri di lantai.


Brukk..


"Oh, Tuhan! Kimberly!" teriak para orang tua.


"Kimberly!" teriak keempat kakak laki-lakinya dan para sepupunya.


Jason mengangkat tubuh adiknya bersamaan dengan seruan dari Ardian.


"Jason bawa Kimberly ke kamar. Papi sudah sediakan beberapa kamar buat kalian semua jika kalian menginap disini!"


"Ayo ikut Papi!"


Jason mengikuti langkah sang Paman menuju sebuah kamar dan diikuti oleh Fathir, Nashita dan anggota keluarga lainnya yang terlihat panik dan khawatir melihat Kimberly yang tiba-tiba jatuh pingsan.


^^^


Kimberly sudah dibaringkan di tempat tidur. Wajahnya sedikit pucat. Mereka menatap dengan tatapan sedih wajah Kimberly yang pucat.


"Baru beberapa detik aku mengatakan jangan sakit-sakit lagi. Tapi ini apa? Justru Kimberly tiba-tiba jatuh pingsan," ucap Ardian ketika melihat keponakannya jatuh pingsan.


"Sebenarnya Kimberly sudah ngomong padaku ketika aku menghubungi dia," sahut Jason.


"Adikmu ngomong apa sama kamu, sayang?" tanya Nashita.


"Kimberly bilang kalau dia ingin segera pulang ke rumah karena tubuh merasa lelah dan ingin segera istirahat. Aku mendengarnya menjadi tidak tega," jawab Jakson.


Mereka semua menatap wajah Kimberly. Dan beberapa detik kemudian, terdengar lenguhan dari bibir Kimberly karena Kimberly merasakan aroma minyak angin di hidungnya. Yang memberikan minyak angin itu adalah Aira.


"Mommy."


"Iya, sayang. Ini Mommy, nak!"


"Perutku sakit," adu Kimberly.


"Sakitnya seperti apa, hum?"


"Pedih, Mom!"


"Berarti maag kamu kambuh. Kapan terakhir kamu makan ketika di sekolah?" tanya Uggy.


"Istirahat pertama. Sementara istirahat kedua nggak makan apa-apa. Sampai sekarang," jawab Kimberly.


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat mereka semua hanya bisa menghela nafasnya dan geleng-geleng kepala melihat sifat Kimberly yang melupakan waktu makannya.


"Kamu ini kebiasaan," omel Jason.


"Ih, kakak! Aku udah kayak gini masih dimarahi," ucap Kimberly seketika mimik wajahnya berubah sedih.


"Sudah-Sudah! Kakak Jason nggak marah sama kamu. Kakak Jason hanya khawatir sama kamu." Nashita berusaha menenangkan putrinya akibat omelan putra sulungnya itu.


"Aku akan ambilkan makanan untuk Kimberly?" seru Jovita.


"Terima kasih ya sayang."


"Sama-sama, Mom!"


Setelah itu, Jovita pun pergi meninggalkan kamarnya Kimberly untuk menuju dapur.