
Kimberly sudah berada di sekolahnya. Dirinya melangkahkan kakinya menyususuri setiap koridor sekolah. Dirinya melangkah dengan bersenandung ria sembari mendengarkan musik melalui ponselnya. Satu telinganya tersumbat earphone.
Ketika Kimberly tengah fokus dengan dunianya sembari terus bersenandung, tiba-tiba ada Antoni datang dan mencegat jalannya. Kimberly menatap tak kearah Antoni yang sudah menghalangi jalannya.
"Minggir," sahut Kimberly ketus.
Sedangkan Antoni yang kini ada di depannya sama sekali tidak mengindahkan perintahnya. Antoni tetap berdiri di posisinya sambil matanya menatap wajah cantik Kimberly.
"Aku bilang minggir. Kamu dengar gak sih!" Kimberly benar-benar kesal terhadap Antoni yang masih kekeh berdiri di depannya.
"Antoni. Kau dengar tidak, hah! Minggir gak!" bentak Kimberly.
Kimberly berulang kali untuk lewat. Namun berulang kali juga Antoni menghalangi jalannya. Dan tindakan itu sukses membuat Kimberly marah.
"Sebenarnya kamu ini maunya apa sih? Bisa tidak berhenti menggangguku," ucap Kimberly.
"Aku mau kita balikan lagi. Aku ingin kita jadian lagi kayak dulu. Aku masih mencintaimu Kimberly," ucap Antoni.
"Tapi aku sudah nggak," jawab Kimberly ketus.
"Ayolah Kimberly. Aku tahu kamu masih cinta sama aku. Kamu seperti ini karena kesalahan aku dulu. Kamu seperti ini karena kamu kecewa. Aku yakin sebenarnya kamu masih cinta padaku." Antoni berbicara dengan bangganya.
"Kamu terlalu pede Antoni. Bahkan kepedeanmu sangatlah tinggi. Hei, Antoni! Aku sarankan. Lebih baik kau buang jauh-jauh semua angan dan keinginanmu itu. Sampai kapan pun aku Kimberly Aldama tidak akan pernah balik lagi sama kamu. Bahkan menjadi temanmu saja aku akan berpikir seribu kali."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi begitu saja dengan menerobos ke samping dan menabrak bahu kiri Antoni.
Ketika Antoni ingin mencekal tangan Kimberly. Kimberly yang menyadari hal itu langsung memberikan hadiah special untuk Antoni.
DUAGH!
"Aakkhhh!" Antoni meringis kesakitan sembari memegang perutnya.
"Gila. Tendangannya tak main-main," batin Antoni.
Sementara Kimberly langsung pergi setelah menendang perut Antoni.
"Makanya jangan selalu mencari masalah dengan adik perempuan gue," ucap Aryan yang datang bersama Billy, Tommy dan para sahabatnya.
"Menjauhlah dari Kimberly. Berhentilah mengganggunya." Billy menatap tajam Antoni.
Mereka sedari tadi memperhatikan Antoni yang mengganggu Kimberly. Mereka awalnya ingin membantu Kimberly. Tapi melihat Kimberly akan melakukan sesuatu. Mereka pun memutuskan untuk melihatnya saja.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan Antoni. Antoni menatap tak suka Aryan dan Billy. Dari dulu mereka berdua selalu ikut campur dalam hubungannya dengan Kimberly.
"Aku mencintai Kimberly. Dan aku akan merebutnya kembali. Apa pun yang terjadi. Kimberly harus menjadi milikku lagi!" teriak Antoni.
"Coba saja kalau kau berani mengganggu Kimberly. Jangan salahkan kami jika hal buruk terjadi padamu. Bahkan anggota keluargamu. Kau tidak ingin terjadi sesuatu pada keluargamu, bukan?!" Billy menjawab perkataan Antoni disertai ancaman tanpa membalikkan badannya.
^^^
Kimberly sudah berada di kelasnya bersama keempat sahabatnya. Kini dirinya sudah duduk di kursi kesayangannya.
Kimberly dan keempat sahabatnya sedang bercerita. Sesekali mereka tertawa ketika melontarkan kata-kata lucu.
Ketika mereka tengah tertawa, masuklah Talitha, Syafina dan teman-temannya. Melihat kedatangan Talitha, Syafina dan teman-temannya mereka menghentikan tawa mereka.
Kini mereka fokus menatap kearah Talitha, Syafina dan teman-temannya. Baik Kimberly maupun keempat sahabatnya berusaha menahan tawanya ketika kondisi Talitha, Syafina dan teman-temannya yang dalam keadaan yang kurang bergairah dan juga seperti menahan kantuk. Dapat dilihat oleh Kimberly dan keempat sahabatnya Talitha, Syafina yang berulang kali menguap lebar-lebar.
"Uuu... kasihan sekali." Rere berucap pelan.
"Pasti mereka tidurnya kemaleman... hehehehe." Santy berbicara sembari terkekeh.
Sementara Kimberly, Sinthia dan Cathrine tersenyum kemenangan kala melihat musuh-musuh seperti saat ini.
"Wow! Kalian kenapa?" tanya Sinthia.
"Kalau mengantuk kenapa masuk sekolah? Tidur saja di rumah," ucap Cathrine.
"Diam!" bentak Talitha, Syafina dan teman-temannya bersamaan.
"Ooo... takut!" seru Cathrine dan Sinthia sembari menutup mulutnya.
Sedangkan Kimberly, Rere dan Santy tersenyum mengejek kearah kelompok Talitha dan kelompok Syafina.
