THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ketakutan Kimberly



Kimberly masih bermain-main dengan tubuh perawat yang sudah tak bernyawa lagi dengan menusuk-nusukkan pisau itu di dada kirinya secara brutal.


Bukan Kimberly melainkan sosok lain yang ada di dalam tubuh Kimberly. Sosok itu telah mengambil alih tubuh Kimberly secara penuh sehingga Kimberly tidak bisa mencegahnya.


"Kau harus mati... Kau harus mati. Kau sudah berani menyakiti Kimberly."


Ketika Kimberly atau sosok itu tengah bermain-main dengan jasad perawat itu, tiba-tiba pintu ruang rawat Kimberly dibuka secara paksa oleh seseorang. Orang itu adalah Enda Aldama.


BRAAKK!


Pintu ruang rawat Kimberly terbuka. Enda dan yang lainnya masuk ke dalam ruang rawat Kimberly. Mereka semua terkejut dan juga ketakutan ketika melihat apa yang terjadi di dalam. Mereka melihat Kimberly yang tengah menusuk-nusukkan pisau itu ke dada kiri perawat tersebut.


"Kimberly," panggil Enda.


Kimberly atau sosok itu melihat kearah Enda dan yang lainnya. Ketika melihat tatapan mata Kimberly. Enda, Triny, Billy dan Aryan langsung sadar jika yang ada di hadapan mereka sekarang ini adalah sosok yang ada di dalam tubuh Kimberly. Sosok itu telah keluar dan berhasil menguasai tubuh Kimberly.


"Aku menyelamatkan Kimberly. Mereka ingin menyakiti Kimberly. Mereka harus mati. Tidak ada yang boleh melukai Kimberly." sosok itu berbicara sambil terus menusukkan pisau itu ke dada kiri perawat tersebut.


Berlahan Enda melangkahkan kakinya untuk mendekati adiknya. Enda ingin menenangkan sosok yang ada di dalam tubuh adiknya itu.


Setelah Enda berada di depan adiknya. Enda langsung menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Tenanglah. Kimberly sudah bersamaku sekarang. Aku janji akan melindungi Kimberly. Percayakan semua ini padaku dan juga yang lainnya. Kami akan menjaganya dan melindunginya." Enda berbicara lembut kepada sosok yang ada di dalam tubuh adiknya.


"Iya. Kami akan menjaga Kimberly," ucap Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


Setelah Enda, Billy, Aryan dan Triny mengatakan kata itu. Seketika tubuh Kimberly melemah di pelukan Enda. Pisau yang masih di tangannya pun jatuh di lantai.


Merasakan hal itu, Enda menghela nafas lega karena dirinya berhasil meyakinkan dan menenangkan sosok itu.


"Sayang," Enda menepuk pelan pipi Kimberly.


Kimberly membuka kedua matanya. Dan dapat dilihat olehnya kakaknya ada di hadapannya.


"Ka-kakak," lirih Kimberly.


Enda tersenyum lalu mengecup sayang kening adiknya. "Iya. Ini kakak."


Kimberly melepaskan pelukan kakaknya. Setelah itu, matanya melihat sekitarnya. Dan detik kemudian, tubuhnya bergetar hebat disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah cantiknya.


"Ka-kakak... Hiks... Itu... Mereka... Hiks," isak Kimberly.


Inilah yang mereka takutkan. Apa yang mereka takutkan? Apa yang ditakuti Kimberly selama ini akhirnya terjadi juga?


Enda kembali memeluk tubuh adiknya. Dan pelukannya kali ini begitu erat. Ketika Enda memeluk tubuh adiknya, Enda menangis. Enda paling tidak suka melihat adiknya menangis apalagi penyebabnya adalah rasa takut yang ada dalam diri adiknya.


"Kakak... Hiks... Aku sudah membunuh mereka. Aku sudah membunuh mereka... Hiks," isak Kimberly.


"Tidak sayang. Kamu tidak membunuh mereka. Sosok itu yang melakukannya. Sosok itu ingin melindungi kamu. Mereka ingin menyakiti kamu dan juga ingin melukai kamu." Enda berusaha menenangkan adiknya.


"Kakak aku takut... Hiks," ucap Kimberly disela isakannya.


"Gak ada yang perlu kamu takutkan, oke! Baik kamu maupun sosok itu pasti akan melakukannya. Kalian berdua melakukan itu hanya untuk melindungi diri kalian."


Billy, Triny, Aryan dan yang lainnya mendekat. Mereka juga ingin membantu untuk menenangkan Kimberly. Mereka tidak tega melihat keadaan Kimberly saat ini.


"Iya, Kim! Apa yang dikatakan Kak Enda benar. Jika aku ada diposisi kamu. Aku juga akan melakukannya. Aku gak peduli jika orang itu mati di tangan ku." Aryan berbicara sambil tangannya mengusap lembut kepala Kimberly.


"Iya, Kim! Jadi aku minta sama kamu jangan menyalahkan diri kamu ya." Triny mengusap lembut punggung tangan Kimberly.


"Ada apa ini? Kak Enda, Kim!" seru Riyan yang sudah kembali membelikan makanan dan minuman untuk adiknya.


