THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Keusilan Rehan, Ricky Dan Triny



Seperti yang diinginkan Kimberly tadi pagi bahwa dirinya ingin pergi jalan-jalan berduaan dengan ayahnya terlaksanakan.


Kini dirinya bersama sang ayah berada di sebuah mall yang cukup besar dan terkenal di kota Hamburg.


Kimberly dan ayahnya berjalan menyusuri luasnya mall dengan Kimberly yang menggandeng lengan ayahnya sembari tersenyum menatap sekitarnya.


"Dad, cari makan yuk!"


"Baiklah. Princess Daddy mau makan apa, hum?" tanya Fathir sembari kakinya melangkah menuju salah satu cafe yang ada di dalam mall. Dan tidak lupa tangannya mengusap punggung tangan putrinya yang menggandeng tangannya.


"Terserah Daddy mau ajak kemana. Asal menu makanan dan minumannya enak di lidah. Aku semuanya lewat," jawab Kimberly.


Mendengar perkataan dari putrinya seketika Fathir tersenyum lalu kemudian Fathir mencium pucuk kepala putrinya dengan penuh sayang.


Beberapa pengunjung seketika melihat kearah Kimberly dan Fathir. Mereka berpikir apakah Kimberly dan Fathir pacaran atau ayah dan anak. Dan kebanyakan mereka beranggapan bahwa Fathir adalah sugar Daddy nya Kimberly.


Ketika Kimberly dan Fathir melangkah memasuki sebuah cafe, tiba-tiba dari arah berlawanan terlihat empat gadis cantik yang juga ingin memasuki cafe tersebut.


"Kimberly, Om Fathir!" sapa Rere yang pertama kali melihat keberadaan Kimberly dan ayahnya.


"Hei, kalian!" Fathir balik menyapa keempat sahabat putrinya.


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine langsung menyalami tangan Fathir secara bergantian.


Melihat keempat sahabatnya Kimberly yang mengalami tangan Fathir. Bahkan mereka menyebut 'om' kepada Fathir membuat beberapa pengunjung yang sempat berpikir negatif terhadap Kimberly dan Fathir seketika malu. Mereka sekarang tahu bahwa Kimberly dan Fathir adalah ayah dan anak.


"Kalian berempat doang?" tanya Kimberly.


"Nggak!"


"Kita bareng pacar-pacar kita!"


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menjawab pertanyaan dari Kimberly secara bersamaan.


"Terus kemana pacar-pacar kalian itu?" tanya Kimberly yang tidak melihat keberadaan para pacar keempat sahabatnya, termasuk Billy.


"Lagi diluar markir mobil masing-masing," jawab Santy.


"Mumpung kalian semua disini. Lebih baik kita masuk ke dalam dan makan bersama-sama. Nanti biar om yang bayar!"


Mendengar perkataan dari Fathir membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine tersenyum.


"Benar nih om?" tanya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


"Iya. Kita tunggu pacar-pacar kalian di dalam."


Setelah itu, mereka semua melangkah memasuki cafe tersebut untuk makan bersama.


***


Kini mereka semua sudah berada di dalam cafe termasuk Billy dan tiga sahabatnya. Di atas meja juga sudah tertata beberapa menu makanan dan minuman yang enak-enak.


Baik Fathir, Kimberly, Billy maupun yang lainnya menikmati hidangan tersebut sembari mengobrol kecil.


"Bagaimana sekolah kalian?" tanya Fathir.


"Lancar om."


"Tidak ada masalah sama sekali."


Fathir tersenyum ketika mendengar jawaban dari dua sahabat keponakannya.


"Kamu jadi menginap di rumah, Bil?" tanya Fathir.


"Jadi Dad. Kemungkinan Triny juga akan ikut menginap," jawab Billy.


Ketika Fathir, Kimberly dan yang lainnya tengah asyik menikmati hidangan di atas meja sembari mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Fathir berbunyi menandakan panggilan masuk.


Fathir yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Fathir melihat nama salah satu orang kepercayaannya. Dan tanpa membuang waktu lagi, Fathir pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Anjar."


"Hallo, Bos! Bos ada dimana sekarang?"


"Saya sedang berada di luar bersama putri saya. Kenapa?"


"Bisa Bos ke Kantor. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan Bos."


"Ini hari minggu. Kenapa ada orang yang ingin bertemu dengan saya? Harusnya ini hari weekend saya dengan keluarga saya."


"Maaf Bos. Saya tahu hal itu. Tapi orang yang ingin bertemu dengan Bos ingin membahas kembali kerja sama yang sempat tertunda beberapa minggu yang lalu. Orang itu berharap sekali Bos mau memberikan kesempatan kepadanya."


