
Kimberly dan keempat sahabatnya saat ini berada di lapangan. Dua jam yang lalu mereka selesai mengikuti pelajaran matematika dan juga ulangan bahasa Inggris. Dan kedua pelajaran itu menguras setelah otak mereka.
Kimberly dan keempat sahabatnya berada di lapangan sudah dilengkapi dengan beberapa cemilan dan minuman di samping masing-masing. Untuk hari ini mereka tidak di kantin. Mereka memutuskan untuk duduk di lapangan dan duduk santai disana.
"Kim," panggil Catherine.
"Hm!" Kimberly berdehem sebagai jawabannya.
"Apa rencana lo untuk balas kelompok Asena dan Cherry?" tanya Catherine. "Lo nggak akan biarkan mereka terus mengusik lo terutama kedua sepupu lo dan Tommy?"
"Aku sudah mempersiapkan satu kejutan untuk mereka. Hanya mereka yang belum mengetahuinya," sahut Kimberly.
Catherine seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari Kimberly. Dia sudah langsung paham arah jawaban dari Kimberly tersebut.
Sementara untuk Rere, Santy dan Sinthia melihat kearah Kimberly dan Catherine ketika mendengar perkataan kedua sahabatnya itu. Baik Rere, Santy dan Sinthia terlihat begitu penasaran akan pembicaraan kedua sahabatnya itu.
"Kalian ngomong apaan sih?" tanya Santy.
"Kasih tahu kita dong!" sahut Sinthia.
"Jangan abaikan kita bertiga," sela Rere.
Kimberly dan Catherine saling memberikan tatapan masing-masing ketika mendengar ucapan dari Santy, Sinthia dan Rere. Kemudian keduanya menatap kearah ketiga sahabatnya itu.
"Kasih tahu nggak ya," ledek Kimberly dan Catherine bersamaan.
Mendapatkan jawaban yang tak mengenakkan dari Kimberly dan Catherine membuat Rere, Santy dan Sinthia merengut kesal.
"Aish! Kalian nggak asyik!" seru Santy.
"Kalian tega main rahasia-rahasiaan dari kita bertiga," sahut Sinthia.
"Kalian nggak ajak kita lagi," ucap Rere.
"Sedih tahu!" seru Rere, Santy dan Sinthia bersamaan.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Rere, Santy dan Sinthia membuat Kimberly dan Catherine tersenyum sembari menatap wajah ketiga sahabatnya itu.
"Hei, kok sedih gitu wajahnya?" goda Kimberly.
"Kita bercanda kali," sela Catherine.
Baik Kimberly maupun Catherine merangkul bahu ketiga sahabatnya itu.
"Kasih tahu kita. Kalian bicarakan apa?"
Kimberly dan Catherine tersenyum melihat wajah memelas Rere, Santy dan Sinthia.
"Kita membahas masalah kelompok Asena dan Cherry," ucap Catherine.
"Kenapa dengan mereka?" tanya Rere.
"Mereka berbuat ulah lagi?" tanya Santy.
"Apa mereka ingin menyakiti kamu lagi Kim?" tanya Sinthia.
Kimberly dan Catherine kembali tersenyum ketika mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Rere, Santy dan Sinthia.
"Ini kalian lihatlah!" Catherine memperlihatkan sebuah rekaman yang dia rekam di ponselnya beberapa jam yang lalu ketika urusan mereka di toilet kepada Rere, Santy dan Sinthia.
Rere mengambil ponselnya Catherine lalu melihat rekaman yang dimaksud oleh Catherine barusan. Melihat Rere yang melihat ke layar ponselnya Catherine. Santy dan Sinthia berpindah duduk di samping kiri dan kanan Rere. Dan ketiganya melihat rekaman tersebut.
Dan detik kemudian..
"Wah! Catherine, lo pintar banget dengan merekam pembicaraan para sampah busuk ini. Nggak nyesel gue bersahabat dengan lo!" seru Rere.
"Kim," panggil Santy.
"Iya, San!"
"Lo nggak ada niat buat... Eemmm..."
Kimberly langsung melihat kearah Santy. Dapat dilihat oleh Kimberly bahwa Santy saat ini tengah tersenyum sembari mengode dirinya.
Kimberly membalas senyuman dari Santy. "Kamu tenang aja. Udah tersimpan di otak aku dengan baik," ucap Kimberly.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Santy. Begitu juga dengan Rere dan Sinthia.
Ketika Kimberly tengah berkumpul bersama dengan keempat sahabatnya di lapangan, tiba-tiba ponsel Kimberly berdering menandakan panggilan masuk.
Kimberly langsung melihat kearah layar ponselnya dan tertera nama 'Daddy'di sana.