"Kalian tidak lupakan kalau hukuman kalian masih berjalan?" tanya Rere.
"Yak! Kalian benar-benar ya. Apa kalian tidak melihat keadaan kami saat ini, hah?!" bentak Enzi.
"Kami semalam tidur pukul 12 malam dan kami harus bangun pukul setengah 6 pagi. Itu semua ulah kalian!" teriak Kiara.
"Yeeey! Itu urusan kalian. Bukannya kita sudah buat perjanjian. Bahkan perjanjian itu disaksikan oleh Bu guru Belinda." Cathrine berucap sembari menatap wajah para kelompok Talitha dan kelompok Syafina.
"Setidaknya biarkan kami istirahat dan tidak menerima hukuman dari kalian dulu," sahut Brenda.
"Kami tidak masalah memberikan waktu untuk kalian istirahat. Kalau hari ini kami memberikan waktu istirahat kepada kalian. Berarti besok kalian tetap akan mendapatkan hukuman dari kami," jawab Rere.
"Jadi mau hari ini atau besok gak ada bedanya. Hahahaha." Sinthia berbicara sambil tertawa.
Mendengar perkataan Sinthia dan Rere membuat Talitha, Syafina dan teman-temannya menatap tajam kearah Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine.
"Kalian benar-benar menjijikkan!" bentak Talitha, Syafina dan teman-temannya.
"Terima kasih," jawab Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine bersamaan. Dan jangan lupa senyuman manis mereka.
"Gila," jawab Talitha, Syafina dan teman-temannya.
"Hahahaha." Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Cathrine tertawa.
Talitha, Syafina dan teman-temannya memutuskan duduk di kursi mereka masing-masing. Cukup! Mereka tidak mau beradu argumen dengan kelima musuhnya terlalu lama. Bisa-bisa mereka semua berubah menjadi gila.
"Re," panggil Kimberly.
"Ya, Kim." jawab Rere.
"Aku haus. Tapi aku males ke kantin," jawab Kimberly.
"Kenapa kamu gak nyuruh para pelayan kita saja? Bukankah kita memiliki sepuluh pelayan yang sangat setia sampai jam 12 siang," jawab Sinthia.
Kimberly langsung mengalihkan pandangannya melihat kearah Talitha, Syafina dan teman-temannya. Kimberly menatap mereka dengan senyuman di sudut bibirnya.
"Talitha, Syafina." Kimberly memanggil keduanya.
"Apaan," jawab Talitha dan Syafina bersamaan dengan nada ketus.
"Yaelah. Yang lembut jawabnya kenapa?" kesal Santy.
"Bodo," jawab Talitha dan Syafina.
"Belikan aku dan sahabat-sahabatku minuman yang enak, manis, seger, dingin plus gak pake lama." Kimberly berbicara sambil memberikan selembar uang kepada Talitha dan Syafina.
Melihat Talitha dan Syafina yang sama sekali tidak beranjak dari tempat duduknya membuat Sinthia dan Cathrine melakukan sesuatu.
"Apa kalian mau video kalian ini tersebar, hum?" tanya Cathrine sembari memperlihatkan video tersebut kearah kelompok Talitha dan kelompok Syafina.
Baik Talitha, Syafina maupun teman-temannya kaget melihat video itu. Video yang mereka lihat itu adalah video dimana Talitha, Syafina dan teman-temannya sedang dugem dengan beberapa pria hidung belang di sebuah club malam. Para pria-pria itu menjamah seluruh lekuk tubuh mereka.
Setelah selesai, Cathrine mematikan ponselnya dan kembali memasukkan ponselnya itu ke dalam saku jas almamaternya.
"Brengsek!" bentak Talitha lalu beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan kelas untuk menuju kantin dan disusul oleh Syafina di belakang.
Sedangkan Kimberly dan keempat sahabatnya tersenyum kemenangan sembari bertos ria.
"Ketua kalian sedang menjalankan hukumannya. Apa kalian hanya duduk-duduk disini saja?" tanya Kimberly.
"Bagaimana kalau kalian melakukan sesuatu untuk kami?" tanya Rere menatap kearah teman-temannya Talitha dan Syafina.
"Hukuman apa ya yang cocok untuk kalian?"tanya Santy sembari meletakkan jari telunjuknya di keningnya sedang berpikir.
"Aha! Aku tahu! Bagaimana kalau kalian semua pergi ke kelasnya XI A dan kelas XI B. Setibanya kalian disana. Sampaikan kepada Billy, Tommy, Henry, Lionel dan Satya bahwa kami ingin dibelikan cemilan dan juga minuman kesukaan kami. Tapi yang pergi ke supermarket untuk membelikan cemilan dan minuman itu bukan mereka, tapi kalian yang harus pergi untuk membelikannya. Kalian tinggal minta uang ke mereka dan juga minta catatan ke mereka, apa saja cemilan dan minuman kesukaan kami." Rere berbicara panjang lebar sembari menatap wajah Enzi, Ganesha, Jennie, Aruna, Selena, Aurel, Brenda dan Kiara.
"Ayo, buruan!" seru Santy.
Mereka akhirnya beranjak dari duduknya dan pergi keluar meninggalkan kelas untuk menuju kelas XI A dan kelas XI B.
Setelah kepergian para musuh-musuhnya. Tawa Kimberly dan keempat sahabatnya pun pecah. Begitu juga teman-teman sekelasnya.
"Hahahahaha."