Mendengar perkataan serta penjelasan dari Anjar membuat Fathir seketika menatap wajah putrinya.


Kimberly yang merasa ditatap oleh ayahnya langsung menatap balik. "Ada apa, Dad?"


Fathir menjauhkan ponselnya lalu kemudian menjawab pertanyaan dari putrinya itu.


"Jika memang dibutuhkan. Daddy pergi aja. Aku nggak apa-apa. Nanti aku pulang sama Billy dan Catherine atau nanti aku hubungi kak Deryl."


Catherine dan Billy langsung menganggukkan kepalanya langsung ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Benar boleh Daddy pergi?"


"Iya, Dad!"


Fathir tersenyum mendengar jawaban dari putrinya. Apalagi ketika melihat ketulusan dan kejujuran di manik coklat putrinya itu.


"Daddy tidak perlu khawatir kalau aku bakal marah dan kecewa. Aku bukan tipe anak yang langsung merajuk atau marah ketika lagi asyik berduaan, tiba-tiba datang yang mengganggu. Yang buat aku happy itu adalah setiap yang aku mau langsung terkabul, walau endingnya tak sesuai harapan. Itu semua kan bukan direncanakan."


Fathir seketika langsung mencium kening putrinya ketika mendengar ucapannya. Dirinya benar-benar bahagia dan bangga akan sikap dewasa putrinya.


"Terima kasih ya sayang. Daddy benar-benar bangga memiliki putri sepertimu," ucap Fathir.


Fathir mengeluarkan dompetnya. Setelah itu, Fathir mengambil satu Black Card miliknya.


"Ini kartu Daddy. Belanjalah apa yang kamu inginkan."


Kimberly mengambil kartu milik ayahnya lalu memasukkan ke dalam tas kecilnya.


"Bersenang-senanglah," ucap Fathir lalu menciumi pipi putih putrinya.


"Billy, Daddy titip Kimberly sama kamu."


"Baik, Dad!"


"Kalau begitu Daddy pergi dulu."


"Hati-hati Daddy!" ucap Kimberly dan Billy bersamaan.


"Iya, sayang!"


Setelah itu, Fathir pun pergi meninggalkan cafe tersebut untuk menuju ke perusahaan miliknya.


***


Di kediaman keluarga Nirvan Fidelyo terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di sofa ruang tengah. Pemuda itu adalah Zivan.


Zivan saat ini tengah membayangi wajah seorang gadis cantik yang dia temui di kota Munich.


"Ashilla," ucap Zivan menyebut nama gadis yang sudah merebut hatinya.


"Bagaimana kabar dia sekarang ya? Kenapa tiba-tiba aku merindukan dia? Sedang apa dia sekarang?" tanya Zivan sembari membayangkan wajah cantik Ashilla gadis yang dia temui di kota Munich.


Ketika Zivan tengah asyik memikirkan dan membayangkan wajah Ashilla. Tanpa disadari oleh Zivan ketiga adik-adiknya yaitu Rehan, Ricky dan Triny tersenyum geli ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Zivan.


Kini ketiganya sudah duduk cantik di sofa sembari tatapan matanya menatap kearah Zivan.


"Eheemm... Eheemm!" Rehan, Ricky dan Triny berdehem secara bersamaan sembari tersenyum cekikikan.


Mendengar suara deheman disertai suara tawa cekikikan membuat Zivan tersadar lalu kemudian menatap kearah tiga orang yang menjadi tersangka utamanya.


Zivan menatap dengan wajah yang dibuat semenyeram mungkin di hadapan ketiga adik-adiknya.


Sementara Rehan, Ricky dan Triny yang melihat wajah seram buatan kakaknya seketika memperlihatkan senyuman manisnya masing-masing.


"Siapa Ashilla, kak?"


"Apa dia pacar baru kakak?"


"Apa dia cantik?"


"Cantikan mana sama yang lama?"


"Dia baik nggak?"


"Ntar gagal lagi loh."


"Dari keluarga mana?"


"Nggak salah pilih kan?"


"Nggak mata duitan kan?"


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari ketiga adik-adiknya membuat Zivan mendengus. Bisa-bisanya adik-adiknya itu melontarkan pertanyaan seperti itu padanya.


"Kepo," sahut Zivan.


Setelah mengatakan itu, Zivan beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ketiga adik-adiknya yang super menyebalkan itu.


"Hahahahaha."


Seketika tawa Rehan, Ricky dan Triny pecah ketika melihat wajah kesal kakaknya akan pertanyaan-pertanyaan dari mereka.