Mereka semua melihat kearah Riyan. "Iyan. Kau sudah kembali?" tanya Enda.


"Kak, ada apa? Kenapa dengan ketiga orang itu?" tanya Riyan sembari melihat kearah tiga orang yang tergeletak di lantai.


"Mereka orang yang ingin mencelakai Kimberly dan berakhir..." ucapan Enda terpotong karena Riyan sudah mengerti arah ucapan kakaknya.


Riyan melihat kearah adiknya. Dapat Riyan lihat bahwa adiknya saat ini tengah ketakutan.


Riyan mendekati kakak dan adiknya itu. Kemudian Riyan mengambil alih tubuh adiknya itu dari pelukan kakaknya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Kakak ngerti perasaan kamu sekarang. Jadi kakak minta sama kamu. Lupakan apa yang telah terjadi barusan. Jangan pikirkan hal itu lagi. Kakak gak mau kamu tambah sakit jika kamu terus memikirkannya. Kamu belum pulih dari luka tembak yang kamu alami. Dan kakak gak mau kamu malah makin bertambah sakitnya hanya karena masalah ini." Riyan berbicara lembut sambil memberikan kecupan di kepalanya.


"Tapi Kak. Aku..."


"Aku sayang Kak Iyan. Aku sayang Kak Enda, Kak Jason dan Kak Uggy juga. Aku juga sayang Mommy dan Daddy."


"Kalau begitu kuatlah demi kami. Tetap semangat apapun yang terjadi. Bisa?" ucap dan tanya Riyan.


Mendengar permintaan sederhana dari kakak keempatnya membuat Kimberly tersenyum.


"Baiklah. Aku akan kuat demi kakak, demi Mommy dan Daddy."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat mereka semua bisa merasakan kelegaan di dalam hati mereka masing-masing.


"Itu baru adiknya Kakak. Adiknya Kakak itu kuat dan tidak lemah. Kakak gak suka punya adik yang lemah dan juga cengeng. Kamu boleh lemah dan cengeng hanya di rumah dan bersama kita-kita. Jika berada diluar. Kamu harus kuat dan gak boleh lemah. Apalagi sampai menangis."


"Iya, Kak!"


"Bagus!"


Setelah itu, Riyan menggendong adiknya dan membawanya kembali ke tempat tidur.


"Tangan kamu berdarah. Aku akan membersihkannya," ucap Triny.


Triny langsung pergi ke kamar mandi untuk mengambil air dan juga handuk kecil untuk membersihkan tangan dan wajah Kimberly.


Triny kembali dengan membawa air dalam baskom kecil plus handuk kecil di dalam.


"Kim. Baju kamu kena darah juga. Sekalian ganti ya," kata Triny.


"Yak! Triny apa yang kamu lakukan!" teriak Kimberly ketika Triny membuka kancing baju rumah sakit yang dikenakan Kimberly.


"Mau gantiin baju kamu," jawab Triny yang tidak menyadari keadaan sekitarnya.


"Kamu mau buka baju aku disini?" tanya Kimberly dengan mata yang melotot.


"Terus kenapa? Apa ada yang salah?" tanya Triny yang belum menyadari bahwa di ruang rawat Kimberly itu ada para cowok.


TAK!


Alisha langsung memberikan jitakkan di kepala belakang Triny. Mendapatkan jitakkan dari Alisha membuat Triny membelalakkan matanya.


"Kenapa kau menjitak kepalaku Alisha?" tanya Kimberly.


"Karena kau bodoh," jawab Alisha asal.


"Ayo, Kim. Kita ke kamar mandi. Kamu ganti bajunya di kamar mandi saja," ucap Rere. Rere membantu Kimberly untuk turun dari tempat tidur.


"Aku bisa sendirian, Re!"


"Aku tahu kau bisa jalan sendirian. Tapi aku akan tetap bantu kamu," jawab Rere.


"Terserah kamu deh," jawab Kimberly pasrah.


Mereka semua hanya tersenyum mendengar ucapan dan jawab pasrah Kimberly.


Melihat kepergian Rere dan Kimberly ke kamar mandi. Triny mengerutkan keningnya.


Dan detik kemudian...


"Kalau tahu Kimberly akan ke kamar mandi. Ngapain juga aku membawakan air dan handuk kecil?"


"Kan aku sudah bilang barusan. Kamu itu bodoh," sahut Alisha.


"Hahahahaha."


Mereka semua tertawa ketika mendengar ucapan kejam dari Alisha dan wajah kesal Triny.


"Yak! Alisha. Sejak kapan kau berubah menjadi kejam?" tanya Triny menatap kesal Alisha.


"Sejak sekarang," jawab Alisha.


Ketika Triny ingin membalas perkataan Alisha. Billy sudah terlebih dahulu bersuara.


"Dari pada ribut sama Alisha. Mending kamu bawa lagi tuh air sama handuk ke kamar mandi. Lebih bermanfaat," ucap Billy.


"Aish." Triny mengambil baskom kecil itu lalu membawanya ke kamar mandi dan bertepatan itu Kimberly pun keluar dari Kimberly dan melihat wajah kesal Triny.