"Kenapa Daddy menghubungi aku?" batin Kimberly.
Tidak ingin membuat ayahnya terlalu lama menunggu dirinya menjawab panggilan ayahnya. Kimberly pun langsung menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Daddy."
"Hallo Princess nya Daddy. Kamu lagi ngapain sayang?"
"Hei, kamu bolos ya?"
"Ih, Daddy! Enak aja kalau ngomongnya. Siapa yang bolos. Aku dan keempat sahabat aku sudah selesai duluan. Jadi, siapa yang sudah selesai duluan boleh keluar untuk istirahat, walau jam istirahatnya masih 15 menit lagi."
Fathir di seberang telepon tersenyum ketika mendengar penjelasan dari putri satu-satunya itu.
"Ok, Daddy minta maaf."
"Aku maafkan. Ada hal apa Daddy sampai menghubungi aku? Nggak biasanya."
"Ach, iya! Daddy lupa kasih tahu kamu alasan Daddy menghubungi kamu. Gini sayang, bisa tidak kamu menggantikan Daddy untuk memimpin di perusahaan cabang?"
"Memangnya kenapa? Kenapa Daddy nggak bisa?"
"Daddy sibuk sekali di perusahaan utama, sayang! Tidak bisa ditinggal sama sekali. Lima hari ini Daddy benar-benar sibuk."
"Kak Jason, kak Uggy......."
"Keempat kakak-kakak kamu juga tidak bisa. Daddy sudah hubungi mereka satu-satu."
"Mau ya sayang. Lima hari saja kamu menggantikan Papa di perusahaan cabang."
"Tapi sekolah aku bagaimana?"
"Kamu tidak khawatir sayang. Daddy sudah menghubungi kepala sekolah dan meminta izin kamu selama satu minggu ke depan."
Mendengar jawaban dari ayahnya seketika Kimberly terkejut. Ternyata ayahnya itu sudah menyiapkan semuanya.
"Daddy sama saja seperti kakak Jason. Jika ada kemauannya langsung main telepon kepala sekolah. Nggak nanya aku dulu."
"Hehehehe. Maafkan Daddy sayang. Daddy terpaksa. Kalau tidak seperti itu kamu tidak mau bantuin Daddy."
"Aish, menyebalkan."
"Sekarang bagaimana? Mau tidak?"
"Kalau pun aku bilang nggak. Daddy tetap memohon sama aku kan?"
"Hehehehe, iya sayang!"
"Hah!" Kimberly menghela nafas pasrahnya.
Fathir yang mendengar helaan nafas pasrah dari putrinya seketika tersenyum.
"Bagaimana? Mau ya? Daddy kasih hadiah nanti. Apa yang kamu mau?"
"Baiklah. Aku mau bantu Daddy. Nggak perlu. Aku ikhlas bantuin Daddy."
Mendengar jawaban dari putri kesayangannya membuat Fathir tersenyum bangga. Fathir tahu bahwa putrinya itu mau membantunya tanpa embel-embel hadiah.
"Terima kasih sayang."
"Iya, Dad! Kapan aku ke perusahaan cabang?"
"Kalau sekarang bisa? Perusahaan cabang membutuhkan pimpinan sayang."
"Baiklah, aku kesana sekarang!"
"Daddy akan menyuruh tangan kanan Daddy yang bekerja sebagai wakilnya Daddy di perusahaan cabang untuk menjemput kamu."
"Baiklah Daddy."
Setelah mengatakan itu, baik Fathir maupun Kimberly sama-sama memutuskan sambungan teleponnya.
"Kenapa Kim?" tanya Catherine.
"Om Fathir ngomong apa?" tanya Santy.
"Daddy minta bantuanku untuk memimpin perusahaan cabang selama 5 hari. Daddy sangat sibuk di perusahaan utama. Begitu juga kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Iyan."
"Kapan?" tanya Rere dan Sinthia bersamaan.
"Sekarang. Nanti wakil Daddy yang di perusahaan cabang akan datang menjemput aku."
"Biar kamu nggak bosan disana. Selesai kita pelajaran terakhir. Kita nggak akan langsung pulang. Kita akan mengunjungi lo ke perusahaan cabang," ucap Santy.
"Hm!" Catherine, Rere dan Sinthia berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
Kimberly tersenyum. "Benar ya? Aku tunggu kedatangan kalian disana," ucap Kimberly.
"Eemm! Berarti kamu nggak akan ke kelas lagi. Biarkan aku yang mengambil tas kamu di kelas!" seru Sinthia.
"Terima kasih Sinthia."
"Sama-sama cantik."
Setelah mengatakan itu, Sinthia langsung pergi menuju kelasnya untuk mengambil tas milik Kimberly.